Antara Conservative Accounting, Sarbanes Oxley dan Syariah Accounting

Males bener hari sabtu begini masih ada kuliah tambahan..Eniwei, dari diskusi kuliah hari ini tentang Syariah Accounting, saya tidak dapat lebih baik menyimpulkannya kecuali dengan ilustrasi berikut ini.

Misalnya Anda seorang akuntan sebuah perusahaan multinasional yang menjual produknya hanya dalam transaksi kas, semua aset dibeli tanpa berhutang, pokoknya nggak pake interest alias riba nih biar ilustrasinya rada masuk akal. Pemegang saham perusahaan itu ada 3 orang, satu orang Eropa (Anglo-Saxon), satu Amerika, sama satu Arab. Perusahaan ingin mengajukan proposal tambahan modal kerja kepada ketiga investor tersebut supaya cari rejekinya makin joss. Jadilah Anda sebagai akuntan mempersiapkan laporan keuangan untuk lampiran proposal tersebut kepada masing2 investor.

Pertama kali, Anda terbang ke Eropa untuk mengajukan proposal plus laporan keuangan kepada investor dari Eropa. “Gw mau tau, duit gw selama ini dipake buat apaan aja? Sehat nggak tuh usaha loe-loe pade,” begitu kira-kira kata si bule Eropa ini. “Gw minta rasio2 keuangan, mulai dari RoI, RoA sampe RoIC, RoNA, semuanya loe unjukin ke gw yach..!”, demikian sabda beliau. Sebagai seorang akuntan lulusan STAN yang belajar Manajemen Keuangan dan Akuntansi dari barat, Anda dengan gapenya langsung menyusun semua laporan keuangan dengan basis akuntansi konservatif. Setelah ditunjukkan kepada sang investor Eropa, beliau langsung tersenyum sambil berkata, “Good.. good.. kamu orang sudah bekerja dengan baik.. Kamu orang saya kasih tambahan dana biar cari rejekinya makin joss!”. Sukseslah kunjungan Anda ke Eropa, tambahan dana dari sang Bule Eropa akan segera cair dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Hari berikutnya Anda terbang ke New York untuk menemui investor yang kedua. Sesampainya disana, Anda langsung memperlihatkan proposal tambahan dana dan laporan keuangan yang Anda susun untuk bule Eropa kemarin. “Hmm.. mantab juga elu orang punya kinerja! Cuman sayangnya, gw masih belum yakin tentang pengendalian internal di perusahaan elu. Gw mau dibikinin laporan internal control yang compliant ama Sarbox!”, demikian respon sang bule Amrik. Untung gw pernah belajar Sarbox di D IV STAN, batin Anda. Akhirnya disusunlah laporan pengendalian internal yang memenuhi persyaratan standar Sarbox, kemudian disampaikan ke investor bule Amrik. “Quite good!”, kata si bule, “Control lu udah ok! Gw mau nambahin modal..”. Dengan wajah penuh cengirang kesuksesan, Anda pun pulang dengan mengantongi tambahan modal kerja lagi.

Di hari yang ketiga, dengan menumpang jet perusahaan, Anda pun berangkat ke Saudi untuk menemui syeikh kaya yang memegang saham terbesar di perusahaan Anda. Setelah ber-ahlan-wa-sahlan dengan tuan rumah, Anda pun dengan penuh percaya diri mengeluarkan proposal tamabahan dana, laporan keuangan (beserta analisis rasionya), dan laporan pengendalian internal. “Hmm.. jadi uang ane selama ini sudah dikelola dengan baik ya? Pengendalian intern juga zain (mantab). Tapi ane mau tanya sama ente, ini usaha sudah halal belum?”, sang syeikh pun tanpa basa basi langsung meminta kejelasan. Waduh pegimane nih.. pikir Anda. Karena sudah terlatih untuk tidak kehabisan akal, Anda pun langsung memerintahkan anak buah untuk mempersiapkan laporan keuangan berbasis akuntansi syariah, semua pendapatan akrual dibabat abis jadi berbasis kas. Semua akad kontrak dilampirkan untuk menunjukkan tidak ada pelanggaran syariat. Dihaturkanlah semua laporan itu ke hadapan syeikh Raja Minyak. “Thoyyib.. thoyyib.. kalo begini ane mau ngucurin fulus lagi buat ente..”

Kesimpulannya: semua sistem dan standar itu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Tergantung juga pada siapa pengguna yang paling besar kepentingannya, dialah yang (perilakunya) mampu mempengaruhi pengembangan sistem dan standar. Kenapa di Indonesia dibutuhkan standar akuntansi syariah, karena banyak penggunanya yang mempertimbangkan halal dan haram dalam melakukan keputusan. Kenapa di Amerika disyaratkan adanya laporan pengendalian intern, karena penggunanya udah males dikadalin kayak Enron dan Worldcom. Kira-kira begitu..

Pertanyaan berikutnya: kenapa IAI bikin PSAK?
Jawabannya: Supaya gampang ngauditnya, kan standarnya gw yang bikin.. (kata orang IAI).

  • akuntan ya mas?

  • #1
    Baru SST Ak, blum BAP. Dan kayaknya nggak ada rencana ngambil register Ak. 🙂

  • hilmi

    waaah udah lulus D4 yaa bet, masih di PKPD yaa skrg, lamo tak bersua nihhhh kita, gw masih D3 bet, madih bolot nih hehhee
    skrg ente dimana?

  • sapa_hayo

    Hehehe, baru tau kalo orang arab emang bakat jadi raja setelah belajar ilmunya orang yahudi: Cash, not profit, is king.
    Kalau menurut pendapat ini, prinsip gali lobang tutup lobang kira-kira masih laku gak yah?
    -masih mikir yang tadi- gile juga yah perspektif akuntansi syariah…..

  • sapa_hayo

    OoT dikit ah, Dasar tukang ngebom! Loe pikir gw mau ngebom situs ini? Pakai moderate-moderating segala. Gw kan lom bisa 😛
    -ajarin doong-…. 😛

  • orang

    bagus-bagus. nti tambah satu investor lagi yang pingin riba. gmana >?

  • @hilmi
    sekarang di DJPK nih.

    @isnanto sapa_hayo
    halah..

    @orang
    yang pasti dia nggak akan pake akuntansi syariah deh.

  • Mas, aseli jogja ya?sekarang penempatan dimana?dulu D3 angk brapa?salam knal, saya dimas, d3 pajak 04, jogja juga….mohon petunjuk…..

  • betul mas makanya laporan itu kan berlaku umum, tergantung siapa yang make. kenapa perlu PSAK biar bisa dibandingkan satu sama lain makanya di standarkan.
    kalo dari sisi internal auditor standar juga manjadi acuan.

    seneng baca tulisan tenatang akuntansi sering-sering nulis mas…

  • @dimas
    Saya asli jogja, sekarang penempatan Jakarta (soalnya kantorku nggak punya instansi vertikal). Lulus D3 2001.

    @laksono
    Aku ki paling males bahasa akuntansi kok disuruh nulis, hehehe..

  • fifi

    tolong dong jelasin n paparin perbedaan teori akuntansi konvensional ma teori akuntansi islam alias syariah… dari sisi prinsip2nya, rerangka konseptualnya, landasannya sekalian standarnya…

  • yaya

    Ass…,
    he…,he…,he…, bingung mau ngomong apa.
    ternyata ada juga ikhwah STAN yang kocak abis. biasanya anak STAN always sibuk dengan urusan departemen keuangan. so good, i like it.
    met kanal aja. nice to know u
    Wass…,
    yaya-semarang

  • @yaya

    sebenernya sampe sekarang sibuk dan pusingnya masih untuk urusan keuangan negara nih.. sampe jarang2 ngeposting blog. padahal buah pendapat udah numpuk di kepala. makasih ya udah berkunjung.