Terusik oleh Sejarah

Siang itu, pandangan saya tertumbuk pada kertas bungkus nasi yang akan saya makan. Kertas tersebut adalah sobekan dari pelajaran sejarah untuk SMA. Pada kertas tersebut tertulis sebuah pertanyaan, “Apa yang menyebabkan rakyat Banten menyerang Belanda?” Pilihan jawaban yang tersedia adalah:
a. Karena menolak monopoli dagang.
b. Adanya konflik antara Sultan Agung Tirtayasa dan Sultan Haji.
c. Karena menjadi basis pasukan Sultan Agung dari Mataram.
d. Karena didukung para ulama.

Hmm.. pertanyaan yang menarik. Sambil menikmati makan siang, romantisme pelajaran sejarah mengusik pikiran saya. Hadir kembali dalam ingatan saya bagaimana dulu pelajaran ini disampaikan. Sosok ibu guru yang sabar luar biasa menghadapi segerombolan anak-anak bandel membuat pelajaran ini kerap menjadi sarana pelarian intelektual (baca: melamun). Penempatannya di jam-jam pelajaran terakhir menasbihkan prioritas pengajarannya di nomor buncit. Untuk urusan nilai pun, selalu yang ditanyakan adalah IPA, Matematika, IPS, dan Bahasa Indonesia. Jarang sekali ada orangtua murid yang menanyakan perkembangan nilai sejarah anaknya. Kalau pun ada, orangtua tidak akan mengrenyitkan dahi mendengar anaknya mendapat nilai kurang memuaskan. Tak jarang orangtua tergelak mengolok-olok anaknya yang jeblok nilainya di pelajaran sejarah.

Sepertinya, metode hafalan menjadi satu-satunya kunci sukses dalam pelajaran sejarah. Bagi anak-anak yang cenderung berpikir logis, menghafal adalah sebuah siksaan. Mata disuguhi deretan angka tahun yang seolah tidak berpola. Kepala diisi nama orang dan nama tempat yang aneh diucapkan di mulut. Kira-kira bagaimana membuat pelajaran sejarah tidak sekedar menghapal ya? Apa sih sebenarnya maksud dan tujuan pelajaran sejarah di sekolah?

Sebuah pikiran usil muncul di kepala, apakah tidak lebih baik murid-murid mempelajari sesuatu yang lebih bermakna daripada sekedar deretan peristiwa? Bisakah sejarah diajarkan dalam bentuk pola yang logis? Dapatkah pelajaran sejarah diberikan dalam satu kesatuan nilai yang bermanfaat? Misalnya, pelajaran sejarah diarahkan untuk menjawab pertanyaan seperti: Bagaimana sistem politik kerajaan Banten? Siapa saja yang memiliki peran politik dalam kerajaan Banten? Apakah konflik Sultan Agung dan Sultan Haji bisa terjadi pada sistem politik kerajaan Mataram? Mungkin dengan pendekatan seperti ini, murid tidak dapat menghabiskan materi sebanyak kurikulum saat ini, namun murid diharapkan dapat mengambil pelajaran (lesson learned) dari beberapa peristiwa sejarah. Jika sang murid tertarik dengan pelajaran yang ia dapat, maka ia dapat melanjutkan mempelajarinya di kelas yang lebih lanjut (penjurusan).

Saya rasa, sejarah adalah sebuah hal penting yang dimiliki bangsa ini. Keanekaragaman sejarah bangsa jangan sampai menjadi siksaan bagi murid-murid sekolah dasar. Kekayaan sejarah kita dapat menjadi koleksi harta tak ternilai. Bayangkan jika kita memiliki data sejarah yang memuaskan. Bayangkan jika kita memiliki sekelompok sejarawan yang bekerja dalam sebuah rerangka sinergis. Mungkin Indonesia bisa memiliki museum sekelas Smithsonian atau perpustakaan sebesar Alexandria. Ironisnya saat ini kita`justru merujuk ke koleksi mikrofilm Universitas Leiden Belanda untuk mencari sumber sejarah bangsa.

Saya teringat sebuah film yang menceritakan tentang seorang guru sejarah yang dapat membangkitkan ketertarikan murid. Sang guru mengajak murid-muridnya untuk melakukan adegan-adegan sejarah, seperti perang Saudara (Civil War) antara Amerika bagian Utara dan Selatan, proklamasi Thomas Jeferson, dll. Mungkin dengan sentuhan yang sama, topik sejarah bisa menjadi pelajaran favorit di sekolah-sekolah di Indonesia.

Tapi tunggu dulu.. logika saya terantuk pada sebuah batu besar. Jika masalah metode pengajaran yang tepat sudah ditemukan, pertanyaan bergeser pada hal yang lebih mendasar. Apa sih gunanya belajar sejarah? Kalau sejarah membuat kita terkungkung di masa lalu, mungkin lebih baik tidak usah mengungkit-ungkit masa lalu. Sebaliknya jika pelajaran sejarah digunakan untuk memperbaiki diri menghadapi masa depan, maka pengajarannya harus berorientasi masa depan. Nah, sekarang apa relevansinya sejarah era kerajaan Nusantara dengan masa depan? Bukankah kondisi masa ini sudah jauh berbeda? Bukankah budaya feodal telah lama ditinggalkan bangsa ini?

Sejarah Indonesia terbagi menjadi 3 fase. Fase perjuangan kedaerahan, fase perjuangan nasional, serta fase pascakemerdekaan. Sejarah fase kerajaan Nusantara difokuskan pada sistem politik, keadaan, tata niaga, sistem sosial, dll. Fase perjuangan organisasi, fokus pembelajaran terletak pada pendidikan, organisasi politik, perubahan sosial di Belanda dan Hindia Timur, bagaimana perjuangan bisa berpuncak pada revolusi fisik, dll. Fase perjuangan pascakemerdekaan bisa mengangkat tema pengakuan kedaulatan, pergantian sistem politik, serta politik luar negeri kita. Nah, pelajaran apa yang bisa diberikan oleh masing-masing fase ini terhadap tujuan pembelajaran sejarah?

Mudah-mudahan, pelajaran sejarah tidak lagi menjadi momok bagi para siswa. Diharapkan dengan metode baru pembelajaran sejarah dapat menelurkan sejarawan-sejarawan berkualitas, generasi muda yang berwawasan sejarah, serta pemimpin bangsa yang menghargai dan mengambil pelajaran dari sejarah.

Tak terasa, nasi di mangkuk soto sudah tandas. Saya pun melanjutkan perjalanan meninggalkan bungkus nasi bersejarah itu.

-o0o-

Mengejar Kesempurnaan (Pursuit of Excellence)

Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (Total Quality Management). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. TQM tidak mentolelir adanya produk cacat. Mengadopsi TQM berarti berkomitmen penuh dengan zero-defects.

Pandangan ini telah merevolusi keyakinan manajemen terdahulu. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah terpatri di hati dan kepala manajer bahwa adanya sebuah acceptable tolerance dalam proses produksi. Dengan keyakinan ini para manajer beranggapan bahwa, “yaah.. wajarlah kalo ada produk reject. Dari satu juta produk mosok nggak ada yang cacat.” Sebuah keyakinan yang masih memiliki penganut sampai saat ini.

Di era persaingan gila-gilaan ini, kompetisi telah menuntut adanya suatu diskrepansi nilai yang signifikan di antara produk-produk yang beredar. Para manajer pun berlomba-lomba mengejar keunggulan. Salah satu inovasi terbesar dalam perkembangan ilmu manajemen di era 1990-2000 adalah dikembangkannya konsep TQM. Para manajer tidak cukup lagi berasumsi bahwa ada sedikit produk cacat adalah hal yang wajar. Proses penciptaan nilai bagi produk digenjot pol mulai dari pabrik. Produk cacat tidak hanya menandakan proses produksi yang berjalan telah gagal dalam mengolah seluruh bahan baku, namun juga menunjukkan ada sesuatu yang salah pada perencanaan produksi. Apa bisa dikatakan masuk akal bila perusahaan merencanakan untuk gagal?
Continue reading “Mengejar Kesempurnaan (Pursuit of Excellence)”

Kondisi Keuangan Negara Pra APBN Perubahan 2008

Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di area publik yang strategis.

Banyak pengamat yang memperkirakan tahun 2008 ini adalah tahun terburuk dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 1998. Beberapa peristiwa keuangan dunia tak hanya menyebabkan hantaman krisis di Amerika, namun juga menebar ancaman di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan perekonomian Indonesia.

Hal itu dibenarkan dengan adanya instruksi penghematan anggaran oleh Menteri Keuangan. Tidak tanggung-tanggung, surat edaran Menkeu itu dikeluarkan dengan nomor surat satu. Jadi logikanya, perintah pertama Menkeu di tahun 2008 ini adalah penghematan. Jauh-jauh hari Bu Menkeu sebenarnya sudah mewaspadai mengamuknya badai krisi ini sejak tahun lalu. Hanya saja waktu itu Bu Anik (nama kecil Menkeu) masih optimis, “Krisis kali ini berbeda dengan krisis moneter 1998.” Beliau juga berkeyakinan Indonesia tidak akan banyak terpengaruh.

Enam Masalah APBN 2008

Namun kenyataan harus berkata lain. APBN digoyang berbagai isu yang melambungkan defisit. Tidak hanya itu, tidak tercapainya target pajak 2007 juga mengancam kekosongan uang kas negara. Birokrat di Depkeu pun segera mengidentifikasi masalah. Ada 6 masalah yang menjadi ancaman dan tantangan bagi APBN.

Enam masalah itu mencakup:

  1. Krisis subprime mortgage di Amerika;
  2. Kenaikan harga minyak dunia;
  3. Meningkatnya harga pangan dunia;
  4. Melemahnya nilai tukar rupiah;
  5. Tidak tercapainya produksi minyak Indonesia;
  6. Adanya Paket Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan (PKSH) yang terhantam kenaikan komoditas pangan (minyak goreng, dkk) .

Meleset dari perkiraan Bu Anik, krisis perkreditan Amerika mau tak mau membuat Indonesia meradang juga.

Berbeda dengan kenaikan harga minyak dunia tahun 1980-an, waktu itu Indonesia sebagai net eksportir masih merasakan manisnya surplus anggaran. Kebijakan surplus itu pula yang banyak dikritisi. Waktu itu Indonesia masih menggunakan anggaran dinamis dan berimbang. Artinya, setiap defisit pengeluaran harus dicarikan pembiayaannya. Seharusnya ketika penerimaan berlebih, harus segera spending dalam pembangunan. Namun Menkeu waktu itu (mungkin atas perintah Pak Harto) justru memilih saving sebagai penampung lebihan dana.

Kenaikan harga minyak tahun 2008 ini justru membuat Indonesia meradang. Kenaikan harga minyak tidak diikuti dengan kenaikan penerimaan. Pertama, karena Indonesia sudah menjadi net importir. Dari kebutuhan 1,3 juta barel per hari, produksi minyak Indonesia hanya dipatok 1,034 juta barel di APBN 2008. Target itu pun tidak tercapai. Hanya 980 ribu barel yang dapat dicapai. Alasan kedua, Indonesia tidak memiliki skema windfall profit tax (pajak durian runtuh). Pajak ini dikenakan ketika sebuah keadaan luar biasa membuat suatu pihak mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Windfall profit tax sudah umum diterapkan di negara-negara produsen minyak, seperti Aljazair. Alasan ketiga datang dari kontraktor, kenaikan harga minyak juga membuat biaya produksi membengkak. Entah bagaimana rasionalisasinya, yang pasti Cost Recovery dan faktor pengurang yang menjadi tanggungan pemerintah membuat penerimaan bersih dari minyak bumi tidak sebesar kenaikan harganya.

Efek dari kenaikan harga minyak lainnya adalah membuat beban subsidi makin besar.

Sembilan Langkah Pengamanan APBN

Untuk menjawab enam masalah di atas, dirumuskanlah langkah-langkah yang dipercaya bisa mengamankan APBN. Pemilihan istilah ‘pengamanan’ juga membuat orang mengira-ira, apakah kondisi APBN sudah sedemikian gawat? Kesembilan langkah tersebut meliputi:

  1. Optimalisasi penerimaan negara, dari Pajak, PNBP dan dividen BUMN;
  2. Penggunaan dana cadangan (contingency policy measures);
  3. Penghematan dan penajaman prioritas belanja KL;
  4. Perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik;
  5. Efisiensi di Pertamina dan PLN;
  6. Pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang;
  7. Penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program;
  8. Pengurangan beban pajak atas dan bea masuk atas komoditas pangan strategis;
  9. Penambahan subsidi pangan.

Sembilan langkah ini dipercaya bisa memperlambat laju kehancuran ekonomi.

Pembahasan selanjutnya nanti kita lanjutkan lagi. Yang jelas, hari Rabu (9 April 2008) lalu, APBN-P sudah disepakati.

Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank

Membaca perjuangan Muhammad Yunus mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui Grameen Bank, mengilhami banyak hal yang dapat disumbangkan bagi perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Muhammad Yunus adalah pemenang Nobel Perdamaian 2006. Nobel itu tentu tidak diberikan begitu saja tanpa prestasi yang diraihnya bersama Grameen Bank. Muhammad Yunus adalah seorang muslim Bangladesh yang lahir di Chittagong. Beliau berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dengan kepandaiannya, Yunus muda mampu bersekolah tinggi dan mendapatkan beasiswa Fullbright dari Ford Foundation untuk belajar di Amerika. Di masa jauh dari tanah airnya ini, beliau aktif mendukung kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan tahun 1971.

Continue reading “Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank”