PKO Muhammadiyah dan Haji Sujak

Kisah ini saya dapat secara tak sengaja. Awal mulanya ketika istri saya melahirkan anak ketiga. Rumah sakit yang kami pilih adalah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak salah memang pilihan itu, karena saya dan istri merasakan banyak keuntungan dan manfaat selama di RS tersebut. Setelah melahirkan, ucapan selamat pun berdatangan dari kawan-kawan. Ada untungnya juga punya banyak kawan, hidup terasa lebih indah ketika kita punya seseorang untuk berbagi.

RS PKU Muhammadiyah
*gambar dari http://doddyy.blogspot.com/

Dari banyak kawan yang datang berkunjung, ada seorang kawan Kasubsi Islam (istilah untuk Rohis/Kerohanian Islam) di SMA saya dulu. Pada waktu ngobrol ngalor ngidul, beliau sempat mengutarakan tentang sejarah RS PKU Muhammadiyah. Dari lisan beliaulah kisah ini saya dapatkan dan kemudian saya lengkapi dari sumber lain.

PKU Muhammadiyah dibangun atas prakarsa salah seorang rekan KH Ahmad Dahlan di gerakan Muhammadiyah, yaitu HM Sujak. Sujak adalah kakek buyut dari kawan saya ini. Pada awal berdirinya Muhammadiyah, Sujak adalah seorang pemuda yang terpanggil untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai sarana amal dan dakwah Islam. Sujak memang telah menjadi murid dari KH Ahmad Dahlan sebelumnya. Pada pendirian Muhammadiyah tanggal 18 November 1912, Sujak turut menjadi angkatan muda. Pada tahun 1920-an, Sujak dipercaya memimpin Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), salah satu bidang organisasi Muhammadiyah. Dengan berbekal predikat ketua PKO, Sujak melontarkan ide pembentukan lembaga sosial di bawah Muhammadiyah. Ide membangun rumah sakit ini tentu saja tidak dapat langsung diterima oleh kalangan internal. Banyak orang yang merasa ide tersebut terlalu utopis untuk dilaksanakan.

PKU Muhammadiyah
*gambar dari jogja-info.org

Rencana pendirian Rumah Sakit tersebut rupanya juga dipandang sebelah mata oleh pemerintah Belanda waktu itu. Ketika Sujak ditanya oleh pemerintah, mau buat RS, dokternya dari mana? Dijawab Sujak, dokternya Tuan yang menyediakan. Belanda pun kaget mendengar permintaan itu. Sujak menguatkan permintaannya dengan sebuah argumen. RS Panti Rapih (waktu itu tentu namanya masih RS Onder de Bogen), yang didirikan yayasan Katolik, dibantu tenaga dokternya oleh pemerintah Belanda. Jadi apa salahnya jika yayasan Islam mendirikan RS, tenaga dokternya pun dibantu oleh pemerintah Belanda? Alhasil, pemerintah Belanda pun menyediakan beberapa dokter yang diperbantukan di PKO Muhammadiyah. Pada tanggal 15 Februari 1923, Klinik PKO Muhammadiyah mulai beroperasi.

Saat ini, PKU Muhammadiyah tidak perlu khawatir lagi dengan ketersediaan tenaga dokter. Pasalnya, Muhammadiyah telah memiliki sumber tenaga medis yang memadai. Tenaga dokter sudah dapat disediakan oleh Universitas Muhammadiyah , dan juga menyerap lulusan dari PT lainnya. Tenaga perawat dan bidan disediakan oleh STIKES ‘Aisyiyah. Rangkaian kebutuhan sebuah rumah sakit dalam menyediakan layanan kesehatan telah dapat didukung oleh sumber-sumber internal Muhammadiyah. Contoh paling sederhana adalah gula yang disediakan sebagai suguhan minum teh, dipacking oleh unit diversifikasi usaha Muhammadiyah.

Gula Diversifikasi Usaha Muhammadiyah

Tokoh Sujak muncul juga dalam film Sang Pencerah. Giring yang mendapat kesempatan melakoni tokoh tersebut. Bahkan sutradara film tersebut, Hanung Bramantyo, mengakui bahwa setting film bersumber pada buku yang ditulis oleh Sujak. Saya sendiri belum melihat Sang Pencerah. Anda yang sudah menonton, bisakah memberi gambaran pada saya mengenai tokoh Sujak dalam film tersebut? Tolong sampaikan melalui kotak komentar di bawah.

Sang Pencerah The Book
*gambar dari indonesiabuku.com

Keberadaan PKO Muhammadiyah tentu tak terlepas dari cara dakwah KH Ahmad Dahlan. Beliau dikenal mementingkan praktik beramal dari ayat-ayat dan hadis yang dipelajari. Konon, pengajian surat Al-Fatihah yang beliau ampu, memerlukan waktu berbulan-bulan karena setiap ada fiqh (kandungan hukum) yang dipelajari akan langsung diamalkan. Konon pula, saat KH Ahmad Dahlan berdakwah, kota Yogyakarta bersih dari gelandangan dan pengemis. Setiap hadirin pengajiannya ditantang untuk mengurusi para gelandangan dan pengemis tersebut. Satu orang mengurus satu gelandangan.

Manhaj amal ini amat berpengaruh pada misi organisasi Muhammadiyah saat ini. Salah satu sumber menyebutkan bahwa Muhammadiyah saat ini baru mengamalkan 500 ayat dari Al-Quran. Mudah-mudahan Muhammadiyah semakin hari semakin kaffah (komprehensif) dalam menjalankan ajaran Islam. Apalagi pada pertengahan 2010 lalu sudah menjalankan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah.

Perubahan juga terjadi pada PKO Muhammadiyah. Singkatan PKO yang tadinya kependekan dari Penolong Kesengsaraan Oemoem, berganti menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU). Jumlah RS pun bertambah dan meluas hingga ke pulau Kalimantan. Tahun 1924 saja, PKO Muhammadiyah sudah membuka cabang di Surabaya dengan dibantu oleh dr. Soetomo. Semua berawal dari usaha mbah Sujak. Mudah-mudahan Allah memberikan tambahan kebaikan pada beliau setiap kali hasil usahanya bermanfaat bagi orang lain.

Mengenal sedikit sejarah PKU, membuat saya menjadi lebih menghargai keberadaan RS ini. Saya tidak sekedar menilai RS ini dari kualitas layanannya semata, tetapi juga membuat saya memahami latar belakang pendiriannya. Tidak sekedar menikmati (dan mengkomplain) layanan kesehatan yang diberikan, saya mendapat bekal kisah inspiratif mengenai kisah perjuangan sosial amaliyah seorang muslim.

Meskipun hanya KH Ahmad Dahlan yang digelari Pahlawan Nasional, saya yakin penilaian Allah tidak akan merugikan siapa pun. Mudah-mudahan amal ibadah Haji Sujak mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allahu subhaanahu wa ta’alaa. Mudah-mudahan sosok seperti Ahmad Dahlan dan Sujak terus muncul di kehidupan kita. Amiin.