Bacaan: Allah itu Dekat

Bismillah.

Sudah lama sekali semenjak terakhir kali saya meresensi menulis perasaan saya tentang sebuah karya berbentuk novel kisah nyata. Terakhir kali, saya menulis tentang novel berbasis kisah nyata: Hidden Side of A Sinden.

Kali ini, saya mendapat sebuah novel berjudul Allah itu Dekat. Pengarangnya adalah kakak kelas saya di STAN, pak Dedhi Suharto. Ketika saya menjadi mahasiswa di STAN, beliaulah presiden mahasiswa saat itu. Jadi, sedikit banyak saya telah merasakan kredibilitas beliau, meskipun tidak mengenal secara personal.

Novel Allah itu Dekat

 

Spoiler novel sudah dibeberkan sendiri oleh penulisnya di sebuah kultwit panjang.

Novel Allah itu Dekat berisi kisah tentang salah  seorang dari 9 orang doktor theologi yang masuk Islam dan kemudian diburu oleh otoritas yang sebelumnya menaunginya. Sounds thrilling right? Apalagi dengan klaim berdasarkan kisah nyata. Kalau penasaran, silahkan beli novelnya.. 😛

Isi novel sendiri tidak sepenuhnya bercerita tentang tokoh Hendra, seoang mualaf. Tetapi juga ada alur kisah hidup sang penulis sendiri, Dedhi Suharto. Kedua alur ini memiliki keterkaitan sebagai penguat keyakinan bahwa Allah itu Dekat. Dari sekian banyak kesulitan (dan kesenangan) hidup yang mereka berdua hadapi, maka keduanya merasakan bahwa Allah itu Dekat.

Novel Allah itu Dekat, diklaim oleh penulisnya sebagai novel berbasis kisah nyata. Namun, dalam sebuah kesempatan tanya jawab di bedah buku Allah itu Dekat, penulis juga tidak menjelaskan seberapa besar proporsi fiksi dalam novel ini. Ia hanya menjawab bahwa tokoh Hendra itu ada, sama seperti tokoh Aku juga ada. Demikian pula ketika ada pertanyaan tentang validitas pengakuan Hendra kepada penulis. Penulis menjawab bahwa ia akan menuliskan kisah ini baik jika memang kisah ini valid maupun tidak. Penulis, dengan kemampuannya sebagai seorang auditor, menyatakan bahwa ia telah membaca gesture Hendra ketika menceritakan kisah ini, dan penulis tidak menemukan indikasi kebohongan. Hendra menceritakan kisahnya kepada penulis dengan runtut dan jelas. Ia juga sering melontarkan beberapa istilah asing seputar karirnya sebagai misionaris (silakan temukan sendiri ya di dalam novelnya). Dari sisi ini, penulis secara implisit menyatakan bahwa kisah Hendra adalah valid. Namun, meskipun jika kisah ini tidak valid, maka penulis juga akan tetap menuliskannya dalam novel. Katanya, “Daripada saya berkhayal sendiri, belum tentu bisa menghasilkan kisah sebagus ini.”

Pada akhirnya, sama seperti yang diungkapkan seorang audiens di acara bedah buku, terimalah novel ini sebagai kisah fiksi. Dengan sikap seperti itu maka berkuranglah harapan kita akan validitas cerita ini. Singkatnya, nikmati saja! Dan tetap mengambil hikmah dari kisah yang dituturkan, sebagaimana kebiasaan orang bijak sejak dahulu.

 

KRITIK DAN APRESIASI

Kritik saya atas karya ini adalah: sebenarnya dari alur cerita ini mana yang menjadi fokus utama? Masa kecil dua tokoh kah? Masa-masa galau mereka berdua kah? Atau thriller session ketika ada scene kejar-kejaran? Bagi saya, novel yang bagus adalah novel yang mampu menyentuh level terdalam dari emosi manusia. Novel yang mampu menimbulkan gejolak kejiwaan, memancing emosi jiwa untuk keluar, baik dengan rasa sedih, gembira, penasaran, kecewa, maupun bentuk emosi lainnya. Sebagai contoh, dalam scene kejar-kejaran di Da Vinci Code, ada emosi yang dimainkan di sana, yaitu: kenapa sang tokoh dikejar-kejar? Si tokohnya sendiri waktu itu tidak tahu alasan kenapa ia diburu dan diinginkan nyawanya sedemikian rupa. Sehingga alur novel menjadi menarik. Contoh lain adalah scene perjuangan di Trilogi Pulau Buru, di dalamnya ada campur aduk emosi: perjuangan yang terus menemui tembok besar, kehilangan orang yang dicintai, dan pengorbanan.

Ini perlu digali lagi, apalagi jika melihat kuantitas dan kualitas kisah itu sendiri: 9 orang doktor theologi masuk Islam bersama-sama.

Hal ini yang belum saya temukan di novel mas Dedhi ini. Bagi saya, kisah mualaf tentunya memiliki titik berat pada kontemplasi kenapa seseorang bisa mendapat hidayah. Bagi saya, fase ini justru disajikan dengan sangat singkat. Hanya diwakili oleh sebuah kalimat,  “Ya, kita keluar saja dan masuk Islam”. Pengalaman mendapat hidayah Islam bagi seorang mualaf adalah tonggak sejarah besar dalam kisah hidup seseorang. Sebuah titik balik agung. Sebuah hadiah cinta dari Sang Khalik. Sebuah sentuhan jiwa yang membuat mata hati menjadi terbuka. Ini perlu digali lagi, apalagi jika melihat kuantitas dan kualitas kisah itu sendiri: 9 orang doktor theologi masuk Islam bersama-sama. Tentu pada masa perenungan tersebut ada perasaan mendera-dera. Ada debat. Ada shock ketika membaca informasi dari manuskrip keagaaman kuno. Ada Aha Moment. Ada pencerahan, mungkin oleh satu atau beberapa dari 9 orang tersebut. Ada induksi pemahaman dari yang sudah tercerahkan kepada yang lain. Fase ini jika diungkap dengan ciamik, tentu sangat manis dan akan memberikan kesan yang mendalam kepada para pembacanya.

Saya setuju dengan pak Dedhi ketika menganalogikan kisah mereka sebagai Ashabul Kahfi jaman ini. Ya, ini adalah kisah yang berulang, kisah orang yang diburu karena keimanannya. Kisah seperti ini akan terus terjadi. Panggilan jiwa yang lurus untuk menyambut seruan kesucian. Jiwa-jiwa yang terpanggil itu tentu bisa tumbuh di lingkungan yang sama sekali tidak diduga.

Novel ini pernah diulas di beberapa blog seperti: PKS Piyungan dan SeputarKampus.Com. Sayang sekali jika Novel ini tidak masuk ke dalam scene novel di tanah air, khususnya di kalangan muslimin penggemar buku.

 

QUIZ NOVEL ALLAH ITU DEKAT

Di bagian akhir novel terdapat sebuah pesan rahasia. Untuk memecahkannya, saya teringat dengan metode Sherlock Holmes ketika memecahkan kode rahasia Orang Menari. Asumsi yang digunakan adalah: dalam setiap kata, huruf yang sering berulang adalah huruf vokal. Nah, selanjutnya, kita memulai menebak kata yang mudah atau unik: kata apa dalam bahasa Indonesia yang terdiri dari 3 huruf? Sisanya… silakan di-decode sendiri yah… Selamat menjadi detektif!

Jawaban Quiz Novel Allah itu Dekat

  • Pingback: max()