Inisialisasi yang Tidak Istimewa

Karton itu tadinya hanyalah satu lembar karton biasa. Dibuat dari bahan bubur kertas. Bahan yang sama dengan karton lainnya. Sama-sama menggunduli hutan demi alasan pasokan kertas Indonesia dan dunia. Sama-sama mengorbankan seorang bupati dan mengancam seorang gubernur. Mesin-mesin pencetak lalu mengubah bubur pulp menjadi karton. Dikemas dalam bundelan-bundelan karton. Bundelan karton yang tidak istimewa.

Sebundel karton itu lalu dibeli oleh perusahaan pembuat tas jinjing. Mulailah kertas dipotong berdasarkan pola. Lalu dirangkai, dilekatkan dengan lem dan dilubangi untuk memasukkan tali jinjing. Jadilah sebuah tas karton. Tas karton yang tidak istimewa.

Ketika tas jinjing itu dipasarkan, beberapa lusin diantaranya dipesan oleh panitia seminar. Tas-tas itu lalu dibebani dengan majalah, buku dan bonus lain dari sponsor acara. Jadilah seminar kit yang akan dibagikan ke panitia. Seminar kit yang tidak istimewa.

Pada hari H, dibagikanlah seminar kit itu ke para peserta seminar. Setiap peserta dengan antusias membuka isi tas. Melongok, membalik, menyobek kemasan, lalu memperbincangkannya dengan teman di bangku sebelah. Ada juga yang diam membatin dengan gondok, “Aku kan udah beli Parents Guide edisi itu.” Ada yang sok serius membuka buku Homeschooling dengan dahi berkerut-kerut sekedar membaca daftar isinya. Sepanjang acara, tas jinjing menemani dari bawah kursi. Tak jarang dibuka kembali. Ada barang yang dikeluarkan. Ada juga yang dimasukkan lagi. Agar tak tertukar dengan tas lain, dibubuhkan tanda tangan atau signmark lain di atas tas jinjing. Sekarang, tas jinjing itu jadi istimewa.

Setelah ditandai simbol kepemilikan, semua benda di dunia jadi istimewa. Kita tak lagi rela bila benda itu tertukar. Padahal tertukar dengan benda yang sama. Sama bahannya, sama bentuknya, sama isinya, dibagikan oleh panitia yang sama dalam acara yang sama. Jika kita menawarkan untuk menukar seminar kit dengan sesama peserta, tentu dijawab, “Memang punyamu kenapa? Pasti ada apa-apanya.” Itu bila sekedar bertukar.

Bagaimana bila barang yang sudah dipaksa dibawah kekuasaan itu diambil? Orang tak lagi menyebutnya diambil, tapi dicuri.

Barang yang tadinya tidak istimewa menjadi istimewa hanya karena sebuah klaim. Orang rela mengeluarkan uang, barter, berebut, menuntut, merampok, merampas, menipu, bersengketa, berperang, mati untuk sebuah klaim. Klaim atas benda yang sejatinya tersedia melimpah di dunia.

Tapi untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna, butuh produksi dan jasa distribusi? Dari mana biaya penggantinya? Ah itu kan lain cerita..

* * *

Mohon maaf kalau mirip2 wejangan seekor rubah di Le Petit Prince. Karena memang inspirasi postingan ini datang dari bapak pilot itu.