Membaca untuk Menulis

Sudah beberapa tahun terakhir, saya kehilangan gairah menulis. Cek saja di tanggal arsip postingan blog ini. Tidak hanya di blog, kemalasan itu merembet pula ke kantor dan bisnis kegiatan lain. Ada semacam kejenuhan. Ada pula rasa ‘untuk apa sih’. Singkatnya, motivasi menulis saya turun sampai ke titik terendah.

Belakangan saya sadar, selama ini saya kurang membaca. Kepala kita bagaikan periuk, dia hanya akan mengeluarkan isi apa yang ada di dalamnya. Lain tidak. Ketika asupan ini kurang, keluarannya pun tereduksi bahkan bisa jadi terkebiri habis. Barangkali saya kebanyakan membaca berita daring domestik yang memang nggak ada isinya buat jiwa. Dan alhamdulillah hati dan kepala saya masih cukup waras untuk tidak memuntahkannya kembali. Padahal saya sudah puasa facebook seja dua kali Ramadhan yg lalu. Masih saja. efek garbage in, no garbage out itu terasa.

Barangkali, kondisi eksternal juga ikut urun sebab. Beberapa website favorit saya sudah mulai melambat mutakhir isi. Banyak blogger kesukaan yang tutup lapak. Mungkin ada yang promosi, sibuk dengan jabatan baru. Sibuk dengan bisnis baru. Saya merasa kehilangan teman. Memang ada yang tersisa. Tapi tidak cukup untuk mengangkat mood saya. Ketika aggregator blog isinya hampir sama persis dengan blog personal seorang suhu.. hilanglah nilai agregasi blog tsb. Dan, maaf, saya sejak awal kurang cocok dengan kompasiana. Beberapa posting bagus memang ada di sana, tapi jauh tertimbun dengan yang kurang menarik.

Pekan lalu, seorang rekan share link tulisan. Tulisan tersebut menarik bagi saya.  Maklum, selera baca saya agak aneh. Ada sisi nalar, ada sisi emosi. Dan ditulis untuk relevansi yang pas. Nikmat lah bacanya. Jarang saya temui tulisan seperti itu. Anyway, mudah-mudahan berbagai kondisi di sekitar saya pada hari-hari ini bisa membuat saya menulis kembali. Periuk kepala ini perlu diisi kembali agar ada pikiran yang bisa dihidangkan di blog ini.

Bagi yang merasa tidak penting dengan tulisan saya, mudah kok, cukup menekan tanda silang di pojok peramban Anda. Maklum lah, saya masih belajar menulis.

Prestasi, Istiqomah dan Fitnah Akhir Jaman

Di Olimpiade Rio 2016 ini, ada akhwat Amerika yang ikut bertanding pada cabang olahraga Anggar (Fencing/Sabre). Namanya Ibtihaj Muhammad. Dalam wawancara dengan Stephen Colbert di acara Late Show[1], Ibtihaj mengatakan bahwa ketika dia kecil, semua orang bilang kalau gadis kecil kulit hitam berhijab tidak akan bisa melakukan apa-apa, tidak bisa meraih prestasi, maupun tidak punya masa depan yang cerah. Kedua orang tuanya sangat mendukung Ibtihaj melakukan kegiatan apa pun, Ibtihaj kecil mencoba hampir semua cabang olahraga, mulai dari atletik, voli, dll. Suatu saat ibunya melihat orang bermain Anggar dan kostumnya menutup seluruh badan. Ibunya lalu meminta Ibtihaj mencoba olahraga tsb, di saat umurnya 12 tahun. Pada tahun 2014 lalu, Ibtihaj memenangkan Kejuaraan Dunia Anggar bersama tim Amerika Serikat. Dan tahun 2016 ini, Ibtihaj akan tampil di Olimpiade Rio de Janeiro, Brazil.

Mungkin ada dari kita yang melihat saudari kita Ibtihaj ini memiliki banyak kekurangan, namun bukankah kita (yang membaca dan men-share) tulisan ini, pun memiliki banyak kesalahan dan kekurangan? Bagaimana pun juga, kisah ke-istiqomah-an Ibtihaj menjalankan ajaran Islam untuk ber-hijab di segala situasi, telah memberikan inspirasi kepada jutaan anak muslim di seluruh dunia.

Menengok situasi politik di Amerika menjelang pilpres, tidak heran jika publisitas tentang Ibtihaj tidak disukai para pendukung Donald Trump. Apalagi, kubu Demokrat (Hillary Clinton[2] dan Michelle Obama[3]) sudah duluan mendukung Ibtihaj. Sampai saat ini pun, twitter Ibtihaj[4] masih sering diteror dan dibully kaum Islamophobia. Karenanya, amatlah pantas dipanjatkan oleh kita, doa agar Allah memberikan perlindungan padanya, pada kita dan seluruh kaum muslimin di Amerika dari huru-hara fitnah akhir jaman ini.

Fitnah akhir jaman yang sudah muncul satu per satu, dan semakin besar, dan terus semakin besar. Sampai akhirnya nanti muncullah firnah terbesar bagi manusia, yaitu Dajjal. Tidak bisa tidak, fitnah-fitnah ini hanya dapat dilawan dengan ilmu dan ke-istiqomah-an, sebagaimana tersirat dalam hadits Nabi riwayat Bukhari, bahwa Dajjal mulai terkalahkan ketika dia berhadapan dengan seorang pemuda yang mempelajari hadits Nabi.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا حَدِيثًا طَوِيلًا عَنْ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيمَا يُحَدِّثُنَا بِهِ أَنَّهُ قَالَ يَأْتِي الدَّجَّالُ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِينَةِ فَيَنْزِلُ بَعْضَ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِينَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ وَهُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَهُ فَيَقُولُ الدَّجَّالُ أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ هَلْ تَشُكُّونَ فِي الْأَمْرِ فَيَقُولُونَ لَا فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ فَيَقُولُ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الْيَوْمَ فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلَّطُ عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman] Telah mengabarkan kepada kami [Syu’aib] dari [Az Zuhri] Telah mengabarkan kepada kami [‘Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud], bahwasanya [Abu Sa’id] mengatakan, Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menceritakan kepada kami suatu Hadits panjang tentang dajjal, diantara yang beliau ceritakan kepada kami saat itu ialah, beliau bersabda: “Dajjal datang dan diharamkan masuk jalan Madinah, lantas ia singgah di lokasi yang tak ada tetumbuhan dekat Madinah, kemudian ada seseorang yang mendatanginya yang ia adalah sebaik-baik manusia atau diantara manusia terbaik, dia berkata; ‘saya bersaksi bahwa engkau adalah dajjal, yang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah ceritakan kepada kami.’ Kemudian dajjal mengatakan; ‘Apa pendapat kalian jika aku membunuh orang ini lantas aku menghidupkannya, apakah kalian masih ragu terhadap perkara ini? ‘ Mereka menjawab; ‘tidak’. Maka Dajjal membunuh orang tersebut kemudian menghidupkannya, namun orang tersebut tiba-tiba mengatakan; ‘Ketahuilah bahwa hari ini, kewaspadaanku terhadap diriku tidak sebesar kewaspadaanku terhadapmu! ‘ Lantas dajjal ingin membunuh orang itu, namun ia tak bisa lagi menguasainya.” (HR. Bukhari No. 6595)[5]

Semoga Allah melindungi kita dari segala fitnah dunia dan akhirat, serta memberikan kemudahan dan ganjaran pada orang-orang yang bertakwa dan istiqomah di segala kondisi.

Tangsel, 6 Dzulqo’dah 2437 H/9 Agustus 2016
Abu Abbas

[1] https://www.youtube.com/watch?v=xs8O-MFu4yU
[2] https://twitter.com/HillaryClinton/status/762675570937298944
[3] http://www.espn.com/olympics/story/_/id/15415007/first-lady-michelle-obama-appears-us-athletes-receives-fencing-lesson-olympian-ibtihaj-muhammad
[4] https://twitter.com/IbtihajMuhammad
[5] http://hadits.stiba.ac.id/?type=hadits&imam=bukhari&no=6599

Belajar dari Korea

Pada suatu kesempatan (yang sangat berharga buat saya), saya bertemu dengan CEO sebuah perusahaan Korea. Perusahaan tsb adalah vendor teknologi untuk perusahaan-perusahaan besar Korea di bidang elektronika dan telekomunikasi. Perusahaan yang nggak terkenal namanya ini, bertugas membuat propotype produk yang akan diluncurkan di pasar.

Membuat prototype produk sangat menyedot sumber daya, karenanya hanya orang-orang terbaik di bidangnya yang dipercaya untuk membuat prototype. Lain halnya dengan produksi yang lebih mengedepankan efisiensi, dalam pembuatan purwarupa aspek yang diutamakan adalah inovasi agar bisa memberikan solusi. Apalagi kalau produknya padat teknologi. Tentu sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan orang-orang di balik layar pembuatan purwarupa.

Seorang kawan memesan custom product ke perusahaan Korea ini, dan saya kecipratan kesempatan untuk hadir pada  demo purwarupa.  Pada pertemuan tsb, pak Yeoh (sang CEO) dan staffnya mempresentasikan fitur produk. Tugas kami yang hadir adalah mengkonfirmasi apakah fitur-fitur yang dipesan sudah terakomodasi dengan baik pada prototype tersebut.

Di tengah-tengah presentasi, pak Yeoh mengeluarkan sebuah koper. Ketika dibuka, isinya adalah modul-modul chip. Bentuknya seperti prosesor komputer. Ada yang besar dan ada yang kecil. Beliau menjelaskan bahwa modul-modul ini adalah berbagai macam chip untuk modul telekomunikasi, ada modul GSM 2G, GSM 3G, GSM 3,5G, CDMA, CDMA Rev. A, wireless A/B/G, dll. Saya tahu, bapak yang satu ini mau pamer (dalam arti marketing), “Palugada loh!”

Nah… di titik ini lah saya tercenung…

Pertama, kemajuan teknologi Korea tidak datang dalam sekejap mata. Titik awalnya adalah penguasaan dan adaptasi terhadap teknologi baru. Bagaimana menguasai dan mengejar perkembangan teknologi? Korea bermain di satu fase hulu nan strategis, yaitu riset. Riset-riset yang dilakukan oleh orang-orang Korea mampu menghasilkan paten yang aplikatif di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dari paten-paten inilah dibangun produk-produk strategis, seperti chip, layar sentuh dan modul wireless. Dari produk-produk strategis ini, dibentuk lagi produk-produk yang sukses di kalangan konsumen akhir. Sebuah rantai nilai yang luar biasa, dan Korea menguasainya dari hulu ke hilir!

IMG_20130502_190221

Lihat saja produk Korea yang membuat Amerika ketar-ketir, Samsung Galaxy. Perhatikan bahwa komponen-komponennya didominasi oleh produk asli Korea, mulai dari prosesor sampai layar sentuh. Bahkan Apple pun menggunakan layar sentuh buatan Samsung. Saya belum memastikan alasan Apple membeli dari Samsung, bisa jadi karena harga yang bersaing atau karena Samsung memegang paten teknologi layar sentuh.

Saya teringat pesan pak BJ Habibie dalam Keynote Speech Lustrum Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM 2011. Beliau memberikan sebuah analogi menarik. Ada dua mobil yang bertabrakan. Mobil yang pertama keluaran terbaru dari merk ternama dan berharga selangit. Mobil kedua diproduksi oleh pabrik tidak ternama dan harganya murah. Apa yang terjadi setelah mereka sama-sama ringsek? Ternyata harga keduanya menjadi sama. Sama-sama dihargai sebagai besi kiloan. Lalu, apa yang membuat harganya jauh berbeda sebelum ringsek? Pak Habibie menjawab sendiri pertanyaannya: Teknologi.

Kedua, Korea tidak berhenti sampai memproduksi parts/komponen saja, tapi melanjutkannya sampai ke produk akhir. Dalam khazanah ekonomi industri, penguasaan rantai nilai seperti ini jarang ditemui. Umumnya tiap pihak hanya bisa menguasai salah satu rantai dalam rantai nilai. Qualcomm, sebuah perusahaan berbasis Amerika, menguasai paten untuk modul CDMA, tetapi kita tidak pernah mendengar adanya produk CDMA buatan Amerika yang laris di pasar.

Tentunya sinergitas rantai nilai ini sulit dilakukan oleh satu kelompok bisnis saja. Peran pemerintah yang memiliki kewenangan besar tentu sangat berperan dalam menata sumber daya yang sedemikian besar. Nah, untuk menuju titik ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pemerintah membutuhkan orang-orang yang berkemampuan tinggi dan berintegritas, serta punya loyalitas yang tinggi kepada kepentingan bangsa dan negara (malaikat banget syaratnya). SDM seperti itu ada di masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana cara pemerintah menarik orang-orang nomor satu untuk masuk ke pemerintahan? Silahkan berkaca pada Singapore yang sudah menjawab pertanyaan ini tiga dekade yang lalu.

Bicara soal kepentingan bangsa, konon pada tahun 70an, pemerintah sudah memikirkan solusi mengatasi kemacetan. Pemerintah, diwakili oleh Kementerian X, mengundang konsultan dari Jepang (kemungkinan dengan skema hibah atau pinjaman dari Jepang) untuk membahas masalah ini. Hasil pembahasan memberikan dua rekomendasi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta: Opsi A, membangun Mass Rapid Transportation, atau Opsi B membangun jalan tol.

Konon.. sekali lagi konon loh.. pilihan jatuh ke Opsi B karena dua hal: (1) konsultan dari Jepang berkepentingan untuk meningkatkan produksi mobil Jepang, dan (2) jika pilih Opsi A maka yang akan menjalankan proyeknya adalah Kementerian Y yang tidak terlibat dalam pembahasan ini. Jika hal ini benar terjadi, maka ini menjadi contoh pentingnya pemerintah memerlukan SDM yang memiliki loyalitas kepada kepentingan publik.

(PERHATIAN: Dua paragraf di atas tidak boleh dikutip, karena sumbernya belum valid.)

* * *

Kita tidak boleh serta merta tercengang kagum pada kesuksesan Korea di awal abad ini. Nasehat Pak Harto agar Ojo Gumunan, Ojo Kagetan,  Ojo Dumeh (jangan mudah terheran-heran, jangan mudah terkaget-kaget, jangan mentang-mentang) sepertinya cocok untuk kondisi ini. Kita masih bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang optimal dalam memanfaatkan potensi dirinya. Tentu jalan mencapai kemakmuran tersebut tidak sama dengan jalan yang digunakan Korea. Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia memiliki potensi yang khas dibanding Korea yang miskin Sumber Daya Alam.

India sudah melesat dengan investasi pendidikan yang menghasilkan SDM yang berkualitas. China menjadi raksasa industri karena biaya produksi yang murah. Swiss, negara kecil tanpa garis pantai, terkenal karena presisi produk-produknya. Jerman memiliki bursa kopi terbesar di dunia, padahal ia tidak memiliki kebun kopi secuilpun.

Indonesia insya Allah bisa menjadi negara yang mampu mengoptimalkan potensinya. Tinggal pilih, mau cepat atau lambat untuk mencapai titik itu.

Rekening Muda PNS Gendut

Gerah juga mendengar berita tentang rekening gendut PNS muda. Gerah, karena rekening saya tak segendut pemiliknya (ahem, pemiliknya memang tak gendut, cuma buncit). Gerah, karena keberadaan PNS muda berekening gendut telah digeneralisasi media untuk menyudutkan seluruh PNS.

Praktik penggendutan rekening pribadi oleh PNS bagaikan hantu di siang bolong. Saya tidak bisa menampik hal itu tidak ada, sekaligus saya juga tak bisa membuktikan hal itu ada. Kabar mengenai pegawai di tempat anu bisa berpenghasilan sekian, sering sekali mampir di telinga saya. Tapi saya juga belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri sosok yang demikian. Ah itu kan tugas PPATK. PNS dengan posisi dan kemampuan seperti saya mana mampu mengungkap aliran dana (kecuali praktikin hacking skill, #ahem..).

Rekening Muda PNS Gendut

Dalam membahas topik ini, alur logika yang dibangun media sangat aneh. Mungkin mereka ingin membangun opini publik mengenai PNS. Awalnya, mereka membesar-besarkan masalah rekening beberapa PNS. Kemudian kejadian itu digeneralisasi pada seluruh populasi PNS. Logika ini tentu berbeda dengan pendekatan statistika, yang memperlakukan data outlier sebagai sebaran di luar karakteristik populasi (you know what I mean tho guys?). Menurut pengamatan saya, karakteristik rekening PNS itu umumnya justru kurus-kurus. Berapa banyak kawan-kawan PNS yang memiliki gaji 15 koma atau 10 koma. Maksudnya, pas tanggal sepuluh kondisi sudah ‘koma’. Dikit lagi ‘koit’. Kenapa media tidak mengambil sampel rekening kurus (yang jumlahnya lebih banyak dari rekening gendut) sebagai wajah dari rekening PNS?

Ada benarnya rekening para PNS itu gendut-gendut, jika saldo rekening awal bulan yang menjadi patokan. Pada tanggal-tanggal muda tersebut, gaji dan tunjangan baru dibayarkan dan saldo rekening menjadi gendut karenanya. Tetapi jika dilihat di akhir bulan, rekening akan kurus kering bahkan sampai mepet di batas bawah limit saldo rekening. Dampaknya, angka akumulasi di rekening, awet muda selalu. Tidak bertumbuh besar dan dewasa. Kalaupun PNS bisa jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri, itu karena mereka menjadi turis dinas 😀

Ada masalah lain dalam pembayaran gaji PNS, yaitu keterlambatan kliring dari perbankan. Saya tidak paham dengan sistem perbankan. Namun, beberapa kawan mengeluhkan gaji yang terlambat datang ke rekening. Gaji dikirim dari kantor bayar pada awal bulan, namun sampai di rekening tujuan bisa lebih dari waktu yang seharusnya. Modus pengendapan seperti ini jelas menguntungkan pihak tertentu.

Fenomena keterlambatan transfer gaji dan tunjangan sangat terasa di awal tahun. Sudah menjadi kebiasaan (yang tidak baik) bahwa transfer gaji dan tunjangan di awal tahun selalu terlambat. Mungkin karena persiapan kantor bayar gaji terganggu di akhir tahun oleh pergantian tahun.

Seorang kawan menceritakan bahwa di Papua, gaji dan tunjangan awal tahun bisa terlambat sampai 14 hari. Untungnya, saya tidak mengalami hal seperti itu. Catatan internet banking saya menunjukkan transfer tunjangan pada awal 2010 masuk rekening pada tanggal 7 Januari. Selanjutnya pada tahun 2011, transfer diterima di rekening pada 5 Januari. Tahun 2012 ini, meningkat lagi menjadi 4 Januari. Bagi PNS gendut seperti saya, jadwal transfer seperti ini jelas sangat membantu. Mana tahan saya puasa 14 hari macam kawan di Papua itu?

Begitulah karakteristik rekening muda PNS gendut seperti saya ini. Rekening kembang-kempis, kembang di awal bulan kempis di akhir bulan. Sudah begitu masih harus menghadapi risiko terlambat transfer. Haduh… Bagi kami-kami PNS papan bawah yang jungkir balik ini, rasa-rasanya mustahil menggendutkan rekening eh, maksud saya, perut.

Pasar Tenaga Kerja PNS

Seorang sepupu sedang bersiap-siap pindah kerja untuk ketiga kalinya. Setiap kali ia pindah perusahaan, hampir dipastikan ada keuntungan finansial dalam penawaran pindah tersebut. Gaji bertambah, jabatan pun terdongkrak. Dalam bidang industri yang digelutinya, yaitu perminyakan, pasar tenaga kerja memang hampir terbentuk sempurna. Mudah baginya untuk memilih tempat kerja yang memberikan penawaran lebih menguntungkan.

Seorang sepupu lain lebih gila lagi. Ia memang membangun karirnya dengan jurus kutu loncat. Sejak lulus Sarjana Pertanian kira-kira 20 tahun yang lalu, ia memulai karirnya sebagai asisten perkebunan. Beberapa tahun kemudian, ia pindah ke perusahaan perkebunan lainnya sebagai manajer kebun. Dalam hitungan belasan tahun karirnya, ia melakukannya beberapa kali lagi sampai saat ini mencapai posisi Vice Director.

Seorang kawan juga bertipe kutu loncat. Sebagai lulusan D1 Teknologi Informasi, ia sadar sangat sulit bersaing dengan lulusan S1 TIK. Karena itu ia tidak mengharap jabatan. Yang dikejarnya cukuplah kenaikan gaji. Terkadang ada penawaran pindah kerja dengan imbal dua kali gaji atau lebih.

Ketiga contoh di atas adalah contoh ketersediaan pasar tenaga kerja untuk industri tertentu. Keuntungan dari adanya pasar ini adalah selalu terciptanya harga equilibrium di antara persilangan penawaran dan permintaan tenaga kerja. Karyawan sebagai pihak yang memberikan penawaran diuntungkan dengan adanya taksiran harga yang sesuai dengan tingkat keahlian yang diberikan. Sementara kumpeni sebagai pihak yang melakukan permintaan, diuntungkan dengan adanya kisaran standar harga tenaga kerja.

Harga Equilibrium dalam Pasar Tenaga Kerja
Harga Equilibrium dalam Pasar Tenaga Kerja

Sayangnya, pasar tersebut tidak tersedia bagi PNS seperti saya. Pengaturan harga tenaga kerja PNS (baca: gaji dan tunjangan) sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Termasuk pula besaran honor yang diatur di Standar Biaya Umum. Sangat kecil ruang yang tersedia untuk membentuk pasar tenaga kerja bagi PNS. Ketika Anda (yang PNS) mendapat “rejeki” mutasi, umumnya gaji dan tunjangan tidak berubah.

Dalam konteks pasar tenaga kerja PNS, hanya beberapa kejadian yang dapat memengaruhi harga tenaga Anda. Yang pertama adalah promosi. Dengan mendapat promosi ke tingkat jabatan yang lebih tinggi, maka harga tenaga Anda juga meningkat. Tetapi jika dilihat dari harga jabatannya maka sebenarnya sama saja (eselon IV di unit ini dan unit itu umumnya memiliki harga yang sama). Bisa juga Anda pindah ke unit yang grade remunerasi-nya lebih tinggi. Dengan demikian harga tenaga Anda juga akan disesuaikan dengan grade di unit yang baru. Kondisi ini mungkin lebih mencerminkan harga tenaga Anda karena telah memiliki unsur permintaan dan penawaran.

Adapula jurus yang lain, yaitu mengubah status struktural menjadi fungsional atau sebaliknya. Sudah umum ditemui, jika kondisi sedang menguntungkan menjadi struktural maka seseorang cenderung meninggalkan posisi fungsionalnya menjadi struktural. Misalnya: dengan jalur fungsional, seseorang dapat lebih cepat mencapai golongan III/c. Setelah mencapai golongan tersebut, ia dapat menyeberang ke struktural dan menjadi pejabat eselon IV. Jabatan eselon IV memang mensyaratkan golongan minimal adalah III/c. Sebaliknya, seseorang dengan jabatan yang sepertinya sudah mentok di eselon III, ia dapat bersalin rupa menjadi fungsional agar golongannya dapat terus naik. Perpindahan antarstatus ini juga termasuk proses membentuk harga tenaga kerja PNS karena melibatkan unsur permintaan dan penawaran.

Penyesuaian gaji berkala dan kenaikan gaji 15% per tahun tidak saya masukkan dalam hitungan harga pasar karena tidak ada unsur permintaan dan penawaran. Jadi kedua hal tersebut saya anggap tidak membentuk pasar tenaga kerja PNS.

Sempitnya pasar tenaga kerja bagi PNS memang memberikan satu karakteristik yang berbeda dari pasar tenaga kerja swasta. PNS cenderung dihargai hanya dari atribut formal yang dikenakannya, alih-alih dari potensi yang dimilikinya. Secara agregat, hal ini merugikan organisasi yang memperkerjakan PNS, karena SDM tidak diberdayakan secara optimal. Ada inefisiensi antara input potensi dan output kinerja organisasi. SDM yang dikelola secara formal juga memiliki kerugian psikologis. Motivasi PNS potensial dapat menurun karena merasa tidak dihargai. Ujung-ujungnya, makin banyak PNS apatis yang hanya menjadi free rider. Sikapnya terbentuk atas dasar premis, “Apa untungnya buat saya?”. Salah siapa kalau sudah jadi begini?

Solusi sementara yang bisa saya usulkan bagi Anda, PNS berpotensi tinggi, hanyalah: carilah penyaluran di tempat lain. Potensi terpendam Anda bisa disalurkan melalui kegiatan-kegiatan sosial, bisnis sampingan, klub hobi, pembina ekskul di almamater Anda, dll. Simpan dan asah potensi Anda sampai pasar tenaga kerja PNS sudah cukup ideal.

Bagaimana kalau tidak pernah ada pasar ideal bagi PNS? Hehehe.. Mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk terjun ke pasar tenaga kerja yang sempurna saja.

PS: Ingat, lawannya promosi adalah demosi. Lawannya mutasi normal adalah mutasi usiran (ke kantor yang nggak enak tentunya). Hukuman disiplin dapat menurunkan penghasilan Anda. Begitu pula hukuman sosial :p

Bantuan bagi Korban Merapi

Teman-teman dan alumni Maksi,

HIMMA MAKSI FEB UGM menyalurkan bantuan bagi pengungsi Merapi, khususnya pengungsi di kampus UGM. Bantuan berupa dana bisa disalurkan melalui: Mandiri, no rek 119-00-0486193-4 a.n. Beta Andri Anggiano Uliansyah, setelah transfer harap konfirmasi via sms ke 085292418613 atau 08567074554.

Formulir Serah Terima Bantuan

Bagi teman-teman di luar kota, kiriman bantuan berupa barang bisa menggunakan layanan:
1. KA GRATIS untuk angkutan barang bantuan bencana dr Jkt ke YK. Droppoint di Sta. Senen. Jadwal kereta dr St.Senen: KA Senja Utama:19.30, KA Senja Utama Solo: 20.00, KA Fajar Utama Solo: 06.45.
2. CSMCargo, pengiriman bantuan Jkt-Jogja, GRATIS! hub CSMCargo Jl.Manggarai utara 6 no 9. CP 021-8313132. Sementara ini bantuan bisa via CSM Jakarta dan Surabaya.

Untuk update kebutuhan pengungsi, bisa memantau via http://twitter.com/ger_ugm

Bantuan disalurkan HIMMA bekerja sama dengan HMP (Himpunan Mahasiswa Pascasarjana) UGM. Terima kasih atas bantuannya.

Pak Dosen Tukang Cukur Rambut

Sebuah pengalaman mengesankan di kota pelajar Yogyakarta mengajarkan banyak hal pada diri saya. Khususnya pelajaran mengenai optimisme dan perjuangan hidup. Di salah satu sudut kota ini, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang dosen yang juga merangkap profesi sebagai tukang cukur rambut. Berikut ini cerita selengkapnya, mudah-mudahan bermanfaat pula bagi Anda.

Sore itu, rambut Abbas, anak saya, sudah terlihat terlalu panjang untuk seorang anak laki-laki. Poninya menggantung menutupi mata. Di samping kanan dan kiri, rambutnya menyeruak melewati daun telinga. Serabut rambut juga memanjang menuruni tengkuknya.

Sebenarnya di Jogja ini saya belum tahu persis dimana lokasi barbershop atau tukang cukur yang pas buat anak-anak. Mengandalkan intuisi serta ingatan dari pengamatan sekilas menjelajahi kota selama ini, rombongan keluarga Uliansyah pun segera melesat di jalanan kota Gudeg mencari tukang cukur. Banyak sih barbershop di kota ini. Bahkan lucunya, mereka ramai-ramai memasang kata “Bergaransi” di papan nama. Sampai sekarang, saya belum paham garansi apa yang dimaksudkan untuk sebuah produk berupa jasa cukur rambut. Continue reading “Pak Dosen Tukang Cukur Rambut”

Pekan Duka Cita untuk Anak-Anakku

Pekan ini benar-benar pekan duka cita bagi saya. Dalam sepekan, ada 3 anak-anak yang tutup usia saat hidup mereka baru saja dimulai.

Yang pertama, anak dari Ike dan Mas Kasim. Ike ini anaknya kakak sepupu saya, tapi ia justru lebih tua setahun dari saya. Mas Kasim pun bukan orang lain. Kami bertetangga sejak tinggal di Bumijo Lor, Yogyakarta. Seminggu sebelumnya, Ike harus disesar karena suatu alasan. Anaknya pun lahir sebelum HPL dengan berat 2,8kg. Berat yang cukup sebenarnya. Anak pertama saya dulu lahir dengan berat 2,7kg. Namun ada permasalahan lain yang menyebabkan kondisinya makin memburuk. Tepat pada Kamis pagi tanggal 3 April, sang bayi pun wafat..

Sementara di Jakarta, pada hari Ahad pagi saya menerima SMS. Isinya bahwa ananda Muthia yang berumur 2 tahun 4 bulan wafat. Ananda Muthia ini anak dari Agus Mulyono, kakak kelas di STAN dengan selisih dua tahun. Pekan sebelumnya, saya sudah mendengar bahwa Muthia akan dioperasi. Di dalam perutnya ada tumor. cukup sulit bagi saya untuk memahami anak sekecil itu memiliki tumor. Kabarnya sejak kecil memang perut Muthia membesar dan kemudian mengeras. Dokter memvonisnya tumor bawaan dari lahir. Pada usia muda Muthia tutup usia.

Hari senin di kantor, saya menerima berita mengejutkan lainnya. Anak seorang teman sekantor meninggal pada Kamis lalu. Kawan-kawan yang melayat entah bagaimana terlupa mengabari saya. Aduh.. sayangnya saya melewatkan momen tersebut. Sang bayi wafat dalam kandungan usia 9 bulan. Sang ibu memiliki gula darah yang sangat tinggi. Dan kemudian karena hal-hal yang tidak terkontrol manusia membuat sang bayi keracunan gula darah.

Mudah-mudahan kesabaran keluarga yang ditinggalkan menjadi amal baik serta meringankan jenazah di alam kubur.

Sedih rasanya melihat anak-anak ini harus wafat. Saya merasakan kesedihan seolah-olah mereka adalah anak-anak saya sendiri. Ya, apa bedanya anak-anak mereka dengan anak-anak saya? Bisa saja anak kami yang tertimpa musibah itu. Hanya kebetulan untuk hidup yang saya jalani, anak-anak yang lahir dari rahim Ummu Abbas-lah yang menjadi tanggung jawab keluarga Uliansyah. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah subhaanahu wata’ala. Sangat mudah bagi Allah untuk memutar peran itu, jalan jidup antara kami dan mereka yang tertimpa musibah.

Karena itu mereka semua serasa adalah anak-anakku.

Sebuah Momen yang Terlewat

Hari ini Ummu Abbas dijadwalkan operasi gigi. Jadi hari ini Ummu Abbas minta ijin tidak menjalankan tugas sebagai pengajar. Karena operasi dilakukan di RSPAD Gatot Subroto, Ummu Abbas pun berangkat bersama Abu Abbas yang kantornya ada di Lapangan Banteng.

Setelah beberapa kali konsul ke dokter gigi mengenai sakit yang mendera, Ummu Abbas dianjurkan untuk operasi gigi. Operasi gigi ini ternyata tidak bisa ditangani oleh dokter gigi, tapi oleh dokter bedah mulut.

Ummu Abbas memanfaatkan fasilitas Askes (Asuransi Kesehatan) yang disediakan dari kantornya Abu Abbas. Ya memang kami tidak pernah meminta untuk berasuransi, tapi peraturan kantor mewajibkan hal itu. Karena sudah terlanjur dipotong gaji tiap bulan untuk premi Askes, sayang juga kalau tidak digunakan fasilitas yang tersedia. Salah satunya untuk berobat gigi seperti ini.

Berobat dengan Askes bisa dibilang enak-enak-nggak enak. Enak karena kita tidak harus membayar sebesar biaya normal. Ada sebagian tindakan maupun obat yang ditanggung oleh Askes. Sementara, dibilang nggak enak karena dirasakan adanya sikap yang berbeda dari pelayanan kesehatan yang didapat jika kita menggunakan Askes. Diakui atau tidak, pengguna Askes menerima perlakuan yang berbeda dari pasien normal. Biasanya, pengguna Askes identik dengan orang miskin.

Selain perlakuan yang berbeda dari pelayanan kesehatan, perlakuan dalam mengurus Askes juga sering tidak mengenakkan. Tidak semua pengguna Askes itu tahu prosedur mengurus Askes. Jadi wajar saja kalau banyak bertanya pada petugas Askes di lapangan. Namun, sayangnya respon petugas ini tidak selamanya mengenakkan. Kami pernah beberapa kali mengalami dibentak-bentak dan digoblok-goblokkan oleh para petugas ini. Padahal apa sih susahnya menjawab baik-baik? Kami tahu para petugas ini capek, lelah, bayaran tak seberapa. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk bersikap seburuk itu?

Lebih sering lagi, kami melihat pengguna Askes yang berasal dari tempat jauh, yang datang berobat jauh-jauh, mungkin pendidikan juga tidak tinggi, umur sudah uzur, dan memang kesulitan memahami prosedur yang ada, pun tak pelak mengalami perlakuan yang sama.

Atas alasan itu pulalah kami memilih RSPAD Gatot Subroto untuk pelayanan kesehatan menggunakan Askes. Dibandingkan dengan RS Fatmawati, pelayanan Askes di RSPAD jauh lebih baik. Di RSPAD, prosedur Askes jelas terpampang pada tulisan di loket. Kalau tidak jelas, bertanya ke petugas pun diterangkan dengan sangat baik (terimakasih ya pak). Sementara pengalaman di RS Fatmawati, tidak ada penuntun prosedur yang terpasang. Pun petugas yang dihubungi langsung merespon dengan nada tinggi.

Sempat juga di RS Bhakti Asih Ciledug, Ummu Abbas pertama kali konsul masalah gigi ini. Pelayanan Askesnya ok, jelas dan responnya baik. Tapi oleh seorang dokter gigi anaksempat ditawari untuk dioperasi olehnya saja. Untung Ummu Abbas nggak menerima tawaran itu. Bisa-bisa pengalaman mbak Katherine Arta menimpa diri Ummi juga. Terjebak 4 jam di ruang operasi karena tidak ditangani oleh ahli yang benar.

Pengalaman kami menggunakan Askes cukup memuaskan. Mungkin karena kami beruntung memilih RS yang pelayanan Askesnya sangat baik. Abu Abbas pernah dirawat 2 minggu di RSPAD karena Demam Dengue. Persalinan kedua Ummu Abbas di RS Harapan Kita Slipi juga memanfaatkan fasilitas Askes.

Sehingga ketika sakit gigi Ummu Abbas harus dioperasi, penggunaan Askes pun menjadi pilihan utama. Sejak malam, Ummu Abbas sudah menyiapkan diri untuk prosedur operasi. Sesuai petunjuk dokter, pada malam sebelum operasi, Ummu Abbas banyak-banyak mengonsumsi Vitamin C dari buah jeruk. Pagi harinya, sarapan pun agak banyak karena kata dokter setelah dokter baru bisa makan setelah 6-8 jam.

Walaupun hari ini sudah dijadwalkan operasi, tapi kami tidak tahu jam berapa tepatnya operasi dilaksanakan. Karena itu Abu Abbas berolahraga dan masuk kantor dulu. Ya, tiap Rabu, Abu Abbas memang ada jadwal latihan basket bersama teman-teman kantor. Kebetulan Abu Abbas menjadi penanggung jawab lapangan, dan hari ini pula harus menyelesaikan administrasi dengan Dinas Olahraga Provinsi DKI sebagai pengelola lapangan (bayar sewa gitu, susah amat ngomongnya pake muter-muter).

Nah dari sinilah masalah mulai datang. Ternyata operasi yang dijalani Ummu Abbas lumayan besar. Operasi harus dilaksanakan di ruang operasi menggunakan dipan yang disinari lampu-lampu terang. Ummu Abbas pun mengirim sms untuk minta ditemani Abu Abbas. Sementara Abu Abbas yang sedang mengerjakan tugas kantor pun mengirimkan sms yang menanyakan jam pelaksanaan operasi. Abu Abbas juga berniat menemani istrinya.

Sayangnya, komunikasi lintas teknologi ini tidak berlangsung lancar. Ponsel GSM Ummu Abbas sudah menunjukkan status terkirim, tapi pesan itu tidak pernah sampai di ponsel CDMA Abu Abbas. Demikian pula sebaliknya.

Begini isi pesan singkatnya.

Abu Abbas to Ummu Abbas:

mi, gmn kabarnya? jam brp dioperasi? semangat ya, jgn takut. ayah mendoakan.

pesan dikirim jam 09.00 masih dengan asumsi operasi hanya di kursi dokter gigi saja.

Ummu Abbas to Abu Abbas:

Yah, sibuk ya. jam 09.07

Yah, k sini dong. Ummi deg2an. jam 09.16

Yah, ibu itu memperingatkan stelah 2 jam bius hilang. Bengkak, sakit, smp 2 hr. Kynya umi butuh ayh nih. jam 09.50

Yah, ummi sdh masuk ruang operasi. Disuruh ganti baju dan buka jilbab. Umi minta ayah datang ya ke rspad lt 2 klinik gigi n mulut. Dkt qt periksa dng dr indang. Maaf ya salah2 umi. jam 10.23

Tiba-tiba pukul 11.40 ada telepon dari Ummu Abbas via telepon kantor. Suaranya sudah penuh tangis. Ternyata dioperasi itu menyakitkan. Abu Abbas pun buru-buru pamitan dari kantor menuju RSPAD. Perjalanan ke RSPAD bukan tanpa halangan. Komplek kantor Menteri Keuangan hari itu sedang didemo. Semua pintu keluar ditutup rapat dan dijaga polisi. Gerbang-gerbang dirantai dan dikunci dengan gembok. Waduh..

Untungnya ada jalan tikus dari Polsek Sawah Besar yang berhimpitan dengan komplek Depkeu. Selepas dari sana, Abu Abbas pun menggunakan ojek ke RSPAD.

Melihat kondisi Ummu Abbas, saya sangat sedih. Sedih karena tidak bisa menemaninya melewati masa-masa sulit. Padahal ketika saya sakit, ia lah yang merawat saya. Tidak meninggalkan sosok yang terbaring sakit penuh permintaan barang sedikit pun. Kesabarannya merawat saya seolah dibalas dengan ketidakpedulian.

Untuk itu pulalah sesampainya di rumah, saya cepat-cepat memposting tulisan ini. Sebagai ungkapan rasa terimakasih saya atas pengertiannya selama ini. Juga sebagai bentuk permintaan maaf saya atas terlewatnya sebuah momen penting lain dalam hidup yang cuma sekali ini.

Semoga lekas sembuh ya Mi!