Wisata Ketinggian di Jakarta: Monas vs Balon Raksasa

Buat Anda yang suka manjat-manjat tower trus ngelongok ke bawah, ada hal yang lebih asyik dan aman untuk dikerjakan bersama orang-orang yang Anda cintai namun tetap mengalirkan adrenalin Anda.

Wisata ketinggian menjual keasyikan melepas pandangan dari ketinggian yang cukup ekstrim. Di Bali ada Fliying Fish dan Parasailing, ada pula Bungee Jumping. Para mahasiswa pecinta alam kerap kali menasbihkan diri di atas awan di Semeru. Wall climbing memberikan tantangan untuk menaklukkan ketinggian dinding panjat. Saking asyiknya wisata di ketinggian, sampai-sampai sering ada berita anak-anak yang manjat tower PLN. Saya percaya solusinya adalah menambah tinggi tiang telepon, jadi tidak ada lagi berita anak-anak manjat tiang listrik yang berbahaya, tapi manjat tiang telepon!

Berikut ini perbandingan head-to-head antara dua wisata ketinggian di Jakara, Monas vs Balon Raksasa (TMII) berdasarkan pengalaman pribadi saya. Para pembaca sekalian bebas bersuara dan turut menyumbangkan pengalaman masing-masing sehingga bisa meningkatkan predikat dari pembaca menjadi pengkomen blog ini.

1. Lokasi

Monas terletak di jantung kota Jakarta, bersebelahan dengan stasiun Gambir. Anda dapat dengan mudah mencapai lokasi ini dengan moda transportasi apa pun. Bagi rekan-rekan sekerja sekantoran dengan saya, istilah “bisa lihat Monas tiap hari” menunjukkan rasa syukur yang luar biasa dibandingkan harus mengorbit di kantor-kantor di seluruh pelosok Nusantara. Terkadang jalan menuju Monas sangat padat, yakni ketika iring-iringan mobil pejabat negara sedang keluar/masuk kantor yang memang terletak di sisi-sisi Monas. Para rakyat harus sabar menanti Pak Polisi membuka blokir arus jalan.

Balon Raksasa adalah salah satu wahana baru di Taman Mini Indonesia Indah. TMII sendiri berlokasi di Jakart Timur, mendekati terminal Kampung Rambutan. Lokasi ini paling nyaman dicapai menggunakan kendaraan pribadi atau pun angkutan umum, namun sedikit merepotkan jika menggunakan kereta. Wahana Balon Raksasa terletak di Taman Bunga, yakni di sudut komplek TMII, terletak di antara Teater IMAX Keong Mas dan Akuarium Air Tawar. Ada 2 pintu masuk menuju ke wahana ini, yaitu pintu utama Taman Bunga, dan pintu kecil di samping kelenteng.

2. Harga

Harga tiket masuk Monas adalah 20 ribu untuk dewasa dan 10 ribu untuk anak-anak. Kemudian harus beli lagi tiket lift seharga 7.500 untuk dewasa dan 3.500 untuk anak-anak. Cukup murah bukan? Terkadang ada promo diskon atau masuk gratis ke Monas.

Untuk merasakan terbang dalam Balon Raksasa, Anda harus merogoh kocek sebesar 120rb untuk dewasa dan 80rb untuk anak-anak. Harga tersebut berlaku di hari libur. Harga normal adalah 100 ribu utk dewasa dan 60 ribu untuk anak-anak.

Namun, tersedia berbagai promo untuk menikmati Balon Raksasa. Promo yang saya gunakan adalah Voucher Balon Raksasa dari Living Social. Dengan voucher ini, harga tiket anak-anak dibanderol menjadi 37.500 dan dewasa menjadi 62.500. Ada pula promo yang dilansir di website Balon Raksasa, yakni Promo Selamat Pagi Jakarta yang menawarkan potongan harga 50% untuk Hari Sabtu dan Minggu pada operational jam 06.00 – 09.00 pagi. Ada pula Joint Promo lainnya.

3. Ketinggian

Ketinggian pelataran puncak Monas adalah 115 meter. Tinggi struktur Monas sendiri mencapai 130 meter. Dari ketinggian 115 meter tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan ke empat penjuru mata angin. Tersedia pula binokular alias keker alias teropong yang harus dimasukin duit dulu baru mau membantu mempersuper penglihatan kita. Seluruh penjuru Jakarta terlihat dari sini. Mulai dari pantai di utara sampai bangunan-bangunan tertutup awan asap di selatan sana. Mungkin cocok buat bang Jokowi yang barusan terpilih jadi Gubernur DKI untuk menjadi posko pengendalian kota (city control).

Setahu saya tidak ada batasan cuaca untuk bisa naik ke pelataran puncak Monas. Hanya saja terkadang ada jadwal maintenis maintenance yang tidak diumumkan sebelumnya. Tiba-tiba sampai di Monas, lift tidak beroperasi tanpa ada info yang jelas kapan akan dibuka kembali. Probabilitasnya jauh lebih besar daripada menang lotere.

Balon Raksasa menawarkan ketinggian 80 meter (menurut bapak pilot balon) sampai dengan 150 meter (menurut spesifikasi teknis). Biasanyas setelah sampai di udara, penumpang akan lebih banyak berfoto-foto ria. Saya sendiri perlu beradaptasi (dari takut jadi terbiasa) ketika balon mulai mengudara 20 meteran. Lho lho.. kok tinggi juga yha… qe3.. Batas psikologisnya adalah ketika balon mulai mengudara lebih tinggi dari legendary skylift di tengah TMII. Bagi hyperphobia seperti saya, hal ini cukup berarti. Just don’t look down. Sempat teringat waktu gagal manjat tower wifi dulu (tower 3 stage, sekitar 15 meter tapi ditancepin di puncak gedung 18 lantai dan untuk mencapai landasan tower harus ngelewatin ramp selebar 50 cm doang. Emang ane tukang akrobat!)

4. Durasi

Seingat saya, di pelataran atap Monas pengunjung diberi waktu sekitar 30 menit untuk menikmati pemandangan. Setelah itu pengunjung akan dibawa turun kembali melalui lift yang perjalanan di dalamnya memakan waktu sekitar 10 menitan. Nah buat kamu yang claustrophobia (takut ruang sempit/tertutup), lumayan juga nih cobaannya.Tidak perlu membayangkan jika listrik mati dan kamu harus terjebak di lift di ketinggian lumayan dan terkatung-katung hanya bisa berharap lift segera hidup lagi. Ingat, jangan membayangkan Anda terjebak di lift Monas.. Jangan bayangkan! JANGAN! (Eh tetep ngeyel..)

Balon Raksasa memberikan durasi perjalanan selama 15 menit namun tergantung cuaca. Saat saya mencoba wahana ini, durasi perjalanan kami dikorting menjadi sekitar 10 menit saja karena alasan angin kencang. Sempat kecewa juga, tapi saya percaya keputusan tersebut adalah keputusan terbaik yang diambil oleh kru balon demi keselamatan penumpang sendiri. Apalagi sesampainya di darat, para Ground Crew dengan ramah ramai-ramai mengucapkan permohonan maaf atas diskon durasi tersebut (bukan mentang-mentang ane terbang pake voucher diskon kan ya.. ya..??)

5. Amplitudo (Ayunan)

Nah.. ini faktor paling menegangkan untuk Anda yang suka ketinggian. Monas menawarkan goyangan dengan amplitudo 1 meter. Artinya, jika Anda berdiri tegak di satu titik saja di atap Monas, Anda sebenarnya bergerak mengayun 1 meter ke depan dan belakang. Kondisi ini terjadi jika hembusan angin meniup cukup kencang, and believe me, it happens everyday. Ada perasaan aneh ketika berdiri di struktur bangunan beton yang bisa bergoyang dan mengayun seperti itu.

Di Balon Raksasa, jarak ayunan (amplitudo) tentu lebih gila lagi, karena balon hanya diikat dengan seutas tali baja. Amplitudo yang akan Anda alami akan banyak dipengaruhi oleh kencangnya tiupan angin. Meski demikian, pada kondisi cerah pun saya jamin Anda akan mendapatkan jarak ayun yang lebih besar daripada Monas (1 meter). Saat saya mencoba wahana ini, cuaca sedikit mendung dengan tiupan angin yang kuat (sampai-sampai Baloon Crew mengusulkan abort trip ke Ground Crew karena angin kencang), jadi ayunannya mantap sekali. Terkadang kami berada di atas jalan tol lingkar luar Jakarta (JORR), terkadang sampai ke atas bangunan kubah warna kuning (Teater Keong Mas). Kabel baja penahan balon melengkung ke sana kemari.

6. Kenyamanan dan Kesan

Monas makin lama makin bersih dan teratur. Saya paling suka suasana di dalam museum sejarah di kaki Monas. Bersih, nyaman dan lengkap. Detil-detil perjalanan sejarah Indonesia terangkum dengan sajian yang menarik. Selain itu, dulu seingat saya untuk mencapai dasar Monas, kita masuk melalui pintu bawah tanah dari seberang jalan paving block. Jadi tidak langsung di kaki Monas.

Oya, saya selalu bilang ‘dulu’ dan ‘seingat saya’ karena terakhir ke Monas tahun 1996 waktu dharma wisata akhir tahun pelajaran kelas 1 SMA. Sekarang saya lebih sering hanya memandang Monas dari jendela kantor atau jendela kereta commuter.

Pengalaman saya naik balon udara sangat berkesan. Tidak seribet pengalaman Duo Panda atau harus menunggu selama Raiyan dan ibunya. Saya datang, tukar voucher dengan tiket, menunggu sambil maem bekal yang disiapkan neneknya anak-anak, and fly! Semua di hari yang sama. Dari rombongan 6 orang, hanya saya dan 2 orang anak saya yang naik balon. Sisanya menyemangati dari bawah ^^.

Wisata balon udara sangat cocok untuk keluarga. Selain wahana balon itu sendiri, di darat tersedia pula tempat bermain anak dan kantin. Toilet ada beberapa dan musholla pun ada dua (dekat balon (kecil dan kurang terurus) dan dekat pintu keluar Taman Bunga, lebih bersih dan agak besar). Dulu sempat ikutan acara komunitas Sunni Homeschooling di Taman Bunga ini (persis di lokasi wahana Balon sekarang). Jadi memang lokasinya sangat cocok buat kami keluarga pecinta kegiatan luar-ruang (outdoor).

Demikian laporan saya. Ane tunggu komen dari Anda semua.