Belajar dari Korea

Pada suatu kesempatan (yang sangat berharga buat saya), saya bertemu dengan CEO sebuah perusahaan Korea. Perusahaan tsb adalah vendor teknologi untuk perusahaan-perusahaan besar Korea di bidang elektronika dan telekomunikasi. Perusahaan yang nggak terkenal namanya ini, bertugas membuat propotype produk yang akan diluncurkan di pasar.

Membuat prototype produk sangat menyedot sumber daya, karenanya hanya orang-orang terbaik di bidangnya yang dipercaya untuk membuat prototype. Lain halnya dengan produksi yang lebih mengedepankan efisiensi, dalam pembuatan purwarupa aspek yang diutamakan adalah inovasi agar bisa memberikan solusi. Apalagi kalau produknya padat teknologi. Tentu sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan orang-orang di balik layar pembuatan purwarupa.

Seorang kawan memesan custom product ke perusahaan Korea ini, dan saya kecipratan kesempatan untuk hadir pada  demo purwarupa.  Pada pertemuan tsb, pak Yeoh (sang CEO) dan staffnya mempresentasikan fitur produk. Tugas kami yang hadir adalah mengkonfirmasi apakah fitur-fitur yang dipesan sudah terakomodasi dengan baik pada prototype tersebut.

Di tengah-tengah presentasi, pak Yeoh mengeluarkan sebuah koper. Ketika dibuka, isinya adalah modul-modul chip. Bentuknya seperti prosesor komputer. Ada yang besar dan ada yang kecil. Beliau menjelaskan bahwa modul-modul ini adalah berbagai macam chip untuk modul telekomunikasi, ada modul GSM 2G, GSM 3G, GSM 3,5G, CDMA, CDMA Rev. A, wireless A/B/G, dll. Saya tahu, bapak yang satu ini mau pamer (dalam arti marketing), “Palugada loh!”

Nah… di titik ini lah saya tercenung…

Pertama, kemajuan teknologi Korea tidak datang dalam sekejap mata. Titik awalnya adalah penguasaan dan adaptasi terhadap teknologi baru. Bagaimana menguasai dan mengejar perkembangan teknologi? Korea bermain di satu fase hulu nan strategis, yaitu riset. Riset-riset yang dilakukan oleh orang-orang Korea mampu menghasilkan paten yang aplikatif di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dari paten-paten inilah dibangun produk-produk strategis, seperti chip, layar sentuh dan modul wireless. Dari produk-produk strategis ini, dibentuk lagi produk-produk yang sukses di kalangan konsumen akhir. Sebuah rantai nilai yang luar biasa, dan Korea menguasainya dari hulu ke hilir!

IMG_20130502_190221

Lihat saja produk Korea yang membuat Amerika ketar-ketir, Samsung Galaxy. Perhatikan bahwa komponen-komponennya didominasi oleh produk asli Korea, mulai dari prosesor sampai layar sentuh. Bahkan Apple pun menggunakan layar sentuh buatan Samsung. Saya belum memastikan alasan Apple membeli dari Samsung, bisa jadi karena harga yang bersaing atau karena Samsung memegang paten teknologi layar sentuh.

Saya teringat pesan pak BJ Habibie dalam Keynote Speech Lustrum Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM 2011. Beliau memberikan sebuah analogi menarik. Ada dua mobil yang bertabrakan. Mobil yang pertama keluaran terbaru dari merk ternama dan berharga selangit. Mobil kedua diproduksi oleh pabrik tidak ternama dan harganya murah. Apa yang terjadi setelah mereka sama-sama ringsek? Ternyata harga keduanya menjadi sama. Sama-sama dihargai sebagai besi kiloan. Lalu, apa yang membuat harganya jauh berbeda sebelum ringsek? Pak Habibie menjawab sendiri pertanyaannya: Teknologi.

Kedua, Korea tidak berhenti sampai memproduksi parts/komponen saja, tapi melanjutkannya sampai ke produk akhir. Dalam khazanah ekonomi industri, penguasaan rantai nilai seperti ini jarang ditemui. Umumnya tiap pihak hanya bisa menguasai salah satu rantai dalam rantai nilai. Qualcomm, sebuah perusahaan berbasis Amerika, menguasai paten untuk modul CDMA, tetapi kita tidak pernah mendengar adanya produk CDMA buatan Amerika yang laris di pasar.

Tentunya sinergitas rantai nilai ini sulit dilakukan oleh satu kelompok bisnis saja. Peran pemerintah yang memiliki kewenangan besar tentu sangat berperan dalam menata sumber daya yang sedemikian besar. Nah, untuk menuju titik ini, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pemerintah membutuhkan orang-orang yang berkemampuan tinggi dan berintegritas, serta punya loyalitas yang tinggi kepada kepentingan bangsa dan negara (malaikat banget syaratnya). SDM seperti itu ada di masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana cara pemerintah menarik orang-orang nomor satu untuk masuk ke pemerintahan? Silahkan berkaca pada Singapore yang sudah menjawab pertanyaan ini tiga dekade yang lalu.

Bicara soal kepentingan bangsa, konon pada tahun 70an, pemerintah sudah memikirkan solusi mengatasi kemacetan. Pemerintah, diwakili oleh Kementerian X, mengundang konsultan dari Jepang (kemungkinan dengan skema hibah atau pinjaman dari Jepang) untuk membahas masalah ini. Hasil pembahasan memberikan dua rekomendasi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta: Opsi A, membangun Mass Rapid Transportation, atau Opsi B membangun jalan tol.

Konon.. sekali lagi konon loh.. pilihan jatuh ke Opsi B karena dua hal: (1) konsultan dari Jepang berkepentingan untuk meningkatkan produksi mobil Jepang, dan (2) jika pilih Opsi A maka yang akan menjalankan proyeknya adalah Kementerian Y yang tidak terlibat dalam pembahasan ini. Jika hal ini benar terjadi, maka ini menjadi contoh pentingnya pemerintah memerlukan SDM yang memiliki loyalitas kepada kepentingan publik.

(PERHATIAN: Dua paragraf di atas tidak boleh dikutip, karena sumbernya belum valid.)

* * *

Kita tidak boleh serta merta tercengang kagum pada kesuksesan Korea di awal abad ini. Nasehat Pak Harto agar Ojo Gumunan, Ojo Kagetan,  Ojo Dumeh (jangan mudah terheran-heran, jangan mudah terkaget-kaget, jangan mentang-mentang) sepertinya cocok untuk kondisi ini. Kita masih bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang optimal dalam memanfaatkan potensi dirinya. Tentu jalan mencapai kemakmuran tersebut tidak sama dengan jalan yang digunakan Korea. Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia memiliki potensi yang khas dibanding Korea yang miskin Sumber Daya Alam.

India sudah melesat dengan investasi pendidikan yang menghasilkan SDM yang berkualitas. China menjadi raksasa industri karena biaya produksi yang murah. Swiss, negara kecil tanpa garis pantai, terkenal karena presisi produk-produknya. Jerman memiliki bursa kopi terbesar di dunia, padahal ia tidak memiliki kebun kopi secuilpun.

Indonesia insya Allah bisa menjadi negara yang mampu mengoptimalkan potensinya. Tinggal pilih, mau cepat atau lambat untuk mencapai titik itu.

Rekening Muda PNS Gendut

Gerah juga mendengar berita tentang rekening gendut PNS muda. Gerah, karena rekening saya tak segendut pemiliknya (ahem, pemiliknya memang tak gendut, cuma buncit). Gerah, karena keberadaan PNS muda berekening gendut telah digeneralisasi media untuk menyudutkan seluruh PNS.

Praktik penggendutan rekening pribadi oleh PNS bagaikan hantu di siang bolong. Saya tidak bisa menampik hal itu tidak ada, sekaligus saya juga tak bisa membuktikan hal itu ada. Kabar mengenai pegawai di tempat anu bisa berpenghasilan sekian, sering sekali mampir di telinga saya. Tapi saya juga belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri sosok yang demikian. Ah itu kan tugas PPATK. PNS dengan posisi dan kemampuan seperti saya mana mampu mengungkap aliran dana (kecuali praktikin hacking skill, #ahem..).

Rekening Muda PNS Gendut

Dalam membahas topik ini, alur logika yang dibangun media sangat aneh. Mungkin mereka ingin membangun opini publik mengenai PNS. Awalnya, mereka membesar-besarkan masalah rekening beberapa PNS. Kemudian kejadian itu digeneralisasi pada seluruh populasi PNS. Logika ini tentu berbeda dengan pendekatan statistika, yang memperlakukan data outlier sebagai sebaran di luar karakteristik populasi (you know what I mean tho guys?). Menurut pengamatan saya, karakteristik rekening PNS itu umumnya justru kurus-kurus. Berapa banyak kawan-kawan PNS yang memiliki gaji 15 koma atau 10 koma. Maksudnya, pas tanggal sepuluh kondisi sudah ‘koma’. Dikit lagi ‘koit’. Kenapa media tidak mengambil sampel rekening kurus (yang jumlahnya lebih banyak dari rekening gendut) sebagai wajah dari rekening PNS?

Ada benarnya rekening para PNS itu gendut-gendut, jika saldo rekening awal bulan yang menjadi patokan. Pada tanggal-tanggal muda tersebut, gaji dan tunjangan baru dibayarkan dan saldo rekening menjadi gendut karenanya. Tetapi jika dilihat di akhir bulan, rekening akan kurus kering bahkan sampai mepet di batas bawah limit saldo rekening. Dampaknya, angka akumulasi di rekening, awet muda selalu. Tidak bertumbuh besar dan dewasa. Kalaupun PNS bisa jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri, itu karena mereka menjadi turis dinas 😀

Ada masalah lain dalam pembayaran gaji PNS, yaitu keterlambatan kliring dari perbankan. Saya tidak paham dengan sistem perbankan. Namun, beberapa kawan mengeluhkan gaji yang terlambat datang ke rekening. Gaji dikirim dari kantor bayar pada awal bulan, namun sampai di rekening tujuan bisa lebih dari waktu yang seharusnya. Modus pengendapan seperti ini jelas menguntungkan pihak tertentu.

Fenomena keterlambatan transfer gaji dan tunjangan sangat terasa di awal tahun. Sudah menjadi kebiasaan (yang tidak baik) bahwa transfer gaji dan tunjangan di awal tahun selalu terlambat. Mungkin karena persiapan kantor bayar gaji terganggu di akhir tahun oleh pergantian tahun.

Seorang kawan menceritakan bahwa di Papua, gaji dan tunjangan awal tahun bisa terlambat sampai 14 hari. Untungnya, saya tidak mengalami hal seperti itu. Catatan internet banking saya menunjukkan transfer tunjangan pada awal 2010 masuk rekening pada tanggal 7 Januari. Selanjutnya pada tahun 2011, transfer diterima di rekening pada 5 Januari. Tahun 2012 ini, meningkat lagi menjadi 4 Januari. Bagi PNS gendut seperti saya, jadwal transfer seperti ini jelas sangat membantu. Mana tahan saya puasa 14 hari macam kawan di Papua itu?

Begitulah karakteristik rekening muda PNS gendut seperti saya ini. Rekening kembang-kempis, kembang di awal bulan kempis di akhir bulan. Sudah begitu masih harus menghadapi risiko terlambat transfer. Haduh… Bagi kami-kami PNS papan bawah yang jungkir balik ini, rasa-rasanya mustahil menggendutkan rekening eh, maksud saya, perut.

Mata Air Pahala di Lereng Merapi

Syahdan, seorang kawan pulang kampung ke lereng Merapi. Maksud kepulangannya kali ini adalah untuk mempersiapkan dokumen-dokumen kependudukan yang ia butuhkan sebagai pelengkap syarat anak-anaknya masuk sekolah. Tak dinyana, saat ia berada di kampung kelahirannya, Gunung Merapi meletus. Semasa dan setelah tanggap bencana, saudara kita ini terpanggil untuk memperbaiki kampung halamannya. Singkat kata, saat ini warga di enam dusun bergantung padanya untuk pembinaan keagamaan. Ia pun memutuskan untuk tinggal di kampungnya, mengkhidmatkan dirinya untuk membina warga muslim. Ia telah menemukan mata air dan ladang pahala di lereng Merapi.

Sebuah mata air pahala ditemukan di lereng Merapi. Mata air itu menyemburkan berkubik-kubik pahala bagi mereka yang meneguknya. Apakah Anda tidak ingin turut merasakannya?

Bencana erupsi Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY membawa petaka sekaligus berkah. Ratusan desa terpaksa mengungsi. Puluhan ribu jiwa kehilangan tempat tinggal, sawah dan ladang, mata pencaharian dan harta benda lainnya. Tidak ada panen durian di Purworejo tahun ini, karena terkena abu Merapi. Salak pondoh baru dapat dipanen lagi tiga tahun ke depan.

Namun di balik kesusahan itu ada hikmah dan berkah yang diberikan Allah. Warga lereng Merapi cenderung menjadi lebih perhatian terhadap agama. Mereka membuka diri bagi bimbingan Islam yang sunnah. Seorang ikhwan saat ini mendapat 6 dusun binaan kerohanian. Keenam dusun tersebut berada di wilayah Ketep, yang terkenal karena memiliki gardu pandang Merapi. Wilayah ini termasuk yang terdampak cukup berat dari erupsi karena jaraknya kurang dari 10 km dari puncak Merapi. Keenam dusun binaan tersebut adalah Dusun Puluhan, Dusun Gintung, Dusun Gondangsari, Dusun Dadapan dan Dusun Ketep di wilayah Desa Ketep. Sedangkan Dusun Klampahan termasuk dalam Desa Wonolelo. Semuanya berada dalam wilayah Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Beberapa bantuan sudah masuk ke wilayah ini. Sebuah yayasan Islam sudah menyumbangkan pembangunan saluran air. Buku-buku Islam bantuan dari Atase Agama Kedutaan Saudi Arabia sudah dibagikan ke masjid-masjid.

Beberapa kegiatan dakwah juga sudah dilaksanakan. Salah satunya Tabligh Akbar tgl 10 Mei 2011 yang menghadirkan ustadz Jauhar (Pengajar Ma’had Imam Bukhari, Karanganyar). Ada pula kajian oleh ustadz Muhtarom Abu Abdul Azis (Bintaro) tanggal 26-27 Juni 2011, yang dilaksanakan sebelum beliau mengikuti dauroh masyaikh di Malang.

Segarnya Mata Air Pahala

Apakah Anda tidak ingin merasakan mata air pahala ini? Mari rasakan segarnya mata air pahala dengan menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh melalui P3BM atau Panitia Pendamping Pasca Bencana Merapi yang memiliki sekretariat di Dusun Puluhan RT 14/06, Desa Ketep, Kec. Sawangan, Kab. Magelang 56481. Untuk kontak P3BM dapat melalui nomor telepon 0293 – 5804386 atau 0857 4020 3369 (Syarif Abu Miqdad).

P3BM adalah panitia yang dibentuk oleh warga muslim di wilayah Ketep. P3BM menyelenggarakan beberapa program pokok sebagai berikut :

  1. Pembinaan Agama Islam
  2. Penyaluran Bantuan Pasca Bencana yang bersifat konsumtif
  3. Pengembangan Ekonomi Masyarakat
  4. Pengiriman relawan pasca bencana.
  5. Pembangunan/rehab sarana Ibadah seperti masjid,tempat wudhu dan pengadaan air bersih.

Berikut ini beberapa dokumentasi kegiatan dan proposal kegiatan P3BM yang ada di saya:

  1. Dokumentasi Tabligh Akbar 10 Mei 2011.
  2. Dokumentasi TPA.
  3. Dokumentasi Kajian.
  4. Proposal Usaha Ternak Kambing Etawa.
  5. Proposal Pengajuan Air Bersih Klampah.
  6. Dokumentasi Renovasi Masjid.
  7. Proposal Program-program Kegiatan P3BM.
  8. Proposal Usaha Ternak Sapi.

Bantuan bagi Korban Merapi

Teman-teman dan alumni Maksi,

HIMMA MAKSI FEB UGM menyalurkan bantuan bagi pengungsi Merapi, khususnya pengungsi di kampus UGM. Bantuan berupa dana bisa disalurkan melalui: Mandiri, no rek 119-00-0486193-4 a.n. Beta Andri Anggiano Uliansyah, setelah transfer harap konfirmasi via sms ke 085292418613 atau 08567074554.

Formulir Serah Terima Bantuan

Bagi teman-teman di luar kota, kiriman bantuan berupa barang bisa menggunakan layanan:
1. KA GRATIS untuk angkutan barang bantuan bencana dr Jkt ke YK. Droppoint di Sta. Senen. Jadwal kereta dr St.Senen: KA Senja Utama:19.30, KA Senja Utama Solo: 20.00, KA Fajar Utama Solo: 06.45.
2. CSMCargo, pengiriman bantuan Jkt-Jogja, GRATIS! hub CSMCargo Jl.Manggarai utara 6 no 9. CP 021-8313132. Sementara ini bantuan bisa via CSM Jakarta dan Surabaya.

Untuk update kebutuhan pengungsi, bisa memantau via http://twitter.com/ger_ugm

Bantuan disalurkan HIMMA bekerja sama dengan HMP (Himpunan Mahasiswa Pascasarjana) UGM. Terima kasih atas bantuannya.

Ronda di Kota dan di Desa

Hampir setahun tinggal di Jogja, ada banyak pengalaman baru yang saya alami. Kalo dipikir-pikir lucu juga. Saya menghabiskan masa kecil di Jogja, tetapi justru pengalaman sosial sebagai keluarga saya awali di Jakarta.

Adaptasi sosial kami sekeluarga di Jogja tidaklah mudah. Selama 3 bulan pertama, tidak ada dari kami yang kerasan. Kendala bahasa, budaya dan lingkungan sosial menjadi hambatan terbesar bagi kami untuk menyesuaikan diri. Salah satu yang paling bikin shock adalah kegilaan lalu lintas di Jogja yang tanpa sopan santun. Ada penyesuaian di sana-sini, termasuk untuk urusan pertemuan warga. Rapat RT kini wajib saya hadiri. Sederet kegiatan kemasyarakatan juga turut menghiasi agenda saya di Jogja.

Salah satu pengalaman baru yang saya alami adalah ronda. Seumur-umur saya belum pernah ikut ronda. Dulu ketika remaja, saya pernah harus menggantikan ayah saya. Itu pun langsung disuruh pulang oleh orang-orang sesampainya di pos ronda. Sekarang, mau tak mau saya sebagai kepala keluargalah yang harus ikut ronda. Awalnya memang cukup canggung menghabiskan 2-3 jam di malam hari bersama orang yang belum saya kenal. Namun lama kelamaan saya pun terbiasa. Bahkan saya merasa ronda memiliki berbagai fungsi sosial yang cukup bermanfaat.

Ronda ternyata tidak hanya sebagai sarana pengamanan saja, tetapi juga menjadi sarana interaksi dengan orang-orang di sekitar kita. Apalagi bagi pendatang seperti saya. Sesiangan sudah tidak berada di rumah, malam pun dihabiskan untuk istirahat. Mungkin ronda menjadi satu-satunya sarana sosial saya dengan tetangga. Tentunya selain say hi dengan tetangga kanan-kiri, atau acara-acara insidental seperti pernikahan dan kematian.

Selama berada di Jogja, saya sempat merasakan dua lingkungan. Lingkungan yang pertama berada di pinggiran kota Jogja tak jauh dari kampus UGM. Penduduknya sudah beragam dan banyak pula pendatang. Seorang guru besar FIB UGM juga tinggal di situ. Profesi para penduduknya sudah beragam, mulai dari pedagang, pegawai, wirausaha, dan penyedia jasa. Skala pekerjaannya pun bervariasi, ada pedagang kelas berat, pengecer tingkat retail, pedagang bubur keliling, mantan kepala kantor kejaksaan, sampai teknisi listrik di RSUD dr. Sardjito. Saya sempat menghabiskan satu tahun di lingkungan ini.

Lingkungan kedua yang saya rasakan adalah sebuah desa di luar kota Jogja. Desa tersebut masih benar-benar tipikal sosial sebuah desa. Lokasi rumah-rumah berkumpul di tengah-tengah sawah dan ladang. Pintu masuknya ditandai dengan gapura. Profesi dominan penduduknya adalah petani. Sedikit saja yang berprofesi pegawai. Luas sawah menjadi salah satu indikator status sosial. Sapi menjadi aset paling bonafid. Strata sosialnya terbentuk jelas: ada pak dukuh, beberapa ketua RT, imam masjid, serta kumpulan pemuda desa yang siap membantu acara apa saja.

Ronda di kota dan di desa, sama-sama menarik. Agendanya pun sama, kumpul di pos ronda, ngobrol sambil menikmakti hidangan yang disuguhkan secara bergilir salah seorang anggota tim ronda, serta berkeliling mengambil jimpitan di rumah-rumah. Bahkan saking tingginya chaivinisme ikatan ronda, diJogja sering ditemui kaos oblong dengan sablonan identitas ronda. Misalnya, “Malem Rebo: Karambol Ok, Gaple yo Wani!” (Malam Rabu: Berani ditantang main karambol ataupun kartu domino).

Jika ada yang berbeda, maka itu adalah jadwal ronda. Di kota, ronda di mulai jam sepuluh sampai jam dua belas malam, sementara di desa pada jam dua belas malam justru ronda baru dimulai dan nanti akan selesai jam tiga pagi. Ronda di desa juga dituntut lebih ketat karena sekaligus menjaga kandang sapi bersama yang memang ditempatkan di dekat pos ronda. Di kota, patroli malam Polisi turut membantu mengurangi risiko kejahatan. Sementara desa tidak memiliki rasio antara jumlah polisi dan luas wilayah yang mencukupi.

Sebagai sarana berinteraksi, ronda juga menjadi sumber informasi bagi saya. Saya menjadi lebih mengenal lingkungan dari informasi yang didapat selama menjalankan ronda. Kuncinya, kita harus pintar-pintar membuat agar setiap orang mengeluarkan informasi terhangat yang ia miliki. Bagi orang tua, hal ini cukup mudah. Kita tinggal puji-puji beliau dan minta diceritakan sesuatu di masa lalu. Kemudian di tengah cerita biasanya sang narasumber keceplosan atau kita sendiri bisa mengambil simpulan dari cerita masa lalunya dengan kondisi saat ini. Biasanya bentuknya informasi spasial, seperti tanah itu dulu dimiliki pak anu, lalu pak anu kena masalah dan dijual ke pak itu. Biasanya ada juga anggota tim ronda yang memang hobi menyebarkan info, mungkin mau menyaingi infotainment. Yang paling seru, kalau trouble maker atau oposan di lingkungan itu ada di tim ronda kita. Semua kebijakan RT dianalisis dan dikritisi habis-habisan. Kalau sudah bosan mendengar kata-kata pedasnya, kita tinggal tembak, kamu juga belum tentu bisa memecahkan masalah seperti itu. Sang oposan biasanya terpancing emosinya, apalagi kalau diingatkan pada kegagalannya ketika menjadi panitia suatu acara.

Dinamika sosial masyarakat sudah memberikan gambaran yang cukup beragam bagi diri saya. Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari sana. Beberapa pengalaman di antaranya bahkan membuka kesempatan untuk menangguk untung atau menyebarkan kebaikan. Info bisnis dapat ditindaklanjuti dengan langkah-langkah profitisasi, sementara info sosial disambar menjadi ladang pahala. Semuanya agar kita menjadi manusia yang lebih baik di masa datang. Amin.

Operasi Bibir Sumbing Gratis (Jakarta dan Bekasi)

Alhamdulillahi rabbil alamin,
ada seorang dokter yang berkenan memberikan operasi gratis bagi para penderita bibir sumbing.

Berikut ini informasi lengkapnya:

Assalaamu’alaikum

Teman2, bilamana ada mengetahui anak2 malang dgn cacat sumbing bibir namun tidak bs operasi krn kendala biaya (tetangga, anak tukang cuci, tukang sampah, satpam, OB dll), saya informasikan bhw saya menyelenggarakan OPERASI GRATIS khusus SUMBING BIBIR di Jakarta dan Bekasi.

Jakarta:
RS YPR Hospital
Jl.Sawo 56 Menteng – Jakpus
Telp. 3906914/31926152 (Hub. ibu MONA)
Jam konsultasi saya: Selasa/Kamis/ Sabtu 10.00-12.00

Bekasi:
RS Juwita
Jl.M Hasibuan 78 – Bekasi
Telp. 8829590-1 (Hub. ibu KHUSNUL)
Jam konsultasi saya: Senin/Rabu 10.00-12.00

Mohon disebarluaskan informasi ini bilamana memungkinkan. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalaam,
Ahmad Fawzy, SpBP
dokter spesialis bedah plastik

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/52762

Saya sudah mengontak nomor RS YPR Hospital, diterima oleh ibu Nela. Dan memang betul RS YPR menyelenggarakan operasi bibir sumbing dan hernia anak gratis. Bagi yang ingin menggunakan layanan ini, silahkan hubungi terlebih dahulu nomor tersebut di atas.

Alamat web RS YPR Hospital adalah http://yprhospital.com/index.html

Mudah-mudahan bermanfaat.

Update info (13 Maret 2010):

Untuk operasi bibir sumbing dan hernia anak di RS YPR Hospital, berikut ini persyaratannya:

PERSYARATAN OPERASI HERNIA ANAK

  1. Foto copy KTP

  2. Foto copy kartu KK

  3. Foto pasien sluruh badan ukuran 3 R

  4. SKTM dari lurah dan kecamatan

  5. Surat keterangan dokter PUSKESMAS mengenai penyakit nya

  6. Usia pasien 1 s/d 15 tahun, belum pernah dioperasi sebelumnya, tidak memiliki kelainan bawaan seperti penyakit Jantung, kelainan darah ( Hemofilia ) dll.

PERSYARATAN OPERASI SUMBING

  1. Usia

  1. Sumbing Bibir : 3 bulan (berat badan min. 5 kg) s/d 40 tahun

  2. Sumbing langit-langit : 1.5 thn s/d 4 tahun

  3. Sumbing bibir & langit-langit : usia 2 – 4 tahun, Hb > 11gr%

  1. Jenis kelainan

  1. Labio skisis : unilateral (satu celah) : komplit, inkomplit

  2. Palato skisis : Bilateral (dua celah) : komplit, inkomplit

  3. Labio palato ( sumbing bibir & langit-langit)

  1. Belum pernah dilakukan operasi sumbing sebelumnya

  2. Tidak ada riwayat penyakit alergi/ darah/ sesak/ batuk /jantung /riwayat biru saat lahir/kecil.

  1. Pemeriksaan Laboratorium

  1. Hb, hematokrit, Lekosit, Trombosit, eritrosit

  2. Waktu pembekuan (CT), Waktu Perdarahan(BT)

6. Rekomendasi pemeriksaan kesehatan oleh dokter Spesialis anak (bagi pasien anak) / dokter spesialis penyakit dalam (bagi pasien dewasa) yang menyatakan dapat dilakukan operasi

Anak itu..

Pagi ini saya berebut naik ke kereta listrik bersama ratusan penumpang lainnya. Di tengah siraman gerimis hujan, saya melihat ada satu pintu gerbong kereta yang amat sepi. Ketika saya masuk ke pintu itu, MASYA ALLAH, saya melihat pemandangan yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya.

Di bangku samping pintu, duduk seorang anak dalam keadaan yang menyedihkan. Tangan kirinya buntung. Tidak ada sisa sedikitpun tulang lengan kiri, benar-benar buntung sampai bahu. Kepalanya dibalut perban kotor. Bekas darah mengering tersebar di kepala dan badannya.
Anak itu..
Pantas saja sudut gerbong ini begitu sepi. Orang-orang menjauhinya. Mungkin jijik. Tak sedikit yang kasihan. Tapi lebih banyak yang tak peduli. Tidak ada penumpang yang mau duduk di dekatnya. Mereka lebih suka berdesak-desakan di sisi lain gerbong itu.

Aduh nak. Engkau duduk tanpa merasakan tusukan pandangan mata orang-orang. Pandangan matamu kosong. Menatap ke luar jendela tak berkaca. Punggungmu dipenuhi kotoran manusia. Bahkan untuk membersihkan diri pun kau tak mampu.

Tapi anak itu tak peduli. Rupanya ia lebih suka menikmati pemandangan di luar jendela. Mungkin bertanya pada dunia, salahku apa?

Ya Allah..

Baru kemarin saya mengeluh mengenai kemungkinan turun gaji. Baru tadi malam mata saya sulit terpicing memikirkan strategi pengembangan karir. Namun itu semua sirna dalam sekejap. Kekhawatiran saya tak sebanding dengan penderitaannya.
Beruntunglah saya. Beruntunglah Anda. Beruntunglah kita. Kita masih memiliki tempat yang disebut rumah. Kita masih memiliki orang-orang terkasih di sekitar kita.
Melihat anak itu tanpa kewarasan, saya pun bingung harus bagaimana? Memberinya uang pun tak menjadi solusi.

Oh lihat.. ekspresi anak itu sedikit berubah. Mulutnya membulat. Dia tersenyum. Oh, dia tersenyum! Entah apa yang membuatnya senang. Mungkin ia terbayang sedang bermain di tengah keluarganya. Mungkin ia ingat saat-saat indah dibelai bunda. Mungkin ia terbayang ayah menepuk pundaknya dengan bangga. Mungkin ia mengangankan sedang bermain bersama saudara-saudarinya.

Mata ini mulai berkaca-kaca. Saya mencoba menundukkan kepala sekedar menghalau rasa trenyuh luar biasa di dada.
Anak itu.. telah kehilangan lengannya. Anak itu.. telah kehilangan masa kecilnya. Anak itu.. telah kehilangan ayah bundanya. Anak itu.. telah kehilangan masa depannya. Anak itu telah kehilangan kehidupannya, bahkan sebelum nafasnya meninggalkan tubuhnya.

Mungkin hanya doa yang bisa saya sumbangkan padanya. Ya Allah, ampunilah ia di kehidupan akhirat nanti. Amin.

Abandonned Vehicles

Sudah beberapa bulan ini, saya perhatikan, di basement gedung kantor saya, ada mobil-mobil yang sepertinya ditinggalkan pengendaranya. Mobil-mobil itu berdebu tebal. Ban-bannya sudah ada yang kempes. Dan yang paling parah, letaknya tidak pernah berubah. Artinya mobil itu memang ditinggalkan begitu saja.

BK 263 G

Mobil siapa tuh?