Keberuntungan Orang Terakhir

Pagi itu, seperti biasa, saya berdesak-desakan di dalam gerbong kereta komuter menuju Tanah Abang. Penduduk ibu kota memang suka bergegas. Apalagi di pagi hari di awal pekan. Kesibukan yang tertunda di hari atau pekan sebelumnya,  memicu orang-orang untuk bergegas. Tidak salah kalau Toyota menamai salah satu produknya dengan makna ‘bergegas’.

Lamunan saya di kereta itu terpecah oleh bunyi lonceng nang-ning-nong yang menandakan kereta akan segera berangkat dari stasiun. Kepala stasiun juga telah mengumumkan bahwa jalur telah aman untuk dilalui. Di sebuah pintu kereta agak jauh dari tempat saya berdiri, nampak seorang bapak berlari-lari menuju ke pintu kereta yang sudah hampir tertutup. Dan… dengan sebuah lompatan, hup!, sukseslah ia berada di dalam kereta. Pintu menutup, dan kereta berangkat dengan tambahan seorang penumpang terakhir.

Kereta

Kejadian itu sungguh berkesan bagi saya. Saya pun terkadang mengalami hal yang sama. Menjadi orang terakhir yang bergabung dalam perjalanan, rasa-rasanya membuat kita menjadi orang paling beruntung dalam kereta tersebut. Bayangkan, betapa banyak manfaat yang diperoleh dari kesempatan itu. Kita tidak perlu lagi menunggu kereta selanjutnya. Kita bisa sampai di tujuan lebih cepat daripada jika harus menggunakan jadwal selanjutnya. Jika dihitung dalam sebuah formula efisiensi, tentu orang terakhir itu adalah orang paling efisien dibanding penumpang lain. Dengan pengorbanan paling sedikit, ia bisa menikmati perjalanan yang sama dengan penumpang lainnya. Jika ia harus menanti kereta selanjutnya, maka ia akan menjadi orang dengan pengorbanan paling besar untuk bisa mengikuti perjalanan selanjutnya.

Bagaimana jika kejadian tersebut terjadi pada kereta antarkota yang hanya diberangkatkan dua kali sehari? Tentu sangat menyakitkan jika kita harus terlambat di detik terakhir. Kita harus menunggu setengah hari untuk bisa ikut dalam perjalanan berikutnya. Saya kerap menyaksikan fenomena ‘keberuntungan orang terakhir’ seperti ini di stasiun Tugu, Yogyakarta. Orang yang berlari-lari mengejar kereta yang telah bergerak perlahan. Sungguh beruntung ia..

Bagaimana jika fenomena keberuntungan orang terakhir terjadi pada kendaraan yang lebih besar dan tujuan yang lebih penting? Umpamanya saja, kendaraan itu adalah kehidupan kita, dan tujuan akhirnya adalah ridho Allah yang diwujudkan dengan surga. Saya rasa perumpamaan ini amat relevan. Orang terakhir yang masuk surga adalah orang yang amat sangat beruntung. Sangat beruntung jika dibandingkan dengan mereka yang tertinggal di neraka. Terlebih lagi, setelah ia masuk surga maka sudah tidak ada lagi transfer penduduk antara surga dan neraka.

Berikut ini sebuah hadits mengenai orang terakhir yang masuk ke dalam surga:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta’ala berkata kepadanya, ‘Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.’ Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.’ Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepadanya, ‘Pergilah, masuklah kamu ke surga.’.” Nabi berkata, “Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.’ Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepadanya, ‘Pergilah, masuklah kamu ke surga. Sesungguhnya kamu akan mendapatkan kenikmatan semisal dunia dan sepuluh lagi yang sepertinya’ atau ‘Kamu akan memperoleh sepuluh kali kenikmatan dunia’.” Nabi berkata, “Orang itu pun berkata, ‘Apakah Engkau hendak mengejekku, ataukah Engkau hendak menertawakan diriku, sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya.” Periwayat berkata,“Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ibnu Mas’ud pun tertawa, lalu berkata, “Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?”. Mereka menjawab, “Mengapa engkau tertawa?”. Beliau menjawab, “Demikian itulah tertawanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. -Ketika itu- mereka -para sahabat- bertanya, ‘Mengapa anda tertawa wahai Rasulullah?’. ‘Disebabkan tertawanya Rabbul ‘alamin tatkala orang itu berkata, ‘Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabbul ‘alamin?’. Lalu Allah berfirman, ‘Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Mahakuasa melakukan segala sesuatu yang Kukehendaki.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/314-315])

Masya Allah. Membaca hadits yang mulia ini sangat menyentuh hati. Baca pula pelajaran-pelajaran yang diambil dari hadits tersebut.

Kita tentu tidak ingin masuk neraka. Tidak untuk satu detikpun. Kita juga tidak ingin masuk surga di kesempatan terakhir. Karenanya hendaklah kita menjadi orang yang lebih baik dari orang dalam hadits di atas. Jika kita bersiap-siap untuk tidak terlambat mengejar kereta, maka lebih pantas lagi jika kita bersiap-siap agar tidak menjadi orang terakhir yang masuk surga.

Mari berusaha mendapatkan keberuntungan yang lebih besar daripada keberuntungan orang terakhir.