Tentang Soeharto

Prasasti Soeharto di Musium Listrik dan Energi Baru

Selama ini belum ada pendapat yang benar-benar mewakili isi hati saya tentang Soeharto. Baru tulisan K.H Mustofa Bisri di Koran Tempo (16/1/2008) inilah yang dirasa paling mengena.

Rabu, 16 Januari 2008
Opini

Pak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita

A. Mustofa Bisri, Kolumnis, Penyair, dan Pengasuh Pesantren

Ketika para petinggi di atas kelihatan bingung, mau melengserkan Pak
Harto, kok, tidak sopan, apalagi kelihatannya Pak Harto masih segar
dan mau, saya menulis di sebuah harian terkenal dengan judul
“Seandainya Pak Harto Kerso”. Tulisan saya itu mengusulkan agar Pak
Harto kerso, mau, jadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat saja.
Maksud saya, dengan menjadi Ketua MPR, Pak Harto tidak turun pangkat,
tapi malah naik: dari mandataris MPR menjadi Ketua MPR, pemberi
mandat. Sekaligus siapa tahu Pak Harto, yang diyakini banyak orang
merupakan tokoh terkuat Indonesia, dapat menularkan kekuatannya kepada
wakil-wakil rakyat yang diyakini banyak orang sangat lemah. Lagi pula,
sebagai Ketua MPR, Pak Harto masih bisa “mengatur”.

Tapi, boleh jadi Pak Harto lupa–sebagaimana umumnya orang–bahwa MPR
ketika itu adalah lembaga tertinggi negara atau ia merasa enggan
menduduki kursi yang bekas diduduki kacungnya. Atau–ini yang lebih
mungkin–Pak Harto tidak membaca tulisan saya. Seandainya Pak Harto
benar-benar mau menjadi Ketua MPR, dan ini sangat mudah merekayasanya
waktu itu, mungkin sampai sekarang masih selamat. Tidak dijadikan
bulan-bulanan dan hujatan, termasuk oleh mereka yang kemarin bergelung
nikmat di balik ketiak kekuasaannya.

Allahu Akbar! Wolak-walik-nya zaman! Rasanya baru kemarin orang-orang
berteriak hanya untuk mendukung atau diam karena takut. Wakil rakyat
tidak mewakili rakyat, tapi pemerintah (baca Pak Harto); digaji besar
untuk hanya mengatakan “ya” atawa diam. Pers pun semuanya tiarap.
Bahkan membela sesama tidak punya nyali, apalagi membela kepentingan
orang banyak.

Allah Mahabesar! Reformasi telah membalik semuanya. Semuanya kini
berbalik. Mereka yang dulu sakit gigi, kini mendadak sembuh dan setiap
hari memamerkan gigi-gigi mereka. Mereka yang kemarin tiarap, kini
seperti sudah lama bangkit. Bahkan ada yang berbalik pada detik paling
akhir; dari menjilat Pak Harto berbalik–sedetik
kemudian–meludahinya.

***

Di atas itu adalah pandangan saya di awal-awal reformasi, ketika
“burung baru saja terlepas dari sangkar”, ketika euforia keterbukaan
melanda negeri, dan pers nasional seperti kemaruk setelah sekian lama
tiarap.

Kini pers dan murid-murid Pak Harto kembali “membangunkan”-nya justru
dari rumah sakit tempat jenderal besar itu terkapar. Saat ini
seolah-olah Pak Harto masih presiden dan yang lain, seperti di zaman
kejayaannya, hanyalah boneka gagu yang tidak punya pekerjaan kecuali
menunggu sabdanya. Diamnya pembina Golkar itu saat ini mungkin dikira
sama dengan diamnya dulu waktu masih berkuasa. Diam yang membuat orang
sekelilingnya deg-degan dan ketar-ketir.

Untuk meramaikan suasana “kebangkitan” arsitek Orde Baru itu, dagelan
soal status hukumnya pun diwacanakan lagi. Terus diadili atau
dimaafkan. Seolah-olah bangsa ini memang serius menegakkan keadilan.
Seolah-olah di negeri ini, hukum masih sangat dihormati. Seolah-olah
kita semua bukan santri teladan Hadhratussyeikh Haji Muhammad
Soeharto.

Orang lupa kepada falsafah Jawa yang sangat diagungkan oleh pemimpin
agung kita itu: mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat martabat orang
tua setinggi-tingginya. Kalau benar kita mengakui Pak Harto sebagai
orang tua kita dan kita benar-benar mencintainya, kita mesti berusaha
mengangkat martabatnya; tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat
kelak.

Ketika orang berbicara mengenai status hukum Pak Harto, orientasinya
selalu hanya dunia yang notabene akan ditinggalkan tidak hanya oleh
Pak Harto sendiri. Taruh kata Pak Harto dimaafkan atau dibebaskan dari
pengadilan dunia ini, apakah tidak terpikir oleh kita sebagai
“anak-anak”-nya yang percaya kepada akhirat bahwa di sana masih ada
pengadilan. Pengadilan yang pasti jauh lebih adil. Pengadilan yang
pasti steril dari korupsi-kolusi-nepotisme dan sogok-menyogok. Lalu?

Ya, siapa saja yang mengaku cinta dan ingin yang terbaik untuk Pak
Harto mesti berpikir panjang hingga akhirat. Yang terbaik untuk Pak
Harto di akhirat tentulah apabila amal-amalnya diterima dan
dosa-dosanya diampuni oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Untuk
itu, siapa saja yang mengaku mencintai Pak Harto mesti berusaha ke
arah sana dengan memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima. Yang
lebih penting lagi, bagaimana agar dosa-dosa Pak Harto diampuni. Ini
tidak cukup hanya dengan memohonkan ampun kepada Allah. Sebab, ada
dosa manusia yang berkaitan dengan hak-hak sesama yang tidak akan
diampuni oleh Allah sebelum yang bersangkutan menyelesaikannya di
dunia ini. Kalau seseorang pernah, misalnya, menyakiti saudaranya, ya,
saudaranya itu harus dimintai maaf. Kalau seseorang pernah memakan hak
orang lain, ya, harus dimintakan ikhlas atau ditebus sehingga orang
yang bersangkutan mengikhlaskan. Demikian seterusnya, sampai tidak ada
lagi ganjalan terhadap sesama.

Jadi, demi keselamatan Pak Harto di akhirat, persoalannya dengan
sesama mestilah diselesaikan di dunia ini. Mudah-mudahan dengan
demikian Bapak Pembangunan kita itu husnul khaatimah, tidak hanya
bahagia ketika hidup di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Amin.
koran
Halaman Utama

Dear smiling general, We wish you to the best end. But neither both of us can not avoid the Ultimate Court in the Day of Resurrection.

Inisialisasi yang Tidak Istimewa

Karton itu tadinya hanyalah satu lembar karton biasa. Dibuat dari bahan bubur kertas. Bahan yang sama dengan karton lainnya. Sama-sama menggunduli hutan demi alasan pasokan kertas Indonesia dan dunia. Sama-sama mengorbankan seorang bupati dan mengancam seorang gubernur. Mesin-mesin pencetak lalu mengubah bubur pulp menjadi karton. Dikemas dalam bundelan-bundelan karton. Bundelan karton yang tidak istimewa.

Sebundel karton itu lalu dibeli oleh perusahaan pembuat tas jinjing. Mulailah kertas dipotong berdasarkan pola. Lalu dirangkai, dilekatkan dengan lem dan dilubangi untuk memasukkan tali jinjing. Jadilah sebuah tas karton. Tas karton yang tidak istimewa.

Ketika tas jinjing itu dipasarkan, beberapa lusin diantaranya dipesan oleh panitia seminar. Tas-tas itu lalu dibebani dengan majalah, buku dan bonus lain dari sponsor acara. Jadilah seminar kit yang akan dibagikan ke panitia. Seminar kit yang tidak istimewa.

Pada hari H, dibagikanlah seminar kit itu ke para peserta seminar. Setiap peserta dengan antusias membuka isi tas. Melongok, membalik, menyobek kemasan, lalu memperbincangkannya dengan teman di bangku sebelah. Ada juga yang diam membatin dengan gondok, “Aku kan udah beli Parents Guide edisi itu.” Ada yang sok serius membuka buku Homeschooling dengan dahi berkerut-kerut sekedar membaca daftar isinya. Sepanjang acara, tas jinjing menemani dari bawah kursi. Tak jarang dibuka kembali. Ada barang yang dikeluarkan. Ada juga yang dimasukkan lagi. Agar tak tertukar dengan tas lain, dibubuhkan tanda tangan atau signmark lain di atas tas jinjing. Sekarang, tas jinjing itu jadi istimewa.

Setelah ditandai simbol kepemilikan, semua benda di dunia jadi istimewa. Kita tak lagi rela bila benda itu tertukar. Padahal tertukar dengan benda yang sama. Sama bahannya, sama bentuknya, sama isinya, dibagikan oleh panitia yang sama dalam acara yang sama. Jika kita menawarkan untuk menukar seminar kit dengan sesama peserta, tentu dijawab, “Memang punyamu kenapa? Pasti ada apa-apanya.” Itu bila sekedar bertukar.

Bagaimana bila barang yang sudah dipaksa dibawah kekuasaan itu diambil? Orang tak lagi menyebutnya diambil, tapi dicuri.

Barang yang tadinya tidak istimewa menjadi istimewa hanya karena sebuah klaim. Orang rela mengeluarkan uang, barter, berebut, menuntut, merampok, merampas, menipu, bersengketa, berperang, mati untuk sebuah klaim. Klaim atas benda yang sejatinya tersedia melimpah di dunia.

Tapi untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna, butuh produksi dan jasa distribusi? Dari mana biaya penggantinya? Ah itu kan lain cerita..

* * *

Mohon maaf kalau mirip2 wejangan seekor rubah di Le Petit Prince. Karena memang inspirasi postingan ini datang dari bapak pilot itu.