Anak itu..

Pagi ini saya berebut naik ke kereta listrik bersama ratusan penumpang lainnya. Di tengah siraman gerimis hujan, saya melihat ada satu pintu gerbong kereta yang amat sepi. Ketika saya masuk ke pintu itu, MASYA ALLAH, saya melihat pemandangan yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya.

Di bangku samping pintu, duduk seorang anak dalam keadaan yang menyedihkan. Tangan kirinya buntung. Tidak ada sisa sedikitpun tulang lengan kiri, benar-benar buntung sampai bahu. Kepalanya dibalut perban kotor. Bekas darah mengering tersebar di kepala dan badannya.
Anak itu..
Pantas saja sudut gerbong ini begitu sepi. Orang-orang menjauhinya. Mungkin jijik. Tak sedikit yang kasihan. Tapi lebih banyak yang tak peduli. Tidak ada penumpang yang mau duduk di dekatnya. Mereka lebih suka berdesak-desakan di sisi lain gerbong itu.

Aduh nak. Engkau duduk tanpa merasakan tusukan pandangan mata orang-orang. Pandangan matamu kosong. Menatap ke luar jendela tak berkaca. Punggungmu dipenuhi kotoran manusia. Bahkan untuk membersihkan diri pun kau tak mampu.

Tapi anak itu tak peduli. Rupanya ia lebih suka menikmati pemandangan di luar jendela. Mungkin bertanya pada dunia, salahku apa?

Ya Allah..

Baru kemarin saya mengeluh mengenai kemungkinan turun gaji. Baru tadi malam mata saya sulit terpicing memikirkan strategi pengembangan karir. Namun itu semua sirna dalam sekejap. Kekhawatiran saya tak sebanding dengan penderitaannya.
Beruntunglah saya. Beruntunglah Anda. Beruntunglah kita. Kita masih memiliki tempat yang disebut rumah. Kita masih memiliki orang-orang terkasih di sekitar kita.
Melihat anak itu tanpa kewarasan, saya pun bingung harus bagaimana? Memberinya uang pun tak menjadi solusi.

Oh lihat.. ekspresi anak itu sedikit berubah. Mulutnya membulat. Dia tersenyum. Oh, dia tersenyum! Entah apa yang membuatnya senang. Mungkin ia terbayang sedang bermain di tengah keluarganya. Mungkin ia ingat saat-saat indah dibelai bunda. Mungkin ia terbayang ayah menepuk pundaknya dengan bangga. Mungkin ia mengangankan sedang bermain bersama saudara-saudarinya.

Mata ini mulai berkaca-kaca. Saya mencoba menundukkan kepala sekedar menghalau rasa trenyuh luar biasa di dada.
Anak itu.. telah kehilangan lengannya. Anak itu.. telah kehilangan masa kecilnya. Anak itu.. telah kehilangan ayah bundanya. Anak itu.. telah kehilangan masa depannya. Anak itu telah kehilangan kehidupannya, bahkan sebelum nafasnya meninggalkan tubuhnya.

Mungkin hanya doa yang bisa saya sumbangkan padanya. Ya Allah, ampunilah ia di kehidupan akhirat nanti. Amin.

Google Penyelamat Dunia

MEMATENKAN APLIKASI PEMBACAAN TEKS DI IMAGE DAN VIDEO

Udah pernah baca novel Digital Fortress-nya Dan Brown kan? Ya, Dan Brown si penulis Da Vinci Codes itu. Kalau belum, begini ringkasannya. Seorang kriptografer ternama mantan agen NSA mengancam akan menyebarkan sebuah algoritma enkripsi baru yang tidak dapat ditembus. Algoritma berjuluk Benteng Digital tersebut menjadi rebutan banyak pihak, karena siapa yang memegangnya akan memiliki keamanan enkripsi yang tidak dapat dipecahkan oleh siapa pun di dunia saat ini. Pihak yang menguasainya akan menjadi pihak yang powerful, karena rahasianya tidak akan mungkin tercuri pihak lain.

Kejadiannya mirip seperti yang dialami Google. Seperti dilansir PCWorld dan ComputerWorld, Google telah mematenkan aplikasi pembacaan teks yang berada di dalam image dan video.

Apa yang dilakukan oleh aplikasi buatan Google tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang telah berusaha dipecahkan para hacker pada tahun-tahun belakangan ini, yaitu mematahkan CAPTCHA. Memang ada beberapa pihak yang telah mengklaim mampu membaca CAPTCHA, seperti PWNtcha, EZ-Gimpy, aicaptcha, gocr (a never meant to be captcha decoder), dll. Namun belum ada pihak yang merilis kode yang digunakannya. Dengan algoritma yang dipatenkan tersebut, Google dapat mematahkan CAPTCHA keycode. Walaupun demikian, Google hanya akan menggunakannya untuk memperluas layanan pencarian ke gambar tetap dan bergerak.

Dengan mematenkan aplikasi pembaca teks dalam image tersebut, Google telah memperpanjang nafas keamanaan dunia internet. Bayangkan bila algoritma pembaca CAPTCA terpecahkan. Botnet yang hari ini saja sudah sangat merepotkan itu, akan merajalela membuat kekacauan dengan menembus pertahanan CAPTCHA situs-situs web seluruh dunia.

PS: Kayaknya salah posting nih.. mustinya di blog kurang kerjaan.

Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank

Membaca perjuangan Muhammad Yunus mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui Grameen Bank, mengilhami banyak hal yang dapat disumbangkan bagi perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Muhammad Yunus adalah pemenang Nobel Perdamaian 2006. Nobel itu tentu tidak diberikan begitu saja tanpa prestasi yang diraihnya bersama Grameen Bank. Muhammad Yunus adalah seorang muslim Bangladesh yang lahir di Chittagong. Beliau berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dengan kepandaiannya, Yunus muda mampu bersekolah tinggi dan mendapatkan beasiswa Fullbright dari Ford Foundation untuk belajar di Amerika. Di masa jauh dari tanah airnya ini, beliau aktif mendukung kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan tahun 1971.

Continue reading “Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank”

Hak Jalan Raya

Hak-hak Pengguna Jalan

Hari senin dan selasa kemarin saya benar2 dibuat kesal oleh kemacetan jalan disekitar BSD. Bayangkan jalan2 BSD yang besar2 dan lancar itu tiba2 jadi macet oleh suatu kegiatan, pawai pemilihan bupati daerah! Saya tidak tahu apakah ada peraturan yang mengatur tentang jalannya pawai sehingga tidak menghalangi pengguna jalan lain, atau sudah ada peraturannya, tapi seperti biasa peraturan dibuat untuk untuk dilanggar :p yha terlepas dari itu semua pawai tetap berlangsung dan kendaraan yang saya tumpangi terjebak pasrah dibelakangnya ditambah saya yang sedang bersungut2 didalamnya. Amboi…

Hari kamis, lain lagi cerita. Ketika saya menyebrang jalan, tiba2 ada pengemudi motor melawan arus dari arah yang berlawanan. Dan… Brak! jadilah tangan dan bahu saya sebelah kiri tersambar. Astagfirullah! Refleks ucapan yang keluar dari mulut saya, yang benar2 tak menyangka akan ada kendaraan dari arah sebaliknya. Tidak berapa lama kemudian otak mulai mencerna apa yang terjadi, ketika sadar dan mau melancarkan protes, sudah terlambat… Pengemudi motor sudah pergi dengan tenang meninggalkan korbannya yang bengong keheranan, “kok bisa2nya ada motor dari arah sana.” Pikir saya. (mau protes sama siapa thoh de!?). Saya yakin pengemudi motor tsb tahu saya tersenggol motornya, wong kedua anak-anak dalam boncengannya langsung menoleh pada saya. huh! Pelajaran yang buruk bagi anak2 tsb. Jangan di tiru yha nak..

Sudah sering saya melihat kekacauan di jalan-jalan. Kekacauan biasanya terjadi ketika semua orang merasa berhak menggunakan fasilitas umum ini dengan tanpa memperhatikan hak orang lain yang juga sebagai pengguna. Alangkah baiknya jika masing2 dari kita, MULAI DARI DIRI SENDIRI memperhatikan hak2 pengguna jalan lain. Apa saja sih hak pengguna jalan itu menurut Islam? Ternyata ada pensyariatannya di peraturan Negara Brunei Darusalam Bo!

Mufti Brunei Darussalam

Untuk menjamin jalan raya itu selamat dan selesa digunakan oleh semua pengguna, sama ada kenderaan bermotor atau pejalan kaki, kerajaan telah memperuntukkan peraturan dan undang-undang bagi pengguna jalan raya. Ia hendaklah dipatuhi. Mana-mana pengguna yang menyalahinya akan dikenakan tindakan menurut undang-undang.

Daripada Abu Sa‘id al-Khudri Radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
Hadits Abu Said Al-Khudri, apakah hak-hak jalan raya itu?

Artinya: “Jangan kamu duduk-duduk di jalan-jalan! Sahabat bertanya: “Kami susah meninggalkannya dan di sana kami hanya duduk-duduk bercerita” Baginda bersabda: “Jikalau begitu, apabila kamu pergi juga ke tempat kamu bercerita itu, kamu berikanlah hak-hak jalan raya”. Mereka bertanya lagi: “Apakah dia hak-hak jalan raya itu? Baginda menjawab: “Memelihara pandangan, membuang yang menyakitkan, menjawab salam dan membuat kebaikan serta menghalang kejahatan”. (Al-Bukhari & Muslim)

Tentang Soeharto

Prasasti Soeharto di Musium Listrik dan Energi Baru

Selama ini belum ada pendapat yang benar-benar mewakili isi hati saya tentang Soeharto. Baru tulisan K.H Mustofa Bisri di Koran Tempo (16/1/2008) inilah yang dirasa paling mengena.

Rabu, 16 Januari 2008
Opini

Pak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita

A. Mustofa Bisri, Kolumnis, Penyair, dan Pengasuh Pesantren

Ketika para petinggi di atas kelihatan bingung, mau melengserkan Pak
Harto, kok, tidak sopan, apalagi kelihatannya Pak Harto masih segar
dan mau, saya menulis di sebuah harian terkenal dengan judul
“Seandainya Pak Harto Kerso”. Tulisan saya itu mengusulkan agar Pak
Harto kerso, mau, jadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat saja.
Maksud saya, dengan menjadi Ketua MPR, Pak Harto tidak turun pangkat,
tapi malah naik: dari mandataris MPR menjadi Ketua MPR, pemberi
mandat. Sekaligus siapa tahu Pak Harto, yang diyakini banyak orang
merupakan tokoh terkuat Indonesia, dapat menularkan kekuatannya kepada
wakil-wakil rakyat yang diyakini banyak orang sangat lemah. Lagi pula,
sebagai Ketua MPR, Pak Harto masih bisa “mengatur”.

Tapi, boleh jadi Pak Harto lupa–sebagaimana umumnya orang–bahwa MPR
ketika itu adalah lembaga tertinggi negara atau ia merasa enggan
menduduki kursi yang bekas diduduki kacungnya. Atau–ini yang lebih
mungkin–Pak Harto tidak membaca tulisan saya. Seandainya Pak Harto
benar-benar mau menjadi Ketua MPR, dan ini sangat mudah merekayasanya
waktu itu, mungkin sampai sekarang masih selamat. Tidak dijadikan
bulan-bulanan dan hujatan, termasuk oleh mereka yang kemarin bergelung
nikmat di balik ketiak kekuasaannya.

Allahu Akbar! Wolak-walik-nya zaman! Rasanya baru kemarin orang-orang
berteriak hanya untuk mendukung atau diam karena takut. Wakil rakyat
tidak mewakili rakyat, tapi pemerintah (baca Pak Harto); digaji besar
untuk hanya mengatakan “ya” atawa diam. Pers pun semuanya tiarap.
Bahkan membela sesama tidak punya nyali, apalagi membela kepentingan
orang banyak.

Allah Mahabesar! Reformasi telah membalik semuanya. Semuanya kini
berbalik. Mereka yang dulu sakit gigi, kini mendadak sembuh dan setiap
hari memamerkan gigi-gigi mereka. Mereka yang kemarin tiarap, kini
seperti sudah lama bangkit. Bahkan ada yang berbalik pada detik paling
akhir; dari menjilat Pak Harto berbalik–sedetik
kemudian–meludahinya.

***

Di atas itu adalah pandangan saya di awal-awal reformasi, ketika
“burung baru saja terlepas dari sangkar”, ketika euforia keterbukaan
melanda negeri, dan pers nasional seperti kemaruk setelah sekian lama
tiarap.

Kini pers dan murid-murid Pak Harto kembali “membangunkan”-nya justru
dari rumah sakit tempat jenderal besar itu terkapar. Saat ini
seolah-olah Pak Harto masih presiden dan yang lain, seperti di zaman
kejayaannya, hanyalah boneka gagu yang tidak punya pekerjaan kecuali
menunggu sabdanya. Diamnya pembina Golkar itu saat ini mungkin dikira
sama dengan diamnya dulu waktu masih berkuasa. Diam yang membuat orang
sekelilingnya deg-degan dan ketar-ketir.

Untuk meramaikan suasana “kebangkitan” arsitek Orde Baru itu, dagelan
soal status hukumnya pun diwacanakan lagi. Terus diadili atau
dimaafkan. Seolah-olah bangsa ini memang serius menegakkan keadilan.
Seolah-olah di negeri ini, hukum masih sangat dihormati. Seolah-olah
kita semua bukan santri teladan Hadhratussyeikh Haji Muhammad
Soeharto.

Orang lupa kepada falsafah Jawa yang sangat diagungkan oleh pemimpin
agung kita itu: mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat martabat orang
tua setinggi-tingginya. Kalau benar kita mengakui Pak Harto sebagai
orang tua kita dan kita benar-benar mencintainya, kita mesti berusaha
mengangkat martabatnya; tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat
kelak.

Ketika orang berbicara mengenai status hukum Pak Harto, orientasinya
selalu hanya dunia yang notabene akan ditinggalkan tidak hanya oleh
Pak Harto sendiri. Taruh kata Pak Harto dimaafkan atau dibebaskan dari
pengadilan dunia ini, apakah tidak terpikir oleh kita sebagai
“anak-anak”-nya yang percaya kepada akhirat bahwa di sana masih ada
pengadilan. Pengadilan yang pasti jauh lebih adil. Pengadilan yang
pasti steril dari korupsi-kolusi-nepotisme dan sogok-menyogok. Lalu?

Ya, siapa saja yang mengaku cinta dan ingin yang terbaik untuk Pak
Harto mesti berpikir panjang hingga akhirat. Yang terbaik untuk Pak
Harto di akhirat tentulah apabila amal-amalnya diterima dan
dosa-dosanya diampuni oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Untuk
itu, siapa saja yang mengaku mencintai Pak Harto mesti berusaha ke
arah sana dengan memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima. Yang
lebih penting lagi, bagaimana agar dosa-dosa Pak Harto diampuni. Ini
tidak cukup hanya dengan memohonkan ampun kepada Allah. Sebab, ada
dosa manusia yang berkaitan dengan hak-hak sesama yang tidak akan
diampuni oleh Allah sebelum yang bersangkutan menyelesaikannya di
dunia ini. Kalau seseorang pernah, misalnya, menyakiti saudaranya, ya,
saudaranya itu harus dimintai maaf. Kalau seseorang pernah memakan hak
orang lain, ya, harus dimintakan ikhlas atau ditebus sehingga orang
yang bersangkutan mengikhlaskan. Demikian seterusnya, sampai tidak ada
lagi ganjalan terhadap sesama.

Jadi, demi keselamatan Pak Harto di akhirat, persoalannya dengan
sesama mestilah diselesaikan di dunia ini. Mudah-mudahan dengan
demikian Bapak Pembangunan kita itu husnul khaatimah, tidak hanya
bahagia ketika hidup di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Amin.
koran
Halaman Utama

Dear smiling general, We wish you to the best end. But neither both of us can not avoid the Ultimate Court in the Day of Resurrection.

Cuti Bersama 2008 Pembawa Pusing

Tahun 2008 ini banyak banget cuti bersama. Saya pribadi kurang setuju dengan kebijakan cuti bersama ini. Cuti bersama melanggar hak pegawai! Mosok kita dipaksa untuk ambil cuti pada hari2 yang sudah ditetapkan? Padahal cuti adalah hak pegawai. Kenapa bisa dipaksa pelaksanaannya dengan aturan? Ya ya ya, bilang saja dianalogikan dengan gaji. Gaji juga hak pegawai, tapi pengaturannya justru sangat ketat. Ada gak sih PNS yang naik gaji 3 kali setahun kayak yang dijanjikan Tung Desem Waringin? Yang ada malah dipotong.

thumbnail

Anyway, mau tak mau, setuju tak setuju, saya dan para PNS lain memang harus taat pada Surat Keputusan Bersama 3 Menteri itu. Dan selain nggerundel dan menggerutu (euh, sama yak?), saya harus menyiapkan diri untuk menghadapi datangnya tanggal-tanggal merah muda itu. (Bukan merah beneran kan?).

Banyaknya long weekend memang harus diantisipasi sebaik mungkin. Kita harus pandai-pandai memilah, menggunakan dan memanfaatkan libur panjang itu agar:

  1. Tidak boros. Kalau setiap liburan kita jalan2, wah tekor! Apalagi buat keluarga kecil dengan dua anak yang selalu kelebihan energi disetiap tempat dan setiap saat.
  2. Mudik. Daripada menghabiskan waktu yang barokah di bulan Ramadhan, mendingan mudik di luar bulan puasa aja.
  3. Tidak melewatkan acara keluarga. Di lingkungan puak saya, melewatkan acara keluarga bisa mendatangkan bencana. Nikahan, sunatan, kematian, berangkat haji, dll. Tipikal keluarga Indonesia banget. Kami sih berusaha agar tetap bisa berpartisipasi di acara-acara pokok, dan berdalih untuk acara-acara yang lain. Kabur!
  4. Private program. Nah ini nih, acara pribadi keluarga. Berenang, naik kuda (kuda orang lain, mosok PNS punya istal?), jalan-jalan. Tentunya sambil tetap menjunjung tinggi asas playing is learning. Homeschooling wannabe gitu loh!
  5. Istirahat. Kebayang kan, kerjaan seminggu yang harusnya selesai 5 hari harus diselesaikan 4 hari saja. Pasti capek banget tuh, kerjaan kejar tayang melulu. Nah, pilih tanggal-tanggal yang tepat untuk istirahat.
  6. Day off is challenge. Kalo dilihat dari sudut pandang lain (pake otak kanan dong!), libur panjang bisa menjadi kesempatan juga lho. Kesempatan nyambi side job, kesempatan ketemu orang, berburu bahan, menulis, tahfiz Quran, menyelesaikan proyek penulisan hadits digital, ikutan atau bikin proyek Open Source, dll. Sudah saatnya merubah paradigma dari padat aktivitas menjadi produktivitas.
  7. Mengatur rencana perjalanan dinas. Nah paling enak memang ambil perjalanan dinas di pekan yang ada long weekendnya. Artinya, sepulang travelling at cost yang cuman 3 atau 4 hari itu, kita nggak harus masuk bersegera ketemu atasan.

Nah, akhirnya ini dia kalender yang dijanjikan. Kalender disederhanakan hanya menampilkan bulan dan minggu yang memiliki long weekend. Bintang merah menandakan hari libur nasional, dan bintang oranye menandakan cuti bersama. Kotak merah panjang menunjukkan panjangnya liburan.

Cocok buat desktop atau poster. Biar ingat terus. Hehehe..

Bisa diunduh dari DivShare.Com atau Photobucket.Com

  1. http://www.divshare.com/download/3398247-af9
  2. http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/download/kalendercutibersama2008.png

Mohon kritik dan saran. (Euh. kayaknya penahunan Hijriyah nya salah. Tunggu revisinya ya.)