Belajar dari Korea

Pada suatu kesempatan (yang sangat berharga buat saya), saya bertemu dengan CEO sebuah perusahaan Korea. Perusahaan tsb adalah vendor teknologi untuk perusahaan-perusahaan besar Korea di bidang elektronika dan telekomunikasi. Perusahaan yang nggak terkenal namanya ini, bertugas membuat propotype produk yang akan diluncurkan di pasar.

Membuat prototype produk sangat menyedot sumber daya, karenanya hanya orang-orang terbaik di bidangnya yang dipercaya untuk membuat prototype. Lain halnya dengan produksi yang lebih mengedepankan efisiensi, dalam pembuatan purwarupa aspek yang diutamakan adalah inovasi agar bisa memberikan solusi. Apalagi kalau produknya padat teknologi. Tentu sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan orang-orang di balik layar pembuatan purwarupa.

Seorang kawan memesan custom product ke perusahaan Korea ini, dan saya kecipratan kesempatan untuk hadir pada  demo purwarupa.  Pada pertemuan tsb, pak Yeoh (sang CEO) dan staffnya mempresentasikan fitur produk. Tugas kami yang hadir adalah mengkonfirmasi apakah fitur-fitur yang dipesan sudah terakomodasi dengan baik pada prototype tersebut.

Di tengah-tengah presentasi, pak Yeoh mengeluarkan sebuah koper. Ketika dibuka, isinya adalah modul-modul chip. Bentuknya seperti prosesor komputer. Ada yang besar dan ada yang kecil. Beliau menjelaskan bahwa modul-modul ini adalah berbagai macam chip untuk modul telekomunikasi, ada modul GSM 2G, GSM 3G, GSM 3,5G, CDMA, CDMA Rev. A, wireless A/B/G, dll. Saya tahu, bapak yang satu ini mau pamer (dalam arti marketing), “Palugada loh!”

Nah… di titik ini lah saya tercenung…

Pertama, kemajuan teknologi Korea tidak datang dalam sekejap mata. Titik awalnya adalah penguasaan dan adaptasi terhadap teknologi baru. Bagaimana menguasai dan mengejar perkembangan teknologi? Korea bermain di satu fase hulu nan strategis, yaitu riset. Riset-riset yang dilakukan oleh orang-orang Korea mampu menghasilkan paten yang aplikatif di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dari paten-paten inilah dibangun produk-produk strategis, seperti chip, layar sentuh dan modul wireless. Dari produk-produk strategis ini, dibentuk lagi produk-produk yang sukses di kalangan konsumen akhir. Sebuah rantai nilai yang luar biasa, dan Korea menguasainya dari hulu ke hilir!

IMG_20130502_190221

Lihat saja produk Korea yang membuat Amerika ketar-ketir, Samsung Galaxy. Perhatikan bahwa komponen-komponennya didominasi oleh produk asli Korea, mulai dari prosesor sampai layar sentuh. Bahkan Apple pun menggunakan layar sentuh buatan Samsung. Saya belum memastikan alasan Apple membeli dari Samsung, bisa jadi karena harga yang bersaing atau karena Samsung memegang paten teknologi layar sentuh.

Saya teringat pesan pak BJ Habibie dalam Keynote Speech Lustrum Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM 2011. Beliau memberikan sebuah analogi menarik. Ada dua mobil yang bertabrakan. Mobil yang pertama keluaran terbaru dari merk ternama dan berharga selangit. Mobil kedua diproduksi oleh pabrik tidak ternama dan harganya murah. Apa yang terjadi setelah mereka sama-sama ringsek? Ternyata harga keduanya menjadi sama. Sama-sama dihargai sebagai besi kiloan. Lalu, apa yang membuat harganya jauh berbeda sebelum ringsek? Pak Habibie menjawab sendiri pertanyaannya: Teknologi.

Kedua, Korea tidak berhenti sampai memproduksi parts/komponen saja, tapi melanjutkannya sampai ke produk akhir. Dalam khazanah ekonomi industri, penguasaan rantai nilai seperti ini jarang ditemui. Umumnya tiap pihak hanya bisa menguasai salah satu rantai dalam rantai nilai. Qualcomm, sebuah perusahaan berbasis Amerika, menguasai paten untuk modul CDMA, tetapi kita tidak pernah mendengar adanya produk CDMA buatan Amerika yang laris di pasar.

Tentunya sinergitas rantai nilai ini sulit dilakukan oleh satu kelompok bisnis saja. Peran pemerintah yang memiliki kewenangan besar tentu sangat berperan dalam menata sumber daya yang sedemikian besar. Nah, untuk menuju titik ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pemerintah membutuhkan orang-orang yang berkemampuan tinggi dan berintegritas, serta punya loyalitas yang tinggi kepada kepentingan bangsa dan negara (malaikat banget syaratnya). SDM seperti itu ada di masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana cara pemerintah menarik orang-orang nomor satu untuk masuk ke pemerintahan? Silahkan berkaca pada Singapore yang sudah menjawab pertanyaan ini tiga dekade yang lalu.

Bicara soal kepentingan bangsa, konon pada tahun 70an, pemerintah sudah memikirkan solusi mengatasi kemacetan. Pemerintah, diwakili oleh Kementerian X, mengundang konsultan dari Jepang (kemungkinan dengan skema hibah atau pinjaman dari Jepang) untuk membahas masalah ini. Hasil pembahasan memberikan dua rekomendasi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta: Opsi A, membangun Mass Rapid Transportation, atau Opsi B membangun jalan tol.

Konon.. sekali lagi konon loh.. pilihan jatuh ke Opsi B karena dua hal: (1) konsultan dari Jepang berkepentingan untuk meningkatkan produksi mobil Jepang, dan (2) jika pilih Opsi A maka yang akan menjalankan proyeknya adalah Kementerian Y yang tidak terlibat dalam pembahasan ini. Jika hal ini benar terjadi, maka ini menjadi contoh pentingnya pemerintah memerlukan SDM yang memiliki loyalitas kepada kepentingan publik.

(PERHATIAN: Dua paragraf di atas tidak boleh dikutip, karena sumbernya belum valid.)

* * *

Kita tidak boleh serta merta tercengang kagum pada kesuksesan Korea di awal abad ini. Nasehat Pak Harto agar Ojo Gumunan, Ojo Kagetan,  Ojo Dumeh (jangan mudah terheran-heran, jangan mudah terkaget-kaget, jangan mentang-mentang) sepertinya cocok untuk kondisi ini. Kita masih bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang optimal dalam memanfaatkan potensi dirinya. Tentu jalan mencapai kemakmuran tersebut tidak sama dengan jalan yang digunakan Korea. Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia memiliki potensi yang khas dibanding Korea yang miskin Sumber Daya Alam.

India sudah melesat dengan investasi pendidikan yang menghasilkan SDM yang berkualitas. China menjadi raksasa industri karena biaya produksi yang murah. Swiss, negara kecil tanpa garis pantai, terkenal karena presisi produk-produknya. Jerman memiliki bursa kopi terbesar di dunia, padahal ia tidak memiliki kebun kopi secuilpun.

Indonesia insya Allah bisa menjadi negara yang mampu mengoptimalkan potensinya. Tinggal pilih, mau cepat atau lambat untuk mencapai titik itu.