Surabaya

Selain perjalanan dinas ke tempat yang terlalu jauh, tujuan yang terlalu dekat juga membuat orang-orang di kantor pikir2. Sepertinya tujuan dinas ke pulau Jawa justru hitung-hitungannya rugi. Mungkin karena standar perjalannnya tidak menggunakan pesawat. Peraturan hanya membolehkan menggunakan kereta api untuk tujuan di pulau Jawa.

Tapi saya nekad saja.. Biar nombok asal badan masih elok. Saya pun memilih menggunakan pesawat menuju daerah tujuan kali ini, Pasuruan. Via Surabaya tentunya, karena di Pasuruan tidak ada bandara komersial. Hanya ada pangkalan udara militer milik TNI AU. Harga tiket pesawat yang semakin murah (hanya beda puluhan ribu dengan kereta eksekutif) menguatkan pilihan saya.

Penerbangan malam ke Surabaya saya menggunakan maskapai Lion-Wings penerbangan pukul 21.20. Saya masih ingat keluhan menggunakan Boeing 737-900 ER ke Balikpapan yang terlalu lama loading penumpang. Namun kali ini, pukul 21.00 para penumpang sudah diminta untuk boarding. Mungkin maksudnya supaya pas jam 21.20 udah siap take off. Perbaikan dari keluhan saya sebelumnya.

Night Flight

Mendarat di Surabaya, saya sudah ngantuk-ngantuk sejak di pesawat. Ketika dijemput oleh Oom di Bandara Juanda malah sempet ketlisiban. Oom menjemput di pintu kedatangan Internasional, sementara saya ada di kedatanangan domestik. Mungkin karena Juanda sudah mengoperasikan bandara baru, Oom jadi keki. Memang gede tenan.

Paginya saya berangkat ke Pasuruan menggunakan bus. Rute ke Pasuruan melewati Sidoarjo. Tepat setahun dan 50 hari setelah semburan lumpur menerjang (perkiraan waktu ini saya baca di tagline koran, bukan bener-bener menghitung), saya berkesempatan melihat langsung dahsyatnya bencana lumpur ini. Walaupun cuma melihat dari dalam bus, nggak sempet turun, suasana bencana benar-benar terasa.

Tol Porong

Jalan Raya Porong

Jalan Raya Porong

Jalan Raya Porong

Sejak keluar dari tol Gempol-Porong, aliran kendaraan mulai terhambat. Plus asap mulai terlihat. Bau tidak terlalu mengganggu. Dari pinggir jalan terlihat jelas tanggul, rel kereta dan lumpur serta asap. Selama kurang lebih 20 menit, kami disuguhi pemandangan mengerikan ini. Rumah, sekolah, pabrik, toko, semua bangunan luluh lantak diterjang lumpur. Masa depan anak-anak terampas. Tidak bisa sekolah, tidak bisa bertempat tinggal, dan tidak bisa bermain. Saya hanya bisa berharap semoga peristiwa ini segera ditangani dengan bijaksana.

Kali Porong

Kali Porong

Sesampainya Di kantor Pemda Pasuruan, saya ketemu pak Rachmat, Kabag TU Dispenda. Pemda Kab Pasuruan ini lucu, karena lokasi perkantorannya justru di dalam Kota Pasuruan, bukan di Bangil atau wilayah Kab. Pasuruan. “Nanti dipindah semua ke wilayah Kabupaten, Mas”, kata seorang staf Dispenda yang mengantarkan saya pulang.

Sayangnya saya nggak sempet ke Alas Tlogo. Lokasi kejadian penembakan warga oleh Marinir karena urusan tanah. Dulu rakyat membantu TNI memerangi penjajah. Sekarang rakyat sama TNI rebutan tanah. Rakyat memang harus sadar hukum, tapi TNI mustinya lebih punya hati untuk menghadapi rakyat. Selesaikan semua di pengadilan, bukan main paksa pake senjata. Kedepankan musyawarah dan media arbitrasi. Sekali senjata menyalak ke rakyat, lukanya tak akan hilang bergenerasi.

Di Surabaya ini saya ketemu sama adik sepupu yang udah punya anak. Tapi di sini keponakan saya tidak dibahasakan oleh ortunya untuk memanggil saya dengan Pakde (seperti kebiasaan keluarga Ibu saya) atau Uwak (kebiasaan keluarga Ayah saya), tapi saya dipanggil Pak Puh (Bapak Sepuh). Tapi pronounce Puh nya itu kayak Pooh gitu.. 😀

Pulang ke Jakarta pake Wings lagi, tapi kali ini tidak menggunakan ER. Mungkin MD 80 atau 92. Di waiting room orang-orang ramai menonton partai terakhir penyisihan Piala Asia , Indonesia vs Korsel. Yang ngedukung banyak lho! Praktis di seluruh tempat yang ada tivinya di Bandara, dipenuhi oleh supporter Indonesia. Foto menunjukkan suasana tegang di Gate 3 Bandara Juanda.

Ketika saya dipanggil masuk ke pesawat, pertandingan juga turut berakhir. Indonesia kalah 1-0. Bagi saya nggak apa-apa kalah, asal terhormat. Nggak cuman bisa nyalah-nyalahin wasit.

Alhamdulillah perjalanan kali ini sangat-sangat lancar buat saya. Semua jadwal terukur dan dapat ditepati dengan baik. Tidak ada delay penerbangan, hambatan kemacetan atau sebab-sebablain yang bisa mengganggu perjalanan saya. Mungkin karena saya tidak menggunakan maskapai yang satu ini, yang menawarkan keramahtamahan para Bonek 😀 Just kidding lho Air Asia.. Saya sudah membuktikan mutu layanan Anda kok ketika kebagian jatah perjalanan dinas ke Palembang. Nanti saya ceritakan deh..

Bonek Naik Pesawat

Perjalanan kali ini memberikan kontradiksi bagi saya. Ketika berkesempatan mengunjungi beberapa tempat di Kalimantan, saya justru disuguhi pemandangan optimis atas hasil alam Indonesia. Di Ketapang, saya melihat karamba-karamba tersebar di muara. Di Tanah Bumbu banyak potensi pertambangan yang menunggu untuk dieksplorasi. Sementara di Pasir, jalur transportasi yang makin mapan turut menunjang perkembangan ekonomi. Tidak lupa di Pangkalan Bun rupanya sudah sejak lama menjadi tujuan orang-orang dari seluruh penjuru Nusantara karena daya tarik bisnis pertambangan.

Sementara di Jawa yang katanya pusat perkembangan justru didera bencana yang tak keruan. Ada yang disebabkan bencana alam, atau keserakahan oknum penguasa. Ada pula kelalaian yang membahayakan keselamatan umum.

Mudah-mudahan Indonesia segera pulih. Aman terkendali. Seperti laporan polisi kepada komandan dan rekannya, “8-6, 8-6, Ndan!”.

Mudah-mudahan Indonesia segera bangkit. Dan segera maju. Maju orangnya, maju ekonominya, maju teknologinya, maju pula prestasi olah raganya. Jangan mundur lagi. Malu.

  • Sik asik jalan2, oleh2 dong …

  • Itu kapan ya bos? Setahu saya mulai 1 Agustus 2007 berlaku biaya perjalanan dinas ‘at cost’. Artinya mau naik kereta atau pesawat apapun merknya, akan diganti sesuai jumlah yang dikeluarkan. Jadi tidak ada urusan dengan nombok atau dapat kembalian. 🙂

  • Saya ke Surabaya bulan Mei. Baru sekarang bisa posting. Semua perjalanan dinas saya tahun ini sebelum at cost. Malah setelah ada at cost, saya nggak kebagian dinas lagi. Kepotong penghematan 70% perjalanan dinas.

  • hani

    hai, kt 1 almamater, lam kenal yah