Mengejar Kesempurnaan (Pursuit of Excellence)

Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (Total Quality Management). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. TQM tidak mentolelir adanya produk cacat. Mengadopsi TQM berarti berkomitmen penuh dengan zero-defects.

Pandangan ini telah merevolusi keyakinan manajemen terdahulu. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah terpatri di hati dan kepala manajer bahwa adanya sebuah acceptable tolerance dalam proses produksi. Dengan keyakinan ini para manajer beranggapan bahwa, “yaah.. wajarlah kalo ada produk reject. Dari satu juta produk mosok nggak ada yang cacat.” Sebuah keyakinan yang masih memiliki penganut sampai saat ini.

Di era persaingan gila-gilaan ini, kompetisi telah menuntut adanya suatu diskrepansi nilai yang signifikan di antara produk-produk yang beredar. Para manajer pun berlomba-lomba mengejar keunggulan. Salah satu inovasi terbesar dalam perkembangan ilmu manajemen di era 1990-2000 adalah dikembangkannya konsep TQM. Para manajer tidak cukup lagi berasumsi bahwa ada sedikit produk cacat adalah hal yang wajar. Proses penciptaan nilai bagi produk digenjot pol mulai dari pabrik. Produk cacat tidak hanya menandakan proses produksi yang berjalan telah gagal dalam mengolah seluruh bahan baku, namun juga menunjukkan ada sesuatu yang salah pada perencanaan produksi. Apa bisa dikatakan masuk akal bila perusahaan merencanakan untuk gagal?
Keberadaan produk cacat seringkali membutuhkan penanganan ekstra dibandingkan produk sempurna. Biaya tambahan yang muncul untuk mengolah kembali (re-work) ataupun membuang (dispose) produk tersebut bisa membuat total ongkos produksi membengkak. Hal ini yang akhirnya akan menurunkan value yang diterima oleh pelanggan.

Ah.. saya tak ingin berlama-lama membahas hal ini. Singkatnya berbagai metode dan pendekatan berbasis pandangan TQM ini hadir sebagai alternatif. Anda tentu sudah mengenal (bahkan mungkin mempraktikkan) Kaizen, Six Sigma, Malcolm Balridge, Deming System, Management by Objective, dll. Kita bebas untuk mengadopsi metode mana saja.

Satu pertanyaan menyeruak di kepala saya. Metode mana pun yang Anda pilih, selalu menyebutkan Kaizen sebagai praktik awal sejarah TQM. Hal ini menandakan, bangsa Jepang adalah bangsa yang pertama kali sadar mengenai TQM. Pertanyaannya, kenapa harus berawal di Jepang?

Bangsa Jepang dikenal memiliki keterkaitan yang kuat dengan budayanya. Kondisi geografis sebagai kepulauan yang terpencil dari daratan, telah menumbuhkan sikap primordialisme yang kuat. Kondisi ini mirip seperti kepulauan Inggris di Eropa. Bahkan sampai saat ini, orang Jepang dikenal tidak mampu berbahasa asing.

Entah bagaimana sebabnya, bangsa Jepang dikenal pula karena kesempurnaan dalam kesehariannya. Orang Jepang terbiasa mengerjakan semua hal dengan sempurna. Mungkin karena sumber daya alam yang terbatas, membuat mereka mengembangkan sikap efisiensi dan efektivitas dalam mengolahnya menjadi barang konsumsi.

Mari kita lihat lebih detil. Orang Jepang memiliki acara minum teh yang disebut Chado. Dalam acara ini, seluruh aktivitas telah direncanakan dengan detil. Kelengkapan peralatan berupa teko, cawan, wadah gula, sendok, dan pengaduk merupakan persiapan standar yang wajib tersedia. Selanjutnya, prosesi acara mulai dari menyiapkan peralatan, menyeduh dan meminum teh sampai membersihkan peralatan, memiliki ritual tersendiri. Tidak boleh ada satu bagian pun yang terlewat atau salah. Harapannya tentu agar hasil seduhan teh bisa dinikmati dengan sempurna.

Ada lagi budaya Jepang yang populer yang disebut Ikebana. Seni merangkai bunga ini telah dimulai sekitar 14 abad yang lalu. Seluruh usaha untuk menempatkan harmoni berbentuk warna, ritme, dan desain, dituangkan dalam sebuah tanaman dalam pot. Tanaman yang sudah dipisahkan dari alam (baca: dipetik) haruslah diberi wadah yang memiliki keharmonisan seperti alam aslinya. Ikebana tak lain adalah bentuk menuangkan kesempurnaan dalam wujud eksploitasi keindahan tumbuhan.

Dalam bentuk yang lebih besar dibandingkan dua contoh di atas, bangsa Jepang pernah memiliki samurai sebagai suatu sistem budaya. Sebuah kelompok yang dibentuk untuk setia dan melindungi kekaisaran telah berkembang menjadi suatu sistem budaya yang kompleks. Tidak hanya aspek spiritual yang mampu membuat seorang samurai rela mengorbankan nyawanya, namun aspek teknis dalam proses menempa diri telah dirancang, dipraktikkan dan disempurnakan secara turun-temurun. Dalam gerakan seorang samurai, tidak ada hal yang sia-sia. Seluruh tarikan nafas, kontraksi otot dan konsentrasi pikiran, bersinergi untuk tujuan yang sama. Sebuah sabetan pedang yang secara sempurna mematikan musuh yang dihadapinya.

Melihat beberapa contoh di atas, saya rasa cukup mewakili potret budaya Jepang yang menjadi latar belakang munculnya konsep Kaizen (continuous improvement) yang nantinya diadopsi menjadi dasar filosofi TQM. Tidak heran inovasi itu terlahir di sana. Bangsa Jepang terbiasa mengejar kesempurnaan dalam setiap detil aktivitas sehari-hari. Sikap ini yang terus terbangun mulai dari hal kecil sampai menjadi kompleks, dan akhirnya digunakan dalam dunia manajemen.

Jadi, tidak terlalu mengherankan kalau dari daratan Jepang muncul Kaizen, Demings System (1), Toyota Ways, legenda Honda, raja inovasi Sony, raksasa bisnis Mitsubishi dan berbagai macam keajaiban bisnis lainnya. Mereka adalah buah dari kerja keras serta budaya yang telah mencetak cara pandang orang Jepang dalam mengejar kesempurnaan.

-o0o-

Notes:
(1) Ingat, walaupun Edward Demings berasal dari Amerika, buah pikirannya justru berkembang di Jepang.