Keluarga Uliansyah Memasak Bersama

Sama seperti umumnya sesama keluarga kaum urban di Jakarta coret, keluarga kami termasuk memanjakan anak-anak. Pelan-pelan, kami mencoba mulai membebankan tugas mengurus rumah dan diri sendiri kepada anak-anak. Salah satunya adalah dengan kegiatan memasak bersama.

Hari Sabtu lalu, istri saya mengikuti seminar Bahaya Pornografi untuk Anak dengan narasumber ibu Elly Risman. Resume nya bisa dibaca di blog istri saya. Salah satu pesan dalam seminar tersebut adalah mengantisipasi paparan pornografi pada anak dengan mengisi hari libur dengan kegiatan bersama keluarga. Menuruti saran bu Elly Risman tersebut, jadilah pada hari Ahad ini kami merencanakan untuk melakukan Masak Bersama.

Pada malam hari sebelum Masak Bersama, kami melakukan rapat keluarga untuk merencanakan kegiatan tersebut. Menu yang akan kami masak adalah Spaghetti. Menu ini kami pilih karena praktis dan sudah pernah beberapa kali kami buat sebelumnya. Lalu kami membuat daftar belanjaan yang harus dibeli esok hari di pasar.

Keesokan harinya, kami mulai menjalankan apa yang direncanakan sebelumnya. Semua daftar belanjaan bisa didapatkan. Sesampainya di rumah, kami mulai berbagi peran. Si Tengah Besar memotong bawang bombay dan menggeprek bawang putih, sementara saya dan si Kecil (yang sebentar lagi jadi Tengah Kecil) memotong Tomat menjadi bentuk dadu.

Setelah semua kegiatan memotong diselesaikan, kegiatan dilanjutkan dengan membuat pasta/saus. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan menumis bawang putih, lalu memasukkan bawang bombay dan tomat. Setelah cukup layu, disusul dengan kornet dan saos tomat. Di tengah kegiatan ini, kami berdiskusi tentang pasta. Saya sempat mencontohkan mas Gio anak pak Adzan, pemilik resto Sapi Bali, yang membuka usaha resto Pasta Gio ketika masih SMP.

Kepuasan terbesar berikutnya adalah ketika Si Tengah Besar nyengir besar sebelum menyantap masakan sambil berkata, “Ini hasil KERJA KERAS kita!”

Saat menyantap Spaghetti yang terhidang, ada dua kepuasan yang saya dapat. Pertama, masakan tim Uliansyah memang enak. Kepuasan terbesar berikutnya adalah ketika Si Tengah Besar nyengir besar sebelum menyantap masakan sambil berkata, “Ini hasil KERJA KERAS kita!” Hehehe.. Bismillah, Itadakimasu! Slurrp… Dalam sekejap, mie-mie Eropa itu sudah masuk ke perut kami. Menyisakan tumpukan piring dan wajan kotor di bak cuci. Lho ini giliran siapa yang cuci..

Urusan mensyukuri nikmat makanan sudah sangat banyak dianjurkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam. Misalnya dalam hadits berikut ini:

Hadits Imam Ibnu Majah Nomor 4131

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي شُمَيْلَةَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِحْصَنٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa’id] dan [Mujahid bin Musa] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Marwan bin Mu’awiyah] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Abu Syumailah] dari [Salamah bin ‘Ubaidullah bin Mihshan Al Anshari] dari [Ayahnya] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di pagi hari tubuhnya sehat, aman jiwanya dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka seolah-olah dunia telah dihimpun untuknya.” (dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 5918).

Setelah itu, ilustrasi tentang cara orangtua mengajarkan anak untuk mensyukuri makanan yang sangat mengena di hati saya adalah sepenggal fragmen di novel Serial Anak Mamak, ketika Pukat dan Burlian ogah-ogahan menghabiskan nasi mereka. Mamak lalu menyuruh mereka ikut Bapak untuk membuka ladang di hutan, menanam padi, mengurus padi selama tiga setengah bulan sampai panen, dst sampai membantu Mamak memasak di dapur dan menghidangkan makanan di meja. Sejak itulah Pukat dan Burlian sadar betapa banyak pengorbanan yang dilakukan untuk menghidangkan nasi di meja makan, dan sejak saat itu pula mereka berdua selalu menghabiskan makanan yang tersedia.

Piring Kotor

Mohon maaf, selama memasak, kami tidak sempat mendokumentasikan apa-apa. Dokumentasi baru terpikir ketika usai. Jadilah gambar bak cuci dan kompor ini  yang tersisa sebagai saksinya.. hahaha…

Pasta Tersisa, mau dibuat topping Pizza :p

Enak lho berkegiatan bersama orang-orang yang kita cintai. Apa kegiatan keluarga Anda yang berkesan? Silakan ceritakan kisah Anda di kotak komentar ya..

 

__

PS: Si Sulung tidak ikut karena sudah masuk boarding school.

Bekicot Runner

Seharusnya judul tulisan ini Snail Runner kalo konsisten dengan bahasa Inggris. Tapi karena tidak dimaksudkan sebagai tulisan bahasa Inggris yang serius, jadi terima sajalah ya… Tulisan ini tentang kegiatan keluarga kami bersama-sama mengamati tingkah laku seekor bekicot.

Bekicot Runner

Pagi itu, kami menemukan seekor bekicot saat jalan-jalan pagi di sekitar komplek. Sang Bekicot ditemukan sedang berjalan di pelataran konblok. Sepertinya ia baru saja pulang dari klab malam.. euh.. wrong script, ia baru saja pulang dari pesta.. this is also another script! Sepertinya ia baru akan mencari tempat yang lebih teduh menghindari sinar matahari yang mulai menghangat.

Bekicot adalah hewan yang mudah ditemui di sekitar kita. Idealnya, kita mengenal dengan baik benda-benda di sekitar kita. Apa manfaatnya, bagaimana perilakunya, adakah bahayanya, dst, dll. Jadi kegiatan memperhatikan benda-benda di sekitar kita dapat diarahkan untuk membawa level kualitas kehidupan kita menjadi lebih baik. Harapan kami, kegiatan mengamati bekicot ini nantinya dapat menginspirasi anak-anak kami untuk mengungkap manfaat dari benda seremeh apapun.

Lalu kami ramai-ramai melihat caranya bergerak. Awalnya ketika disentuh, bekicot akan menarik diri ke dalam cangkangnya. Lalu setelah beberapa saat, ia akan menjulurkan lagi badannya keluar cangkang. Ada sepasang sungut panjang yang ekstra sensitif. Meskipun kita belum menyentuh 2 sungut tersebut, jika kita mendekatkan jari kita ke arah sungut, maka sungut akan memendek.

Kami lalu membuat sedikit percobaan. Bagaimana jika kita meletakkan jari kita di lintasan jalan si bekicot. Apakah dia akan menarik dirinya karena ada benda asing, ataukah dia akan melewati jari kita tanpa menyadari bahwa itu adalah benda asing?

Bekicot Runner

Ternyata, si Bekicot dengan santainya melewati jari-jari kami yang diletakkan di jalur perjalanannya. Apakah sensor di kaki bekicot lebih tidak sensitif ketimbang di bagian antenanya? Ataukah dia bisa memitigasi risiko sentuhan di kaki lebih rendah daripada di antena? Entahlah.. kami memang tidak berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kami hanya berharap mudah-mudahan kegiatan ini dapat menanamkan kecintaan terhadap lingkungan, menumbuhkan rasa syukur terhadap ciptaan Allah, tidak sombong dengan kemampuan diri sendiri, memanfaatkan waktu berkualitas bersama keluarga dan manfaat lainnya.

Anda juga suka main bekicot bukan?

Teka-Teki Kode Morse

Di musim hujan begini, orang tua harus pandai-pandai mencari kegiatan dalam ruangan untuk anak. Salah satunya adalah tebak-tebakan dengan pesan rahasia yang ditulis dalam kode morse. Anak saya menikmatinya lho…

Cara membuatnya cukup mudah. Tuliskan saja pesan rahasia Anda ke Text to Morse Converter. Copy paste hasilnya ke spreadsheet, lalu klik Text to Column dengan memilih space pada pilihan “Separated by” agar kode morse terpisah menjadi satu huruf tiap cell. Terakhir berilah kotak-kotak per cell agar mudah diisi dengan huruf oleh anak Anda. Rapikan secukupnya, cetak dan berikan kepada buah hati yang sudah tak sabar memecahkan teka-teki.

Teka-Teki Kode Morse

 

 

Hasilnya sangat menyenangkan lho…

Teka-Teko Kode Morse

Selamat berteka-teki!

 

Bermain Bersama Keluarga dengan Doodle Board

Dari sebuah mainan murah dan sederhana, kita dapat berkreasi dalam menggunakan mainan tersebut, sehingga waktu bermain bersama keluarga menjadi saat yang menyenangkan.

Kami sekeluarga senang sekali bermain papan tulis magnetik yang bisa dihapus dan ditulis ulang. Ada yang menyebutnya Doodle Board, ada pula yang menyebutnya Magnetic Sketcher. Harganya tidak mahal.

Selain untuk menggambar dan mencetak pola, ada beberapa kegunaan Doodle Board lainnya. Berikut ini beberapa kesenangan yang kami dapatkan ketika bermain Doodle Board.

1. Bermain Tic-Tac-Toe

DSC01730

DSC01731

 

 

2. Menggambar Dot-to-Dot

DSC01732

DSC01733

DSC01734

 

 

3. Menyimpan Pesan Rahasia

Pesan ditulis terbalik. Pesan Rahasia dapat dibaca dengan mengarahkannya pada cermin. Karena anak-anak suka tantangan, bermain Pesan Rahasia biasanya diikuti dengan hadiah, supaya anak  mendapat reward ketika berhasil memecahkan tantangan.

DSC01736

DSC01735

 

 

Nah demikianlah beberapa cara menyenangkan bermain Doodle Board.. Mungkin para pembaca juga memiliki pengalaman atau ide menggunakan Doodle Board? Silahkan berbagi dengan kami melalui kotak komentar di bawah tulisan ini yha..

 

PS: Think Big Like Gajah 😛

DSC01737

Murojaah ala Fahim Quran

Di sebuah gerai, kami (saya dan istri) melihat sebuah produk edukasi berupa CD dan buku. Judulnya adalah Fahim Quran. Kami tertarik dengan produk tersebut, tetapi tidak langsung membelinya. Saya mencoba mencari ulasannya di Internet. Namun sayangnya belum banyak review ataupun testimonial tentang Fahim Quran. Kebanyakan posting tentang Fahim Quran hanyalah mengcopy-paste spesifikasi produk, bukan sharing pengalaman atau pendapat tentangnya. Bahkan ada pula posting blog yang menyertakan brosur penjualan Fahim Quran :D. Padahal bukan informasi itu yang dicari oleh para calon pembeli. Tulisan saya ini mungkin menjadi salah satu review Fahim Quran yang pertama.

Banyaknya produk edukasi dan sedikitnya panduan belanja produk edukasi sebenarnya membawa satu ide di kepala, yaitu membuat blog panduan belanja produk edukasi. Blog tersebut dapat menyediakan polling/rating, kumpulan testimoni, ulasan produk, dsb. Kita akan bahas ide tersebut pada lain kesempatan.


Buku dan CD Fahim Quran

Setelah membeli dan membaca buku panduan Fahim Quran, serta tak lupa menonton VCD Fahim Quran, saya salut dengan usaha yang ditempuh oleh penyusun metode ini. Ia tentunya memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan anak yang Islami dan Qurani. Ia telah berusaha agar menghafal Alquran dapat dijalani anak dengan gembira. Siapakah dia?

Sobari Sutarip adalah lulusan Al-Azhar Kairo yang mengembangkan metode Fahim Quran ini. Beliau menyatakan sempat ber-talaqi Alquran kepada syaikh di Al-Azhar. Talaqi adalah metode klasik dalam menghafal dan memperbaiki bacaan Alquran. Dalam metode ini, seorang guru yang sudah diakui keabsahan hafalan dan bacaannya, akan memeriksa hafalan dan bacaan anak didiknya. Jika lulus, guru akan memberikan sanad bacaan Alquran kepada murid. Sanad tersebut bersambung hingga Nabi Muhammad shalallahu alayhi wa salam. Dengan demikian, si pemegang sanad telah mempelajari bacaan Alquran dari sumbernya, yaitu Nabi Muhammad shalallahu alayhi wa salam.

Setelah lulus dari Al-Azhar, Sobari Sutarip kemudian pulang ke Indonesia dan menyusun konsep hafalan Quran bagi anak-anak. Metode inilah yang kemudian dikenal dengan metode Fahim Quran. Menurut buku dan VCDnya, Fahim Quran adalah kepanjangan dari Fast, Active, Happy and Integrated in Memorizing Al Quran. Metode ini diklaim dapat menyukseskan hafalan anak sampai dengan 18 juz ketika anak lulus SD.

Kelebihan Fahim Quran yang saya lihat adalah ia memperhatikan teori tumbuh kembang anak dan kemudian menggunakannya sebagai dasar pengembangan metode Fahim Quran. Saya setuju dengan ustadz Sobari, bahwa anak-anak memiliki dunia yang berbeda dengan dunia orang dewasa. Fahim Quran mencoba masuk ke dunia tersebut.

Meskipun demikian, Fahim Quran bukanlah metode menghafal Alquran yang lengkap/komprehensif, seperti metode menghafal yang diajarkan di Pakistan atau Saudi. Contoh konkritnya, Fahim Quran tidak mengajarkan tahsin (makhraj, mad/panjang-pendek bacaan, dll) dan qiraat. Fahim Quran berfokus pada cara atau bentuk murojaah yang dapat diterima oleh anak-anak.

Saya belum pernah mengikuti pelatihannya, namun dugaan saya isinya didominasi dengan pemberian motivasi menghafal Alquran bagi anak dan orangtua atau guru.

Kritik saya terhadap Fahim Quran adalah dalam penyusunan skenario film yang termuat dalam VCD. Dalam film tersebut, saya melihat produk berhasil dari metoda Fahim Quran hanya satu anak saja, yaitu Uwais (umur 9 tahun) yang telah hafal 9 juz Alquran. Di sepanjang video, saya tidak melihat ada anak lain yang memiliki hafalan di luar juz 30. Hal ini dapat membuat menimbulkan pertanyaan di benak penonton, apakah metode ini dapat digeneralisir ke anak lain atau hanya cocok untuk Uwais saja? Selain itu, penonton juga tidak tahu apakah metode Fahim Quran adalah satu-satunya yang diterapkan pada Uwais, atau dia mendapat pengajaran Quran metode lain (mungkin metode talaqi klasik). Sehingga, penonton juga ragu apakah kemampuan Uwais menghafal Quran adalah benar-benar hasil dari dampak langsung metode Fahim Quran.

Kritik ini datang dari pengalaman terdahulu ketika membahas fenomena Doktor Quran Cilik di Iran, yang mana hanya dia sendiri yang berhasil menghafal Quran dan maknanya di usia muda. Saudara-sadara kandungnya yang hidup dalam satu rumah dan diasuh oleh ayah-ibu yang sama, tidak ada satu pun yang mendekati kemampuan sang Doktor Cilik. Hal ini membuat sebagian orang (termasuk ayah dan ibu mereka sebagaimana dituliskan dalam buku tsb), menyimpulkan bahwa yang luar biasa adalah anaknya, bukan semata-mata metodenya. Saya harap Fahim Quran tidak demikian.

Fahim Quran dibangun atas teori-teori pendidikan terkini seperti Multiple Intelligence, dll. Namun sayangnya, Fahim Quran tidak memberikan konsep atau gagasan mengenai cara mengembangkan kecerdasan Qurani. Alih-alih demikian, Fahim Quran hanya memberikan model-model kegiatan murojaah Quran, seperti Zip-Zap, dll. Ada sekitar 20 bentuk kegiatan murojaah yang dicontohkan dalam buku ini. Dengan demikian, Fahim Quran menawarkan metode murojaah Alquran yang dibangun atas 8 kecerdasan Multiple Intelligence, dan tidak menawarkan satu konsep kecerdasan baru.

Krtik kedua adalah dalam VCD Fahim Quran, pemirsa dijanjikan untuk bisa mendapatkan panduan kegiatan dari situs www.fahimquran.com. Sayangnya saat saya membuka alamat web tersebut, yang ada hanyalah info pelatihan FQ saja. Saya belum menemukan update kegiatan seperti yang dijanjikan dalam VCD.

Berdasarkan informasi yang hanya saya terima secara terbatas, maka kesan saya terhadap Fahim Quran terangkum sebagai berikut. Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap metode ini adalah cukup baik. Fahim Quran mungkin dapat menjadi solusi bagi anak-anak bertipe ceria dan tidak dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang cenderung serius. Namun, metode ini juga tidak komprehensif, ia hanya menitikberatkan pada murojaah yang dilakukan dengan ceria saja. Metode ini tidak mencakup materi dasar menghafal Alquran seperti tahsin dan qiraat.

Untuk dapat menjawab semua kritikan, kita menantikan cerita sukses dari Fahim Quran. Mudah-mudahan para pengelola Fahim Quran diberi kemudahan dari Allah untuk membuat anak-anak didik menghafal Alquran, dan tidak terjebak pada kemasan menjual pelatihan saja.

Berburu Lalat

Syahdan di suatu akhir pekan, keluarga kami menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika waktu sholat tiba, kami pun menuju ke musholla. Nah, di sini lah petualangan berburu lalat dimulai…

Musholla di mall itu memiliki AC, sehingga ruangannya jadi dingiiin sekali. Di musholla ini, Abbas dan Yasmin bisa berburu lalat sepuasnya. Lalat-lalat di musholla ini mudah sekali ditangkap. Yasmin, yang berumur dua tahun saja, bisa lho menangkap lalat di mushola ini. Lho kok bisa?

Ternyata, lalat termasuk binatang berdarah dingin. Abbas sudah belajar mengenai binatang berdarah panas dan berdarah dingin. Binatang yang berdarah panas, suhu tubuhnya tetap, tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sementara binatang berdarah dingin, suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan di sekitarnya. Contoh binatang berdarah dingin adalah kadal dan lalat.

Nah, hewan yang berdarah dingin jika berada di tempat yang dingin, suhu tubuhnya akan turut menjadi dingin pula. Jika suhu tubuhnya terlalu rendah, hewan berdarah dingin menjadi sulit bergerak karena tubuhnya kaku kedinginan. Itulah sebabnya, kadal sering kita jumpai sedang berjemur di atas batu. Karena jika kadal kedinginan, tubuhnya akan menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Kalau kadal tidak bisa bergerak, ia dengan mudah dapat ditangkap oleh pemangsanya.

Demikian pula dengan lalat. Lalat-lalat yang berada di musholla yang dingin itu, tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa terbang. Abbas dan Yasmin dapat dengan mudah menangkap lalat-lalat yang sedang kedinginan di sana. Wah, Abbas bisa menangkap sampai sepuluh ekor lalat lho! Lalat-lalat itu digenggam kuat-kuat. Karena ketika lalat yang kedinginan itu bersentuhan dengan tangan kita yang hangat, ia bisa bergerak dan terbang lagi!

Boleh deh Abbas dan Yasmin berburu lalat sambil menunggu Ayah dan Ummi melaksanakan sholat. Tapi nanti setelah selesai berburu lalat, jangan lupa cuci tangan yang bersih ya.. supaya kuman dan kotoran yang dibawa lalat tidak masuk ke dalam tubuh kita.

Begitulah keseharian anak Homeschooling, bisa belajar tentang apa saja di mana saja. Belajar jadi mengasyikkan dan mudah dipahami. Eksperimen biologi tidak harus dilakukan di dalam laboratorium yang mahal, tapi bisa dilakukan di mana saja. Topik-topik yang sudah dipelajari tidak menguap terlupakan begitu saja, tapi dicari aplikasinya di kehidupan di sekitar kita.

Untuk teman-teman pembaca, selamat berburu lalat juga!

Ketika Anak Menyadari Ketidaktelitian Ibunya (2)

Alkisah, Ummi dan Abbas di suatu siang. Seperti biasa, Ummi sedang mengurusi usaha di rumah. Usaha jahitan gamisnya memang sedang banyak pesanan. Ummi sibuk sekali. Sesekali ia mondar-mandir dari ruang depan, ke ruang aktivitas, dan juga ke dapur.

Sementara itu, Abbas sedang bermain komputer di ruang aktivitas. Ummi sudah membukakan sebuah halaman web untuknya. Halaman web itu bagus sekali. Isinya tentang pelajaran mengenal huruf abjad bagi balita. Judulnya adalah ABC Zoo. Sebuah animasi yang menarik menampilkan deretan huruf disertai gambar binatang yang namanya diawali dengan huruf abjad tersebut.

ABC Zoo

Sesampainya di suatu abjad. “Mi, ini apa?”, tanya Abbas sambil menunjuk sebuah gambar hewan bulat besar.

Ummi yang hanya sempat menatap sekilas dengan yakinnya menjawab, “Itu Badak!”. Ow la la, rupanya Ummi tidak memperhatikan tulisan Hippopotamus dibawah gambar tersebut.

Abbas terdiam sejenak. Lalu ia berkomentar, “Bukan Mi, ini kuda nil. Kalau Badak itu yang punya cula.”

Ah, masak sih aku salah, kata Ummi dalam hati. Sambil masih dipenuhi rasa tidak percaya, Ummi mendekati monitor. “O, Iya ‘Abbas benar. Itu kuda Nil.”

Ummi pun melanjutkan aktivitasnysa sambil masih menyimpan rasa tidak percaya bahwa dirinya sudah salah jawab.

Animasi di layar komputer pun silih berganti menampilkan binatang-bintang lucu dengan awalan nama yang sesuai urutan huruf abjad.

tidak berapa lama….

“Nah ini baru Badak”, kata Abbas penuh kemenangan sambil menunjuk sebuah bentuk hewan di layar monitor. Huruf yang diperkenalkan adalah huruf R, dengan tulisan Rhinoceros di bawah gambar badak.

Ummi : Hiks…

PS: Di halaman web fisher-price.com masih ada beberapa permainan lain yang menarik untuk dimainkan bagi anak-anak.

Ketika Anak Menyadari Ketidaktelitian Ibunya

Dirumah, pada suatu senja. ‘Abbas dan Ummi sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Sampai suatu ketika…

‘Abbas : “Mi, ini apa?” sambil menunjuk gambar dari http://www.fisher-
price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp

Ummi : Sibuk, lihat gambar sebentar, “Itu Badak!” tanpa perhatikan tulisan dibawahnya (Hippopotamus)

‘Abbas : Diam sebentar, terus komentar “Bukan, ini kuda nil. Kalau Badak yang punya cula Mi.”

Ummi : Nggak percaya, mendekati monitor. “O, Iya ‘Abbas benar. Itu kuda Nil.” masih nggak percaya sudah salah jawab.

tidak berapa lama….

‘Abbas : “Nah ini baru Badak”. (Rhinoceros)

Ummi : Hiks…

Mendongeng: Tiga Babi Kecil ala Anak Jaman Sekarang

DIAKUI atau tidak, anak jaman sekarang memang memiliki lingkungan dan tantangan global yang berbeda dari yang pernah kita hadapi. Dan entah mengapa pula, pengaruh itu justru membentuk anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang unik. Bahkan koran tempo hari ini mengenalkan istilah generasi layar.

Salah satu keajaiban yang ditunjukkan oleh anak saya yang berumur 4 tahun Februari ini, adalah kemampuannya menyambung-nyambungkan suatu kejadian dengan kejadian lain. Mungkin mirip dengan iklan susu formula mengenai Triptofan yang digembar-gemborkan dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam mengolah informasi. Padahal anak saya anak ASI, dan sekarang minum susu UHT.

Suatu hari, saya membacakan dongeng tentang Tiga Babi Kecil. Sebenarnya dongeng ini sudah sering dibacakan menemani Si Sulung tidur malam atau tidur-tiduran di siang hari, atau sekedar bercerita tanpa ada kaitannya dengan tidur. Si Sulung Abbas pun sudah mafhum rupanya dengan apa yang diceritakan Ayahnya. Namun tetap saja matanya akan membesar, mendengar kisah yang disampaikan, tentu saja bila disampaikan dengan cara yang bombastis, menarik dan diselingi kreativitas yang membuatnya berbeda di tiap kesempatan membacakan dongeng.

Sampai suatu kali..

Ayah: Tiga Babi Kecil. Ada tiga babi kecil. Babi yang pertama membangun rumah dari jerami. Babi yang kedua membangun rumah dari kayu. Dan Babi ketiga membangun rumah dari batu. Lalu ada serigala datang dan berkata, “Hrmmmhh.. (menggeram). Aku ingin makan babi. Di mana aku bisa menemukan babi ya?”

Abbas: (cuek, main sini main sana, tapi tak mau jauh dari Ayahnya, telinga tetap mendengarkan)

Ayah: Lalu serigala datang ke rumah Babi pertama. (singkat cerita) Lalu rumah babi pertama yang terbuat dari jerami ditiup oleh serigala. Babi pertama lari ke rumah babi kedua. Lalu rumah babi kedua ditipu oleh serigala. Babi pertama dan Babi kedua lari ke rumah babi ketiga. Karena terbuat dari batu, serigala tidak bisa meniup rumah babi ketiga.

Abbas: (memotong cerita) Lalu Serigalanya menjadi besar! Seperti monster di Power Rangers, terus rumahnya ditiup deh. Babinya dimakan. (menyeringai puas)

Ayah: (*speechless*)

Kok logikanya nyambung ya? Make sense gituh..

Seminar Psikologi Anak: Pola Asuh

Sabtu lalu (8/12/2007), sekolah anakku mengadakan seminar. Temanya “Hubungan Pola Asuh dengan Perkembangan Emosi dan Intelegensi Anak”. Pembicaranya pak Mugito, psikolog yang menjadi konsuler di Citra Consulting.

Saya menjadi satu-satunya peserta pria di acara itu. Mayoritas peserta adalah ibu dari anak yang bersekolah di TK Al Muhajirin Pondok Pucung. Sebelumnya istriku sempat berdebat panjang denganku. Topiknya apa lagi kalau bukan peran Ayah dalam keluarga. Istriku merasa, peranku sebagai ayah masih kurang dan cenderung kontra-produktif. Khususnya di bidang kesehatan, pendidikan dan pola asuh. Continue reading “Seminar Psikologi Anak: Pola Asuh”