Sebuah Momen yang Terlewat

Hari ini Ummu Abbas dijadwalkan operasi gigi. Jadi hari ini Ummu Abbas minta ijin tidak menjalankan tugas sebagai pengajar. Karena operasi dilakukan di RSPAD Gatot Subroto, Ummu Abbas pun berangkat bersama Abu Abbas yang kantornya ada di Lapangan Banteng.

Setelah beberapa kali konsul ke dokter gigi mengenai sakit yang mendera, Ummu Abbas dianjurkan untuk operasi gigi. Operasi gigi ini ternyata tidak bisa ditangani oleh dokter gigi, tapi oleh dokter bedah mulut.

Ummu Abbas memanfaatkan fasilitas Askes (Asuransi Kesehatan) yang disediakan dari kantornya Abu Abbas. Ya memang kami tidak pernah meminta untuk berasuransi, tapi peraturan kantor mewajibkan hal itu. Karena sudah terlanjur dipotong gaji tiap bulan untuk premi Askes, sayang juga kalau tidak digunakan fasilitas yang tersedia. Salah satunya untuk berobat gigi seperti ini.

Berobat dengan Askes bisa dibilang enak-enak-nggak enak. Enak karena kita tidak harus membayar sebesar biaya normal. Ada sebagian tindakan maupun obat yang ditanggung oleh Askes. Sementara, dibilang nggak enak karena dirasakan adanya sikap yang berbeda dari pelayanan kesehatan yang didapat jika kita menggunakan Askes. Diakui atau tidak, pengguna Askes menerima perlakuan yang berbeda dari pasien normal. Biasanya, pengguna Askes identik dengan orang miskin.

Selain perlakuan yang berbeda dari pelayanan kesehatan, perlakuan dalam mengurus Askes juga sering tidak mengenakkan. Tidak semua pengguna Askes itu tahu prosedur mengurus Askes. Jadi wajar saja kalau banyak bertanya pada petugas Askes di lapangan. Namun, sayangnya respon petugas ini tidak selamanya mengenakkan. Kami pernah beberapa kali mengalami dibentak-bentak dan digoblok-goblokkan oleh para petugas ini. Padahal apa sih susahnya menjawab baik-baik? Kami tahu para petugas ini capek, lelah, bayaran tak seberapa. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk bersikap seburuk itu?

Lebih sering lagi, kami melihat pengguna Askes yang berasal dari tempat jauh, yang datang berobat jauh-jauh, mungkin pendidikan juga tidak tinggi, umur sudah uzur, dan memang kesulitan memahami prosedur yang ada, pun tak pelak mengalami perlakuan yang sama.

Atas alasan itu pulalah kami memilih RSPAD Gatot Subroto untuk pelayanan kesehatan menggunakan Askes. Dibandingkan dengan RS Fatmawati, pelayanan Askes di RSPAD jauh lebih baik. Di RSPAD, prosedur Askes jelas terpampang pada tulisan di loket. Kalau tidak jelas, bertanya ke petugas pun diterangkan dengan sangat baik (terimakasih ya pak). Sementara pengalaman di RS Fatmawati, tidak ada penuntun prosedur yang terpasang. Pun petugas yang dihubungi langsung merespon dengan nada tinggi.

Sempat juga di RS Bhakti Asih Ciledug, Ummu Abbas pertama kali konsul masalah gigi ini. Pelayanan Askesnya ok, jelas dan responnya baik. Tapi oleh seorang dokter gigi anaksempat ditawari untuk dioperasi olehnya saja. Untung Ummu Abbas nggak menerima tawaran itu. Bisa-bisa pengalaman mbak Katherine Arta menimpa diri Ummi juga. Terjebak 4 jam di ruang operasi karena tidak ditangani oleh ahli yang benar.

Pengalaman kami menggunakan Askes cukup memuaskan. Mungkin karena kami beruntung memilih RS yang pelayanan Askesnya sangat baik. Abu Abbas pernah dirawat 2 minggu di RSPAD karena Demam Dengue. Persalinan kedua Ummu Abbas di RS Harapan Kita Slipi juga memanfaatkan fasilitas Askes.

Sehingga ketika sakit gigi Ummu Abbas harus dioperasi, penggunaan Askes pun menjadi pilihan utama. Sejak malam, Ummu Abbas sudah menyiapkan diri untuk prosedur operasi. Sesuai petunjuk dokter, pada malam sebelum operasi, Ummu Abbas banyak-banyak mengonsumsi Vitamin C dari buah jeruk. Pagi harinya, sarapan pun agak banyak karena kata dokter setelah dokter baru bisa makan setelah 6-8 jam.

Walaupun hari ini sudah dijadwalkan operasi, tapi kami tidak tahu jam berapa tepatnya operasi dilaksanakan. Karena itu Abu Abbas berolahraga dan masuk kantor dulu. Ya, tiap Rabu, Abu Abbas memang ada jadwal latihan basket bersama teman-teman kantor. Kebetulan Abu Abbas menjadi penanggung jawab lapangan, dan hari ini pula harus menyelesaikan administrasi dengan Dinas Olahraga Provinsi DKI sebagai pengelola lapangan (bayar sewa gitu, susah amat ngomongnya pake muter-muter).

Nah dari sinilah masalah mulai datang. Ternyata operasi yang dijalani Ummu Abbas lumayan besar. Operasi harus dilaksanakan di ruang operasi menggunakan dipan yang disinari lampu-lampu terang. Ummu Abbas pun mengirim sms untuk minta ditemani Abu Abbas. Sementara Abu Abbas yang sedang mengerjakan tugas kantor pun mengirimkan sms yang menanyakan jam pelaksanaan operasi. Abu Abbas juga berniat menemani istrinya.

Sayangnya, komunikasi lintas teknologi ini tidak berlangsung lancar. Ponsel GSM Ummu Abbas sudah menunjukkan status terkirim, tapi pesan itu tidak pernah sampai di ponsel CDMA Abu Abbas. Demikian pula sebaliknya.

Begini isi pesan singkatnya.

Abu Abbas to Ummu Abbas:

mi, gmn kabarnya? jam brp dioperasi? semangat ya, jgn takut. ayah mendoakan.

pesan dikirim jam 09.00 masih dengan asumsi operasi hanya di kursi dokter gigi saja.

Ummu Abbas to Abu Abbas:

Yah, sibuk ya. jam 09.07

Yah, k sini dong. Ummi deg2an. jam 09.16

Yah, ibu itu memperingatkan stelah 2 jam bius hilang. Bengkak, sakit, smp 2 hr. Kynya umi butuh ayh nih. jam 09.50

Yah, ummi sdh masuk ruang operasi. Disuruh ganti baju dan buka jilbab. Umi minta ayah datang ya ke rspad lt 2 klinik gigi n mulut. Dkt qt periksa dng dr indang. Maaf ya salah2 umi. jam 10.23

Tiba-tiba pukul 11.40 ada telepon dari Ummu Abbas via telepon kantor. Suaranya sudah penuh tangis. Ternyata dioperasi itu menyakitkan. Abu Abbas pun buru-buru pamitan dari kantor menuju RSPAD. Perjalanan ke RSPAD bukan tanpa halangan. Komplek kantor Menteri Keuangan hari itu sedang didemo. Semua pintu keluar ditutup rapat dan dijaga polisi. Gerbang-gerbang dirantai dan dikunci dengan gembok. Waduh..

Untungnya ada jalan tikus dari Polsek Sawah Besar yang berhimpitan dengan komplek Depkeu. Selepas dari sana, Abu Abbas pun menggunakan ojek ke RSPAD.

Melihat kondisi Ummu Abbas, saya sangat sedih. Sedih karena tidak bisa menemaninya melewati masa-masa sulit. Padahal ketika saya sakit, ia lah yang merawat saya. Tidak meninggalkan sosok yang terbaring sakit penuh permintaan barang sedikit pun. Kesabarannya merawat saya seolah dibalas dengan ketidakpedulian.

Untuk itu pulalah sesampainya di rumah, saya cepat-cepat memposting tulisan ini. Sebagai ungkapan rasa terimakasih saya atas pengertiannya selama ini. Juga sebagai bentuk permintaan maaf saya atas terlewatnya sebuah momen penting lain dalam hidup yang cuma sekali ini.

Semoga lekas sembuh ya Mi!

  • Pingback: Websites tagged "ayh" on Postsaver()

  • vici

    assalamualaikum
    boleh tahu di RSPAD kena berapa setelah dipotong askes? kebetulan istri memiliki kasus yang sama.
    makasih infonya yah

  • waalaykumsalaam,
    saya kena 400 ribu.
    tapi bisa beda juga tergantung tindakan yang diambil dokter.

  • lia

    klo di rsu.bhkati asih ciledug kena berapa melahirkan normal atau cesar setelah dipotong askes?