Catatan Kajian: Kultum Shubuh Ustadz Hamzah Abbas

Catatan Kajian ini sebagai catatan untuk anak-anakku kelak. Silakan diambil manfaatnya juga untuk Anda.

Bismillah.

Berikut ini catatan kajian dari kultum shubuh ustadz Hamzah Abbas di masjid Raudhatul Jannah, Rawalumbu, hari Ahad 6 Juli 2014/8 Ramadhan 1435.

Hashtag #ramadhan di twitter
Ilustrasi: Penggunaan hastag #ramadhan di twitter

 

Pelajaran Puasa agar Menjadi Orang yang Bertakwa

Puasa seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqoroh, akan membuat pelakunya menjadi orang yang bertakwa. Berikut ini beberapa pelajaran dalam ibadah puasa yang dapat membuat seseorang makin dekat dengan kondisi takwa.

1. Pelajaran Ikhlas

Puasa adalah bentuk ibadah yang tidak terlihat gerakannya dan tidak terdengar bacaannya seperti ibadah lain. Kita dapat melihat gerakan orang yang sholat, zakat, haji, umroh, jihad, dll. Kita juga bisa mendengar bacaan orang bersyahadat, membaca quran, bersholawat, dll. Namun kita tidak dapat melihat gerakan orang puasa, atau mendengar bacaan orang puasa. Dengan demikian, secara kasat mata kita tidak dapat membedakan orang yang sedang berpuasa dan tidak berpuasa.

Hal ini memberikan pelajaran keikhlasan bagi orang-orang yang berpuasa. Dan salah satu sifat orang bertakwa adalah ikhlas.

 

2.  Pelajaran Sabar

Dalam puasa, terkumpul 3 jenis kesabaran:

  1. Sabar dalam Ketaatan kepada Allah
  2. Sabar dalam Menjauhi Maksiat
  3. Sabar dalam menghadapi Taqdir Allah yang tidak mengenakkan bagi kita

Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Berpuasa adalah bukti ketaatan kita kepada Allah. Puasa karena taat kepada Allah berkonsekuensi untuk bersabar dalam menjalankannya.

Sabar dalam menjauhi maksiat. Puasa membuat hal-hal yang halal dilakukan di siang hari di bulan lain seperti makan, minum dan lainnya, menjadi haram dilakukan di siang hari bulan Ramadhan. Jika hal-hal yang pada asalnya adalah halal ini dapat membatalkan puasa, maka tentu dalam bulan puasa kita lebih berusaha untuk menjauhi kemaksiatan yang memang sudah haram dilakukan di bulan apa pun.

Sabar dalam menghadapi Taqdir Allah yang tidak mengenakkan bagi kita. Berpuasa tentu akan membuat kita lapar dan haus. Sabar dalam menghadapi taqdir lapar dan haus ini adalah pelajaran kesabaran bagi orang yang berpuasa.

Hal ini memberikan pelajaran sabarbagi orang-orang yang berpuasa. Dan salah satu sifat orang bertakwa adalah sabar.

 

3. Pelajaran Muroqobatullah (Selalu Merasa Dalam Pengawasan Allah)

Puasa adalah salah satu ibadah dengan durasi terpanjang, dari fajar hingga maghrib. Dalam menjalankan ibadah puasa tersebut, ada banyak kesempatan untuk melanggar/membatalkan puasa tanpa diketahui oleh orang lain. Namun, orang yang berpuasa tetap menjaga puasanya karena selalu merasa dalam pengawasan Allah. Orang yang berpuasa merasakan pengawasan dari Allah dalam setiap detik ia berpuasa. Rasa diawasi ini akan membawa kita untuk selalu beramal sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya setiap saat.

Hal ini memberikan pelajaran Muroqobatullah bagi orang-orang yang berpuasa. Dan salah satu sifat orang bertakwa adalah Muroqobatullah, selalu merasa diawasi Allah.

 

4. Pelajaran Kepedulian Sosial terhadap Kondisi Umat

Dengan berpuasa kita merasakan kesusahannya orang yang lapar. Seluruh umat Islam mengalami lapar yang dialami saudara-saudara mereka karena kemiskinan, perang, krisis, boikot. dll. Sepantasnya kita bersyukur kita dapat menikmati hidangan sahur dan berbuka dengan aman, dengan kemampuan untuk memilih makanan yang kita sukai, karena di belahan bumi lainnya banyak saudara-saudara kita yang bahkan untuk sahur dan berbuka mereka tidak menemukan apa pun untuk dimakan.

Tambahan dari pencatat

Tentunya dengan pelajaran kepedulian sosial ini akan mendorong orang yang berpuasa untuk membantu saudara-saudaranya yang sedang dalam kesulitan.

Hal ini memberikan pelajaran peduli umat. Dan salah satu sifat orang bertakwa adalah peduli kepada saudara-saudaranya sesama seakidah.

Penutup

Dari keempat pelajaran tersebut, semuanya adalah ciri-ciri bagi orang yang bertakwa.

Catatan Kajian: Ceramah Syaikh Musa Nasr dan Syaikh Ali Hasan Ali Al-Halaby di Masjid Al-Fattah Jatinegara

Catatan Kajian ini sebagai catatan untuk anak-anakku kelak.

Bismillah.

Berikut ini catatan kajian ketika saya mengikuti ceramah di Masjid Al-Fattah Jatinegara. Tabligh diadakan pada hari Rabu, 25 Juni 2014 tanggal. Waktu mulai bada Maghrib sampai Isya.

Sesi Syaikh Muhammad Musa Alu Nasr

Umat Islam diberi bulan Ramadhan Fasilitas memperbanyak ganjaran yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.

Beliau lalu membawakan hadits sbb:

Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata : “Amin..amin. .amin..”. Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau : “Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)” Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb: “Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : “Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin” Kemudian aku meng aminkannya. “Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin” “Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya) , kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan “Amin” (H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188). Catatan: hadits ini ditakhrij, tidak disampaikan dengan lengkap oleh Syaikh.

Beliau juga menyampaikan bahwa salah satu ibadah yang ganjarannya sangat besar adalah umroh di bulan Ramadhan. (Catatan: baca Keutamaan Umroh di Bulan Ramadhan).

Sampai di sini selesai penyampaian syaikh, dan beliau memberikan waktunya kepada syaikh Ali untuk menyampaikan materi.

 

Sesi Syaikh Ali Hasan Al-Halaby

Syaikh Ali menyampaikan Hukum-Hukum Fiqhiyyah Ramadhan (Masa’il Fiqhiyyah fii Ramadhan)

Kenapa membahas fiqh? Karena hadits Nabi,  “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan niscaya akan dipahamkan tentang masalah agama”.

1. Niat Puasa Ramadhan

Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat. Cara Niat: cukup berniat 1 kali untuk sebulan. Jika puasa Ramadhan kita terselangi/terjeda oleh hari tidak puasa karena sakita atau safar, maka ketika akan melanjutkan puasa lagi harus berniat lagi. Nanti di sesi tanya jawab, syaikh ditanya ttg dalil puasa dengan 1 niat untuk sebulan penuh. Syaikh menjawab: pemahaman ulama seperti itu, yakni perintah puasa Ramadhan adalah untuk sebulan, maka niatnya pun sebulan. Beliau mencontohkan, sholat Dhuhur yang 4 rakat apakah niatnya di tiap rakaat atau niat untuk menjalankan sholat seluruhnya?

2. Puasa memiliki makna menahan diri dari maksiat

Puasa secara bahasa artinya menahan diru dari sesuatu. Sementara secara istilah agama, puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan sejak fajar hingga malam. Namun, puasa juga memiliki makna menahan diri dari maksiat. Jika tidak menahan diri dari maksiat, meskipun puasanya tidak batal namun pahala puasanya akan sia-sia.

Hadits: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Termasuk maksiat yang mengurangi/menghilangkan pahala puasa adalah: ghibah, namimah dan maksiat secara umum.

Bahkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa orang yang bermaksiat ketika puasa, batal puasanya. (nanti si sesi tanya jawab ada yg bertanya apakah orang yang berbohong batal puasanya)

 

3. Meninggalkan Perkataan Dusta

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Perkataan dusta  dalam hadits ini tidak terbatas pada sumpah palsu saja tetapi semua perkataan bohong.

Catatan tambahan

4. Puasa ketika safar maka mana yang lebih ringan apakah berbuka atau puasa, itulah yang dipilih.

Safar termasuk menggunakan pesawat, kapal laut, kereta dll. Semua termasuk kondisi safar.

Hadits “bukan termasuk kebaikan orang yang berpuasa ketika safar”, maka hadits ini terkait dengan kondisi. Jika melihat asbabul wurud hadits ini, adalah ketika seorang yang safar lalu ia berpuasa dan tidak kuat. Melihat kondisi orang tsb, nabi mengatakan “bukan termasuk kebaikan orang yang berpuasa ketika safar”. yakni ketika kondisinya tidak kuat/memudhorotkan.

Dikonfirmasi dengan hadits lain: “Sahabat safar bersama Nabi, ada yang puasa dan ada yang tidak puasa dan tidak saling menyalahkan.” Hal ini berarti dilihat kondisi musafir tersebut ketika safar. Jika ia kuat maka ia berpuasa, dan jika ia tidak kuat maka ia berbuka dan menggantinya di hari lain.

Materi tambahan:

5. Sahur dan Berbuka

Hadits “Kalau sudah terbenam, maka orang yang berpuasa harus sudah berbuka”.

 

Sesi Tanya Jawab

1. Apakah bohong membatalkan puasa?
Syaikh Musa menjelaskan, adapun pendapat Ibnu Hazm ttg batalnya puasa orang yang berbohong maka itu adalah pendapat pribadi beliau. Yang lebih tepat adalah dirinci sbb:
a. jika ia menghalalkan berbohong maka ia tidak hanya batal puasanya tapi juga batal islamnya (kafir) karena menghalalkan yang diharamkan Allah.
b. jika ia berbohong tetapi tidak sampai menghalalkan berbohong maka mengurangi pahala puasanya.

2. Dalil niat 1 kali dalam puasa Ramadhan
pemahaman ulama.

3. Bgmn puasa di tempatyang siangnya lebih panjang dari malamnya?
berpuasa mengikuti waktu setempat, bersama muslimin sepetmpat.
kondisi ini berbeda dengan hadits turunnya dajjal. maka waktu sholat yang diperkirakan tersebut berlaku ketika turunnya dajjal dan tidak dapat dikiaskan dengan kondisi siang yg lebih panjang dari malam.

4. Adakah puasa setengah hari bagi yang sakit?
Puasa setengah hari hanya ada untuk mengajari anak-anak puasa. (hadirin tertawa)

5. Memulai ramadhan menggunakan hisab atau rukyat?
Mengikuti pemerintah.

6. Menelan air wudhu ketika puasa
hadits istinsyar ketika berpuasa tidak terlalu dalam.

jika sudah maksimal mengeluarkan air dan memang tidak bisa seluruhnya keluar, maka tidak mengapa
jika sengaja, atau tidak berusaha secara maksimal agar ada yang tertinggal, maka batal.

7. Apakah wanita yang hamil atau menyusui wajib mengganti puasa?

Syaikh Ali menjawab: Ibnu Abbas menafsirkan QS Al Baqarah 184: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ yakni tentang mengganti ouasa dengan memberikan makanan bagi orang miskin, maka beliau menafsirkan bahwa laki-laki dan wanita yang tidak mampu berpuasa di bulan Ramadhan maka mengganti dengan memberi makan kepada orang miskin.

Syaikh menjelaskan bahwa jika wanita hamil yang khawatir puasanya berpengaruh pada bayinya maka tidak mengganti puasa tetapi cukup membayar fidyah. Demikian pula orang tua yang tidak tidak mampu lagi berpuasa, membayar fidyah.

Beliau membawakan atsar bahwa sahabat Anas bin Malik ketika sudah tua, beliau tidak mampu puasa dan mengganti dengan memberikan makanan kepada orang miskin.

Namun untuk wanita menyusui maka perlu dirinci kondisinya. Jika wanita menyusui tersebut kuat untuk berpuasa, lalu ia tidak berpuasa karena menyusui maka ia mengganti dan membayar fidyah. Jika wanita menyusui tersebut tidak kuat berpuasa maka hanya membayar fidyah dan tidak mengganti puasa.

Demikian catatan kajian ini, mohon maaf kalau banyak kesalahan dan kekurangan. Semoga bermanfaat.

Keberuntungan Orang Terakhir

Pagi itu, seperti biasa, saya berdesak-desakan di dalam gerbong kereta komuter menuju Tanah Abang. Penduduk ibu kota memang suka bergegas. Apalagi di pagi hari di awal pekan. Kesibukan yang tertunda di hari atau pekan sebelumnya,  memicu orang-orang untuk bergegas. Tidak salah kalau Toyota menamai salah satu produknya dengan makna ‘bergegas’.

Lamunan saya di kereta itu terpecah oleh bunyi lonceng nang-ning-nong yang menandakan kereta akan segera berangkat dari stasiun. Kepala stasiun juga telah mengumumkan bahwa jalur telah aman untuk dilalui. Di sebuah pintu kereta agak jauh dari tempat saya berdiri, nampak seorang bapak berlari-lari menuju ke pintu kereta yang sudah hampir tertutup. Dan… dengan sebuah lompatan, hup!, sukseslah ia berada di dalam kereta. Pintu menutup, dan kereta berangkat dengan tambahan seorang penumpang terakhir.

Kereta

Kejadian itu sungguh berkesan bagi saya. Saya pun terkadang mengalami hal yang sama. Menjadi orang terakhir yang bergabung dalam perjalanan, rasa-rasanya membuat kita menjadi orang paling beruntung dalam kereta tersebut. Bayangkan, betapa banyak manfaat yang diperoleh dari kesempatan itu. Kita tidak perlu lagi menunggu kereta selanjutnya. Kita bisa sampai di tujuan lebih cepat daripada jika harus menggunakan jadwal selanjutnya. Jika dihitung dalam sebuah formula efisiensi, tentu orang terakhir itu adalah orang paling efisien dibanding penumpang lain. Dengan pengorbanan paling sedikit, ia bisa menikmati perjalanan yang sama dengan penumpang lainnya. Jika ia harus menanti kereta selanjutnya, maka ia akan menjadi orang dengan pengorbanan paling besar untuk bisa mengikuti perjalanan selanjutnya.

Bagaimana jika kejadian tersebut terjadi pada kereta antarkota yang hanya diberangkatkan dua kali sehari? Tentu sangat menyakitkan jika kita harus terlambat di detik terakhir. Kita harus menunggu setengah hari untuk bisa ikut dalam perjalanan berikutnya. Saya kerap menyaksikan fenomena ‘keberuntungan orang terakhir’ seperti ini di stasiun Tugu, Yogyakarta. Orang yang berlari-lari mengejar kereta yang telah bergerak perlahan. Sungguh beruntung ia..

Bagaimana jika fenomena keberuntungan orang terakhir terjadi pada kendaraan yang lebih besar dan tujuan yang lebih penting? Umpamanya saja, kendaraan itu adalah kehidupan kita, dan tujuan akhirnya adalah ridho Allah yang diwujudkan dengan surga. Saya rasa perumpamaan ini amat relevan. Orang terakhir yang masuk surga adalah orang yang amat sangat beruntung. Sangat beruntung jika dibandingkan dengan mereka yang tertinggal di neraka. Terlebih lagi, setelah ia masuk surga maka sudah tidak ada lagi transfer penduduk antara surga dan neraka.

Berikut ini sebuah hadits mengenai orang terakhir yang masuk ke dalam surga:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta’ala berkata kepadanya, ‘Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.’ Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.’ Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepadanya, ‘Pergilah, masuklah kamu ke surga.’.” Nabi berkata, “Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.’ Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepadanya, ‘Pergilah, masuklah kamu ke surga. Sesungguhnya kamu akan mendapatkan kenikmatan semisal dunia dan sepuluh lagi yang sepertinya’ atau ‘Kamu akan memperoleh sepuluh kali kenikmatan dunia’.” Nabi berkata, “Orang itu pun berkata, ‘Apakah Engkau hendak mengejekku, ataukah Engkau hendak menertawakan diriku, sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya.” Periwayat berkata,“Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ibnu Mas’ud pun tertawa, lalu berkata, “Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?”. Mereka menjawab, “Mengapa engkau tertawa?”. Beliau menjawab, “Demikian itulah tertawanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. -Ketika itu- mereka -para sahabat- bertanya, ‘Mengapa anda tertawa wahai Rasulullah?’. ‘Disebabkan tertawanya Rabbul ‘alamin tatkala orang itu berkata, ‘Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabbul ‘alamin?’. Lalu Allah berfirman, ‘Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Mahakuasa melakukan segala sesuatu yang Kukehendaki.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/314-315])

Masya Allah. Membaca hadits yang mulia ini sangat menyentuh hati. Baca pula pelajaran-pelajaran yang diambil dari hadits tersebut.

Kita tentu tidak ingin masuk neraka. Tidak untuk satu detikpun. Kita juga tidak ingin masuk surga di kesempatan terakhir. Karenanya hendaklah kita menjadi orang yang lebih baik dari orang dalam hadits di atas. Jika kita bersiap-siap untuk tidak terlambat mengejar kereta, maka lebih pantas lagi jika kita bersiap-siap agar tidak menjadi orang terakhir yang masuk surga.

Mari berusaha mendapatkan keberuntungan yang lebih besar daripada keberuntungan orang terakhir.

Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya

Suatu hari saya mengikuti sebuah acara seminar. Acara tersebut telah memasuki bagian akhir. Saya kemudian keluar dari ruangan untuk menunaikan sholat Ashar. Bersamaan dengan itu, di ruangan seminar sedang dibagikan door prize. Ketika saya kembali ke ruangan seminar, door prize telah habis dibagikan.

Sebagai manusia biasa, ada perasaan sesal di hati. Aduh, kenapa saya tadi tidak bertahan sebentar di dalam ruangan. Rasa dongkol itu mungkin akan bertambah bila saya yang sebenarnya mendapat door prize, namun karena diangap tidak hadir di ruangan maka hadiah tersebut diberikan ke peserta lain.

Allah wa Rasuluhu

Gambar kaligrafi dari http://www.artislamic.com/cc-4.html

Untuk mengobati rasa sesal itu saya mencoba menghibur diri. “Bukan rejeki awak”, bisik hati saya. Rejeki memang tidak akan lolos dari kita, sepanjang kita sudah berusaha. Allah tidak akan lupa atau salah memberikan rizki kita ke orang lain. Bukankah burung yang berangkat dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar, Allah beri rizki sehingga ia pulang ke sarangnya pada petang hari dalam keadaan kenyang?

Saya teringat sebuah kisah yang sangat menyentuh mengenai harta dunia. Kisah tersebut terjadi pada perang Hunain. Kisah ini terdapat dalam hadits Nabi shalallahu alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al-Musnad (3/76).

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mulai membagi-bagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari Anshar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”

Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, katanya: “Wahai Rasulullah. Orang-orang Anshar ini merasa tidak enak terhadap anda melihat apa yang anda lakukan dengan harta rampasan yang anda peroleh dan anda bagikan kepada kaummu. Engkau bagikan kepada kabilah ‘Arab dan tidak ada satu pun Anshar yang menerima bagian.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bertanya: “Engkau sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?”

Katanya: “Saya hanyalah bagian dari mereka.”

Kata Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam: “Kumpulkan kaummu di tembok ini.”

Lalu datang beberapa orang Muhajirin tapi beliau biarkan mereka, dan mereka pun masuk. Datang pula yang lain, tapi beliau menolak mereka. Setelah mereka berkumpul, Sa’d pun datang, katanya: “Orang-orang Anshar sudah berkumpul untuk anda.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pun menemui mereka, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian orang Anshar, apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak enak yang kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku? Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku? Bukankah kamu dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”

Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?”

“Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya semua kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Anshar.

Kata Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam: “Demi Allah, kalau kamu mau, kamu dapat mengatakan dan pasti kamu benar dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan terhina, kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, kamilah yang mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu, hai kaum Anshar keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan kamu kepada keislaman kamu. Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar, manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-orang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”

Mendengar ini, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi janggut-janggut mereka, sambil berkata: “Kami ridha bagian kami adalah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam.”

Kemudian Rasulullah n pergi, dan kami pun bubar.

Teman-teman, siapa di antara Anda yang tidak memiliki mobil karena menyelamatkan diri dari riba, saya ucapkan, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.” Kepada teman-teman yang masih ngontrak rumah, belum punya rumah, karena menghindar dari korupsi, saya ucapkan, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Bagi Anda yang terlewat dari kenikmatan dunia baik berupa harta, kendaraan, pasangan hidup, dll, karena disebabkan ia sedang menjaga hak-hak Allah. Saya ucapkan, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Jika Anda sedang menghadapi pilihan, antara yang hak dan yang batil. Jangan ragu-ragu, pilihlah yang hak! Tinggalkan yang batil! Serugi apa pun pilihan itu dari kacamata dunia. Karena dari pilihan tersebut, saya dengan bangga akan mengucapkan pada Anda, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Terjemahan hadits, saya copy dari http://asysyariah.com/perang-hunain-bagian-3.html

Madinah Live Streaming

Alhamdulillah, setelah sebelumnya kita bisa menikmati live streaming ibadah haji 2011 dan live streaming dari kompleks Masjidil Haram, Makkah, berikut ini adalah link video live streaming dari Madinah. Dengan adanya posting ini, sudah 2 tempat dan 1 prosesi ibadah di tanah suci yang dapat kita tonton melalui internet. Dua tempat yang dapat dipantau secara online tersebut adalah Mekkah dan Madinah, sementara rangkaian prosesi ibadah yang tersiar secara online adalah ibadah Haji tahun 2011 yang lalu.

Video live streaming dari kompleks Masjid Nabawi, Madinah, dapat diakses melalui kanal youtube SaudiSunnahTv. Berikut ini tampilannya:

Dengan adanya live streaming ini, kita bisa mempelajari kondisi di Mekkah dan Madinah sebelum benar-benar menginjakkan kaki di sana. Itung-itung mengurangi shock culture ketika nanti dapat rejeki untuk umrah atau haji. Selain itu, praktik keagamaan di Saudi juga bisa diintip dari siaran ini.

Beberapa kali saya melihat pemandangan menarik dari live streaming ini. Misalnya, di depan makam Nabi banyak peziarah yang diusir Askar. Kalau di Indonesia pasti sudah dicap Wahabi tuh 😀 Sayangnya, saya belum pernah melihat siaran streaming ketika ada majelis ta’lim. Padahal konon di Masjid Nabawi kerap diselenggarakan taklim.

Selamat menikmati layanan live video streaming dari Madinah, kota Nabi.

Memandang Kabah Saat Ini Juga

Siaran live streaming ibadah haji 2011 oleh youtube.com rupanya menarik perhatian banyak orang. Sayangnya, layanan tersebut telah dihentikan seusai prosesi haji.

Sebagai pengobat rindu terhadap tanah suci dan baitullah, youtube.com menyediakan siaran Live Streaming dari Mekkah 24 jam. Melalui laman web tersebut, Anda dapat melihat Kabah saat ini juga. Ikuti saja user Mekkah Live di Youtube. Berikut ini tampilannya:

Channel Mekkah Live terhitung baru di youtube. Kanal ini baru dibuat pada 27 Juli 2011 lalu. Namun akses ke kanal video ini telah mencapai 1 juta hits, dengan pelanggan mencapai 22 ribu user. Layanan live streaming ini disediakan oleh Saudi TV.

Tips: Untuk menambah kenikmatan melihat tanah suci, Anda harus memahami apa saja yang tengah terjadi di sana. Menonton sholat jamaah lima waktu di Mekkah bisa dilakukan melalui laman web tersebut. Jadwal sholat di Mekkah dimunculkan dalam teks berlari (running teks) di layar. Anda tinggal menjadwalkan saat yang tepat untuk menonton ritual sholat berjamaah di depan Kabah. Ingat! Waktu Mekkah berbeda 4 jam lebih lambat dari WIB. Jika ingin melihat sholat Jumat atau sholat Dhuhur, Anda dapat menonton pada jam 4 sore WIB.

Siaran live streaming ini direlay juga oleh baitullah.com. Tapi saya merasakan adanya delay bila mengakses baitullah.com. Saya lebih suka membuka laman youtube-nya saja. Namun bagi Anda yang kesulitan membuka youtube (mungkin karena di-blok oleh jaringan kantor :p), link baitullah.com menjadi alternatif yang bisa memenuhi keinginan Anda melihat Kabah.

Berbeda dengan channel Haji Live, Mekkah Live berfokus pada siaran di kompleks Masjidil Haram saja. Siaran Haji Live meliput rangkaian kegiatan haji, yakni di beberapa titik lokasi seperti: Mekkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sementara Mekkah Live hanya meliput kegiatan harian di Masjidil Haram, kota Mekkah.

Bagaimana untuk melihat kota-kota suci umat Islam lainnya? Nantikan di posting saya selanjutnya: Live Streaming dari Madinah dan Al-Aqsha. Insya Allah.

Murojaah ala Fahim Quran

Di sebuah gerai, kami (saya dan istri) melihat sebuah produk edukasi berupa CD dan buku. Judulnya adalah Fahim Quran. Kami tertarik dengan produk tersebut, tetapi tidak langsung membelinya. Saya mencoba mencari ulasannya di Internet. Namun sayangnya belum banyak review ataupun testimonial tentang Fahim Quran. Kebanyakan posting tentang Fahim Quran hanyalah mengcopy-paste spesifikasi produk, bukan sharing pengalaman atau pendapat tentangnya. Bahkan ada pula posting blog yang menyertakan brosur penjualan Fahim Quran :D. Padahal bukan informasi itu yang dicari oleh para calon pembeli. Tulisan saya ini mungkin menjadi salah satu review Fahim Quran yang pertama.

Banyaknya produk edukasi dan sedikitnya panduan belanja produk edukasi sebenarnya membawa satu ide di kepala, yaitu membuat blog panduan belanja produk edukasi. Blog tersebut dapat menyediakan polling/rating, kumpulan testimoni, ulasan produk, dsb. Kita akan bahas ide tersebut pada lain kesempatan.


Buku dan CD Fahim Quran

Setelah membeli dan membaca buku panduan Fahim Quran, serta tak lupa menonton VCD Fahim Quran, saya salut dengan usaha yang ditempuh oleh penyusun metode ini. Ia tentunya memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan anak yang Islami dan Qurani. Ia telah berusaha agar menghafal Alquran dapat dijalani anak dengan gembira. Siapakah dia?

Sobari Sutarip adalah lulusan Al-Azhar Kairo yang mengembangkan metode Fahim Quran ini. Beliau menyatakan sempat ber-talaqi Alquran kepada syaikh di Al-Azhar. Talaqi adalah metode klasik dalam menghafal dan memperbaiki bacaan Alquran. Dalam metode ini, seorang guru yang sudah diakui keabsahan hafalan dan bacaannya, akan memeriksa hafalan dan bacaan anak didiknya. Jika lulus, guru akan memberikan sanad bacaan Alquran kepada murid. Sanad tersebut bersambung hingga Nabi Muhammad shalallahu alayhi wa salam. Dengan demikian, si pemegang sanad telah mempelajari bacaan Alquran dari sumbernya, yaitu Nabi Muhammad shalallahu alayhi wa salam.

Setelah lulus dari Al-Azhar, Sobari Sutarip kemudian pulang ke Indonesia dan menyusun konsep hafalan Quran bagi anak-anak. Metode inilah yang kemudian dikenal dengan metode Fahim Quran. Menurut buku dan VCDnya, Fahim Quran adalah kepanjangan dari Fast, Active, Happy and Integrated in Memorizing Al Quran. Metode ini diklaim dapat menyukseskan hafalan anak sampai dengan 18 juz ketika anak lulus SD.

Kelebihan Fahim Quran yang saya lihat adalah ia memperhatikan teori tumbuh kembang anak dan kemudian menggunakannya sebagai dasar pengembangan metode Fahim Quran. Saya setuju dengan ustadz Sobari, bahwa anak-anak memiliki dunia yang berbeda dengan dunia orang dewasa. Fahim Quran mencoba masuk ke dunia tersebut.

Meskipun demikian, Fahim Quran bukanlah metode menghafal Alquran yang lengkap/komprehensif, seperti metode menghafal yang diajarkan di Pakistan atau Saudi. Contoh konkritnya, Fahim Quran tidak mengajarkan tahsin (makhraj, mad/panjang-pendek bacaan, dll) dan qiraat. Fahim Quran berfokus pada cara atau bentuk murojaah yang dapat diterima oleh anak-anak.

Saya belum pernah mengikuti pelatihannya, namun dugaan saya isinya didominasi dengan pemberian motivasi menghafal Alquran bagi anak dan orangtua atau guru.

Kritik saya terhadap Fahim Quran adalah dalam penyusunan skenario film yang termuat dalam VCD. Dalam film tersebut, saya melihat produk berhasil dari metoda Fahim Quran hanya satu anak saja, yaitu Uwais (umur 9 tahun) yang telah hafal 9 juz Alquran. Di sepanjang video, saya tidak melihat ada anak lain yang memiliki hafalan di luar juz 30. Hal ini dapat membuat menimbulkan pertanyaan di benak penonton, apakah metode ini dapat digeneralisir ke anak lain atau hanya cocok untuk Uwais saja? Selain itu, penonton juga tidak tahu apakah metode Fahim Quran adalah satu-satunya yang diterapkan pada Uwais, atau dia mendapat pengajaran Quran metode lain (mungkin metode talaqi klasik). Sehingga, penonton juga ragu apakah kemampuan Uwais menghafal Quran adalah benar-benar hasil dari dampak langsung metode Fahim Quran.

Kritik ini datang dari pengalaman terdahulu ketika membahas fenomena Doktor Quran Cilik di Iran, yang mana hanya dia sendiri yang berhasil menghafal Quran dan maknanya di usia muda. Saudara-sadara kandungnya yang hidup dalam satu rumah dan diasuh oleh ayah-ibu yang sama, tidak ada satu pun yang mendekati kemampuan sang Doktor Cilik. Hal ini membuat sebagian orang (termasuk ayah dan ibu mereka sebagaimana dituliskan dalam buku tsb), menyimpulkan bahwa yang luar biasa adalah anaknya, bukan semata-mata metodenya. Saya harap Fahim Quran tidak demikian.

Fahim Quran dibangun atas teori-teori pendidikan terkini seperti Multiple Intelligence, dll. Namun sayangnya, Fahim Quran tidak memberikan konsep atau gagasan mengenai cara mengembangkan kecerdasan Qurani. Alih-alih demikian, Fahim Quran hanya memberikan model-model kegiatan murojaah Quran, seperti Zip-Zap, dll. Ada sekitar 20 bentuk kegiatan murojaah yang dicontohkan dalam buku ini. Dengan demikian, Fahim Quran menawarkan metode murojaah Alquran yang dibangun atas 8 kecerdasan Multiple Intelligence, dan tidak menawarkan satu konsep kecerdasan baru.

Krtik kedua adalah dalam VCD Fahim Quran, pemirsa dijanjikan untuk bisa mendapatkan panduan kegiatan dari situs www.fahimquran.com. Sayangnya saat saya membuka alamat web tersebut, yang ada hanyalah info pelatihan FQ saja. Saya belum menemukan update kegiatan seperti yang dijanjikan dalam VCD.

Berdasarkan informasi yang hanya saya terima secara terbatas, maka kesan saya terhadap Fahim Quran terangkum sebagai berikut. Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap metode ini adalah cukup baik. Fahim Quran mungkin dapat menjadi solusi bagi anak-anak bertipe ceria dan tidak dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang cenderung serius. Namun, metode ini juga tidak komprehensif, ia hanya menitikberatkan pada murojaah yang dilakukan dengan ceria saja. Metode ini tidak mencakup materi dasar menghafal Alquran seperti tahsin dan qiraat.

Untuk dapat menjawab semua kritikan, kita menantikan cerita sukses dari Fahim Quran. Mudah-mudahan para pengelola Fahim Quran diberi kemudahan dari Allah untuk membuat anak-anak didik menghafal Alquran, dan tidak terjebak pada kemasan menjual pelatihan saja.

سنة : Dibaca Sanah, Sinah atau Sunnah?

Lika Liku Pembentukan Kata (Sharaf)

Belajar bahasa Arab memang menyenangkan. Selalu ada saja hal-hal unik yang bisa dipelajari. Ada kaidah-kaidah yang terus konsisten dipergunakan, dan ada pula pengecualian-pengecualian yang datang dan pergi sesuka hati 😀 (sesuka hati dan lidah orang Arab, maksudnya).

Materi tulisan ini saya dapatkan dari sesi pelajaran bahasa Arab yang diasuh Bapak M. Zaini (Bintal Islam, Setjen Kemenkeu). Mudah-mudahan kami dan beliau diberi kemudahan untuk selalu menuntut ilmu, dan diberkahi pula ilmu itu.

Belajar Arab Gundul

Dalam Alquran dan Hadits, terdapat 3 kata yang tulisannya sama namun berbeda cara membaca dan berbeda pula artinya. Untungnya, saat ini mushaf Alquran dan beberapa kitab hadits sudah tidak gundul lagi. Tulisan Arab gundul memang lazim digunakan agar penulis buku tidak direpotkan dengan menuliskan harakat. Bahkan pada fase awal penulisan Quran dan Hadits, tanda titik pada beberapa huruf pun tidak ada. Pada saat itu, hanya orang Arab yang tahu apakah س dalam suatu kata adalah sin  atau syin. Demikian pula dengan huruf ba, ta, tsa dan nun. Semua ditulis tanpa titik.

Dalam kondisi demikian, ada beberapa kata yang penulisannya sama, namun cara membaca berbeda. Demikian pula artinya akan menjadi berbeda sesuai cara membacanya. Cara membaca yang saya maksud adalah berkaitan dengan kaidah sharaf atau perubahan bentuk kata bahasa Arab.

Kata yang dibahas pada kesempatan kali ini adalah:

سنة

Apakah kata tersebut akan dibaca Sanah, Sinah atau Sunnah? Dalam bahasa Arab, ketiga kata tersebut adalah valid. Ketiganya memiliki arti yang berbeda pula. Repot juga kalau kita salah membacanya dan lebih repot lagi kalau salah mengartikan.

Jika Anda meng-copas kata tersebut ke google translate, hanya satu terjemahan saja yang bisa ditebak. Sedangkan dua arti lainnya tersembunyi. Repotnya jika kita masukkan satu kalimat penuh yang mengandung kata سنة ke Google Translate, ternyata ia tetap diartikan dalam satu arti saja.  Artinya, Google Translate masih kalah fasih dibanding pelajar bahasa Arab 😛

Baiklah, mari kita ikuti penjelasan dari ketiga cara membaca (sharaf) dan arti dari سنة sebagai berikut.

1. سَنَةٌ

Kata yang pertama adalah سَنَةٌ (sanah), dengan sin dibaca fathah, memiliki arti tahun atau paceklik. Contoh penggunaan kata ini dapat ditemui di Quran surat Al-Hajj ayat 47 dan Al-Ankabut ayat 14. Mari kita baca ayat tersebut:

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Artinya: “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan melanggar janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al-Hajj, ayat 47).

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ *

Arti: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya,maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Ankabut, ayat 14).

Kata سَنَةٍ ini berasal dari fi’il  سَنَوَ, dengan mashdar سنوات.

Kata sanah yang berarti paceklik dapat ditemui pada hadits mengenai larangan makan dua-dua (disambung). Hadits tersebut artinya, dari Jabalah bin Sahim, bahwa dia berkata, “Kami pernah mengalami masa paceklik makanan bersama Ibnu Az-Zubair, lalu kami mendapatkan kurma, ketika kami sedang makan, Abdullah bin Umar melewati kami, lalu dia berkata ‘Janganlah kalian menyatukan (mengambil dua biji kurma sekali ambil dan memakannya sekaligus) karena Nabi SAW melarang hal seperti itu, kecuali jika seseorang itu meminta ijin kepada saudaranya’”

Kata sanah juga memiliki hubungan dengan kata sinnun (سِنٌّ) yang berarti gigi. Hal ini karena orang Arab biasa memeriksa umur melalui gigi (misalnya ketika memeriksa usia kambing).

2. سِنَةٌ

Kata yang kedua adalah سِنَةٌ (sinah), dengan sin dibaca kasrah. Artinya adalah mengantuk. Contoh yang populer dapat ditemui di ayat kursi.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Arti: “(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagu terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Al-Baqarah, ayat 255).

Kata ini berasal dari fi’il وَسَنَ , dengan bentuk mashdar سِنَةّ. Sharafnya mengikuti wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ hanya saja karena ia termasuk fiil mu’tal mitsaal (diawali dengan huruf ilat و ) maka bentuk mashdarnya dengan membuang huruf ilat dan menambah ta’ marbuthoh di belakang fiil. Contoh kata lain yang mengikuti wazan ini adalah وَصَلَ – يَصِلً – صِلَةً (sampai, menyambung).

3. سُنَّةُ

Kata yang ketiga adalah سُنَّةُ (sunnah), dengan sin dibaca dhommah dan nun di-tasydid. Artinya adalah kebiasaan. Dapat ditemui di banyak ayat dan hadits. Contohnya pada Al Hijr ayat 17 berikut ini.

لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

Arti: “Mereka tidak beriman kepadanya (Alquran) dan sesungguhnya telah berlalu sunatullah terhadap orang-orang terdahulu.” (Al Hijr ayat 14).

Contoh lain adalah hadits berikut ini.

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

Artinya: “Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

Kata ini berasal dari fi’il سَنَّ , dengan bentuk mashdar سُنَّةً .

Penutup

Hmm.. mabok juga nih mengikuti penjelasan pak ustadz Zaini tentang sharaf. Belum lagi kosa kata Arab yang saya pahami masih sangat sedikit. Tulisan ini memang saya buat dalam rangka memahami apa yang disampaikan pak Zaini pada saya. Mudah-mudahan bisa lebih baik lagi.

Mohon maaf hanya bisa sharing sedikit mengenai bahasa Arab, karena memang yang saya miliki baru sedikit. Kalo kata pak Ustadz Abdul Hakim: اقل من قليل (lebih sedikit dari yang sedikit). Harapannya supaya Anda yang ilmunya lebih banyak bisa tersulut semangatnya untuk berbagi. Dan bagi Anda yang baru mulai belajar bisa bertambah wawasannya.

Ilustrasi nyomot dari Tribunnews Makassar.

Menikmati Siaran Live Ibadah Haji 2011

Update: Siaran haji live 2011 sudah dihentikan. Mudah-mudahan siaran live Ramadhan dan Haji tahun depan bisa kita nikmati. Namun, Anda tetap masih bisa menikmati siaran Live Streaming dari Makkah.

Content Youtube yang satu ini patut diacungi jempol. Di antara tumpukan link-link video yang amat beragam, terdapat satu channel yang menyiarkan siaran live pelaksanaan ibadah haji tahun 2011 ini. Kita dapat mengikuti pelaksanaan ibadah haji secara live melalui sebuah channel Youtube. Pada saat saya membuat postingan ini, channel tersebut sedang menayangkan khutbah Jumat.

Channel tersebut adalah milik Kementerian Budaya dan Informasi Kerajaan Saudi. Ternyata (maklum, saya baru tahu), sudah sejak awal tahun 2011, Youtube bekerja sama dengan Kementerian tersebut untuk menayangkan ritual-ritual ibadah melalui video streaming Youtube. Sebelum penayangan haji ini, ibadah Ramadhan 1432 H lalu juga sudah ditayangkan.

Kita tidak perlu lagi berlangganan siaran TV berbayar atau menanti siaran TV lokal menayangkan even haji ini. Bagus ditonton bagi Anda yang ingin menambah wawasan, atau sedang menyiapkan perjalanan haji/umroh pada kesempatan berikutnya, atau untuk meningkatkan keimanan dengan penampakan visual.

Google, sebagai pemilik Youtube, menampilkan rilis berita seputar channel ini melalui dua blog resmi: Googleblog dan Blog Youtube Global.

Silahkan menikmati. Jangan lupa, puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah dilaksanakan esok hari di Indonesia, Sabtu 5 November 2011.

Investasi Akhirat di Lereng Merapi

Menanamkan Investasi Akhirat di Muslim Center Merapi

Ayo, siapa yang mau membangun rumah di surga? Mari turut berkontribusi dalam pembangunan Muslim Center Merapi. Hanya dengan menyisihkan 50.000 rupiah, kita sudah turut membebaskan 1 m2 tanah untuk pembangunan Muslim Center Merapi.

Dibalik musibah erupsi Merapi, ada hikmah besar yakni lebih diterimanya dakwah Islam di kalangan korban erupsi. Masyarakat muslim lereng Merapi saat ini sudah semakin menyadari pentingnya pemahaman agama yang baik. Dengan demikian, potensi pembangunan pusat dakwah Islam akan memberikan dampak yang luas dan berjangka panjang insya Allah.

Dalam ilmu bisnis yang saya pelajari, investasi yang paling baik adalah investasi yang memiliki hasil yang besar dan mampu bertahan lama. Nah, Allah telah menjanjikan perdagangan yang lebih baik dari yang bisa kita dapatkan di dunia. Saya merasa ‘berinvestasi’ pada program Muslim Center Merapi ini juga dapat memberikan hasil terus-menerus yang awet. Setiap kali ada amal sholih yang dilakukan karena berdirinya MCM, maka para kontributor pembangunan juga akan mendapatkan bagian pahala yang melimpah.

Bagi Anda yang sudah memiliki kesempatan dan kemauan, investasi akhirat ini dapat disalurkan melalui beberapa alternatif rekening berikut:

  1. Rekening BNI Syariah Yogyakarta. No. Rek. 0092167858 a.n. Syarif Mustaqim
  2. Rekening Bank Syari’ah Mandiri (Cab.Yogyakarta). No. Rek. 0307089062 a.n. Syarif Mustaqim
  3. Rekening Bank Mandiri (K.C Yogyakarta UGM). No. Rek. 1370007620327 a.n. Syarif Mustaqim
  4. Rekening Bank Muamalat (Cab.Yogyakarta). No. Rek. 0129933348 a.n. Syarif Mustaqim
  5. Rekening BCA (K.C.P Kaliurang Yogyakarta). No. Rek. 8610169750 a.n. Syarif Mustaqim

Setelah mentransfer, sebaiknya Anda mengirimkan sms konfirmasi ke nomor 0852 2806 6686 (Syarif Mustaqim), dengan format sebagai berikut:

Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Islamic Center Merapi.

Bisa juga mengontak panitia melalui e-mail: ypiapeduli@yahoo.com atau ypia.jogja@gmail.com.

Bagaimana kita dapat mengikuti perkembangan program ini? Jangan khawair, perkembangan pembangunan Muslim Center Merapi dapat dipantau melalui website: http://www.dakwahmerapi.com/ Atau Anda juga dapat mengunjunginya langsung jika sedang berkunjung ke Jogja.

Sisi Utara dan Sisi Selatan Lerang Merapi

Muslim Center Merapi akan dibangun di daerah Kepuharjo dan Wukirsari yang nota bene berada di sisi selatan Gunung Merapi yang masuk ke wilayah DI Yogyakarta. Anda juga dapat berkontribusi pada program dakwah serupa di sisi utara gunung yang masuk dalam wilayah Jawa Tengah, yaitu program P3BM.

Ayo berlomba-lomba dalam kebaikan! Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Amin.