Pekan Duka Cita untuk Anak-Anakku

Pekan ini benar-benar pekan duka cita bagi saya. Dalam sepekan, ada 3 anak-anak yang tutup usia saat hidup mereka baru saja dimulai.

Yang pertama, anak dari Ike dan Mas Kasim. Ike ini anaknya kakak sepupu saya, tapi ia justru lebih tua setahun dari saya. Mas Kasim pun bukan orang lain. Kami bertetangga sejak tinggal di Bumijo Lor, Yogyakarta. Seminggu sebelumnya, Ike harus disesar karena suatu alasan. Anaknya pun lahir sebelum HPL dengan berat 2,8kg. Berat yang cukup sebenarnya. Anak pertama saya dulu lahir dengan berat 2,7kg. Namun ada permasalahan lain yang menyebabkan kondisinya makin memburuk. Tepat pada Kamis pagi tanggal 3 April, sang bayi pun wafat..

Sementara di Jakarta, pada hari Ahad pagi saya menerima SMS. Isinya bahwa ananda Muthia yang berumur 2 tahun 4 bulan wafat. Ananda Muthia ini anak dari Agus Mulyono, kakak kelas di STAN dengan selisih dua tahun. Pekan sebelumnya, saya sudah mendengar bahwa Muthia akan dioperasi. Di dalam perutnya ada tumor. cukup sulit bagi saya untuk memahami anak sekecil itu memiliki tumor. Kabarnya sejak kecil memang perut Muthia membesar dan kemudian mengeras. Dokter memvonisnya tumor bawaan dari lahir. Pada usia muda Muthia tutup usia.

Hari senin di kantor, saya menerima berita mengejutkan lainnya. Anak seorang teman sekantor meninggal pada Kamis lalu. Kawan-kawan yang melayat entah bagaimana terlupa mengabari saya. Aduh.. sayangnya saya melewatkan momen tersebut. Sang bayi wafat dalam kandungan usia 9 bulan. Sang ibu memiliki gula darah yang sangat tinggi. Dan kemudian karena hal-hal yang tidak terkontrol manusia membuat sang bayi keracunan gula darah.

Mudah-mudahan kesabaran keluarga yang ditinggalkan menjadi amal baik serta meringankan jenazah di alam kubur.

Sedih rasanya melihat anak-anak ini harus wafat. Saya merasakan kesedihan seolah-olah mereka adalah anak-anak saya sendiri. Ya, apa bedanya anak-anak mereka dengan anak-anak saya? Bisa saja anak kami yang tertimpa musibah itu. Hanya kebetulan untuk hidup yang saya jalani, anak-anak yang lahir dari rahim Ummu Abbas-lah yang menjadi tanggung jawab keluarga Uliansyah. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah subhaanahu wata’ala. Sangat mudah bagi Allah untuk memutar peran itu, jalan jidup antara kami dan mereka yang tertimpa musibah.

Karena itu mereka semua serasa adalah anak-anakku.