Membaca untuk Menulis

Sudah beberapa tahun terakhir, saya kehilangan gairah menulis. Cek saja di tanggal arsip postingan blog ini. Tidak hanya di blog, kemalasan itu merembet pula ke kantor dan bisnis kegiatan lain. Ada semacam kejenuhan. Ada pula rasa ‘untuk apa sih’. Singkatnya, motivasi menulis saya turun sampai ke titik terendah.

Belakangan saya sadar, selama ini saya kurang membaca. Kepala kita bagaikan periuk, dia hanya akan mengeluarkan isi apa yang ada di dalamnya. Lain tidak. Ketika asupan ini kurang, keluarannya pun tereduksi bahkan bisa jadi terkebiri habis. Barangkali saya kebanyakan membaca berita daring domestik yang memang nggak ada isinya buat jiwa. Dan alhamdulillah hati dan kepala saya masih cukup waras untuk tidak memuntahkannya kembali. Padahal saya sudah puasa facebook seja dua kali Ramadhan yg lalu. Masih saja. efek garbage in, no garbage out itu terasa.

Barangkali, kondisi eksternal juga ikut urun sebab. Beberapa website favorit saya sudah mulai melambat mutakhir isi. Banyak blogger kesukaan yang tutup lapak. Mungkin ada yang promosi, sibuk dengan jabatan baru. Sibuk dengan bisnis baru. Saya merasa kehilangan teman. Memang ada yang tersisa. Tapi tidak cukup untuk mengangkat mood saya. Ketika aggregator blog isinya hampir sama persis dengan blog personal seorang suhu.. hilanglah nilai agregasi blog tsb. Dan, maaf, saya sejak awal kurang cocok dengan kompasiana. Beberapa posting bagus memang ada di sana, tapi jauh tertimbun dengan yang kurang menarik.

Pekan lalu, seorang rekan share link tulisan. Tulisan tersebut menarik bagi saya.  Maklum, selera baca saya agak aneh. Ada sisi nalar, ada sisi emosi. Dan ditulis untuk relevansi yang pas. Nikmat lah bacanya. Jarang saya temui tulisan seperti itu. Anyway, mudah-mudahan berbagai kondisi di sekitar saya pada hari-hari ini bisa membuat saya menulis kembali. Periuk kepala ini perlu diisi kembali agar ada pikiran yang bisa dihidangkan di blog ini.

Bagi yang merasa tidak penting dengan tulisan saya, mudah kok, cukup menekan tanda silang di pojok peramban Anda. Maklum lah, saya masih belajar menulis.