Tidur di Kelas

Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti KBM?

Jujur saja, dulu waktu di SMA saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena SMA saya punya kegiatan seabreg yang kebanyakan menggunakan kekuatan fisik.

Bangun pagi-pagi langsung menuju ke lapangan. Untuk mengikuti latihan halang rintang. (ini sebenarnya syair yang dinyanyikan saat lari pagi). Dua kali seminggu, kami dijadwalkan lari pagi kira-kira sejauh 4 atau 5 kilometer. Ada pula latihan baris-berbaris, latihansenam militer, latihan senam balok kayu, dll. Ada juga latihan membaca peta topografi atau peta militer, tapi sambil mengikuti jalur yang tertera di peta. Ya lumayan, dengan berjalan kaki rute yang ditempuh bisa mencapai sekitar 10-15 kilometer. Plus melewati kontur yang tak tentu naik-turunnya.

Belum lagi acara-acara occasional yang lumayan besar seperti Latihan PraHulu Balang dan Hulu Balang. Hulu Balang sendiri dilaksanakan selama 3 hari di tengah hutan dengan kegiatan-kegiatan yang menguji berbagai keterampilan survival personal dan kelompok.

Jadi maklum saja kalau banyak siswa yang kelelahan saat mengikuti kelas formal. Masih nggak percaya? Tanya saja rekan se-angkatan saya, Rohmad. Atau anaknya SBY, yang mantunya pak Aulia Pohan itu.

Kenapa saya mengkambinghitamkan kegiatan fisik yang menyebabkan saya tertidur di kelas? Karena nyatanya kebiasaan itu tidak terbawa saat saya kuliah. Yaa.. memang terkadang kuliah itu membosankan. Tapi tidak sampai membuat saya jatuh tertidur. Apalagi waktu kuliah D-IV, saya malah bergairah mengikuti kegiatan perkuliahan yang memberikan pengalaman sangat berharga bagi kehidupan profesional saya.

Di beberapa negara di dunia, siswa yang tertidur di kelas dianggap wajar. Misalnya di Finlandia dan di Jepang. Justru kalau ada guru yang membangunkan siswa dengan cara yang tidak mendidik, dia bisa dituntut. Seperti kejadian di Danbury.

Ada juga kasus yang terbalik, sang guru yang malah tidur di kelas! Hehehe itu mah ngaco. Tapi seorang kawan pernah benar-benar merasakan pengalaman itu. Sebagai guru privat, ternyata anak didiknya bandel setengah mati. Kalau diajak belajar, sang anak didik justru main PS atau menghindar dengan alasan nggak jelas lainnya. Padahal sudah kelas 3 SMA mendekati ujian nasional dan ujian masuk PT. Akhirnya demi memenuhi kuota daftar hadir, sang guru pun numpang tidur di kamar sang anak didik. Sambil titip pesan, “Kalau sudah jam 6, bangunin gw yah!” Hehehe…

Seorang ustadz saya punya solusi yang bijak dan masuk akal kala melihat jamaahnya yang tertidur. Nasehat beliau, kalau ingin belajar di majelis taklim, ya harus mempersiapkan diri dengan baik. Termasuk dengan tidur yang cukup dan kesiapan fisik yang baik. Kalau memang lelah karena sebab-sebab tertentu (lembur, kejar setoran, sakit) lebih baik tidur di rumah. Kan lebih nyaman daripada tidur di pengajian. No offence gitu loh.

Tapi kalo tetep kantuk tak tertahan namun kita segan pada guru yang mengajar, bisa coba tips dari Lestian Atmopawiro.

Tidur dalam suatu forum memang harus ditanggapi dengan bijak. Kalau memang forum yang mendidik seperti di Finlandia, Jepang dan majelis taklim ustadz bijak itu ya gak masalah. Tapi kalau di forum yang penting dan diikuti action plan, ya nggak pantes dong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama peserta Lemhanas yang bobo manis saat SBY berbicara.

Dan terjaga di forum pun belum cukup, jangan-jangan hatinya sedang tidur. Untuk itu, kata Bu Guru Tia, perlu dibangunkan supaya mata hatinya terbuka.

Wewenang Satu Juta Dollar

Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?

Yah, kata-kata satu juta dollar memang seksi. Jumlah itu menjadi satu parameter jumlah yang sangat besar. Walaupun saat ini karena inflasi nilainya tak lagi sebesar satu juta dollar jaman dulu, tapi bagaimanapun juga satu juta dollar terlanjur mewakili batas pengakuan kaum kaya.

Untuk mendapatkan efek fenomenal ini pulalah kita dulu mengenal ada film berjudul The Six Million Dollar Man. Enam kali satu juta dollar! Bayangkan teknologi apa saja yang bisa ditanamkan dalam tubuh manusia, dengan investasi sedemikian besar.

Nah, ternyata wewenang memegang kekuasaan atas satu juta dollar itu akhirnya mampir ke saya juga. Lho? Gimana tuh ceritanya? Gini boss. Sejak bendahara penerima iuran Dana Reboisasi membuka rekening valas, semua wajib bayar kehutanan sekarang diwajibkan menyetor iuran Dana Reboisasi menggunakan valas. Dulu kan dikurskan dulu ke rupiah baru disetor.

Uang valas tersebut ujung-ujungnya mampir ke kantor saya. Tentunya dalam bentuk Bagian Daerah untuk Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan. Nah, jumlah valas yang akan dibagikan itu sudah melebihi satu juta dollar.

Hehehe, percaya atau tidak, waktu saya membaca surat dari Dephut yang isinya menyerahkan (sebenarnya menyerahkan bukan istilah yang tepat ya, wong tidak disertai dengan penyerahan uang, tapi wewenangnya memang berpindah. mungkin lebih tepatnya mengusulkan) uang satu juta dollar (+lebih) itu ke kantor saya, saya ingin memegang surat itu tinggi-tinggi sambil berteriak histeris, “Satu juta dollar! Satu juta dollar! Satu juta dollar, man!”. Hehehe norak.

Yah maklum lah. Wong Mister Krab aja gelo kecewa waktu dollar pertamanya hilang. Itu kan menandakan penghargaannya terhadap uang. Bukan uang sendiri kok bangga sih? Ya gitu deh saya kalo lagi kumat noraknya. Harap maklum ya..

Kondisi Keuangan Negara Pra APBN Perubahan 2008

Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di area publik yang strategis.

Banyak pengamat yang memperkirakan tahun 2008 ini adalah tahun terburuk dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 1998. Beberapa peristiwa keuangan dunia tak hanya menyebabkan hantaman krisis di Amerika, namun juga menebar ancaman di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan perekonomian Indonesia.

Hal itu dibenarkan dengan adanya instruksi penghematan anggaran oleh Menteri Keuangan. Tidak tanggung-tanggung, surat edaran Menkeu itu dikeluarkan dengan nomor surat satu. Jadi logikanya, perintah pertama Menkeu di tahun 2008 ini adalah penghematan. Jauh-jauh hari Bu Menkeu sebenarnya sudah mewaspadai mengamuknya badai krisi ini sejak tahun lalu. Hanya saja waktu itu Bu Anik (nama kecil Menkeu) masih optimis, “Krisis kali ini berbeda dengan krisis moneter 1998.” Beliau juga berkeyakinan Indonesia tidak akan banyak terpengaruh.

Enam Masalah APBN 2008

Namun kenyataan harus berkata lain. APBN digoyang berbagai isu yang melambungkan defisit. Tidak hanya itu, tidak tercapainya target pajak 2007 juga mengancam kekosongan uang kas negara. Birokrat di Depkeu pun segera mengidentifikasi masalah. Ada 6 masalah yang menjadi ancaman dan tantangan bagi APBN.

Enam masalah itu mencakup:

  1. Krisis subprime mortgage di Amerika;
  2. Kenaikan harga minyak dunia;
  3. Meningkatnya harga pangan dunia;
  4. Melemahnya nilai tukar rupiah;
  5. Tidak tercapainya produksi minyak Indonesia;
  6. Adanya Paket Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan (PKSH) yang terhantam kenaikan komoditas pangan (minyak goreng, dkk) .

Meleset dari perkiraan Bu Anik, krisis perkreditan Amerika mau tak mau membuat Indonesia meradang juga.

Berbeda dengan kenaikan harga minyak dunia tahun 1980-an, waktu itu Indonesia sebagai net eksportir masih merasakan manisnya surplus anggaran. Kebijakan surplus itu pula yang banyak dikritisi. Waktu itu Indonesia masih menggunakan anggaran dinamis dan berimbang. Artinya, setiap defisit pengeluaran harus dicarikan pembiayaannya. Seharusnya ketika penerimaan berlebih, harus segera spending dalam pembangunan. Namun Menkeu waktu itu (mungkin atas perintah Pak Harto) justru memilih saving sebagai penampung lebihan dana.

Kenaikan harga minyak tahun 2008 ini justru membuat Indonesia meradang. Kenaikan harga minyak tidak diikuti dengan kenaikan penerimaan. Pertama, karena Indonesia sudah menjadi net importir. Dari kebutuhan 1,3 juta barel per hari, produksi minyak Indonesia hanya dipatok 1,034 juta barel di APBN 2008. Target itu pun tidak tercapai. Hanya 980 ribu barel yang dapat dicapai. Alasan kedua, Indonesia tidak memiliki skema windfall profit tax (pajak durian runtuh). Pajak ini dikenakan ketika sebuah keadaan luar biasa membuat suatu pihak mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Windfall profit tax sudah umum diterapkan di negara-negara produsen minyak, seperti Aljazair. Alasan ketiga datang dari kontraktor, kenaikan harga minyak juga membuat biaya produksi membengkak. Entah bagaimana rasionalisasinya, yang pasti Cost Recovery dan faktor pengurang yang menjadi tanggungan pemerintah membuat penerimaan bersih dari minyak bumi tidak sebesar kenaikan harganya.

Efek dari kenaikan harga minyak lainnya adalah membuat beban subsidi makin besar.

Sembilan Langkah Pengamanan APBN

Untuk menjawab enam masalah di atas, dirumuskanlah langkah-langkah yang dipercaya bisa mengamankan APBN. Pemilihan istilah ‘pengamanan’ juga membuat orang mengira-ira, apakah kondisi APBN sudah sedemikian gawat? Kesembilan langkah tersebut meliputi:

  1. Optimalisasi penerimaan negara, dari Pajak, PNBP dan dividen BUMN;
  2. Penggunaan dana cadangan (contingency policy measures);
  3. Penghematan dan penajaman prioritas belanja KL;
  4. Perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik;
  5. Efisiensi di Pertamina dan PLN;
  6. Pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang;
  7. Penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program;
  8. Pengurangan beban pajak atas dan bea masuk atas komoditas pangan strategis;
  9. Penambahan subsidi pangan.

Sembilan langkah ini dipercaya bisa memperlambat laju kehancuran ekonomi.

Pembahasan selanjutnya nanti kita lanjutkan lagi. Yang jelas, hari Rabu (9 April 2008) lalu, APBN-P sudah disepakati.

Pekan Duka Cita untuk Anak-Anakku

Pekan ini benar-benar pekan duka cita bagi saya. Dalam sepekan, ada 3 anak-anak yang tutup usia saat hidup mereka baru saja dimulai.

Yang pertama, anak dari Ike dan Mas Kasim. Ike ini anaknya kakak sepupu saya, tapi ia justru lebih tua setahun dari saya. Mas Kasim pun bukan orang lain. Kami bertetangga sejak tinggal di Bumijo Lor, Yogyakarta. Seminggu sebelumnya, Ike harus disesar karena suatu alasan. Anaknya pun lahir sebelum HPL dengan berat 2,8kg. Berat yang cukup sebenarnya. Anak pertama saya dulu lahir dengan berat 2,7kg. Namun ada permasalahan lain yang menyebabkan kondisinya makin memburuk. Tepat pada Kamis pagi tanggal 3 April, sang bayi pun wafat..

Sementara di Jakarta, pada hari Ahad pagi saya menerima SMS. Isinya bahwa ananda Muthia yang berumur 2 tahun 4 bulan wafat. Ananda Muthia ini anak dari Agus Mulyono, kakak kelas di STAN dengan selisih dua tahun. Pekan sebelumnya, saya sudah mendengar bahwa Muthia akan dioperasi. Di dalam perutnya ada tumor. cukup sulit bagi saya untuk memahami anak sekecil itu memiliki tumor. Kabarnya sejak kecil memang perut Muthia membesar dan kemudian mengeras. Dokter memvonisnya tumor bawaan dari lahir. Pada usia muda Muthia tutup usia.

Hari senin di kantor, saya menerima berita mengejutkan lainnya. Anak seorang teman sekantor meninggal pada Kamis lalu. Kawan-kawan yang melayat entah bagaimana terlupa mengabari saya. Aduh.. sayangnya saya melewatkan momen tersebut. Sang bayi wafat dalam kandungan usia 9 bulan. Sang ibu memiliki gula darah yang sangat tinggi. Dan kemudian karena hal-hal yang tidak terkontrol manusia membuat sang bayi keracunan gula darah.

Mudah-mudahan kesabaran keluarga yang ditinggalkan menjadi amal baik serta meringankan jenazah di alam kubur.

Sedih rasanya melihat anak-anak ini harus wafat. Saya merasakan kesedihan seolah-olah mereka adalah anak-anak saya sendiri. Ya, apa bedanya anak-anak mereka dengan anak-anak saya? Bisa saja anak kami yang tertimpa musibah itu. Hanya kebetulan untuk hidup yang saya jalani, anak-anak yang lahir dari rahim Ummu Abbas-lah yang menjadi tanggung jawab keluarga Uliansyah. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah subhaanahu wata’ala. Sangat mudah bagi Allah untuk memutar peran itu, jalan jidup antara kami dan mereka yang tertimpa musibah.

Karena itu mereka semua serasa adalah anak-anakku.

Sebuah Momen yang Terlewat

Hari ini Ummu Abbas dijadwalkan operasi gigi. Jadi hari ini Ummu Abbas minta ijin tidak menjalankan tugas sebagai pengajar. Karena operasi dilakukan di RSPAD Gatot Subroto, Ummu Abbas pun berangkat bersama Abu Abbas yang kantornya ada di Lapangan Banteng.

Setelah beberapa kali konsul ke dokter gigi mengenai sakit yang mendera, Ummu Abbas dianjurkan untuk operasi gigi. Operasi gigi ini ternyata tidak bisa ditangani oleh dokter gigi, tapi oleh dokter bedah mulut.

Ummu Abbas memanfaatkan fasilitas Askes (Asuransi Kesehatan) yang disediakan dari kantornya Abu Abbas. Ya memang kami tidak pernah meminta untuk berasuransi, tapi peraturan kantor mewajibkan hal itu. Karena sudah terlanjur dipotong gaji tiap bulan untuk premi Askes, sayang juga kalau tidak digunakan fasilitas yang tersedia. Salah satunya untuk berobat gigi seperti ini.

Berobat dengan Askes bisa dibilang enak-enak-nggak enak. Enak karena kita tidak harus membayar sebesar biaya normal. Ada sebagian tindakan maupun obat yang ditanggung oleh Askes. Sementara, dibilang nggak enak karena dirasakan adanya sikap yang berbeda dari pelayanan kesehatan yang didapat jika kita menggunakan Askes. Diakui atau tidak, pengguna Askes menerima perlakuan yang berbeda dari pasien normal. Biasanya, pengguna Askes identik dengan orang miskin.

Selain perlakuan yang berbeda dari pelayanan kesehatan, perlakuan dalam mengurus Askes juga sering tidak mengenakkan. Tidak semua pengguna Askes itu tahu prosedur mengurus Askes. Jadi wajar saja kalau banyak bertanya pada petugas Askes di lapangan. Namun, sayangnya respon petugas ini tidak selamanya mengenakkan. Kami pernah beberapa kali mengalami dibentak-bentak dan digoblok-goblokkan oleh para petugas ini. Padahal apa sih susahnya menjawab baik-baik? Kami tahu para petugas ini capek, lelah, bayaran tak seberapa. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk bersikap seburuk itu?

Lebih sering lagi, kami melihat pengguna Askes yang berasal dari tempat jauh, yang datang berobat jauh-jauh, mungkin pendidikan juga tidak tinggi, umur sudah uzur, dan memang kesulitan memahami prosedur yang ada, pun tak pelak mengalami perlakuan yang sama.

Atas alasan itu pulalah kami memilih RSPAD Gatot Subroto untuk pelayanan kesehatan menggunakan Askes. Dibandingkan dengan RS Fatmawati, pelayanan Askes di RSPAD jauh lebih baik. Di RSPAD, prosedur Askes jelas terpampang pada tulisan di loket. Kalau tidak jelas, bertanya ke petugas pun diterangkan dengan sangat baik (terimakasih ya pak). Sementara pengalaman di RS Fatmawati, tidak ada penuntun prosedur yang terpasang. Pun petugas yang dihubungi langsung merespon dengan nada tinggi.

Sempat juga di RS Bhakti Asih Ciledug, Ummu Abbas pertama kali konsul masalah gigi ini. Pelayanan Askesnya ok, jelas dan responnya baik. Tapi oleh seorang dokter gigi anaksempat ditawari untuk dioperasi olehnya saja. Untung Ummu Abbas nggak menerima tawaran itu. Bisa-bisa pengalaman mbak Katherine Arta menimpa diri Ummi juga. Terjebak 4 jam di ruang operasi karena tidak ditangani oleh ahli yang benar.

Pengalaman kami menggunakan Askes cukup memuaskan. Mungkin karena kami beruntung memilih RS yang pelayanan Askesnya sangat baik. Abu Abbas pernah dirawat 2 minggu di RSPAD karena Demam Dengue. Persalinan kedua Ummu Abbas di RS Harapan Kita Slipi juga memanfaatkan fasilitas Askes.

Sehingga ketika sakit gigi Ummu Abbas harus dioperasi, penggunaan Askes pun menjadi pilihan utama. Sejak malam, Ummu Abbas sudah menyiapkan diri untuk prosedur operasi. Sesuai petunjuk dokter, pada malam sebelum operasi, Ummu Abbas banyak-banyak mengonsumsi Vitamin C dari buah jeruk. Pagi harinya, sarapan pun agak banyak karena kata dokter setelah dokter baru bisa makan setelah 6-8 jam.

Walaupun hari ini sudah dijadwalkan operasi, tapi kami tidak tahu jam berapa tepatnya operasi dilaksanakan. Karena itu Abu Abbas berolahraga dan masuk kantor dulu. Ya, tiap Rabu, Abu Abbas memang ada jadwal latihan basket bersama teman-teman kantor. Kebetulan Abu Abbas menjadi penanggung jawab lapangan, dan hari ini pula harus menyelesaikan administrasi dengan Dinas Olahraga Provinsi DKI sebagai pengelola lapangan (bayar sewa gitu, susah amat ngomongnya pake muter-muter).

Nah dari sinilah masalah mulai datang. Ternyata operasi yang dijalani Ummu Abbas lumayan besar. Operasi harus dilaksanakan di ruang operasi menggunakan dipan yang disinari lampu-lampu terang. Ummu Abbas pun mengirim sms untuk minta ditemani Abu Abbas. Sementara Abu Abbas yang sedang mengerjakan tugas kantor pun mengirimkan sms yang menanyakan jam pelaksanaan operasi. Abu Abbas juga berniat menemani istrinya.

Sayangnya, komunikasi lintas teknologi ini tidak berlangsung lancar. Ponsel GSM Ummu Abbas sudah menunjukkan status terkirim, tapi pesan itu tidak pernah sampai di ponsel CDMA Abu Abbas. Demikian pula sebaliknya.

Begini isi pesan singkatnya.

Abu Abbas to Ummu Abbas:

mi, gmn kabarnya? jam brp dioperasi? semangat ya, jgn takut. ayah mendoakan.

pesan dikirim jam 09.00 masih dengan asumsi operasi hanya di kursi dokter gigi saja.

Ummu Abbas to Abu Abbas:

Yah, sibuk ya. jam 09.07

Yah, k sini dong. Ummi deg2an. jam 09.16

Yah, ibu itu memperingatkan stelah 2 jam bius hilang. Bengkak, sakit, smp 2 hr. Kynya umi butuh ayh nih. jam 09.50

Yah, ummi sdh masuk ruang operasi. Disuruh ganti baju dan buka jilbab. Umi minta ayah datang ya ke rspad lt 2 klinik gigi n mulut. Dkt qt periksa dng dr indang. Maaf ya salah2 umi. jam 10.23

Tiba-tiba pukul 11.40 ada telepon dari Ummu Abbas via telepon kantor. Suaranya sudah penuh tangis. Ternyata dioperasi itu menyakitkan. Abu Abbas pun buru-buru pamitan dari kantor menuju RSPAD. Perjalanan ke RSPAD bukan tanpa halangan. Komplek kantor Menteri Keuangan hari itu sedang didemo. Semua pintu keluar ditutup rapat dan dijaga polisi. Gerbang-gerbang dirantai dan dikunci dengan gembok. Waduh..

Untungnya ada jalan tikus dari Polsek Sawah Besar yang berhimpitan dengan komplek Depkeu. Selepas dari sana, Abu Abbas pun menggunakan ojek ke RSPAD.

Melihat kondisi Ummu Abbas, saya sangat sedih. Sedih karena tidak bisa menemaninya melewati masa-masa sulit. Padahal ketika saya sakit, ia lah yang merawat saya. Tidak meninggalkan sosok yang terbaring sakit penuh permintaan barang sedikit pun. Kesabarannya merawat saya seolah dibalas dengan ketidakpedulian.

Untuk itu pulalah sesampainya di rumah, saya cepat-cepat memposting tulisan ini. Sebagai ungkapan rasa terimakasih saya atas pengertiannya selama ini. Juga sebagai bentuk permintaan maaf saya atas terlewatnya sebuah momen penting lain dalam hidup yang cuma sekali ini.

Semoga lekas sembuh ya Mi!