Kabupaten Pasir

Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Pasir di Kalimantan Timur. Saya ditugaskan selama tiga hari untuk melakukan bimbingan teknis seputar Keuangan Daerah.

Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kesempatan menaiki Boeing 737-900 ER, menyeberang selat Makassar menggunakan ferry kecil, perenungan yang dalam ketika jauh dari rumah, dll.

Dalam perjalanan Jakarta-Balikpapan, saya berkesempatan mencicipi pesawat terbaru di dunia, Boeing 737-900 ER. Pesawat berkapasitas 215 penumpang tersebut baru dioperasikan oleh Lion Air sejak Senin, 30 April 2007 lalu. Bahkan peresmiannya dilakukan oleh Jusuf Kalla.

Lion 737-900 ER

Pesawat baru tersebut cukup enak (ya iya lah, namanya juga pesawat baru..). Jarak antar kursi lebih luas dari Boeing 737-400 yang biasanya saya tumpangi. Pintu darurat pun tersedia lebih banyak, yaitu 2 di depan, 4 di tengah dan 4 di belakang. Saya duduk di kursi 20B, tepat di samping pintu darurat tengah. Tadinya saya sempat kecewa, karena berdasarkan pengalaman, biasanya pada Boeing 737-400 kursi di samping jendela darurat kurang nyaman dibanding kursi biasa. Beberapa kali saya menemui, sandaran kursi di samping jendela darurat tidak dapat di-adjust. Tapi ternyata hal tersebut tidak terjadi di Boeing 737-900 ER ini. Mudah-mudahan bukan karena pesawat masih baru ya..

Pintu darurat juga memiliki mekanisme yang lebih mudah untuk dibuka. Cukup dengan menarik satu tuas dan mendorong pintu ke arah keluar. Tentu cara ini lebih sederhana daripada cara lama: tarik dua tuas atas-bawah, tarik sampai copot, baru dibuang ke luar.

Nah, empat pintu darurat di tengah itu letaknya bersebelahan. Di samping kursi baris nomor 19 dan 20. Sehingga evakuasi dapat dilakukan lebih cepat.

Di luar pintu darurat, terdapat simbol anak panah yang dicat di sayap pesawat untuk memandu arah evakuasi penumpang. Anak panah hitam putus-putus dicat di atas jalur berwarna kuning yang mengarah ke ekor pesawat. Panduan tersebut tentu sangat mempermudah penumpang yang umumnya panik dalam keadaan darurat.

Boeing 737-900 ER Lion

Satu hal yang membuat saya kurang nyaman mengendarai pesawat baru ini adalah lamanya waktu untuk masuk dan keluar pesawat. Wajar sih. Jika dalam keadaan penuh, berarti ada 215 orang yang antri untuk memasuki pesawat dari dua pintu saja. Di dalam pesawat juga hanya tersedia satu aisle/lorong di tengah pesawat. Padahal lebar kabin mencapai 3,5 meter. Di beberapa pesawat berkapasitas besar, terdapat dua aisle di dalam pesawat. Jadilah saya memilih untuk menunggu di luar pesawat menunggu penumpang lain boarding. Itung2 memberi kesempatan bagi yang membawa barang bawaan untuk meletakkannya di bagasi atas kepala.

Sambil menunggu, saya ngobrol2 dengan teknisi pesawat di bawah sayap pesawat. Dari beliau, saya mendapat info bahwa 737-900 ER ini baru satu-satunya yang sudah dicat dengan logo Lion Air. “Dua yang lain masih berwarna biru, asli dari Boeing, Mas”, jelasnya.

Dengan panjang 42 meter, pesawat ini memiliki lebar plus bentang sayap sepanjang 35 meter. Di ujung, sayap melengkung ke atas membentuk segitiga kecil. Mungkin untuk membuat gerakan abdominal lebih stabil.

* * *

Perjalanan udara disambung dengan perjalanan darat yang tidak kalah serunya. Saya dijemput oleh dua rekan dari Pemda Pasir menggunakan Kijang Innova mobil operasional Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Kami menyempatkan makan siang di rumah makan di seberang RSUD Balikpapan. Wuah..menunya ikan semua. Saya memilih ikan Patin bakar, sementara Amrullah lebih suka Trekulu bakar, dan Zelli memesan Bawal bakar. Satu lagi menu yang tidak dapat saya lupakan, sayur pendamping yang hanya berupa sayur bening kol dan bayam itu benar-benar segar!

Dari Balikpapan, kami harus menyeberang ke Penajam. Saya sempat khawatir kami harus menunggu jadwal keberangkatan ferry. “Setiap setengah jam ferry diberangkatkan. Tidak perlu menunggu penuh”, jelas Zelli menenteramkan saya. Bahkan kami tidak perlu antri terlalu lama untuk dapat memasukkan mobil ke dalam ferry. Motor, mobil, dan truk ditata dengan baik di dek bawah kapal. Penumpang ditempatkan di dek bagian atas. “Sayang kita cuma dapat ferry ASDP, padahal lebih cepat kalau menggunakan KM. Tawes”, komentar Amrullah.

Lama penyeberangan mencapai 2 setengah jam. Ferry mengeluarkan suara peluit tiga kali sebelum berangkat. Perlahan, ferry melepaskan diri dari dok. Berputar, lalu berjalan mengarah ke haluan. Tidak terlalu cepat, ditambah sedikit bergoyang-goyang.

Di dek penumpang, terdapat dua dek untuk penumpang. Setiap dek memiliki sekitar 40 kursi berjajar yang menghadap ke sebuah televisi. Keduanya hanya dipisahkan oleh dinding. Penumpang bebas memilih duduk di mana saja.

Dek diisi oleh berbagai jenis penumpang. Ada yang bersama keluarga, ada pula yang bersama teman. Anak-anak berebut memilih duduk di samping jendela, berteriak-teriak senang sambil melambai ke kapal yang melintas. Orangtua sibuk memperingatkan untuk tidak terlalu menjulurkan badan keluar. “Awas jatuh, nak!”, seorang ibu memerintahkan anak yang lebih tua untuk menjaga adiknya.

Ferry Balikpapan-Penajam

Amrullah memilih tetap berada di mobil. Zelli terkantuk-kantuk duduk di samping saya. Saya menyempatkan menunaikan sholat Dhuhur dan Ashar di musholla kapal sebelum berangkat. Tertulis petunjuk di dinding musholla, “Arah Kiblat dari Penajam ke arah haluan serong kanan 20 derajat. Dari Sumber arah buritan serong kanan 20 derajat.”

Ferry berjalan bagai tersaruk-saruk.

Di Penajam, ferry harus menunggu setengah jam untuk dapat merapat ke dermaga. Mengantri dengan ferry lain yang masih bersandar. Ketika pintu ferry telah terbuka, petugas ASDP pun sibuk memandu kendaraan yang keluar ferry. Saya dan Zelli turun ke dermaga dari tangga samping, menunggu Amrullah mengeluarkan mobil melalui muster area. Saat mobil kami dipersilahkan keluar, tiba-tiba mobil di samping kami menyodok ingin keluar duluan. Kaca spion mobil kami terhantam badan mobil itu. Amrullah marah. Kami diminta cepat-cepat masuk mobil. Dikejarnya mobil itu sambil menekan klakson. Padahal Manorsa sedang menelpon. Jadilah saya berlari-lari mengejar mobil dengan ponsel terlekat ke telinga.

* * *

Kami mencapai Tanah Grogot pukul 20.00 WITA. Mampir ke RM. Depot Surabaya untuk makan malam. Tempatnya enak. Menunya kebanyakan masakan Jawa. Tersedia tempat makan lesehan, namun kami memilih duduk di kursi. Yang mencengangkan, di dinding terdapat TV Plasma berukuran super besar. Dari tempat paling ujung pun, gambar televisi terlihat jelas.Rupanya rumah makan ini menyediakan fasilitas karaoke. Petang itu alunan video klip Chrisye menemani pengunjung dari sound system yang terpasang baik.

Selesai makan, saya diantar ke Hotel Mama Rina. Sebuah penginapan dekat kantor Pemda. Saya berterimakasih kepada Amrullah dan Zelli yang telah mengurus kedatangan saya dengan baik. “Besok kami jemput,” janji mereka.

Selepas melepas lelah, saya mengabari rumah mengenai kondisi saya. Sinyal Indosat yang turun naik membuat saya urung menelpon. Cukup dengan SMS yang itupun terkirim beberapa saat kemudian menunggu sinyal yang memadai. Untungnya Motorola C650 memiliki fitur auto-resend kalau gagal kirim.

“Dede Yasmin masih mencret,” kabar Ary istri saya. “Feses pertama besok pagi, dibawa ke lab ya..”, pinta saya. Kabar yang membuat hati saya terbang kembali ke Jakarta.

* * *

Kerajaan Pasir
Kabupaten Pasir ini dahulunya adalah sebuah kerajaan bernama Kesultanan Pasir, atau dikenal juga dengan Kerajaan Sadurangas. Bahkan wilayahnya mencapai Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan [link travelling tanah bumbu]. Bambang Subiyakto punya cerita tentang Kerajaan Pasir ini. Latar belakang sejarah Kesultanan Pasir cukup berpengaruh pada Kabupaten Pasir sekarang ini, sampai-sampai situs Pemda Pasir mencantumkannya dalam sejarah pembentukan daerah tersebut.

* * *

Keesokan harinya, saya dijemput agak siang. Amrullah yang datang. “Maaf terlambat. Setelah apel pagi, tadi ada acara pemusnahan miras dipimpin pak Bupati”, dalihnya. Di depan gedung Pemda memang ada sebuah ekskavator berdiri gagah di samping tumpukan botol yang pecah. Aromanya luar bisa menusuk. “Tak perlu minum, cukup membaui saja juga bisa mabok,” canda saya.

Gedung Pemda Kabupaten Pasir bisa dibilang cukup bagus. Di atas rata-rata dibanding kantor-kantor pemda yang pernah saya kunjungi (biasanya saya dikirim ke daerah-daerah pemekaran atau terisolasi, jadi ya sarana pemerintahannya masih minim). Ruangan ber-AC. Terdiri dari 2 lantai. Luasnya kira-kira separuh lapangan bola.

Di lantai satu ada bidang Anggaran di sebelah kanan dan bidang Pendapatan di sebelah kiri pintu masuk. Kegiatan cukup ramai di Anggaran, sementara Pendapatan terlihat sepi. Orang-orang di Anggaran sibuk memroses SPP. Orang-orang Pendapatan sedang turun ke lapangan untuk mendata wajib pajak daerah.

Saya ditemui dengan baik oleh pak Syahdani, Kasubid Pendapatan. Saya pun menunaikan tugas yang menjadi maksud perjalanan dinas kali ini. Dua jam kami bertukar data saling mencocokkan. Beruntung, sebelum datang saya sudah mem-faks surat tugas sehingga rekan-rekan Tanah Grogot sudah menyiapkan apa-apa yang diminta. Sebaliknya, saya pun menyampaikan bimbingan teknis seputar masalah perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Usai tugas, kami ngobrol bebas. Pak Abdur Rohim, Kasubid Anggarang, ikut bergabung. Mereka bercerita tentang daerah Pasir. Pemekarannya dengan Penajam. Usia BPKD yang baru setengah bulan. Konservasi alam BHP di Petangis. Dan banyak hal lagi.

Kebetulan pekan sebelum berangkat, Manorsa datang ke kantor kami. Beliau adalah personal assistant salah satu direktur di BHP Billiton. Manorsa membawakan sebuah buku berisi gambar-gambar yang cantik. Hutan yang hijau rimbun, rusa bebas berkeliaran, danau tempat berwisata, dan lain-lain. Siapa sangka danau itu bekas lokasi pertambangan. Pun demikian dengan hutan, tadinya adalah lahan gersang lokasi pertambangan.

Tiba-tiba ponsel bergetar, Ary istri saya menelpon. “Hasil lab dede Yasmin sudah keluar. Nanti sore dibawa ke DSA.” Aduh sedihnya hati ini. Buah hati sedang menderita di ujung lain lautan. Sementara saya menjalankan tugas pemerintah jauh di sana. Saya sampaikan kabar itu ke pak Syahdani dan pak Rohim. Saya utarakan niat saya untuk segera pulang ke Jakarta. Mereka pun sontak bahu-membahu membantu saya. Pak Syahdani mengoordinasi. Zelli memesankan tiket. Amrullah menyiapkan kendaraan. “Urusan anak memang tidak boleh dianggap remeh”, hibur pak Rohim.

Saya sempat khawatir, di tengah musim liburan sekolah seperti ini masih adakah tiket yang tersisa. Kalau pun ada, tentu harganya melambung. Untung, Zelli ada kawan di travel yang pandai mencarikan tiket. Saya pun dapat penerbangan pukul 18.55 WITA. Hitung-hitung waktu perjalanan, saya harus sesegera mungkin bertolak ke Balikpapan. Saya masih harus menempuh dua setengah jam perjalanan darat ditambah menyeberang selat.

Ketika menunggu mobil disiapkan, pak Akhdiat (Kepala Bidang Pendapatan) sudah kembali dari acara di DPRD. Saya juga sempat bertemu dengan pak Sanusi One, Kepala BPKD Pasir.

Siang itu saya bertolak kembali ke Balikpapan diantar oleh Amrullah. Sepanjang perjalanan kami mengobrol layaknya sahabat lama. Amrullah menceritakan keluarganya, anaknya, dan pengalamannya selama bertugas di Pendapatan. “Pernah saya mendata reklame milik pensiunan Polisi. Dia dan istrinya marah-marah. Alasannya, papan ini kan dibuat sendiri, dipasang di lahan sendiri, kenapa harus bayar lagi ke Dispenda? Saya jelaskan berkali-kali pun mereka tidak paham. Akhirnya saya katakan, terserah mau bayar atau tidak, saya cuman mendata. Tak perlu marah-marah, memaki-maki. Retribusi reklame padahal hanya 75 ribu setahun, tak sebanding dengan usaha BBM, kelontong dan semua usaha yang dijalankan Bapak itu. Seminggu kemudian, Bapak itu ditegur Satpol PP. Ditanyai mana izin usahanya, IMBnya, kelengkapan surat-surat. Mereka datang ke Tapem (Tata Pemerintahan). Kata orang Tapem, datang dulu ke Dispenda minta bukti pelunasan semua tagihan retribusi, baru segala ijin bisa diurus. Nah, baru mereka datang ke kantor saya. Di Dispenda, gantian saya cuekin saja. Mereka minta-minta tolong meminta data retribusi saya tempo hari, untuk dilunasi di kasir. Saya bilang, tak mau saya keluarkan. Tunggu saja pendataan berikutnya. Kalau seandainya mereka dulu bersikap baik kepada saya, tentu saya bantu.”

Di tengah perjalanan, sebaris SMS datang dari rumah. “Ayah, kenapa tidak ada yang datang menawarkan bantuan? Padahal kita sudah menolong mereka ketika dibutuhkan.” Saya membalas, “Itulah tandanya beramal ikhlas kepada Allah. Barang siapa berharap kepada manusia maka bersiap-siaplah untuk kecewa, karena manusia yang diharapkan itu pasti tidak bisa memenuhi keinginan kita. Berharaplah pada pertolongan Allah semata, bukan pada pertolongan manusia.” Saya makin bertanya-tanya, separah apakah sakit anakku Yasmin?

Karena mengejar waktu, Amrullah hanya mengantar sampai ke pelabuhan Penajam. Dicarikannya saya speed boat untuk menyeberang ke Balikpapan. “Lebih baik menuju Semayang, karena lebih dekat ke Bandara Sepinggan daripada pelabuhan Kampung Baru”, jelasnya.

Pelabuhan Penajam

Amrullah yang berasal dari suku Bugis tidak kesulitan mencarikan speed boat untuk saya, karena kebanyakan pengemudi speed boat orang Bugis juga. Saya pun berpamitan, menitipkan rasa terima kasih saya kepada seluruh pimpinan dan rekan-rekan BPKD Pasir yang sudah membantu tugas saya.

Speed boat melaju membelah ombak selat Makassar. Di kanan kiri saya banyak terlihat kapal-kapal besar berlabuh di luar pelabuhan. Agak jauh ke tengah laut ada rig-rig kilang minyak. Kapal-kapal kecil berlalu lalang. Ramai sekali. Speed boat terangguk-angguk melompati ombak.

Selat Makassar

Di tengah perjalanan, saya mencoba untuk berdiri. “Berdiri paling enak kalau laju pak,” kata juru mudi. Kecepatan pun ditambah. Speed boat makin terlompat-lompat. Kecepatannya cukup tinggi untuk membuat mata saya berair. Sama seperti ketika saya mengendarai motor. Sambil berpegangan satu tangan menjaga keseimbangan saya mencoba mengambil gambar dari speed boat yang melaju.

* * *

Beberapa kali kejadian kurang mengenakkan terjadi ketika saya bertugas di luar kota. Akhir tahun kemarin ketika saya ke Lebong [link], Bengkulu, adik saya sakit dan akhirnya wafat. Kabar tak enak dari rumah yang menghantui ketika saya di luar kota, tentu menghabiskan pikiran dan energi lebih.

Di dalam agama kami, terdapat 6 rukun iman seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 177, “Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…”. Dan juga sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. “Artinya : Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.”

Semua anak muslim di negara kami pasti sudah tahu akan hal ini. Hanya saja, dulu waktu saya SD, saya tidak paham apa yang dimaksud dengan iman kepada takdir. Apalagi jika dijabarkan iman kepada takdir baik dan buruk. Rukun iman pertama sampai kelima, saya sedkit banyak paham bagaimana cara dan rasanya. Tapi iman kepada takdir itu praktiknya bagaimana?

Belakangan saya baru paham. Penjabaran iman kepada takdir buruk dipaparkan dalam hadits Nabi. Tidak boleh berandai-andai jika mengalami keburukan. Contohnya, “Seandainya ruang ICU di Rumah Sakit Haji tidak penuh tentu adik saya mendapatkan perawatan yang lebih baik.” Kata-kata seperti itulah yang dilarang. Dan kesabaran untuk tidak mengeluarkan kata-kata seperti itu menjadi amalan hati dalam praktik iman kepada takdir.

Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa kematian sudah ditentukan bagi tiap manusia. Tidak akan dimajukan dan dimundurkan sedikit pun. Walaupun nanti ada intervensi doa dalam penulisan takdir. Itu dijelaskan lain kali saja.

Sesampainya di Jakarta, saya membawa Yasmin ke dokter dan dilanjutkan dengan pemeriksaan lab. Alhamdulillah, kondisi Yasmin berlangsung membaik.

  • Fachrul

    mas mo nanya…, jarak dari penajam ke tanahgrogot brp kilo yah…?brpa jam?
    keadaan jalannya gmn? bgs g?

  • @Fachrul

    Penajam ke Tanah Grogot saya tempuh sekitar 2 jam lebih menggunakan Kijang Innova milik Pemda setempat.

    Jalanan mulus sehingga mobil bisa dipacu lumayan kencang. Tapi lebar jalan saya rasa masih terlalu sempit. Kalau ada mobil sama-sama kencang berpapasan, mobil kita serasa goyang kena angin. Tapi itu mungkin tergantung kondisi mobil juga.

    Ada beberapa ruas jalan yang kondisinya agak rusak, tapi itu pun hanya sepanjang beberapa puluh meter saja. Selebihnya mulus. Itu kondisi waktu saya ke sana tahun 2007 ya.

  • zelli

    kapan ke paser lg pa uliansyah….?ntar sy sm amrullah jemputi lg…..he…he…,makan patin bakar lg..salam buat keluarga dirumah….

  • Wah ada tamu besar nih. Salah satu tokoh di tulisan ini muncul memberi komentar.

    Makasih pak Zelli! Mudah2an sukses karier dan kehidupannya di Paser.