Pengendalian: Biar Sederhana Asal Adil

Catatan pelanggan cuci mobil itu dibuat sesederhana mungkin. Yang penting, siapa saja dapat mengisi. Tak perlu pedoman khusus, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis atau apalah namanya.

Catatan Cuci Mobil Catatan Cuci Mobil

Caption mewakili timeline pekerjaan. Tanggal belum tembus dua digit, tapi lembar pelanggan sudah setengah terisi.

Diam-diam, semua aspek akuntansi terwakili. Completeness, semua mobil yang dicuci wajib dicatat. Cut Off, kode pekerja dicatat sesuai shift pekerjaan selama masih dikerjakan tim yang sama. Reliability and relevance, informasinya dapat diandalkan, lha wong dipake untuk pengambilan keputusan: perkiraan tagihan listrik, setoran ke pemilik modal, servis alat-alat, dll. Materiality, tidak ada pemasukan yang tidak material.

Fungsi terpenting catatan ini untuk keadilan pembagian. Agar semua pekerja membawa pulang hasil kerjanya hari itu

Menyenangkan memang melihat teamwork yang solid. Semua seolah menjadi mudah. Mutu pekerjaan bisa standar. Pelanggan puas pun akan kembali lagi. Selama menunggu mobil dicuci, pelanggan seolah disuguhi pertunjukkan mobil menari di atas pompa hidrolik (sayang foto mobil didongkrak, hilang saat transfer data). Berputar-putar disemprot semburan air dari pipa berbentuk senapan. Petugas pencuci dengan lincah mengendalikan pompa hidrolik, mengatur ketinggian. Satu mobil cukup dilayani 2 petugas. Mobil yang tadinya tertutup debu dan lumpur, pelan-pelan terlihat gagah kembali. Dengan kilauan cat dan semir ban.

Sambil menunggu mobil dikeringkan, bisa sekalian menikmati suguhan dari tukang rujak yang mangkal disitu. Hanya saja sang tukang rujaknya rabun. Jumlah porsi pesanan yang cuma diwakili jari telunjuk, diberikan dua piring. Maklum order disampaikan dengan teriakan dan tepuk tangan.

Pesan Rujak

Inisialisasi yang Tidak Istimewa

Karton itu tadinya hanyalah satu lembar karton biasa. Dibuat dari bahan bubur kertas. Bahan yang sama dengan karton lainnya. Sama-sama menggunduli hutan demi alasan pasokan kertas Indonesia dan dunia. Sama-sama mengorbankan seorang bupati dan mengancam seorang gubernur. Mesin-mesin pencetak lalu mengubah bubur pulp menjadi karton. Dikemas dalam bundelan-bundelan karton. Bundelan karton yang tidak istimewa.

Sebundel karton itu lalu dibeli oleh perusahaan pembuat tas jinjing. Mulailah kertas dipotong berdasarkan pola. Lalu dirangkai, dilekatkan dengan lem dan dilubangi untuk memasukkan tali jinjing. Jadilah sebuah tas karton. Tas karton yang tidak istimewa.

Ketika tas jinjing itu dipasarkan, beberapa lusin diantaranya dipesan oleh panitia seminar. Tas-tas itu lalu dibebani dengan majalah, buku dan bonus lain dari sponsor acara. Jadilah seminar kit yang akan dibagikan ke panitia. Seminar kit yang tidak istimewa.

Pada hari H, dibagikanlah seminar kit itu ke para peserta seminar. Setiap peserta dengan antusias membuka isi tas. Melongok, membalik, menyobek kemasan, lalu memperbincangkannya dengan teman di bangku sebelah. Ada juga yang diam membatin dengan gondok, “Aku kan udah beli Parents Guide edisi itu.” Ada yang sok serius membuka buku Homeschooling dengan dahi berkerut-kerut sekedar membaca daftar isinya. Sepanjang acara, tas jinjing menemani dari bawah kursi. Tak jarang dibuka kembali. Ada barang yang dikeluarkan. Ada juga yang dimasukkan lagi. Agar tak tertukar dengan tas lain, dibubuhkan tanda tangan atau signmark lain di atas tas jinjing. Sekarang, tas jinjing itu jadi istimewa.

Setelah ditandai simbol kepemilikan, semua benda di dunia jadi istimewa. Kita tak lagi rela bila benda itu tertukar. Padahal tertukar dengan benda yang sama. Sama bahannya, sama bentuknya, sama isinya, dibagikan oleh panitia yang sama dalam acara yang sama. Jika kita menawarkan untuk menukar seminar kit dengan sesama peserta, tentu dijawab, “Memang punyamu kenapa? Pasti ada apa-apanya.” Itu bila sekedar bertukar.

Bagaimana bila barang yang sudah dipaksa dibawah kekuasaan itu diambil? Orang tak lagi menyebutnya diambil, tapi dicuri.

Barang yang tadinya tidak istimewa menjadi istimewa hanya karena sebuah klaim. Orang rela mengeluarkan uang, barter, berebut, menuntut, merampok, merampas, menipu, bersengketa, berperang, mati untuk sebuah klaim. Klaim atas benda yang sejatinya tersedia melimpah di dunia.

Tapi untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna, butuh produksi dan jasa distribusi? Dari mana biaya penggantinya? Ah itu kan lain cerita..

* * *

Mohon maaf kalau mirip2 wejangan seekor rubah di Le Petit Prince. Karena memang inspirasi postingan ini datang dari bapak pilot itu.

Pengendalian: Tangga Stasiun Kereta

Tiap pagi, di stasiun Tanah Abang, kereta memuntahkan ribuan penumpang. Ketika pintu kereta terbuka, penduduk komuter bergegas menuju tangga keluar stasiun. Untuk kemudian mereka berebut lagi saat beralih moda transportasi menuju tempat tujuan.

Naik tangga perlu dikendalikan juga rupanya..

Yang jadi masalah, tangga keluar stasiun tak mampu melayani debit arus manusia. Bak semut mereka harus sabar mengantri. Kadang bersungut-sungut melihat tangga tertutup orang-orang yang duduk menunggu kereta. Sebaliknya orang yang turun dari atas untuk mengejar kereta, pias tak mampu melawan arus. Padahal dalam hitungan menit, keretanya akan bergerak.

Ada ide pengendalian? Usul saya, buat saja tangga berjalan. Tangga yang terus bergerak jelas tidak bisa diduduki. Arah arus penumpang pun bisa diatur. Kalau bukan karena makanan suplemen yang buat orang jadi super pede, bergairah dan cenderung cari sensasi, tak ada orang yang mau melawan arus eskalator kan?

Bukan Iklan Komputer

No Sharing No Virus

“Saya kira iklan komputer”, kata seorang teman. “Tapi kenapa ada logo Depkesnya?”

Tadinya saya pikir ini ada hubungannya dengan virus Tati belakangan ini. Poster ini tertempel di Kereta Rel Listrik Ekonomi jurusan Tanah Abang – Serpong. Saya baru ngeh ini poster kampanye anti AIDS saat melihat logo pita merah di kiri bawah.

Nendang banget, Very communicative!

Prof Tarwotjo: Jadilah contoh yang baik bagi adik-adik siswa SMA TN

Ikastara Happy Morning

Jadilah contoh yang baik bagi adik-adik siswa SMA TN. Demikian pesan pak Tarwotjo dalam acara Ikastara Happy Morning 2007 di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Dalam wejangannya yang disampaikan selama empat menit, Pak Tarwotjo mengingatkan juga agar para alumni agar bekerja dengan baik, tidak malu dengan yang halal, dan produktif.

Kehadiran pak Tarwotjo dalam acara Ikastara Happy Morning, menambah keceriaan pada pagi hari itu. Dalam usia 74 tahun, beliau masih saja penuh semangat dan gairah kehidupan. Kehadiran beliau benar-benar menjadi suntikan semangat bagi kami yang muda ini. Kami jadi merasa masih miskin prestasi, sedikit berkarya dan belum menyumbangkan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa ini.

Acara yang menjadi temu kangen para alumni ini menjaring animo yang sangat tinggi. Tercatat ada sekitar 150 orang alumni yang hadir. Alumni yang telah berkeluarga pun tak segan membawa serta pasangan dan anak-anak mereka. Apalagi ada beberapa pasangan jeruk yang berpartisipasi. Abang-abang dari angkatan I sampai adik-adik angkatan XV pun hadir lengkap mewakili angkatannya. Sipil dan militer. Luar negeri dan dalam negeri. Tumplek blek jadi satu. Continue reading “Prof Tarwotjo: Jadilah contoh yang baik bagi adik-adik siswa SMA TN”

Seminar Psikologi Anak: Pola Asuh

Sabtu lalu (8/12/2007), sekolah anakku mengadakan seminar. Temanya “Hubungan Pola Asuh dengan Perkembangan Emosi dan Intelegensi Anak”. Pembicaranya pak Mugito, psikolog yang menjadi konsuler di Citra Consulting.

Saya menjadi satu-satunya peserta pria di acara itu. Mayoritas peserta adalah ibu dari anak yang bersekolah di TK Al Muhajirin Pondok Pucung. Sebelumnya istriku sempat berdebat panjang denganku. Topiknya apa lagi kalau bukan peran Ayah dalam keluarga. Istriku merasa, peranku sebagai ayah masih kurang dan cenderung kontra-produktif. Khususnya di bidang kesehatan, pendidikan dan pola asuh. Continue reading “Seminar Psikologi Anak: Pola Asuh”