Yes, No, Cancel

KAPAN YA BISA BERARTI TIDAK

Sedari kecil, saya dibesarkan dengan lingkungan tipikal Jawa. Salah satu kebiasaan (buruk) yang tertancap dalam diri saya adalah berkata Ya walaupun yang dimaksud adalah Tidak. Saya kerap diprotes karena kebiasaan itu. Salah satu pemrotes terbesar adalah istri saya. Dia dibesarkan dalam lingkungan Sumatra yang benar-benar to the point. Ya berarti Ya, dan Tidak berarti Tidak.

Masyarakat Jawa mungkin merasa penolakan adalah hal yang tabu. Ini selaras dengan prinsip Jawa lainnya, yaitu nrimo. Nrimo berarti menerima semua yang didapat dalam hidup dengan penuh kerelaan (ridlo). Sebuah penolakan dalam hidup akan menurunkan martabat kejawaan seorang Jawa. Untuk menghindari penolakan inilah, masyarakat Jawa menjauhi kalimat-kalimat negatif. Salah satunya adalah kata Tidak. Karena itu, seringkali orang Jawa berkata Ya yang berarti Tidak.

Coba perhatikan jika Anda menerima tamu Jawa. Ketika Anda menawarinya makan atau minum, dia akan menjawab “Ya”, tapi suguhan tidak pernah disentuhnya.┬áJika seorang tetangga Jawa lewat di depan rumah kita. Jika kita menawarinya untuk mampir di rumah kita, dia akan menjab “Ya”, tetapi kakinya tetap melangkah menjauh.

Kebayang nggak kalau hampir tiap hari ada pembicaraan seperti ini.

Istri: “Bang, mau nasi goreng nggak?”
Suami: “Iya” (sambil matanya tidak fokus entah ke mana)
Istri: “Dimasakin dulu ya..”
Setelah nasgor selesai dimasak:
Istri: “Ini bang nasi gorengnya.”
Suami: “Nggak laper, buat adek aja.”
Istri: grrrr……..

Seringkali, jika saya menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak sepenuhnya saya pahami, secara refleks kepala saya akan mengangguk dan mulut berkata “Ya”. Salah satunya yang terjadi siang tadi.

Supir Taxi: “Di bawah jembatan tol ()*@#*(@& (berisik gak kedengeran) ^&*^@* .. ya pak?”
Penumpang: “Iya.” (bukannya minta mengulang mengucapkannya/begging pardon).
Begitu supirnya belok ke arah tol, baru penumpangnya teriak-teriak..
Penumpang: “Lurus pak! Pak, lurus aja pak! Jangan belok!”
Supir Taxi: grrr……….

Kebiasaan Ya-Ya-Ya ini juga diperparah dengan ingatan saya yang pendek. Setelah mengucap Ya, otak saya langsung menghapus informasi yang ada di otak.

Boss: “Mas, tolong buatkan presentasi untuk rapat Senin pagi jam 9.”
Bawahan: “Ya pak.”
Senin pagi jam 8.30.
Boss: “Presentasi untuk rapat nanti mana?”
Bawahan: “Hah? Ada ya pak? Aduh Bapak kenapa ngasih tahunya mendadak sih? Kok nggak jauh-jauh hari..”
Boss: grrrr………

Ternyata, lingkungan sosial tidak seperti lingkungan komputer yang benar-benar eksak dalam menginterpretasikan input. Butuh seni dan rasa tersendiri menghadapi orang-orang seperti saya. Ya bisa berarti Ya jika diikuti pandangan mata yang tegas, anggukan kepala, atau bentuk lain penegasan non-verbal. Ya bisa berarti Tidak jika diikuti dengan pandangan mata menerawang, gumaman tak jelas, dll.

Bagaimana jika komputer mulai berperilaku seperti orang Jawa? Jendela dialog dengan pilihan Yes, No atau Cancel akan kehilangan fungsinya. Yes bisa berarti, “Saya tidak serius mengatakannya” (jadi jangan salahkan saya). No bisa berarti tidak untuk saat ini, tapi 10 menit lagi.

Apa yang akan Anda lakukan jika bertemu dengan orang seperti saya? Silahkan bagikan isi hati dan isi kepala Anda di kota komentar.