Investasi Akhirat di Lereng Merapi

Menanamkan Investasi Akhirat di Muslim Center Merapi

Ayo, siapa yang mau membangun rumah di surga? Mari turut berkontribusi dalam pembangunan Muslim Center Merapi. Hanya dengan menyisihkan 50.000 rupiah, kita sudah turut membebaskan 1 m2 tanah untuk pembangunan Muslim Center Merapi.

Dibalik musibah erupsi Merapi, ada hikmah besar yakni lebih diterimanya dakwah Islam di kalangan korban erupsi. Masyarakat muslim lereng Merapi saat ini sudah semakin menyadari pentingnya pemahaman agama yang baik. Dengan demikian, potensi pembangunan pusat dakwah Islam akan memberikan dampak yang luas dan berjangka panjang insya Allah.

Dalam ilmu bisnis yang saya pelajari, investasi yang paling baik adalah investasi yang memiliki hasil yang besar dan mampu bertahan lama. Nah, Allah telah menjanjikan perdagangan yang lebih baik dari yang bisa kita dapatkan di dunia. Saya merasa ‘berinvestasi’ pada program Muslim Center Merapi ini juga dapat memberikan hasil terus-menerus yang awet. Setiap kali ada amal sholih yang dilakukan karena berdirinya MCM, maka para kontributor pembangunan juga akan mendapatkan bagian pahala yang melimpah.

Bagi Anda yang sudah memiliki kesempatan dan kemauan, investasi akhirat ini dapat disalurkan melalui beberapa alternatif rekening berikut:

  1. Rekening BNI Syariah Yogyakarta. No. Rek. 0092167858 a.n. Syarif Mustaqim
  2. Rekening Bank Syari’ah Mandiri (Cab.Yogyakarta). No. Rek. 0307089062 a.n. Syarif Mustaqim
  3. Rekening Bank Mandiri (K.C Yogyakarta UGM). No. Rek. 1370007620327 a.n. Syarif Mustaqim
  4. Rekening Bank Muamalat (Cab.Yogyakarta). No. Rek. 0129933348 a.n. Syarif Mustaqim
  5. Rekening BCA (K.C.P Kaliurang Yogyakarta). No. Rek. 8610169750 a.n. Syarif Mustaqim

Setelah mentransfer, sebaiknya Anda mengirimkan sms konfirmasi ke nomor 0852 2806 6686 (Syarif Mustaqim), dengan format sebagai berikut:

Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Islamic Center Merapi.

Bisa juga mengontak panitia melalui e-mail: ypiapeduli@yahoo.com atau ypia.jogja@gmail.com.

Bagaimana kita dapat mengikuti perkembangan program ini? Jangan khawair, perkembangan pembangunan Muslim Center Merapi dapat dipantau melalui website: http://www.dakwahmerapi.com/ Atau Anda juga dapat mengunjunginya langsung jika sedang berkunjung ke Jogja.

Sisi Utara dan Sisi Selatan Lerang Merapi

Muslim Center Merapi akan dibangun di daerah Kepuharjo dan Wukirsari yang nota bene berada di sisi selatan Gunung Merapi yang masuk ke wilayah DI Yogyakarta. Anda juga dapat berkontribusi pada program dakwah serupa di sisi utara gunung yang masuk dalam wilayah Jawa Tengah, yaitu program P3BM.

Ayo berlomba-lomba dalam kebaikan! Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Amin.

Koran By Heart: Film dokumenter HBO tentang Hafidz Cilik

Film ini luar biasa.. Film ini betul-betul luar biasa.. Hehehe.. maaf kalau saya sampai menekankan berkali-kali. Tapi saya memang jarang mendapati film yang bisa saya nikmati seperti film Koran By Heart ini dan saya ingin membagi pengalaman menakjubkan ini dengan Anda.

Koran by Heart adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh HBO. Film ini mengambil plot sebuah even besar di dunia Islam, yaitu lomba hafalan (tahfidz) Alquran yang diselenggarakan setiap tahun di Mesir. Lomba tersebut diikuti oleh 100 penghafal Alquran dari seluruh dunia setiap tahun.

Poster film Koran by Heart

Pada penyelenggaraan lomba tahfidz tahun 2010, ada tiga orang peserta lomba yang kisahnya diangkat dalam dokumenter ini. Mereka adalah Nabiollah, Rifdha dan Djamil. Nabilollah berasal dari Tajikistan, Rifdha berasal dari Maladewa (Maldives) dan Djamil dari Senegal, pesisir barat Afrika. Mereka bertiga memiliki kesamaan: sama-sama berusia 10 tahun dan sama-sama telah hafal Alquran 30 juz.

Tajikistan terletak di sebelah utara Asia, dan Nabiollah pun berasal dari ras Kaukasus (kebayang kan? bule banget). Sementara Maladewa terletak di Samudra Hindia. Anaknya lucu banget deh, dengan jilbab besarnya ia selalu bergerak aktif. Ia berprestasi di semua mata pelajaran sekolah, menyukai Matematika dan Sains, dan bercita-cita menjadi peneliti. Senegal terletak pesisir barat Afrika, dan seperti keluarga Senegal pada umumnya, Djamil hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu baik.

Ketika saya membuka Google Maps untuk melihat ketiga lokasi asal tokoh-tokoh kita ini, saya sangat terkejut. Jarak tempat tinggal ketiganya terpisah ribuan kilometer, namun mereka mempelajari Quran yang sama.

Antara Senegal, Tajikistan dan Maladewa

Ketiganya harus meninggalkan keluarga dan negara mereka untuk mengikuti lomba di Kairo, Mesir. Bahkan Djamil berangkat tanpa disertai oleh satupun sanak famili. Tantangan tersebut makin berat dengan waktu pelaksanaan lomba di dalam bulan Ramadhan. Artinya, para peserta harus berpuasa di siang hari dan berlomba di malam hari. Penggunaan komputer dalam perlombaan juga membuat beberapa peserta bertambah gugup. Komputer bertugas untuk ‘memberitahu’ peserta dari ayat mana ia harus memperdengarkan Quran.

Penilaian dilaksanakan oleh beberapa juri yang telah dikenal memiliki kompetensi dalam hafalan Quran. Jika peserta salah dalam melanjutkan ayat, dia akan dipotong setengah poin jika ia mampu menyadari kesalahannya. Namun, jika juri yang turun tangan membetulkan kesalahan, maka peserta kehilangan satu poin penilaian.

Selain ketiga tokoh utama film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dalam menghafal Alquran. Menghafal Alquran tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh anak-anak dari Timur Tengah saja, namun seluruh dunia. Para hafidz lain yang muncul dalam dokumenter ini adalah Muhammad (10 tahun) dari Australia, Susana (17 tahun) dari Italia,  Naaman (10 thn) dari Afrika Selatan (tapi kalau dilihat dari tulisan Arabnya, ejaan yang lebih tepat mungkin Nu’man), Yasser (7 tahun) dari Mesir, Abdel (10 thn) dari Pakistan, Omar (19 thn) dari Nigeria, Susana (17 tahun) dari Italia,Abdullah (17 tahun) dari Mesir, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, film ini mampu mematahkan anggapan saya bahwa hanya anak-anak berbahasa Arab saja yang mampu menghafal 30 juz di usia dini.

Banyak lho yang merasa terkesan setelah menonton film ini. Misalnya Haena dari Bandung,  Kaskuser Oda Sensei dari Yogyakarta, Sultan Haidar Samlan dari Jerman, Risyad Tabattala dari Blitar, Adhwa Yahaya dari Malaysia, dan seorang kandidat doktor di Univ. Hokkaido (sebut saja namanya Ummu Harvy). Christopher Campbell, seorang blogger penyuka film, juga menyadari bahwa tahfidz Quran berbeda dengan kompetisi mengeja macam Spelling Bee atau Spellingbound.

Sang sutradara film, Greg Baker, dalam sebuah wawancara dengan majalah Filmmaker mengungkapkan pendapat pribadinya tentang film ini:

Jujur, saya tidak tahu bagaimana film ini akan ditanggapi. Ini adalah subjek asing bagi pemirsa Barat. Sehingga tantangannya adalah membawa seseorang ke dunia itu dan memastikan mereka tidak tersesat di dalamnya. Yang mengagumkan adalah pemirsa akhirnya memahami siapa yang melantunkan Alquran dengan indah dan mana yang bukan. Mereka terpaku pada anak-anak tersebut. Sebelum menonton, mereka tidak menyangka akan mendapati hal seperti itu dalam film.

Saya masih ingin bercerita tentang tokoh-tokoh dalam film ini. Mungkin di posting berikutnya. Menurut saya, mereka adalah sosok-sosok terpilih yang dititipi amanah hafalan Quran di dadanya.

Yang jelas, sulit bagi saya untuk menahan emosi ketika menonton film ini. Rasanya campur aduk melihat anak-anak seusia anak saya sudah mampu mencapai titik yang saya belum pernah capai. Iri, bangga, penasaran, terharu, dst. Mudah-mudahan Allah menambahkan ilmu dan semangat dalam diri saya dan keluarga saya untuk dapat menghafal Alquran. Mudah-mudahan Anda juga mendapatkannya! Amin.

Menjadi Pahlawan Devisa melalui Online Marketing

Ekspor tenaga kerja rupanya menjadi salah satu andalan Indonesia. Setiap tahunnya sekitar 400.000 orang dikirim ke luar negeri untuk bekerja sebagai TKI. Sayangnya, pasar tenaga kerja yang dibidik hanyalah tingkat low-end alias pekerja kasar.

Namun melihat sumbangan yang diberikan para TKI nampaknya kita perlu mengacungkan jempol. Menurut sumber dari BPK, sumbangan devisa dari TKI mencapai US$ 4,37 miliar atau Rp 39,3 triliun setiap tahun. Sumber lain menyebutkan bahwa remitansi TKI mencapai angka US$ 6,617 miliar yang membuatnya menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah ekspor migas.

Demo TKI di Hongkong

Banyaknya orang yang mengadu nasib di luar negeri menjadi cermin kondisi lapangan kerja di dalam negeri. Indonesia yang tadinya dikenal sebagai salah satu negara dengan keunggulan low-cost labor ternyata tidak mampu mempertahankan keunggulan itu. Industri-industri asing berbasis tenaga kerja, sudah eksodus ke negara lain.

Apakah dengan demikian potensi bekerja bergaji tinggi hanya bisa ditemui di luar negeri? Ternyata tidak demikian. Berterimakasihlah pada teknologi internet. Saat ini industri online marketing sedang bangkit di Indonesia. Hal ini ditandai dengan munculnya komunitas-komunitas online marketing. Sebut saja forum adsense-id.com. Forum yang memiliki ribuan anggota ini, aktif berbagi ilmu dan informasi seputar online marketing. Para anggota forum saling membagikan ilmu dan membimbing anggota baru untuk dapat menghasilkan penghasilan.

Industri yang bergantung pada internet ini memungkinkan orang-orang Indonesia untuk bekerja mendatangkan devisa tanpa perlu meninggalkan tanah air. Waktu yang tersita pun tidak banyak. Anda masih bisa meluangkan waktu untuk dinikmati bersama keluarga dan teman karib.

Selain itu, pendapatan yang dihasilkan dari online marketing adalah fair untuk seluruh dunia. Tarif pendapatan memang dibuat secara global oleh para broker iklan. Hal ini tentu sangat menguntungkan dibandingkan bekerja pada pekerjaan multinasional yang memiliki kebijakan penggajian yang tidak adil. Contoh paling baru yang kita temui adalah ketidakadilan sistem penggajian Freeport yang memicu karyawan Indonesia untuk mogok kerja.

Sistem pentarifan pendapatan online marketing tidak memandang lokasi geografis, ras, agama, umur, jenis kelamin, ataupun atribut-atribut sosial lainnya. Para publisher iklan (demikian para pekerja online ini kerap disebut) hanya dinilai berdasarkan kinerjanya saja. Semakin baik ia membuat iklan mencapai targetnya, maka semakin besar pula ia menghasilkan pendapatan dari sana. Merit system seperti ini sangat baik diterapkan untuk dapat menjaring potensi SDM Indonesia. Lain halnya dengan sistem di birokrasi PNS atau sebagian perusahaan swasta yang cenderung feodal, sehingga dapat mematikan potensi anak-anak muda Indonesia. (Lebih parah lagi kalau justru mereka terkontaminasi watak dan budaya korupsi).

Untuk dapat menikmati itu semua, hanya ada satu syarat yang harus Anda miliki: Anda harus melek internet.

Berbagai skema penghasilan online marketing menawarkan pilihan dan fleksibilitas dalam mendatangkan penghasilan. Kita dapat memilih skema mana yang paling mungkin kita jalani.

Belum ada data mengenai berapa besar devisa yang dihasilkan dari usaha online marketing yang dijalani oleh anak-anak muda Indonesia. Namun sebagai gambaran kasar, sebuah polling di forum adsense-id.com ini dapat memberikan gambaran berapa besar devisa yang didatangkan dari para pejuang online ini.

Polling Earnings Adsense

Data polling tersebut mungkin saja tidak akurat. Namun sepanjang belum ada data lain yang lebih baik, kita dapat menggunakannya sebagai gambaran saja. Kalau masih tidak yakin, Anda dapat melakukan konfirmasi ke salah satu publisher iklan. Caranya, mampir saja ke forum adsense dan menanyakan ke salah seorang anggota di sana, berapa pendapatan per bulannya.

Katakanlah, 58 orang yang mengaku memiliki pendapatan di atas US$ 10,000 setiap bulan tidak kita masukkan dalam perhitungan. Kemudian, nilai yang digunakan adalah nilai tengah dari masing-masing rentang (untuk rentang $100-$200 kita gunakan $150). Total devisa yang didatangkan dari online marketing adalah:

440 x $ 50 = 22,000
128 x $ 150 = 19,200
135 x $ 250 = 33,750
90 x $ 750 = 67,500
72 x $ 1500 = 108,000
34 x $ 3000 = 102,000
27 x $ 7000 = 189,000
Total US$ 541,500 atau senilai Rp 4,76 miliar (kurs 8.800).

Nilai 4,76 miliar rupiah memang masih ribuan kali lebih kecil dibanding devisa dari TKI. Namun ingat, data tersebut baru berasal dari anggota satu forum saja. Selain itu, menjadi publisher iklan juga lebih terhormat, tidak berisiko kematian (sependek pengetahuan saya), berbasis kecerdasan bukan tenaga kasar semata, terhindar dari pungli, terhindar dari risiko pemerkosaan dan pelecehan, dll. Apalagi biaya koneksi internet di Indonesia sudah semakin murah dan kualitas koneksi yang makin baik.

Tertarik terjun menjalani online marketing dan menjadi pahlawan devisa bagi Indonesia? Mari sama-sama belajar dan berjuang.