Manajemen Asal-Asalan

Hari Jumat (2/2/08) saat air kembali permisi-numpang-lewat di Jakarta, perjalanan kereta api komuter dibatalkan. Pun demikian beberapa minggu yang lalu di suatu sore kereta ngadat. Lagi. Sudah beberapa kali kereta jurusan Tanah Abang – Serpong bermasalah bulan tahun ini. Kereta yang diharapkan oleh ribuan penumpang itu terlambat, terganggu, atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Kalau sudah demikian kejadiannya, orang-orang hanya bisa pasrah, gondok, menggerutu, mengutuk, dan akhirnya menyesal.

Jalur Kereta Jepang

Continue reading “Manajemen Asal-Asalan”

Mendongeng: Tiga Babi Kecil ala Anak Jaman Sekarang

DIAKUI atau tidak, anak jaman sekarang memang memiliki lingkungan dan tantangan global yang berbeda dari yang pernah kita hadapi. Dan entah mengapa pula, pengaruh itu justru membentuk anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang unik. Bahkan koran tempo hari ini mengenalkan istilah generasi layar.

Salah satu keajaiban yang ditunjukkan oleh anak saya yang berumur 4 tahun Februari ini, adalah kemampuannya menyambung-nyambungkan suatu kejadian dengan kejadian lain. Mungkin mirip dengan iklan susu formula mengenai Triptofan yang digembar-gemborkan dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam mengolah informasi. Padahal anak saya anak ASI, dan sekarang minum susu UHT.

Suatu hari, saya membacakan dongeng tentang Tiga Babi Kecil. Sebenarnya dongeng ini sudah sering dibacakan menemani Si Sulung tidur malam atau tidur-tiduran di siang hari, atau sekedar bercerita tanpa ada kaitannya dengan tidur. Si Sulung Abbas pun sudah mafhum rupanya dengan apa yang diceritakan Ayahnya. Namun tetap saja matanya akan membesar, mendengar kisah yang disampaikan, tentu saja bila disampaikan dengan cara yang bombastis, menarik dan diselingi kreativitas yang membuatnya berbeda di tiap kesempatan membacakan dongeng.

Sampai suatu kali..

Ayah: Tiga Babi Kecil. Ada tiga babi kecil. Babi yang pertama membangun rumah dari jerami. Babi yang kedua membangun rumah dari kayu. Dan Babi ketiga membangun rumah dari batu. Lalu ada serigala datang dan berkata, “Hrmmmhh.. (menggeram). Aku ingin makan babi. Di mana aku bisa menemukan babi ya?”

Abbas: (cuek, main sini main sana, tapi tak mau jauh dari Ayahnya, telinga tetap mendengarkan)

Ayah: Lalu serigala datang ke rumah Babi pertama. (singkat cerita) Lalu rumah babi pertama yang terbuat dari jerami ditiup oleh serigala. Babi pertama lari ke rumah babi kedua. Lalu rumah babi kedua ditipu oleh serigala. Babi pertama dan Babi kedua lari ke rumah babi ketiga. Karena terbuat dari batu, serigala tidak bisa meniup rumah babi ketiga.

Abbas: (memotong cerita) Lalu Serigalanya menjadi besar! Seperti monster di Power Rangers, terus rumahnya ditiup deh. Babinya dimakan. (menyeringai puas)

Ayah: (*speechless*)

Kok logikanya nyambung ya? Make sense gituh..