Pak Dosen Tukang Cukur Rambut

Sebuah pengalaman mengesankan di kota pelajar Yogyakarta mengajarkan banyak hal pada diri saya. Khususnya pelajaran mengenai optimisme dan perjuangan hidup. Di salah satu sudut kota ini, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang dosen yang juga merangkap profesi sebagai tukang cukur rambut. Berikut ini cerita selengkapnya, mudah-mudahan bermanfaat pula bagi Anda.

Sore itu, rambut Abbas, anak saya, sudah terlihat terlalu panjang untuk seorang anak laki-laki. Poninya menggantung menutupi mata. Di samping kanan dan kiri, rambutnya menyeruak melewati daun telinga. Serabut rambut juga memanjang menuruni tengkuknya.

Sebenarnya di Jogja ini saya belum tahu persis dimana lokasi barbershop atau tukang cukur yang pas buat anak-anak. Mengandalkan intuisi serta ingatan dari pengamatan sekilas menjelajahi kota selama ini, rombongan keluarga Uliansyah pun segera melesat di jalanan kota Gudeg mencari tukang cukur. Banyak sih barbershop di kota ini. Bahkan lucunya, mereka ramai-ramai memasang kata “Bergaransi” di papan nama. Sampai sekarang, saya belum paham garansi apa yang dimaksudkan untuk sebuah produk berupa jasa cukur rambut.

Sesampainya di sebuah barbershop “bergaransi”, antrian kustomer sudah memenuhi ruang tunggu. Daripada menunggu, kami sekeluarga segera mencari alternatif barbershop lain. Sayangnya, selama beberapa ratus meter berikutnya kami tidak melihat satu pun barbershop lainnya. Maklumlah sudah 14 tahun saya meninggalkan kota kelahiran saya ini. Lokasi-lokasi tempat-tempat penting pun sudah jauh berubah. Tak satu pun lokasi barbershop yang hadir di ingatan saya.

Anak laki-laki saya pun mulai tidak sabar. Beberapa kata tuntutan mulai terucap dari mulut manyunnya. “Cepat yah! Abbas mau dicukur!”

Insting saya kemudian membawa saya mengarahkan motor berpenumpang 4 orang ini ke daerah kampus UGM. Sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, motor mulai berbelok ke jalan karang bendo. Mata saya menelusuri deretan bangunan di kiri jalan, sementara ibunya anak-anak konsentrasi memindai rangkaian ruko di kanan jalan. Sinar matahari mulai memudar, tanda petang segera berlalu. “Yah! Tadi di kiri ada tukang cukur!”

Motor saya mundurkan manual beberapa meter (pake kaki) untuk sampai ke depan kios tukang cukur itu. Pak tukang cukur sedang asyik melayani seorang pelanggan. Tangannya bergerak kesana kemari. Di bangku antrian, duduk menanti seorang pelanggan anak-anak. Wah cocok nih! Sorakku dalam hati. Saya pun parkir dan segera menunggu di emperan kios.

Tak lama kemudian, pak tukang cukur menyapa ramah, “Silahkan pak, siapa nih yang mau dicukur”. Abbas dengan penuh keyakinan segera naik ke kursi cukur. Saya turut menemani dari belakang. Perlahan, mata saya mulai menelusuri dinding kios tukang cukur. Ada sebuah foto seorang pemuda berkacamata dalam baju wisuda sedang tersenyum cerah. Di bawahnya ada tulisan Wisuda Sarjana UGM 1996. Alis langsung naik dan hati bertanya-tanya. Hmm.. kayaknya kita bertemu sosok menarik hari ini.

Pak tukang cukurnya cukup ramah. Abbas bisa di-direct tanpa harus menggunakan intonasi instruksi. Sambil melakukan pekerjaannya, ia membuka perbincangan dengan saya. “Kerja di mana oom?”, tanyanya.

“PNS”, jawab saya singkat.

“Lagi S2 ya oom?”, lanjutnya lagi.

Saya pasrah saja digelari Oom. “Iya pak”, jawab saya jujur.

“Dulu S1 di mana?”, katanya sambil tangannya terus menari lincah di atas kepala anak saya.

“Di STAN pak.” Emoh diinterograsi, saya balik bertanya, “Ini foto Bapak?”

“Iya, oom. Saya dulu S1 di UGM.” Wak! Hebat nian! Dugaan saya mulai terbukti.

“S1-nya apa pak?”

“Fakultas Sastra, saya ambil jurusan Sejarah.” Wah jadul banget! Setahu saya fakultas sastra UGM sudah berubah nama jadi fakultas ilmu budaya sejak tahun 2001.

“Kegiatannya apa pak? Apa cuman nyukur aja”, uups.. maaf pak kengintahuan saya terlontar begitu saja.

“oo.. nggak Oom. Saya kalau pagi ngajar”, katanya tenang.

“Hah?!? Ngajar?? Ngajar apa pak?”

“Ngajar di Akademi Manajemen Pariwisata oom.”

“Wah, dosen maksudnya??”

“Iya oom.”

Glek! Hebat.. hebat.. Saya sendiri pernah merasakan beratnya mejadi dosen pengajar. Di sisi lain, menjadi dosen adalah sebuah kepuasan ilmiyah dan idealis yang pernah saya capai. Model-model kehidupan seorang dosen pun kurang lebih pernah saya saksikan. Namun baru kali ini saya bertemu dengan dosen yang menjadi tukang cukur.

Mendengar terkuaknya sebuah fakta yang menarik, saya langsung mengorek informasi lebih lanjut. Beberapa menit kemudian kami sudah mengobrol panjang. Pak Arif, demikian nama pak tukang cukur yang juga dosen tersebut. “Di sini saya dikenal dengan nama Ayis”, jelasnya. Pagi hari ia mengajar sebagai dosen di sebuah Akademi Pariwisata. Siang sampai sore ia membuka kios cukur. Saya tanyakan mengapa masih mempertahankan kios cukurnya. “Dua tahun setelah lulus S1, saya mulai membuka usaha ini. Jadi kurang lebih sudah 10 tahun saya melayani pelanggan saya. Rasanya kok sayang meninggalkan mereka.”

Kisah hidup Pak Arif ternyata pernah pula diangkat dalam sebuah acara televisi. Waktu itu, seorang koresponden Lativi pernah bercukur di kios cukur Ayis. Setelah mengetahui latar belakang pak Arif sebagai dosen, ia memanggil kru dan mulai merekam aktivitas sehari-hari pak Arif. Mulai dari rumah, mengajar di kelas di pagi hari dan mencukur di sore hari. Hasil liputannya ditayangkan di segmen Cerita Kita.

Iseng saya bertanya, “Nggak malu pak kalo ada mahasiswanya lihat Bapak nyukur?”

“Wah nggak om. Justru mereka saya ajak cukur ke sini.” Wah bagus pak.. supaya rekan-rekan mahasiswa itu bisa mensyukuri keadaan mereka. Juga sebagai pelajaran agar tidak mudah menyerah dalam hidup. Meskipun Anda dosen, tapi tidak malu membuka usaha cukur rambut.

Satu hal yang saya suka dari pak Arif a.k.a Ayis ini adalah, dalam pembicaran kami beliau tidak sekalipun mengeluhkan sesuatu hal dalam hidupnya. Seolah, beliau ingin mengatakan bahwa hidup ini harus disyukuri. Bahkan pemaknaan syukur ala beliau adalah dengan berusaha melalui jalan apa pun yang halal. Tukang cukur bukanlah profesi hina. Di tangan pak dosen ini, profesi tukang cukur menunjukkan derajat yang sesungguhnya sebagai sebuah mata pencaharian.

Sambil melakukan finishing pada rambut anak saya, pak Ayis membuka rahasia lainnya pada saya. “Saya kalo weekend kuliah ambil S2“, akunya. Wahahaha.. hebat.. hebat.. Lengkap sudah wujud optimisme yang saya lihat dari sosok pak Ayis. Pekerja keras sebagai tukang cukur, pengabdi ilmu sebagai dosen, serta pencari ilmu yang tidak berhenti untuk belajar sebagai mahasiswa S2.

Saya yakin, masih banyak Ayis-Ayis lainnya di Indonesia. Seorang kepala sekolah yang menjadi pemulung, guru sekaligus tukang ojek, atau hibridasi profesi lainnya. Entah karena idealisme atau keterpaksaan, yang jelas mereka adalah para pejuang berani hidup.

Semoga sukses pak Ayis. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan keberkahan pada diri Anda dan keluarga Anda. Barakallahu fiikum wa ahlikum wa maalikum. Amin. Kita ketemu lagi, insya Allah, next time saya butuh dicukur. Bagi Anda yang mau merasakan layanan cukur pak Ayis, silahkan mampir ke kios cukur Ayis di Karang Bendo, sebelah utara Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta. Beberapa puluh meter sebelah utara dari toko Muslim Ihya’. Syaratnya: harus laki-laki. Lha wong barbershop masak untuk perempuan. Ya tho?

Wassalam,
Abu Abbas Beta Andri A. Uliansyah

  • widis

    mau jadi pns depkeu tukang cukur, tapi waktunya ga cukup he he he he

  • Saya yakin kalau honor ngajarnya pasti lebih kecil daripada hasil nyukur

    Di blok O, dekat STTA ada tukang cukur namanya “SERDADOE”
    yang nyukur sekaligus pemilik lulusan S2 ngajar di Psikologi UAD
    istrinya lagi ngambil S3 Psikologi di UGM
    Rumahnya bagus, punya mobil
    bahkan sekarang juga kalau nyukur lagi kosong melayani cuci mobil, dia juga yang ngerjakan

  • @widis: dulu kan udah
    @bigsugeng: lha nggih pakdhe, bisa jadi ngajarnya itu panggilan jiwa, nyukurnya utk memenuhi kebutuhan. Blok O Jakarta apa Jogja, pakdhe?