Truk dan Ekonomi Bangsa

Siang itu saya berada dalam sebuah bus antar kota, terjebak di keramaian jalur tol Cikampek. Situasi itu sudah jamak dialami banyak orang, mungkin termasuk Anda juga. Kendaraan-kendaraan besar mendominasi ruas jalan. Tol dipenuhi dengan truk kontainer, truk kopel, truk box, truk engkel, truk tangki bahkan trailer dan tronton. Di jalur JORR, bertemu dengan truk adalah salah satu hal yang paling dihindari banyak orang. Kontur jalan yang turun naik, membuat kendaraan-kendaraan berbeban berat melambat dan menghambat kendaraan lain.

Berada di bangku penumpang bus ber-AC yang nyaman, mungkin telah turut membantu hati dan kepala saya lebih dingin. Lain hal kalau saya yang harus di balik kemudi. Atau menahan hajat di kendaraan tanpa kamar kecil. Akhirnya timbullah pikiran yang menjadi bahan tulisan kali ini.

Melihat kemacetan yang didominasi kendaraan besar itu, sebagian diri saya justru bersyukur. Hilir mudik kendaraan besar, menandakan ekonomi di negara ini masih terus berjalan. Dari sebuah truk saja kita bisa identifikasi pihak-pihak yang berperan secara ekonomi. Satu, produsen lokal. Lihat saja jika sebuah truk membawa barang-barang khas produksi lokal seperti sapi (yang bukan impor), ayam, sayuran, kayu, dll, maka kemungkinan besar masih ada produsen lokal yang masih produktif dan sedang membuat nilai tambah ekonomi. Dua, jika produk yang diangkut truk itu adalah barang import (seperti ponsel, televisi, dll) maka ingatlah bahwa ada importir lokal yang masih beroperasi. Tiga, jika barangnya adalah barang merk luar yang memiliki kandungan lokal lumayan tinggi, seperti mobil, motor, traktor, dll, maka ada ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) atau perwakilan lokal prinsipal atau korporasi yang memiliki pabrik perakitan yang masih menggunakan tenaga-tenaga lokal kita. Itu baru dari sisi produsen ya.

Sekarang mari kita lihat dari sisi konsumen. Umumnya, satu buah truk membawa barang dalam kuantitas besar. Jarang sekali ada konsumen akhir yang memesan satu buah truk. Artinya, di tempat tujuan truk, ada agen dan distributor yang masih hidup untuk menjalankan rantai nilai distribusi. Setelah itu, ada ribuan konsumen lokal yang masih punya rejeki untuk membeli produk yang sedang dibawa truk.

Sepanjang perjalanan truk tersebut, juga ada banyak pihak yang mendapat manfaat dari truk tersebut seperti SPBU, warung makan, warung rokok, dll. Trickle effect dari fenomena truk yang bikin macet, ternyata cukup luas tho. Nah, kalaupun analisis saya ini meleset, setidaknya masih ada seorang sopir yang digaji hari itu.

Jadi, meskipun saya tidak hapal dan tidak terlalu peduli dengan angka pertumbuhan ekonomi yang biasanya digunakan orang-orang, saya yakin dari indikator banyaknya truk di jalan raya saja kita sudah bisa mendapat sedikit gambaran tentang ekonomi kita.

* * *

Hal kedua yang saya renungkan adalah bahwa dengan mendominasinya truk di jalan raya, itu menandakan ekonomi kita memang bercirikan ekonomi konsumtif. Truk-truk pengangkut mobil dan motor termasuk yang cukup sering saya lihat di jalan tol. Selain itu, volume kendaraan dari Jakarta ke luar Jakarta secara kasat mata lebih banyak daripada dari sebaliknya. Ini indikator garis besar saja sih. Umumnya kawasan industri ada di Jakarta dan sekitarnya, maka kalau ada truk keluar dari kawasan industri ke non-industri sepertinya memang membawa barang untuk dijual.

Dari sekian banyak truk yang hilir mudik, tidak satupun yang bermerk lokal, AFAIK. Bahkan produk-produk pendukungnya seperti ban, suku cadang mesin, suku cadang non mesin pun masih didominasi produsen luar. Lha wong tukang tambal ban saja menggunakan lem impor dan kompresor impor.

Untuk hal kedua ini, idealisme saya masih mencoba berdamai dengan kenyataan. Meskipun hati masih berharap produksi lokal bisa meningkat untuk menghindari ketergantungan pada pihak luar. Toh konsumtif juga nggak buruk-buruk amat. Kita masih bisa makan sampai kenyang, bebas berpendapat, bebas beribadah, infrastruktur terus dibangun. Kurang apa lagi coba?

Urusan membangun keunggulan bangsa, ya memang harus dibangun pelan-pelan. Rasanya masih jauh untuk bisa menandingi Korea. Mereka sudah mulai merasakan enaknya dari hasil investasi di bidang riset. Atau China yang super efisien.

* * *

Tersentak dari lamunan, saya masih di Cikarang Barat. Di sini macet akibat truk, lebih luar biasa lagi. Namun seiring masuk ke ruas tol Cipali, jumlah truk yang menemani perjalanan saya semakin berkurang. Baguslah, saya bisa tidur lebih tenang tanpa harus merenungkan fenomena truk ini sepert yang saya tuliskan di atas…

Modal Usaha dari Bank?

Modal usaha dari bank, saya kok hanya bisa menemukannya di Indonesia ya? Di buku2 text book akuntansi dan bisnis, selalu menyebutkan modal dari saham atau partnership. Sbg bukti, coba cari bgmn jurnalnya modal dari bank?

Nah, saya melihat ada bbrp kekurangan kalau pebisnis mengambil modal dari bank. Khususnya pada pebisnis pemula. Ada bbrp proses pematangan yg dilewati ketika kita mencari modal dengan hutang bank. Pertama, kita akan melewati proses presentasi ide bisnis kita. Mencari modal usaha, seharusnya adalah menjual ide. Jeff Bezos (pendiri amazon) menghabiskan waktu dua tahun utk presentasi ide bisnis Amazon ke sana ke mari. Setelah mendapat modal pun, Amazon baru profit di tahun ke lima. Bgmn kita bisa meyakinkan investor bahwa usaha kita akan profit di tahun ke lima, kalau kita tidak melakukan presentasi bisnis? Hal ini berbeda dgn proses validasi kredit di Bank, yg dilihat adalah kemampuan keuangan nya utk membayar bunga dan cicilan, sementara konsep model bisnis menjadi pertimbangan nomor sekian. Padahal, inti sesungguhnya dari bisnis kita adalah model bisnis yg kita kembangkan. Di sinilah kita di-challenge menemukan investor yg mau menerima ide kita tsb. Sayangnya memang di Indonesia, kesempatan bertemu investor spt ini, dirasa masih kurang sesemarak di luar, khususnya di Amerika.

Kedua, pengalaman menyusun draft perjanjian kerja sama investasi. Ketika kita berhutang ke bank, seluruh formulir sudah disiapkan oleh bank, tinggal ditandatangani. Sementara ketika mendapatkan investor, kita harus menyusun sendiri perjanjian investasi pasal per pasal. Hal ini membantu kita makin matang di dunia bisnis.

Ketiga, proses mencari investor membutuhkan networking yg luas. Ketika kita dalam proses mencari, kita akan bertemu banyak orang yang memiliki kompetensi dan kapabilitas yg beragam. Hal ini menambah luas jaringan dan kesempatan kita utk berkembang. Berbeda dgn bank, biasanya kita hanya akan bertemu pegawai, Credit Manager, atau pimpinan cabang bank.

Keempat, pertimbangan memilih investor berbeda dgn memilih pinjaman. Ada unsur kecocokan, kesamaan visi, dst. Hal ini akan membuat kita nyaman dalam melangkah ke depan. Plus mendekatkan diri pada Ilahi karena berdoa utk mendapat investor terbaik.

Kelima, pembelajaran proses negosiasi dan interaksi. Komunikasi pebisnis dgn investor, berbeda dgn komunikasi ke bank. Investor berkepentingan utk memajukan bisnis kita, sedangkan bank hanya sekedar berpikir bgmn uangnya bisa kembali. Jenis investor yg mau turun tangan membenahi bisnis kita, biasanya disebut Angel Investor.

Hal yg menarik bisa ditemui ketika kita menggoogling “looking for investor”. Hampir di setiap hasil pencarian, tidak menyebutkan opsi berhutang ke bank.

Jadi, kita perlu mendudukkan hal ini pada tempatnya. Menurut ilmu bisnis dan praktik ala Barat sendiri, mencari modal bukan ke bank.

Mudah mudahan tulisan ini bermanfaat.

Tangsel, 31 Agustus 2016
Beta Uliansyah, M.Acc

Belajar dari Korea

Pada suatu kesempatan (yang sangat berharga buat saya), saya bertemu dengan CEO sebuah perusahaan Korea. Perusahaan tsb adalah vendor teknologi untuk perusahaan-perusahaan besar Korea di bidang elektronika dan telekomunikasi. Perusahaan yang nggak terkenal namanya ini, bertugas membuat propotype produk yang akan diluncurkan di pasar.

Membuat prototype produk sangat menyedot sumber daya, karenanya hanya orang-orang terbaik di bidangnya yang dipercaya untuk membuat prototype. Lain halnya dengan produksi yang lebih mengedepankan efisiensi, dalam pembuatan purwarupa aspek yang diutamakan adalah inovasi agar bisa memberikan solusi. Apalagi kalau produknya padat teknologi. Tentu sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan orang-orang di balik layar pembuatan purwarupa.

Seorang kawan memesan custom product ke perusahaan Korea ini, dan saya kecipratan kesempatan untuk hadir pada  demo purwarupa.  Pada pertemuan tsb, pak Yeoh (sang CEO) dan staffnya mempresentasikan fitur produk. Tugas kami yang hadir adalah mengkonfirmasi apakah fitur-fitur yang dipesan sudah terakomodasi dengan baik pada prototype tersebut.

Di tengah-tengah presentasi, pak Yeoh mengeluarkan sebuah koper. Ketika dibuka, isinya adalah modul-modul chip. Bentuknya seperti prosesor komputer. Ada yang besar dan ada yang kecil. Beliau menjelaskan bahwa modul-modul ini adalah berbagai macam chip untuk modul telekomunikasi, ada modul GSM 2G, GSM 3G, GSM 3,5G, CDMA, CDMA Rev. A, wireless A/B/G, dll. Saya tahu, bapak yang satu ini mau pamer (dalam arti marketing), “Palugada loh!”

Nah… di titik ini lah saya tercenung…

Pertama, kemajuan teknologi Korea tidak datang dalam sekejap mata. Titik awalnya adalah penguasaan dan adaptasi terhadap teknologi baru. Bagaimana menguasai dan mengejar perkembangan teknologi? Korea bermain di satu fase hulu nan strategis, yaitu riset. Riset-riset yang dilakukan oleh orang-orang Korea mampu menghasilkan paten yang aplikatif di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dari paten-paten inilah dibangun produk-produk strategis, seperti chip, layar sentuh dan modul wireless. Dari produk-produk strategis ini, dibentuk lagi produk-produk yang sukses di kalangan konsumen akhir. Sebuah rantai nilai yang luar biasa, dan Korea menguasainya dari hulu ke hilir!

IMG_20130502_190221

Lihat saja produk Korea yang membuat Amerika ketar-ketir, Samsung Galaxy. Perhatikan bahwa komponen-komponennya didominasi oleh produk asli Korea, mulai dari prosesor sampai layar sentuh. Bahkan Apple pun menggunakan layar sentuh buatan Samsung. Saya belum memastikan alasan Apple membeli dari Samsung, bisa jadi karena harga yang bersaing atau karena Samsung memegang paten teknologi layar sentuh.

Saya teringat pesan pak BJ Habibie dalam Keynote Speech Lustrum Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM 2011. Beliau memberikan sebuah analogi menarik. Ada dua mobil yang bertabrakan. Mobil yang pertama keluaran terbaru dari merk ternama dan berharga selangit. Mobil kedua diproduksi oleh pabrik tidak ternama dan harganya murah. Apa yang terjadi setelah mereka sama-sama ringsek? Ternyata harga keduanya menjadi sama. Sama-sama dihargai sebagai besi kiloan. Lalu, apa yang membuat harganya jauh berbeda sebelum ringsek? Pak Habibie menjawab sendiri pertanyaannya: Teknologi.

Kedua, Korea tidak berhenti sampai memproduksi parts/komponen saja, tapi melanjutkannya sampai ke produk akhir. Dalam khazanah ekonomi industri, penguasaan rantai nilai seperti ini jarang ditemui. Umumnya tiap pihak hanya bisa menguasai salah satu rantai dalam rantai nilai. Qualcomm, sebuah perusahaan berbasis Amerika, menguasai paten untuk modul CDMA, tetapi kita tidak pernah mendengar adanya produk CDMA buatan Amerika yang laris di pasar.

Tentunya sinergitas rantai nilai ini sulit dilakukan oleh satu kelompok bisnis saja. Peran pemerintah yang memiliki kewenangan besar tentu sangat berperan dalam menata sumber daya yang sedemikian besar. Nah, untuk menuju titik ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pemerintah membutuhkan orang-orang yang berkemampuan tinggi dan berintegritas, serta punya loyalitas yang tinggi kepada kepentingan bangsa dan negara (malaikat banget syaratnya). SDM seperti itu ada di masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana cara pemerintah menarik orang-orang nomor satu untuk masuk ke pemerintahan? Silahkan berkaca pada Singapore yang sudah menjawab pertanyaan ini tiga dekade yang lalu.

Bicara soal kepentingan bangsa, konon pada tahun 70an, pemerintah sudah memikirkan solusi mengatasi kemacetan. Pemerintah, diwakili oleh Kementerian X, mengundang konsultan dari Jepang (kemungkinan dengan skema hibah atau pinjaman dari Jepang) untuk membahas masalah ini. Hasil pembahasan memberikan dua rekomendasi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta: Opsi A, membangun Mass Rapid Transportation, atau Opsi B membangun jalan tol.

Konon.. sekali lagi konon loh.. pilihan jatuh ke Opsi B karena dua hal: (1) konsultan dari Jepang berkepentingan untuk meningkatkan produksi mobil Jepang, dan (2) jika pilih Opsi A maka yang akan menjalankan proyeknya adalah Kementerian Y yang tidak terlibat dalam pembahasan ini. Jika hal ini benar terjadi, maka ini menjadi contoh pentingnya pemerintah memerlukan SDM yang memiliki loyalitas kepada kepentingan publik.

(PERHATIAN: Dua paragraf di atas tidak boleh dikutip, karena sumbernya belum valid.)

* * *

Kita tidak boleh serta merta tercengang kagum pada kesuksesan Korea di awal abad ini. Nasehat Pak Harto agar Ojo Gumunan, Ojo Kagetan,  Ojo Dumeh (jangan mudah terheran-heran, jangan mudah terkaget-kaget, jangan mentang-mentang) sepertinya cocok untuk kondisi ini. Kita masih bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang optimal dalam memanfaatkan potensi dirinya. Tentu jalan mencapai kemakmuran tersebut tidak sama dengan jalan yang digunakan Korea. Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia memiliki potensi yang khas dibanding Korea yang miskin Sumber Daya Alam.

India sudah melesat dengan investasi pendidikan yang menghasilkan SDM yang berkualitas. China menjadi raksasa industri karena biaya produksi yang murah. Swiss, negara kecil tanpa garis pantai, terkenal karena presisi produk-produknya. Jerman memiliki bursa kopi terbesar di dunia, padahal ia tidak memiliki kebun kopi secuilpun.

Indonesia insya Allah bisa menjadi negara yang mampu mengoptimalkan potensinya. Tinggal pilih, mau cepat atau lambat untuk mencapai titik itu.

Manfaat Akuntansi untuk Pengusaha Muslim

Akuntansi telah digunakan sejak abad pertengahan. Catatan paling awal mengenai akuntansi adalah sebuah manuskrip yang disusun oleh seorang Italia bernama Luca Pacioli. Tulisan tersebut berjudul “Summa Arithmetica Geometria Proportioni et Proportionalita” yang artinya kurang lebih Kompilasi Terbaik dari Aritmatika, Geometri dan Proporsi. Di dalamnya terdapat sebuah bagian yang berisi mengenai pembukuan. Bagian berjudul De Computis et Scripturis (Of Reckonings and Writings) itu memperkenalkan sebuah sistem pembukuan yang mencatat setiap transaksi sebanyak dua kali (double entry).

Paper Work

Konon, pengetahuan tentang akuntansi berasal dari bangsa Arab yang selanjutnya didokumentasikan dalam buku Luca Pacioli. Teori ini cukup masuk akal karena kemajuan ilmu pengetahuan bangsa Arab waktu itu amat menjulang. Kemungkinan lain adalah akuntansi berasal dari Bysantium, karena di sanalah tempat berkembangnya teori dan praktik administrasi pemerintahan yang sistematis.

Saat ini, akuntansi menjadi alat bantu utama dalam menjalankan bisnis. Segala keputusan ekonomis diambil dengan menggunakan akuntansi sebagai sumber informasi. Apapun peran Anda dalam usaha, memahami akuntansi dapat membantu Anda untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik. Tidak percaya? Silahkan lanjutkan membaca sampai akhir..

Berikut ini adalah beberapa manfaat akuntansi bagi para pengusaha muslim yang ingin berbisnis tanpa melanggar syariat.

1. Akuntansi membantu para pengusaha untuk mengidentifikasi hak dan kewajiban siapa yang ada dalam usaha mereka. Dengan akuntansi, kita dapat mengetahui berapa besar hak pemodal, hak pengelola usaha, hak karyawan, hak rekanan, dll. Dengan demikian, akuntansi bisa membantu menjaga kita dari memakan harta orang lain tanpa hak.

2. Akuntansi membantu kita untuk menepati janji/kewajiban tepat waktu. Dalam akuntansi, ada analisis umur utang. Dengan schedule tersebut, kita terbantu untuk menepati kewajiban kita tepat waktu. Jangan sampai ada kewajiban yang tidak terbayar. Jika memang kita belum punya kemampuan untuk memenuhi kewaiban tersebut, dengan bantuan aging schedule tersebut kita dapat mempersiapkan diri untuk menegosiasikan umur utang kita.

3. Akuntansi membantu penghematan produksi. Dalam akuntansi, ada sebuah ilmu bernama “costing”, yaitu bagaimana menghitung biaya per unit produk. Dengan costing yang baik, kita bisa mengetahui biaya sesungguhnya per unit barang yang diproduksi. Dengan demikian, kita dapat terhindar dari kerugian karena salah memberi harga. Ada pula analisis “buy or make“, yaitu mana yang lebih menguntungkan antara membuat sendiri produk yang akan dijual (produksi) atau membeli dari vendor yang sudah ada (berdagang).

4. Akuntansi dapat digunakan untuk membantu perhitungan zakat. Dengan adanya akuntansi yang mencatat aset-aset yang dimiliki oleh perusahaan, maka seorang pengusaha dapat menghitung haul dan nisab zakat mal dari aset yang dimilikinya. Sampai saat ini saya belum menemukan aplikasi akuntansi yang memiliki fitur haul dan nisab reminder. Adakah yang punya info tentang hal tersebut?

4. Akuntansi membantu pengelola usaha mengetahui potensi bisnis yang dijalaninya, sehingga bisa menentukan strategi ke depan. Data dari laporan keuangan dapat digunakan untuk membuat business plan dan proyeksi cash flow yang berguna jika pengusaha menghendaki mudharabah dg shahibul maal. (Poin ini sumbangan dari Muhammad Arifin ibnu Masruri, terimakasih.)

5. Akuntansi membantu pengusaha mengetahui kinerja dari bisnis yang dijalaninya, sehingga bisa mengambil keputusan operasional yang akurat. Jika pada poin ke-empat kita bicara masa depan (proyeksi, strategi, perencanaan) maka pada poin ini kita bicara masa lalu, yaitu kinerja yang sudah terjadi. Dengan data kinerja, kita bisa mengambil keputusan apakah akan menambah jumlah pegawai, menambah mesin produksi, dst.

6. Akuntansi membantu menghitung kewajiban-kewajiban perundang-undangan yang harus dipenuhi, seperti pajak, CSR, dll. Jangan sampai kita kena denda karena terlambat membayar pajak, atau salah menghitung jumlah pajak yang harus dibayar. Data akuntansi dapat digunakan untuk persidangan masalah sengketa pajak lho. Tanpa data tersebut, kita hanya akan jadi bulan-bulanan peraturan.

7. Akuntansi membantu menjelaskan ke pihak lain tentang kondisi keuangan usaha kita. Siapa tahu ada investor baru yang tertarik menanamkan modal untuk usaha Anda..

Akuntansi sebagai Pemicu Aliran Sumber Daya Ekonomi Dunia

Hari ini saya berdiskusi lagi, untuk kesekian kali, dengan seorang kawan peneliti akuntansi. Topiknya adalah akuntansi sebagai sarana alokasi sumber daya ekonomi. Menurut paham tersebut, laporan keuangan membantu calon investor dan calon kreditor untuk mencari proyek dengan return yang paling optimal. Ketika mereka membuat keputusan untuk berinvestasi (entah dalam bentuk penyertaan modal atau pinjaman), maka mengalirlah sumber daya ekonomi kepada entitas usaha yang potensial.

Dari sudut pandang inilah, urgensi mengenai standardisasi laporan keuangan global menjadi relevan untuk dibicarakan. You know where this thought going at. Yes, IFRS. Convergence. Fair value. Dengan IFRS, maka cost of capital untuk menyiapkan laporan keuangan yang dapat dikonsumsi secara global akan menurun. Apakah keuntungannya hanya pada investor? Ternyata tidak. Menurut paham ini, suatu negara yang menggunakan basis IFRS dalam menyusun laporan keuangannya, akan mendulang keuntungan berupa aliran sumber daya ekonomi dari sumber global.

Konsep ini cocok dengan hipotesis pasar efisien (EMH). Dalam konsep EMH, seluruh pelaku pasar adalah pihak-pihak yang memaksimalkan kepuasan sehingga mereka akan memberikan respon yang sama jika memiliki sumber daya yang sama dan mendapat informasi yang sama. Syarat utopis dalam EMH adalah setiap orang memiliki kesempatan dan akses yang sama untuk mendapatkan informasi. Kondisi tersebut tentunya bertentangan dengan hukum asynchronous information yang mendominasi fenomena di lapangan. Kesesuaian konsep aliran sumber daya dengan EMH terletak pada perilaku pasar yang memaksimalkan kepuasan. Tanpa asumsi itu, konsep aliran sumber daya tidak akan menemui muara yang tepat.

Saya tidak serta merta menerima konsep tersebut. Hal pertama yang muncul di kepala adalah bagaimana cara membuktikannya secara empiris? Secara teoritis, konsep tersebut cukup masuk akal. Namun, teori tersebut masih harus dikonfirmasi dengan fakta di lapangan. Satu-satunya pasar hampir sempurna yang datanya dapat diakses publik adalah bursa saham. Artinya, bursa saham akan menjadi tempat yang ideal untuk menguji keempirisan topik di atas. Saya kembali memutar memori dan pemahaman saya terhadap bursa saham.

Masalahnya, informasi akuntansi itu hanya tersedia dalam beberapa saat dalam setahun. Sedangkan, respon pasar terhadap nilai perusahaan terus berubah sepanjang tahun. Meskipun demikian, para ahli meyakini bahwa nilai riil suatu perusahaan dapat ditaksir melalui informasi akuntansi. Fluktuasi nilai pasar akan bergerak menuju nilai riil tersebut, sehingga dengan pendekatan ini para analis finance dapat menentukan apakah harga saham suatu perusahaan dalam posisi underpriced atau overpriced.

Anyway, konsep aliran sumber daya adalah sebuah konsep yang menarik untuk dipelajari, diulas, didiskusikan dan dikaji. Hasil kajian tersebut hendaknya dapat memberikan manfaat bagi bangsa dan negara ini. Tidak hanya menjadi sapi perah bagi kapitalisme global, namun setidaknya, meminjam istilah teman, menghindari kerugian yang lebih besar karena harus berjalan di luar sistem yang sudah ada.

Mengenal Akuntansi Sektor Publik

Topik Akuntansi Sektor Publik akhir-akhir ini muncul sebagai sebuah topik yang semakin bertambah populer. Sepuluh atau lima belas tahun lalu, tidak banyak orang yang familiar dengan istilah Akuntansi Sektor Publik. Namun hari ini, topik tersebut menjadi salah satu topik favorit dalam ilmu akuntansi. Simposium Nasional Akuntansi (SNA), sebagai sebuah acara bergengsi para akuntan, turut mendorong perkembangan kajian Akuntansi Sektor Publik dengan membuka bidang kajian Akuntansi Sektor Publik dalam setiap seleksi paper. Berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga beramai-ramai membuka kelas konsentrasi Akuntansi Sektor Publik pada Jurusan Akuntansi baik pada program S1, S2 maupun S3.

Public Sector Accounting by Rowan Jones

Sebenarnya apa yang disebut dengan Akuntansi Sektor Publik? Apa bedanya dengan akuntansi yang umum dipelajari di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi? Mengapa perlu muncul bidang kajian baru bernama Akuntansi Sektor Publik? Keputusan-keputusan apa yang dapat diambil dari Akuntansi Sektor Publik? Tulisan ini akan mengajak Anda mengenal lebih jauh mengenai Akuntansi Sektor Publik (selanjutnya disingkat ASP).

ASP dan Definisi Akuntansi

Dari sekian banyak definisi akuntansi yang dicetuskan oleh berbagai otoritas, baik otoritas akademik (akademisi, peneliti, dosen, guru) maupun otoritas non-akademik (praktisi, organisasi profesi, pengguna), definisi akuntansi dari AAA (American Accounting Association) mungkin adalah definisi yang paling popler dan banyak dijadikan referensi. Menurut AAA, akuntansi adalah proses mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi (sebuah organisasi), untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut. Definisi ini dapat menjelaskan dengan gamblang, cabang-cabang ilmu akuntansi sebagai mana penjelasan berikut.

Organisasi atau entitas yang melaporkan informasi ekonomi, dapat digolongkan menjadi dua jenis: organisasi sektor publik dan organisasi sektor privat. Dengan demikian, Akuntansi Sektor Publik adalah akuntansi yang melaporkan informasi ekonomi dari sebuah organisasi sektor publik. Penjelasan mengenai apa itu organisasi sektor publik dapat Anda baca pada sub judul tulisan ini selanjutnya. Sementara itu, akuntansi yang melaporkan informasi ekonomi dari suatu organisasi privat kerap disebut dengan istilah akuntansi bisnis.

Akuntansi Manajemen Sektor Publik

Pengguna informasi akuntansi terbagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Akuntansi yang dipersiapkan bagi pengguna eksternal adalah akuntansi keuangan. Topik akuntansi yang berfokus pada pengguna eksternal disebut Akuntansi Keuangan, baik dasar (prinsip), menengah maupun lanjutan. Topik ini membahas mengenai prinsip-prinsip akuntansi dengan output akhir berupa Laporan Keuangan.

Sementara bagi pengguna internal, dikembangkanlah topik atau cabang akuntansi manajemen. Akuntansi manajemen membantu manajemen (pengguna internal) dalam mengambil keputusan. Akuntansi manajemen berfokus pada penyediaan informasi yang relevan dan reliabel dalam proses pengambilan keputusan oleh pihak internal organisasi, yaitu manajemen. Informasi yang disajikan tidak perlu berupa Laporan Keuangan yang baku, bahkan dapat pula tidak berwujud data finansial. Akuntansi manajemen menyediakan dasar bagi manajemen untuk mengambil berbagai keputusan dalam kegiatan operasi organisasi, seperti penentuan harga (costing), penilaian kinerja, penentuan target dalam penganggaran, penentuan tipe pengendalian yang efisien, dll.

Dari penjelasan di atas, kita sudah dapat memahami berbagai topik akuntansi seperti: Akuntansi Keuangan Bisnis, Akuntansi Manajemen (Bisnis), Akuntansi Keuangan Sektor Publik, dan Akuntansi Manajemen Sektor Publik.

Karakteristik Sektor Publik sebagai Sebuah Kontinuum

Banyak peneliti yang menyederhanakan Organisasi Sektor Publik dalam satu karakteristik saja, yaitu tidak bermotif mencari profit. Cara pandang seperti ini akan berbenturan dengan kenyataan yang ada, seperti Rumah Sakit, Terminal, dll. Entitas-entitas tersebut adalah organisasi sektor publik dan mencari profit.

Perbedaan antara organisasi sektor publik dan sektor privat, sejatinya bukanlah bersifat dikotomis. Organisasi yang tidak publik pasti privat, atau sebaliknya. Tidak demikian. Sifat sektor publik pada sebuah entitas bersifat kontinuum, yakni seperti garis antara dua titik ekstrim. Titik ekstrim Sektor Privat adalah organisasi yang motivasinya hanyalah profit saja. Di sisi lain, titik ekstrim Sektor Publik adalah organisasi yang tidak bermotif mencari profit.

Namun di antara kedua titik tersebut, ada titik-titik lain yang amat banyak hingga membentuk garis yang menghubungkan kedua titik ekstrim. Garis ini melambangkan adanya organisasi yang tidak berada di titik ekstrim. Rumah sakit, misalnya. Ia adalah organisasi sektor publik yang memiliki motif profit. Silahkan dicek ke setiap Rumah Sakit di Indonesia, apakah mereka pernah merencanakan untuk tidak profit (defisit)? Sebaliknya, tanyakan ke yayasan-yayasan pendiri RS tersebut, apakah mereka yayasan sosial atau bukan? Tentu mereka akan menjawab sebagai yayasan sosial.

Perusahaan yang telah menjalankan CSR atau Community Development atau kegiatan lain yang bersangkutan dengan hajat publik, maka perusahaan tersebut bisa jadi sudah bergeser sedikit dari titik ekstrim sektor privat ke arah titik ekstrim sektor publik. Perusahaan yang demikian telah merelakan sebagian profitnya untuk memberikan value kepada publik. Dengan demikian, motif mencari profit semata pada perusahaan tersebut telah terganggu. Tentunya hal ini jika CSR diberlakukan sebagai suka rela (seperti di Amerika) bukan sebagai kewajiban perundang-undangan (seperti di Indonesia). Bahkan sangat dimungkinkan, karakteristik sebuah organisasi terus berubah-ubah sehingga posisinya dalam kontinuum publik-privat juga dinamis tergantung magnitude ke-publik-an dan ke-privat-annya.

Menurut Deddi Noordiawan, organisasi sektor publik tidak hanya memiliki satu karakteristik, melainkan empat, yaitu:

  1. Dijalankan tidak untuk mencari keuntungan finansial.
  2. Dimiliki secara kolektif oleh publik.
  3. Kepemilikan atas sumber daya tidak digambarkan dalam bentuk saham yang dapat diperjualbelikan.
  4. Keputusan-keputusan yang terkait kebijakan maupun operasi didasarkan pada konsensus.

Pada sebuah organisasi, keempat karakteristik tersebut dapat memiliki magnitude (kekuatan) yang berbeda-beda sebagaimana yang telah dipaparkan di atas.

Urgensi Akuntansi Sektor Publik

Setiap hari, kita selalu bersentuhan dengan organisasi publik. Jalan raya yang kita lalui tiap hari adalah salah satu produk dari organisasi publik, yaitu pemerintah. Ketika kita membayar pajak, retribusi, cukai, bea dan iuran kepemerintahan lainnya, maka kita sedang mendanai organisasi sektor publik.

Sejak lahir hingga wafat, seseorang yang hidup dalam suatu negara, selalu berinteraksi dengan sektor publik. Ketika kita lahir, kita akan dicatat dalam suatu sistem data kependudukan oleh Dinas Kependudukan pemerintah setempat. Ketika wafat, Dinas Pemakaman yang akan meregulasi pemakaman.

Bagi pihak internal organisasi, ASP berperan sebagai dasar pengambilan keputusan. Kualitas keputusan yang diambil sangat tergantung pada analisis atas data. ASP dapat menyediakan data sebagai bahan analisis tersebut,

Sementara bagi pihak eksternal, ASP menyediakan informasi ekonomi melalui media Laporan Keuangan. Kualitas laporan keuangan sangat bergantung pada sistem dan prosedur akuntansi yang diterapkan pada organisasi tersebut.

Dalam sebuah negara yang terdesentralisasi, peran ASP menjadi makin penting karena entitas pelaporan yang semakin banyak. Pemda adalah penyelenggara pemerintahan terendah. Pemda menjalankan delegasi kewenangan dari pusat agar lebih responsif dalam mengatasi permasalahan khususnya yang terlokalisir. Pemda mengendalikan sumber daya publik. Untuk itu, pemda harus menjalankan prinsip akuntabilitas. ASP-lah yang menyediakan sarana akuntabilitas untuk kepentingan orang banyak (baca: publik), baik di tahap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi (Plan-Do-Check).

Penutup

Demikian sedikit pengenalan tentang Akuntansi Sektor Publik, mudah-mudahan bermanfaat bagi Anda. Jika masih belum puas dengan tulisan ini, silahkan gunakan kotak komentar untuk berinteraksi dengan saya. Jangan lupa, kunjungi kembali blog uliansyah.or.id untuk mendapatkan informasi bermanfaat lainnya.

Flexy Time ala Kemenkeu

Hari ini adalah hari pertama pemberlakuan PMK 214/PMK.01/2011 tentang Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan. Heh? PMK apa itu? Salah lampiran PMK ini mengatur mengenai jam kerja pegawai Kemenkeu yang berkantor di wilayah DKI Jakarta (baca lampiran V). Mulai Januari 2012, bagi pegawai yang masuk kerja di antara jam 7.31 – 08.00 maka wajib diganti dengan memundurkan pulang 30 menit menjadi jam 17.30. Dengan demikian, pegawai diberi keleluasaan untuk memilih jam masuk kerja. Pilihan tersebut tentunya memiliki konsekuensi.
Flexi Time

Gambar dari flexitimemanager.co.uk

PMK 214 ini adalah PMK yang ditunggu-tunggu oleh para pegawai roker alias rombongan kereta. Dengan adanya PMK ini, para roker terbebas dari risiko gangguan perjalanan transportasi kereta. Tahu kan bagaimana kinerja kereta komuter kita? Masalah akses tangga saja bisa mengganggu pelayanan. Nah, jika selama ini gangguan transportasi kereta berakibat pada pemotongan tunjangan karena terkena sanksi Datang Terlambat (DT), maka sekarang akibatnya hanyalah pemunduran jam pulang kerja.

PMK ini sempat juga dibahas dengan panas di milis alumni STAN (secara pegawai Kemenkeu kebanyakan adalah alumni STAN).

Penerapan PMK ini tak lepas dari komentar. Beberapa kawan mengeluh bahwa PMK ini tidak betul-betul menerapkan konsep flexy-time. Pertama, rentang waktu fleksibilitas yang ditawarkan kurang lebar, yakni hanya 30 menit. Hal ini berbeda dengan penerapan flexy-time di BI yang memberlakukan rentang antara jam 07.00 s.d. 08.30. Masalah rentang waktu ini, banyak pegawai Kemenkeu yang berharap dapat mulai dihitung masuk kerja dari pukul 07.00 sehingga bisa pulang jam 16.30. Kedua, penerapan flexy time ala PMK 214 ini tampak seperti hukuman. Walaupun seseorang hanya terlambat 1 menit (absen pukul 07.31), maka dihukum dengan pemunduran jam pulang kerja 30 menit. Konsep flexy time semestinya hanya mengganti waktu yang terlambat saja, tidak perlu menggunakan sistem paket 30 menit.

PMK 214 Flexi Time

Bagi Anda yang kesulitan mengakses PMK 214 dari website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kemenkeu, Anda dapat mengunduhnya dari web saya. Anda dapat mengklik pada gambar PMK di atas atau pada link berikut ini: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.01/2011 tentang  Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan.

Selamat bekerja!


PS: Bang Pay tidak termasuk!

Pasar Tenaga Kerja PNS

Seorang sepupu sedang bersiap-siap pindah kerja untuk ketiga kalinya. Setiap kali ia pindah perusahaan, hampir dipastikan ada keuntungan finansial dalam penawaran pindah tersebut. Gaji bertambah, jabatan pun terdongkrak. Dalam bidang industri yang digelutinya, yaitu perminyakan, pasar tenaga kerja memang hampir terbentuk sempurna. Mudah baginya untuk memilih tempat kerja yang memberikan penawaran lebih menguntungkan.

Seorang sepupu lain lebih gila lagi. Ia memang membangun karirnya dengan jurus kutu loncat. Sejak lulus Sarjana Pertanian kira-kira 20 tahun yang lalu, ia memulai karirnya sebagai asisten perkebunan. Beberapa tahun kemudian, ia pindah ke perusahaan perkebunan lainnya sebagai manajer kebun. Dalam hitungan belasan tahun karirnya, ia melakukannya beberapa kali lagi sampai saat ini mencapai posisi Vice Director.

Seorang kawan juga bertipe kutu loncat. Sebagai lulusan D1 Teknologi Informasi, ia sadar sangat sulit bersaing dengan lulusan S1 TIK. Karena itu ia tidak mengharap jabatan. Yang dikejarnya cukuplah kenaikan gaji. Terkadang ada penawaran pindah kerja dengan imbal dua kali gaji atau lebih.

Ketiga contoh di atas adalah contoh ketersediaan pasar tenaga kerja untuk industri tertentu. Keuntungan dari adanya pasar ini adalah selalu terciptanya harga equilibrium di antara persilangan penawaran dan permintaan tenaga kerja. Karyawan sebagai pihak yang memberikan penawaran diuntungkan dengan adanya taksiran harga yang sesuai dengan tingkat keahlian yang diberikan. Sementara kumpeni sebagai pihak yang melakukan permintaan, diuntungkan dengan adanya kisaran standar harga tenaga kerja.

Harga Equilibrium dalam Pasar Tenaga Kerja
Harga Equilibrium dalam Pasar Tenaga Kerja

Sayangnya, pasar tersebut tidak tersedia bagi PNS seperti saya. Pengaturan harga tenaga kerja PNS (baca: gaji dan tunjangan) sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Termasuk pula besaran honor yang diatur di Standar Biaya Umum. Sangat kecil ruang yang tersedia untuk membentuk pasar tenaga kerja bagi PNS. Ketika Anda (yang PNS) mendapat “rejeki” mutasi, umumnya gaji dan tunjangan tidak berubah.

Dalam konteks pasar tenaga kerja PNS, hanya beberapa kejadian yang dapat memengaruhi harga tenaga Anda. Yang pertama adalah promosi. Dengan mendapat promosi ke tingkat jabatan yang lebih tinggi, maka harga tenaga Anda juga meningkat. Tetapi jika dilihat dari harga jabatannya maka sebenarnya sama saja (eselon IV di unit ini dan unit itu umumnya memiliki harga yang sama). Bisa juga Anda pindah ke unit yang grade remunerasi-nya lebih tinggi. Dengan demikian harga tenaga Anda juga akan disesuaikan dengan grade di unit yang baru. Kondisi ini mungkin lebih mencerminkan harga tenaga Anda karena telah memiliki unsur permintaan dan penawaran.

Adapula jurus yang lain, yaitu mengubah status struktural menjadi fungsional atau sebaliknya. Sudah umum ditemui, jika kondisi sedang menguntungkan menjadi struktural maka seseorang cenderung meninggalkan posisi fungsionalnya menjadi struktural. Misalnya: dengan jalur fungsional, seseorang dapat lebih cepat mencapai golongan III/c. Setelah mencapai golongan tersebut, ia dapat menyeberang ke struktural dan menjadi pejabat eselon IV. Jabatan eselon IV memang mensyaratkan golongan minimal adalah III/c. Sebaliknya, seseorang dengan jabatan yang sepertinya sudah mentok di eselon III, ia dapat bersalin rupa menjadi fungsional agar golongannya dapat terus naik. Perpindahan antarstatus ini juga termasuk proses membentuk harga tenaga kerja PNS karena melibatkan unsur permintaan dan penawaran.

Penyesuaian gaji berkala dan kenaikan gaji 15% per tahun tidak saya masukkan dalam hitungan harga pasar karena tidak ada unsur permintaan dan penawaran. Jadi kedua hal tersebut saya anggap tidak membentuk pasar tenaga kerja PNS.

Sempitnya pasar tenaga kerja bagi PNS memang memberikan satu karakteristik yang berbeda dari pasar tenaga kerja swasta. PNS cenderung dihargai hanya dari atribut formal yang dikenakannya, alih-alih dari potensi yang dimilikinya. Secara agregat, hal ini merugikan organisasi yang memperkerjakan PNS, karena SDM tidak diberdayakan secara optimal. Ada inefisiensi antara input potensi dan output kinerja organisasi. SDM yang dikelola secara formal juga memiliki kerugian psikologis. Motivasi PNS potensial dapat menurun karena merasa tidak dihargai. Ujung-ujungnya, makin banyak PNS apatis yang hanya menjadi free rider. Sikapnya terbentuk atas dasar premis, “Apa untungnya buat saya?”. Salah siapa kalau sudah jadi begini?

Solusi sementara yang bisa saya usulkan bagi Anda, PNS berpotensi tinggi, hanyalah: carilah penyaluran di tempat lain. Potensi terpendam Anda bisa disalurkan melalui kegiatan-kegiatan sosial, bisnis sampingan, klub hobi, pembina ekskul di almamater Anda, dll. Simpan dan asah potensi Anda sampai pasar tenaga kerja PNS sudah cukup ideal.

Bagaimana kalau tidak pernah ada pasar ideal bagi PNS? Hehehe.. Mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk terjun ke pasar tenaga kerja yang sempurna saja.

PS: Ingat, lawannya promosi adalah demosi. Lawannya mutasi normal adalah mutasi usiran (ke kantor yang nggak enak tentunya). Hukuman disiplin dapat menurunkan penghasilan Anda. Begitu pula hukuman sosial :p

Kesalahan Memahami Signifikansi Statistik

Saya terpikat oleh sebuah paper dari Raymond Hubbard dan J. Scott Armstrong (2005) yang berjudul “Why We Don’t Really Know What ‘Statistical Significance’ Means: A Major Educational Failure”. Meskipun paper tersebut sudah cukup tua, namun topik yang dibawakan masih cukup nendang bagi saya. Paper tersebut menunjukkan bahwa kerap terdapat kesalahan pemahaman makna signifikansi statistik dalam jurnal-jurnal dan buku-buku teks riset bisnis. Banyak penulis yang telah salah mengartikan makna signifikansi statistik dengan menggunakan kriteria p < α sebagai uji signifikansi statistik.

Buku-buku teks yang ditemukan bermasalah di antaranya adalah:

  1. Marketing Research within a changing information environment (Hair, Bush dan Ortinau, 2003);
  2. Marketing Research (Cooper dan Schindler, 2006);
  3. Marketing Research (Aaker, Kumar dan Day, 2001);
  4. Marketing Research: An applied orientation (Malhotra, 2004);
  5. Marketing Research: The impact of the internet (McDaniel dan Gates, 2002);
  6. Marketing Research (Parasuraman, Grewal dan Khrisnan, 2004).

Note: (nama pengarang yang dicetak tebal adalah referensi yang pernah saya gunakan). 

Riset

Bagaimana seharusnya uji signifikansi yang benar? Bagaimana kesalahpahaman kriteria p < α mulai muncul di ranah akademis? Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan kembali isi paper tersebut kepada Anda.

Uji Signifikansi ala Fisher (p-value) dan ala Neyman-Pearson (α-level)

Uji signifikansi adalah salah satu tahap terpenting dalam sebuah riset, wa bil khusus riset yang bermetodologi kuantitatif. Uji ini yang akan menentukan simpulan hasil riset. Uji signifikansi menentukan apakah hipotesis yang dibuat di awal riset akan diterima atau ditolak. Karena peran pentingnya itulah, para ahli mencari cara terbaik yang dapat membedakan hasil pengamatan secara meyakinkan. Tingkat keyakinan yang memadai untuk dapat menerima suatu hipotesis tersebut yang kerap disebut dengan istilah signifikansi statistik (statistical significance).

Terdapat dua mazhab besar dalam penentuan signifikansi statistik dalam riset ilmu sosial. Mazhab Fisher menggunakan nilai p untuk menunjukkan uji signifikansi dan inferensi induktif. Sementara mazhab Neyman-Pearson menggunakan nilai alpha untuk menunjukkan perilaku yang terpilih di antara hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA).

Mazhab yang dianut oleh Fisher berdasarkan cara berpikir induktif. Fisher menggunakan nilai p untuk menentukan signifikansi. Nilai p ini menunjukkan probabilitas hasil pengamatan (x) tidak memiliki efek atau hubungan dengan hipotesis null (H0), dinotasikan dengan P (x | H0). Nilai p menunjukkan besarnya probabilitas kebenaran hipotesis null (H0) saja tanpa ada hipotesis alternatif (HA). Jika H0 terbukti signifikan, maka bisa disimpulkan (inferensial) bahwa H0 diterima.

Mazhab Neyman-Pearson menggunakan uji hipotesis untuk mencari titik signifikansi antara dua hipotesis. Menurut mazhab ini, titik signifikansi tersebut tercapai saat model penelitian bebas dari kesalahan, atau setidaknya error/kesalahan dalam pengamatan bisa diminimalisasi. Signifikansi tersebut ditentukan oleh besarnya dua macam error, yaitu salah menolak H0, atau kerap disebut Type I Error (α), dan salah menerima HA, atau disebut Type Error II (β).

Dengan demikian, penggunaan p-value dan Type I error tidak dapat dicampuradukkan. Walaupun keduanya sama-sama mengamati ekor distribusi (tail distribution), tetapi P-value menunjukkan di area distribusi mana hasil penelitian terletak dan hanya bisa diketahui setelah uji statistik, sementara Type I Error menunjukkan apakah hasil penelitian akan jatuh di area distribusi yang diterima atau ditolak; dan nilainya ditentukan oleh peneliti sebelum uji statistik. Kombinasi keduanya untuk menguji signifikansi statistik tentu adalah sebuah metode penilaian yang bias.

Pendapat ini juga diamini oleh Wikipedia. Dalam lema mengenai P-value, wikipedia mengingatkan bahwa:

“…, P-value bukanlah probabilitas hipotesis null akan diterima, P-value juga tidak sama dengan tingkat kesalahan Tipe I, α.”   (http://en.wikipedia.org/wiki/P-value)

Demikian pula di lema mengenai signifikansi statistik, wikipedia menyebutkan hal yang serupa:

“Perlu ditekankan bahwa nilai-p Fisherian secara filosofis berbeda dari Tipe I kesalahan Neyman-Pearson . Kebingungan ini sayangnya masih disebarkan oleh banyak buku-buku statistik.”(http://en.wikipedia.org/wiki/Statistical_significance)

 

Sejak Kapan Kriteria p < α Mulai Muncul?

Ronald Fisher sendiri telah mengeluhkan bahwa uji signifikansi telah “terasimilasi” ke dalam kerangka pengujian hipotesis Neyman-Pearson. Melalui tulisannya berjudul “Statistical methods and scientific induction” yang diterbitkan tahun 1955 di Journal of the Royal Statistical Society, B, Volume 17: hal. 69–78, Fisher menolak asimilasi penggunaan p-value dan Type I Error tersebut.

Dalam berbagai sumber statistik untuk pentlitian bisnis dan ilmu-ilmu sosial, diajarkan bahwa penelitian dilakukan kurang lebih sebagai berikut:

  1. Peneliti menentukan hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA).
  2. Peneliti menentukan tingkat signifikansi dengan menentukan nilai α (kesalahan Tipe I).
  3. Peneliti menghitung kekuatan tes (misalnya dengan nilai z). Sampai di sini, langkah-langkah riset telah sesuai dengan aliran Neyman-Pearson.
  4. Setelah itu, uji statistik dihitung, dan nilai p ditentukan.
  5. Signifikansi statistik riset ini kemudian ditentukan dengan menggunakan kriteria p <α. Jika p <α, hasilnya dianggap signifikan secara statistik, sedangkan jika p> α, maka hasil riset tidak signifikan.

Hasil akhir dari metode asimilasi Fisher dan Neyman-Pearson adalah bahwa, meskipun entitas yang sama sekali berbeda dengan interpretasi yang sama sekali berbeda pula, nilai p adalah dalam pikiran peneliti sekarang dipandang memiliki keterkaitaitan dengan tingkat kesalahan Tipe I, α. Dan karena keduanya sama-sama konsep probabilitas ekor wilayah distribusi, nilai p keliru ditafsirkan sebagai pengamatan berbasis frekuensi sebagaimana tingkat kesalahan tipe I, dan juga disalahgunakan sebagai bukti pengukuran terhadap H0 (yaitu, p <α) .

Penutup

Waktu membuka buku Metode Riset Bisnis edisi International (2008) yang disusun oleh Cooper dan Schindler, saya masih menemukan kriteria p<α digunakan di Bab Hypothesis Testing. Untungnya, tesis saya tidak menggunakan kriteria p <α ini.

Apakah mungkin skripsi-skripsi, tesis-tesis dan jurnal-jurnal masih salah kaprah pula memahami hal ini? Bagaimana dengan penelitian Anda? Ditunggu masukan dan pengalaman Anda di kotak komentar.

Gambar dari laman web Sekolah Pascasarjana UGM

Ronda di Kota dan di Desa

Hampir setahun tinggal di Jogja, ada banyak pengalaman baru yang saya alami. Kalo dipikir-pikir lucu juga. Saya menghabiskan masa kecil di Jogja, tetapi justru pengalaman sosial sebagai keluarga saya awali di Jakarta.

Adaptasi sosial kami sekeluarga di Jogja tidaklah mudah. Selama 3 bulan pertama, tidak ada dari kami yang kerasan. Kendala bahasa, budaya dan lingkungan sosial menjadi hambatan terbesar bagi kami untuk menyesuaikan diri. Salah satu yang paling bikin shock adalah kegilaan lalu lintas di Jogja yang tanpa sopan santun. Ada penyesuaian di sana-sini, termasuk untuk urusan pertemuan warga. Rapat RT kini wajib saya hadiri. Sederet kegiatan kemasyarakatan juga turut menghiasi agenda saya di Jogja.

Salah satu pengalaman baru yang saya alami adalah ronda. Seumur-umur saya belum pernah ikut ronda. Dulu ketika remaja, saya pernah harus menggantikan ayah saya. Itu pun langsung disuruh pulang oleh orang-orang sesampainya di pos ronda. Sekarang, mau tak mau saya sebagai kepala keluargalah yang harus ikut ronda. Awalnya memang cukup canggung menghabiskan 2-3 jam di malam hari bersama orang yang belum saya kenal. Namun lama kelamaan saya pun terbiasa. Bahkan saya merasa ronda memiliki berbagai fungsi sosial yang cukup bermanfaat.

Ronda ternyata tidak hanya sebagai sarana pengamanan saja, tetapi juga menjadi sarana interaksi dengan orang-orang di sekitar kita. Apalagi bagi pendatang seperti saya. Sesiangan sudah tidak berada di rumah, malam pun dihabiskan untuk istirahat. Mungkin ronda menjadi satu-satunya sarana sosial saya dengan tetangga. Tentunya selain say hi dengan tetangga kanan-kiri, atau acara-acara insidental seperti pernikahan dan kematian.

Selama berada di Jogja, saya sempat merasakan dua lingkungan. Lingkungan yang pertama berada di pinggiran kota Jogja tak jauh dari kampus UGM. Penduduknya sudah beragam dan banyak pula pendatang. Seorang guru besar FIB UGM juga tinggal di situ. Profesi para penduduknya sudah beragam, mulai dari pedagang, pegawai, wirausaha, dan penyedia jasa. Skala pekerjaannya pun bervariasi, ada pedagang kelas berat, pengecer tingkat retail, pedagang bubur keliling, mantan kepala kantor kejaksaan, sampai teknisi listrik di RSUD dr. Sardjito. Saya sempat menghabiskan satu tahun di lingkungan ini.

Lingkungan kedua yang saya rasakan adalah sebuah desa di luar kota Jogja. Desa tersebut masih benar-benar tipikal sosial sebuah desa. Lokasi rumah-rumah berkumpul di tengah-tengah sawah dan ladang. Pintu masuknya ditandai dengan gapura. Profesi dominan penduduknya adalah petani. Sedikit saja yang berprofesi pegawai. Luas sawah menjadi salah satu indikator status sosial. Sapi menjadi aset paling bonafid. Strata sosialnya terbentuk jelas: ada pak dukuh, beberapa ketua RT, imam masjid, serta kumpulan pemuda desa yang siap membantu acara apa saja.

Ronda di kota dan di desa, sama-sama menarik. Agendanya pun sama, kumpul di pos ronda, ngobrol sambil menikmakti hidangan yang disuguhkan secara bergilir salah seorang anggota tim ronda, serta berkeliling mengambil jimpitan di rumah-rumah. Bahkan saking tingginya chaivinisme ikatan ronda, diJogja sering ditemui kaos oblong dengan sablonan identitas ronda. Misalnya, “Malem Rebo: Karambol Ok, Gaple yo Wani!” (Malam Rabu: Berani ditantang main karambol ataupun kartu domino).

Jika ada yang berbeda, maka itu adalah jadwal ronda. Di kota, ronda di mulai jam sepuluh sampai jam dua belas malam, sementara di desa pada jam dua belas malam justru ronda baru dimulai dan nanti akan selesai jam tiga pagi. Ronda di desa juga dituntut lebih ketat karena sekaligus menjaga kandang sapi bersama yang memang ditempatkan di dekat pos ronda. Di kota, patroli malam Polisi turut membantu mengurangi risiko kejahatan. Sementara desa tidak memiliki rasio antara jumlah polisi dan luas wilayah yang mencukupi.

Sebagai sarana berinteraksi, ronda juga menjadi sumber informasi bagi saya. Saya menjadi lebih mengenal lingkungan dari informasi yang didapat selama menjalankan ronda. Kuncinya, kita harus pintar-pintar membuat agar setiap orang mengeluarkan informasi terhangat yang ia miliki. Bagi orang tua, hal ini cukup mudah. Kita tinggal puji-puji beliau dan minta diceritakan sesuatu di masa lalu. Kemudian di tengah cerita biasanya sang narasumber keceplosan atau kita sendiri bisa mengambil simpulan dari cerita masa lalunya dengan kondisi saat ini. Biasanya bentuknya informasi spasial, seperti tanah itu dulu dimiliki pak anu, lalu pak anu kena masalah dan dijual ke pak itu. Biasanya ada juga anggota tim ronda yang memang hobi menyebarkan info, mungkin mau menyaingi infotainment. Yang paling seru, kalau trouble maker atau oposan di lingkungan itu ada di tim ronda kita. Semua kebijakan RT dianalisis dan dikritisi habis-habisan. Kalau sudah bosan mendengar kata-kata pedasnya, kita tinggal tembak, kamu juga belum tentu bisa memecahkan masalah seperti itu. Sang oposan biasanya terpancing emosinya, apalagi kalau diingatkan pada kegagalannya ketika menjadi panitia suatu acara.

Dinamika sosial masyarakat sudah memberikan gambaran yang cukup beragam bagi diri saya. Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari sana. Beberapa pengalaman di antaranya bahkan membuka kesempatan untuk menangguk untung atau menyebarkan kebaikan. Info bisnis dapat ditindaklanjuti dengan langkah-langkah profitisasi, sementara info sosial disambar menjadi ladang pahala. Semuanya agar kita menjadi manusia yang lebih baik di masa datang. Amin.