Kisah Unik di balik Seragam khas SD Serayu Yogyakarta

 

Nah, kali ini saya mau menulis tentang sekolah saya yang tercinta. Dulu, waktu saya masih kecil.. saya bersekolah di SD Serayu II, Yogyakarta. Sejak jaman dulu, SD Serayu sudah menjadi pilihan favorit bagi para orangtua untuk menyekolahkan anaknya. Saya ingat betul bagaimana perjuangan ayah dan ibu saya untuk memasukkan saya di sekolah ini. Mereka rela menginap di halaman sekolah agar tidak kehabisan formulir pendaftaran yang akan dibagikan esok pagi. Perjuangan kedua orangtua saya terus berlanjut sampai saya bisa menamatkan sekolah. Entah dalam bentuk uang sekolah, mengantar dan menjemput ke sekolah, menyediakan seragam. menyiapkan bekal, dst. Semua usaha dijalani agar saya nyaman bersekolah. Pokoknya kalau ingat perjuangan mereka menyekolahkan saya dari kecil sampai besar, saya terharu sekali. Benar-benar sebuah pilihan yang tepat untuk menyekolahkan saya di SD sebaik itu.

Nah.. ane dulu masuk di SD Serayu II. Waktu itu memang SD Serayu ada 2 sekolah dalam 1 kompleks. Kepala sekolahnya pun dua orang. Bu Yatini (yang galak luar biasa) menjadi kepala sekolah Serayu II, sementara Pak Sardi (yang baik luar biasa) menjadi kepala sekolah Serayu I. O ya, di kalangan murid-murid, Serayu I disebut dengan A, dan Serayu II disebut B. Hal ini untuk menyingkat penyebutan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, “Aku sekarang di kelas 4B”, atau “Victor itu anak kelas 5A”. Sekarang SD Serayu sudah tidak lagi terbagi dua, sudah menjadi 1 SD Serayu saja tanpa I dan II, atau A dan B lagi.

kontak sekolah

Waktu saya berada di kelas I, SD Serayu hanya memiliki satu seragam saja, yaitu putih-merah standar seragam SD. Beberapa waktu kemudian, kira-kira waktu saya kelas II atau III atau IV, SD Serayu mulai menggunakan seragam khas berwarna coklat. Seragam khas ini digunakan sampai generasi sekarang, sehingga menjadi ikon khusus yang melekat pada image SD Serayu Yogyakarta.

Ingatan saya kembali di suatu masa ketika seragam khas baru akan dikenakan untuk pertama kali oleh murid-murid SD Serayu. Setelah pertemuan orangtua murid dan pihak sekolah untuk membahas seragam khas ini, maka mulailah kain bahan seragam dibagikan kepada tiap orangtua murid. Selain itu disepakati pula kapan seragam khas akan mulai dikenakan. Namun karena ibu saya lupa tanggal mulai mengenakan seragam khas, maka pada suatu pagi saya dipaksa untuk mengenakan seragam yang tidak saya kenal sebelumnya, dan saya pun merasa canggung mengenakannya. Maklumlah, tingkat kePedean saya waktu itu masih timbul tenggelam. Lebih banyak tenggelamnya malah. Mungkin efek karena memiliki abang yang bersekolah di sekolah yang sama dan sangat berprestasi dan menjadi favorit para guru. Well, that’s another story to tell 😛

Mama memang orangnya pelupa, tapi ngeyelan. Beliau ngotot bahwa hari itu adalah jadwal menggunakan seragam baru. “Pokoknya kata Bu Yatini, seragamnya buat hari Rabu!”, paksa Mamaku sambil mengenakan baju khas ke badanku yang masih imut-imut. Saya hanya bisa pasrah menghadapi kekhawatiran ibu-ibu (takut anaknya nggak taat aturan). Toh Mama juga sudah repot-repot mencari penjahit yang bersedia menyelesaikan pesanan tepat pada waktunya. Jadi kukenakan jugalah baju aneh itu ke sekolah. Daaaaan… benar saja…

Sesampainya di sekolah. semua murid mengenakan baju putih-merah! Tidak ada satupun yang mengenakan baju cooklat seragam khas itu. Aduuuh.. rasanya muka ini entah mau ditaruh di mana. Ini jamannya saya masih gampang sensi lho.. Bu Suwartini, wali kelas saya, hanya bisa berdecak dan menggumam.. Sepertinya beliau menyayangkan keteledoran ibu saya menepati jadwal penggunaan seragam baru! Saya masih ingat pandangan aneh dari teman-teman sekolah, dari kelas I sampai kelas VI. Saya masih ingat saya berusaha membaur dan menghilang di tengah kerumunan teman-teman. Saya masih ingat bagaimana saya berusaha untuk tidak menjadi pusat perhatian. Hari itu, sependek ingatan saya, entah karena apa, kami tidak belajar di kelas melainkan di aula. Hal ini memudahkan saya untuk bersembunyi di balik teman-teman lain.

Hehehe.. Jadi… penggunaan seragam khas yang seharusnya baru dimulai pekan depan, menjadi bukan suprise lagi. Ada seorang anak yang sudah memakainya duluan di hari ini 😀 Dengan demikian, pantaslah kalau saya memproklamirkan bahwa:

Saya adalah murid pertama yang memakai seragam khas SD Serayu

Hehehe.. lebay.. but it worth (tahu kan saya dapet gen ngeyelan dari siapa?) Nah berikut ini adalah penampakan seragam khas SD Serayu saat ini. Sama persis dengan seragam khas yang saya gunakan waktu itu. Tidak berubah sejengkal pun sejak pertama diadakan.

Seragam Khas SD Serayu Yogyakarta
Seragam Khas SD Serayu Yogyakarta (gambar diambil dari http://sdnserayuyogya.sch.id)

 

Demikian sekelumit kisah masa kecil saya, sekolah saya, dan seragamnya. Demikian banyak kenangan indah yang tertinggal di SD Serayu. Masa-masa penuh kemurnian dan keluguan. Optimisme yang meluap, dengan naif memandang bahwa dunia akan selalu bersikap manis kepada diri ini. Berteman dan bersahabat, penuh keceriaan. Kenangan yang tersimpan rapi di dalam kotak pandora yang terkunci, yang tidak bisa dibuka lagi. Kenangan yang hanya bisa terbangkitkan kembali dengan memandangi dan mengunjungi sekolah tercinta ini.

Sayangnya, saat terakhir kali saya berkunjung ke SD Serayu (lokasinya di antara SMP N 5 Yogyakarta dan Kantor Telkom), bangunannya sudah berbeda dari bangunan jaman saya SD dulu. SD Serayu sudah direnovasi pasca gempa Jogja tahun 2006. Layout bangunan masih sama. Bangunan dua lantai dengan tiga ruang kelas di masing-masing lantai, berada di depan sekolah, persis di belakang pagar sekolah (seperti terlihat di foto 1 di atas). Di bagian dalam, semua bangunan yang tadinya hanya 1 lantai, sekarang menjadi dua lantai. Serta, bekas gedung olah raga berubah menjadi ruang kelas 2 lantai pula, Lapangan berlantai semen tempat kami dulu bermain sepak bola, berubah menjadi lapangan berlantai konblok.

gb24

Tapi yang surprise dari kunjungan saya adalah saya masih melihat Pak Kampret, penjual mainan di depan gerbang sekolah. Haduh rasanya mau nangis melihat orang dari masa lalu saya masih setia di kondisi yang sama. Pak Kampret masih dengan setia menyeberangkan anak-anak atau membantu orangtua memanggil anaknya untuk dijemput. Persis seperti belasan tahun sebelumnya.

Melalui posting ini pula, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para guru-guru saya di SD Serayu Yogyakarta. Bu Yatini yang galak (kasek dan wali kelas 6B), Bu Suwartini yang anggun (wali kelas 5), Pak Yusuf yang menawan dan terlihat keren di mata kami (wali kelas 4), Pak Longgaryanta yang galaknya selevel dengan Bu Yatini (wali kelas 3), ibu guru yang paling senior dan sangat keibuan, tapi sayangnya saya lupa namanya (wali kelas 1 dan 2). Di mana pun Bapak dan Ibu berada sekarang, saya menghaturkan rasa hormat saya yang sebesar-besarnya. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengakui bahwa tanpa binaan dan didikan Bapak dan Ibu guru sekalian, saya tidak akan mengetahui dunia yang luas ini. Terima kasih.. terima kasih.. hanya itu yang bisa saya ucapkan. Biarlah Allah subhanaahu wa ta’alaa yang membalas kebaikan Bapak dan Ibu guru semua dengan balasan yang hanya Ia, Yang Maha Kuasa, yang bisa menetapkannya.

Untuk teman-teman seangkatan, mari kita sambung lagi tali komunikasi. Bisa memanfaatkan Facebook atau media komunikasi lainnya.

Statistik Angka Kejahatan Di Dunia (dari beberapa sumber)

Cara membaca data memang salah satu topik yang menarik untuk dibahas. Angka kemiskinan bisa diturunkan dengan menurunkan batas kemiskinan. Demikian pula dengan statistik perkosaan.

Berikut ini beberapa data statistik kejahatan perkosaan di dunia.

1. Nation Master (klik di gambar untuk melihat screenshot fullpage)

Angka menurut Nation Master

 

2. Data UNODC (infografik oleh NMS)

 

3. Wikipedia

Rape statistics - Wikipedia, the free encyclopedia-134537

 

4. Maps of World

Top Ten Countries With Highest Reported Crime Rates-134727

Kesalahan Memahami Signifikansi Statistik

Saya terpikat oleh sebuah paper dari Raymond Hubbard dan J. Scott Armstrong (2005) yang berjudul “Why We Don’t Really Know What ‘Statistical Significance’ Means: A Major Educational Failure”. Meskipun paper tersebut sudah cukup tua, namun topik yang dibawakan masih cukup nendang bagi saya. Paper tersebut menunjukkan bahwa kerap terdapat kesalahan pemahaman makna signifikansi statistik dalam jurnal-jurnal dan buku-buku teks riset bisnis. Banyak penulis yang telah salah mengartikan makna signifikansi statistik dengan menggunakan kriteria p < α sebagai uji signifikansi statistik.

Buku-buku teks yang ditemukan bermasalah di antaranya adalah:

  1. Marketing Research within a changing information environment (Hair, Bush dan Ortinau, 2003);
  2. Marketing Research (Cooper dan Schindler, 2006);
  3. Marketing Research (Aaker, Kumar dan Day, 2001);
  4. Marketing Research: An applied orientation (Malhotra, 2004);
  5. Marketing Research: The impact of the internet (McDaniel dan Gates, 2002);
  6. Marketing Research (Parasuraman, Grewal dan Khrisnan, 2004).

Note: (nama pengarang yang dicetak tebal adalah referensi yang pernah saya gunakan). 

Riset

Bagaimana seharusnya uji signifikansi yang benar? Bagaimana kesalahpahaman kriteria p < α mulai muncul di ranah akademis? Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan kembali isi paper tersebut kepada Anda.

Uji Signifikansi ala Fisher (p-value) dan ala Neyman-Pearson (α-level)

Uji signifikansi adalah salah satu tahap terpenting dalam sebuah riset, wa bil khusus riset yang bermetodologi kuantitatif. Uji ini yang akan menentukan simpulan hasil riset. Uji signifikansi menentukan apakah hipotesis yang dibuat di awal riset akan diterima atau ditolak. Karena peran pentingnya itulah, para ahli mencari cara terbaik yang dapat membedakan hasil pengamatan secara meyakinkan. Tingkat keyakinan yang memadai untuk dapat menerima suatu hipotesis tersebut yang kerap disebut dengan istilah signifikansi statistik (statistical significance).

Terdapat dua mazhab besar dalam penentuan signifikansi statistik dalam riset ilmu sosial. Mazhab Fisher menggunakan nilai p untuk menunjukkan uji signifikansi dan inferensi induktif. Sementara mazhab Neyman-Pearson menggunakan nilai alpha untuk menunjukkan perilaku yang terpilih di antara hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA).

Mazhab yang dianut oleh Fisher berdasarkan cara berpikir induktif. Fisher menggunakan nilai p untuk menentukan signifikansi. Nilai p ini menunjukkan probabilitas hasil pengamatan (x) tidak memiliki efek atau hubungan dengan hipotesis null (H0), dinotasikan dengan P (x | H0). Nilai p menunjukkan besarnya probabilitas kebenaran hipotesis null (H0) saja tanpa ada hipotesis alternatif (HA). Jika H0 terbukti signifikan, maka bisa disimpulkan (inferensial) bahwa H0 diterima.

Mazhab Neyman-Pearson menggunakan uji hipotesis untuk mencari titik signifikansi antara dua hipotesis. Menurut mazhab ini, titik signifikansi tersebut tercapai saat model penelitian bebas dari kesalahan, atau setidaknya error/kesalahan dalam pengamatan bisa diminimalisasi. Signifikansi tersebut ditentukan oleh besarnya dua macam error, yaitu salah menolak H0, atau kerap disebut Type I Error (α), dan salah menerima HA, atau disebut Type Error II (β).

Dengan demikian, penggunaan p-value dan Type I error tidak dapat dicampuradukkan. Walaupun keduanya sama-sama mengamati ekor distribusi (tail distribution), tetapi P-value menunjukkan di area distribusi mana hasil penelitian terletak dan hanya bisa diketahui setelah uji statistik, sementara Type I Error menunjukkan apakah hasil penelitian akan jatuh di area distribusi yang diterima atau ditolak; dan nilainya ditentukan oleh peneliti sebelum uji statistik. Kombinasi keduanya untuk menguji signifikansi statistik tentu adalah sebuah metode penilaian yang bias.

Pendapat ini juga diamini oleh Wikipedia. Dalam lema mengenai P-value, wikipedia mengingatkan bahwa:

“…, P-value bukanlah probabilitas hipotesis null akan diterima, P-value juga tidak sama dengan tingkat kesalahan Tipe I, α.”   (http://en.wikipedia.org/wiki/P-value)

Demikian pula di lema mengenai signifikansi statistik, wikipedia menyebutkan hal yang serupa:

“Perlu ditekankan bahwa nilai-p Fisherian secara filosofis berbeda dari Tipe I kesalahan Neyman-Pearson . Kebingungan ini sayangnya masih disebarkan oleh banyak buku-buku statistik.”(http://en.wikipedia.org/wiki/Statistical_significance)

 

Sejak Kapan Kriteria p < α Mulai Muncul?

Ronald Fisher sendiri telah mengeluhkan bahwa uji signifikansi telah “terasimilasi” ke dalam kerangka pengujian hipotesis Neyman-Pearson. Melalui tulisannya berjudul “Statistical methods and scientific induction” yang diterbitkan tahun 1955 di Journal of the Royal Statistical Society, B, Volume 17: hal. 69–78, Fisher menolak asimilasi penggunaan p-value dan Type I Error tersebut.

Dalam berbagai sumber statistik untuk pentlitian bisnis dan ilmu-ilmu sosial, diajarkan bahwa penelitian dilakukan kurang lebih sebagai berikut:

  1. Peneliti menentukan hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA).
  2. Peneliti menentukan tingkat signifikansi dengan menentukan nilai α (kesalahan Tipe I).
  3. Peneliti menghitung kekuatan tes (misalnya dengan nilai z). Sampai di sini, langkah-langkah riset telah sesuai dengan aliran Neyman-Pearson.
  4. Setelah itu, uji statistik dihitung, dan nilai p ditentukan.
  5. Signifikansi statistik riset ini kemudian ditentukan dengan menggunakan kriteria p <α. Jika p <α, hasilnya dianggap signifikan secara statistik, sedangkan jika p> α, maka hasil riset tidak signifikan.

Hasil akhir dari metode asimilasi Fisher dan Neyman-Pearson adalah bahwa, meskipun entitas yang sama sekali berbeda dengan interpretasi yang sama sekali berbeda pula, nilai p adalah dalam pikiran peneliti sekarang dipandang memiliki keterkaitaitan dengan tingkat kesalahan Tipe I, α. Dan karena keduanya sama-sama konsep probabilitas ekor wilayah distribusi, nilai p keliru ditafsirkan sebagai pengamatan berbasis frekuensi sebagaimana tingkat kesalahan tipe I, dan juga disalahgunakan sebagai bukti pengukuran terhadap H0 (yaitu, p <α) .

Penutup

Waktu membuka buku Metode Riset Bisnis edisi International (2008) yang disusun oleh Cooper dan Schindler, saya masih menemukan kriteria p<α digunakan di Bab Hypothesis Testing. Untungnya, tesis saya tidak menggunakan kriteria p <α ini.

Apakah mungkin skripsi-skripsi, tesis-tesis dan jurnal-jurnal masih salah kaprah pula memahami hal ini? Bagaimana dengan penelitian Anda? Ditunggu masukan dan pengalaman Anda di kotak komentar.

Gambar dari laman web Sekolah Pascasarjana UGM

10 Website .go.id Tersibuk

Sepak terjang instansi pemerintah di kancah per-internet-an mungkin masih jauh tertinggal dibanding sektor swasta. Meskipun demikian, keberadaan website tersebut amat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari besarnya trafik kunjungan ke website-website pemerintahan.

Umumnya, kepopuleran website instansi pemerintah disebabkan oleh konten informasi yang ditampilkan serta penyediaan layanan online (e-procurement, aplikasi lowongan, e-SPT, kamus online, dll).

Top 10 .go.id yang Paling Banyak Dikunjungi

Berikut ini adalah hasil riset saya mengenai 10 website instansi pemerintah tersibuk. Metodologi riset adalah dengan membandingkan trafik antar website. Data trafik didapat dari alexa.com. Data berdasarkan posisi pada saat riset dilaksanakan (tanggal 9 November 2011).

Domain yang ditandingkan adalah domain utama. Sub-domain dianggap sebagai bagian dari domain utama. Penilaian untuk website depkeu.go.id sudah termasuk sub-domain: anggaran,depkeu.go.id, fiskal.depkeu.go.id, djpk.depkeu.go.id, dst. Untuk pajak.go.id diperlakukan terpisah dari depkeu.go.id karena memiliki domain utama yang berbeda.

Dan, ke-10 website go.id tersibuk adalah..

1. Website Kementerian Pendidikan Nasional (http://kemdiknas.go.id)

Website Kemendiknas

Website ini adalah website pemerintahan tersibuk, yang berada di ranking 260 untuk website Indonesia, dan 26 ribu untuk ranking seluruh dunia. Menurut catatan Internet Archive, website ini lahir pada 4 Mei 2010 atau baru berusia 1 tahun. Sebelumnya, website ini memiliki nama domain depdiknas.go.id.

Alexa Statistics Summary utk kemendiknas

Dari mana trafik tersebut berasal? Website menyediakan berbagai layanan di websitenya, seperti misalnya menyediakan link untuk mengunduh BSE (Buku Sekolah Elektronik), informasi beasiswa, informasi akreditasi perguruan tinggi, dll. Trafik terbesar datang dari pengunjung aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia online. Selain itu, karena banyak direferensikan oleh web lain (sekitar 2747 link), website kemendiknas diganjar skor Google Page Rank 6. Nilai tersebut menunjukkan bahwa website kemendiknas memiliki kredibiltas yang cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan karena web kemendiknas banyak mendapat backlink dari website-website perguruan tinggi (.ac.id).

 

2. Website Dirjen Dikti (dikti.go.id)

Ditjen Dikti

Website ini sebenarnya adalah bagian dari kemendiknas juga, namun karena memiliki domain terpisah maka diperlakukan terpisah pula. Website dikti menempati ranking 381 untuk Indonesia, dan 31 ribu untuk dunia. Menurut catatan Internet Archive, website ini lahir pada tanggal 18 Mei 2004 sehingga saat ini telah berumur 7 tahun. Kredibilitas website ini cukup tinggi yakni memiliki Google Page Rank dengan nilai 6.

Statistics Summary for dikti.go.id

Website Dikti menyediaan akses jurnal akademis, informasi beasiswa dikti, panduan perguruan tinggi, download gratis majalah Kampus, direktori perguruan tinggi, dll. Ada pula berita prestasi-prestasi mahasiswa dan dosen Indonesia di kancah internasional seperti kontes robot.

 

3. Website Bank Indonesia (bi.go.id)

Bank Indonesia

Dugaan saya, website Bank Indonesia ini salah setting DNS, karena tidak bisa dibuka dengan alamat bi.go.id saja, namun harus menyertakan www di depannya. Meskipun demikian web ini menempati urutan ketiga dari daftar 10 website .go.id tersibuk. Website ini menempati ranking 503 untuk Indonesia dan 53 ribu untuk dunia. Website ini sudah berumur 13 tahun, mulai mengudara sejak 26 Januari 1998.

Stat Summary for bi.go.id

Di web ini, Anda bisa mendapatkan informasi kurs, inflasi dan berbagai publikasi mengenai ekonomi dan moneter Indonesia. Website BI juga menyediakan laporan-laporan keuangan bank-bank di Indonesia.

 

4. Website Kementerian Pertanian (deptan.go.id)

Deptan

Website Kementerian Pertanian berada di ranking 748 Indonesia dan 52 ribu dunia. Website ini sudah berumur cukup tua, menyaingi website BI, yaitu berumur 13 tahun (mulai online 5 Desember 1998). Tanpa awalan kem atau dep, membuat nama domain deptan lebih ‘abadi’, tidak seperti website kemendiknas yang sempat berganti nama.

Stat Summary

 

 

5. Website Kementerian Keuangan (depkeu.go.id)

Kemenkeu

Menempel sedikit di bawah Kementan adalah website Kementerian Keuangan dengan berada di 752 ranking Indonesia dan 46 ribu untuk dunia. Website ini lahir pada 25 Januari 1999, atau telah berusia 12 tahun. Website ini termasuk yang enggan berubah menjadi berawalan kem. Sama seperti website BI, website depkeu tidak dapat diakses tanpa menyertakan www.

Stat Summary

Website Kemenkeu menyediakan link peraturan-peraturan Menteri Keuangan terbaru, mengakses majalah dan perpustakaan digital, serta publikasi-publikasi ilmiah hasil riset para peneliti Kemenkeu. Website Kemenkeu dilengkapi pula dengan aplikasi pengaduan (whistleblower system).

 

6. Website Kementerian Pekerjaan Umum (pu.go.id)

Pekerjaan Umum

Website Kementerian Pekerjaan Umum menempati ranking 1028 di antara website-website Indonesia dan 94 ribu dunia. Website ini berumur paling tua dari daftar website tersibuk ini, yakni mulai mengudara pada 10 Januari 1997.

Stat Summary

 

 

7. Website Propinsi DKI Jakarta (jakarta.go.id)

Pemprov Jakarta

Website DKI Jakarta adalah satu-satunya website pemda yang masuk ke daftar 10 besar ini. Website ini menempati urutan 1061 Indonesia dan 92 ribu dunia. Website ini mulai berfungsi pada tanggal 28 Januari 1999 (12 tahun).

Stat Summary

 

8. Website Badan Kepegawaian Nasional (bkn.go.id)

BKN

Website BKN menempati ranking 1575 Indonesia dan 147 ribu dunia. Website ini lahir pada 24 Januari 2001 (10 tahun).

Stats Summary

 

 

 

 

9. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (budpar.go.id)

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

Website Budpar menempati posisi agak jauh di banding 8 website lainnya, yaitu 2794 Indonesia dan 238 dunia. Lahir pada 30 Juni 2002.

Stat Summary

 

10. Website Resmi Pemerintah Indonesia (indonesia.go.id)

Website resmi pemerintah Indonesia berada di posisi 10 dengan ranking 3,728 Indonesia dan 265 ribu dunia. Website ini menyediakan tautan untuk mengunduh peraturan perundangan-undangan. Lahir pada 20 Juli 2001. Kredibilitas website ini cukup tinggi yakni memiliki Google Page Rank dengan nilai 8.

Stat Summary

 

Penutup

Seiring dengan bertambahnya informasi, layanan dan aplikasi online yang disediakan oleh website-website pemerintahan, maka utilisasi website mereka pun makin tinggi. Peran internet dalam kehidupan bernegara kita akan semakin lekat. Mudah-mudahan infrastruktur jaringan internet di Indonesia bisa semakin baik sehingga mampu menopang pertumbuhan teknologi informasi, termasuk di dalamnya teknologi informasi kepemerintahan.

Ke-10 website instansi pemerintahan di atas, telah berhasil menyita perhatian masyarakat karena mampu memberikan solusi alternatif dalam menyajikan pelayanan oleh instansi tersebut. Hal itu patut diapresiasi. Ke-10 website tersebut dapat menjadi contoh bagi website-website pemerintahan lain yang banyak masih belum memberikan nilai tambah pelayanan bagi masyarakat.

Jika terdapat kesalahan dalam mengutip data atau interpretasi data, jangan segan-segan untuk menyampaikannya melalui komentar di bawah ini.

Menjadi Pahlawan Devisa melalui Online Marketing

Ekspor tenaga kerja rupanya menjadi salah satu andalan Indonesia. Setiap tahunnya sekitar 400.000 orang dikirim ke luar negeri untuk bekerja sebagai TKI. Sayangnya, pasar tenaga kerja yang dibidik hanyalah tingkat low-end alias pekerja kasar.

Namun melihat sumbangan yang diberikan para TKI nampaknya kita perlu mengacungkan jempol. Menurut sumber dari BPK, sumbangan devisa dari TKI mencapai US$ 4,37 miliar atau Rp 39,3 triliun setiap tahun. Sumber lain menyebutkan bahwa remitansi TKI mencapai angka US$ 6,617 miliar yang membuatnya menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah ekspor migas.

Demo TKI di Hongkong

Banyaknya orang yang mengadu nasib di luar negeri menjadi cermin kondisi lapangan kerja di dalam negeri. Indonesia yang tadinya dikenal sebagai salah satu negara dengan keunggulan low-cost labor ternyata tidak mampu mempertahankan keunggulan itu. Industri-industri asing berbasis tenaga kerja, sudah eksodus ke negara lain.

Apakah dengan demikian potensi bekerja bergaji tinggi hanya bisa ditemui di luar negeri? Ternyata tidak demikian. Berterimakasihlah pada teknologi internet. Saat ini industri online marketing sedang bangkit di Indonesia. Hal ini ditandai dengan munculnya komunitas-komunitas online marketing. Sebut saja forum adsense-id.com. Forum yang memiliki ribuan anggota ini, aktif berbagi ilmu dan informasi seputar online marketing. Para anggota forum saling membagikan ilmu dan membimbing anggota baru untuk dapat menghasilkan penghasilan.

Industri yang bergantung pada internet ini memungkinkan orang-orang Indonesia untuk bekerja mendatangkan devisa tanpa perlu meninggalkan tanah air. Waktu yang tersita pun tidak banyak. Anda masih bisa meluangkan waktu untuk dinikmati bersama keluarga dan teman karib.

Selain itu, pendapatan yang dihasilkan dari online marketing adalah fair untuk seluruh dunia. Tarif pendapatan memang dibuat secara global oleh para broker iklan. Hal ini tentu sangat menguntungkan dibandingkan bekerja pada pekerjaan multinasional yang memiliki kebijakan penggajian yang tidak adil. Contoh paling baru yang kita temui adalah ketidakadilan sistem penggajian Freeport yang memicu karyawan Indonesia untuk mogok kerja.

Sistem pentarifan pendapatan online marketing tidak memandang lokasi geografis, ras, agama, umur, jenis kelamin, ataupun atribut-atribut sosial lainnya. Para publisher iklan (demikian para pekerja online ini kerap disebut) hanya dinilai berdasarkan kinerjanya saja. Semakin baik ia membuat iklan mencapai targetnya, maka semakin besar pula ia menghasilkan pendapatan dari sana. Merit system seperti ini sangat baik diterapkan untuk dapat menjaring potensi SDM Indonesia. Lain halnya dengan sistem di birokrasi PNS atau sebagian perusahaan swasta yang cenderung feodal, sehingga dapat mematikan potensi anak-anak muda Indonesia. (Lebih parah lagi kalau justru mereka terkontaminasi watak dan budaya korupsi).

Untuk dapat menikmati itu semua, hanya ada satu syarat yang harus Anda miliki: Anda harus melek internet.

Berbagai skema penghasilan online marketing menawarkan pilihan dan fleksibilitas dalam mendatangkan penghasilan. Kita dapat memilih skema mana yang paling mungkin kita jalani.

Belum ada data mengenai berapa besar devisa yang dihasilkan dari usaha online marketing yang dijalani oleh anak-anak muda Indonesia. Namun sebagai gambaran kasar, sebuah polling di forum adsense-id.com ini dapat memberikan gambaran berapa besar devisa yang didatangkan dari para pejuang online ini.

Polling Earnings Adsense

Data polling tersebut mungkin saja tidak akurat. Namun sepanjang belum ada data lain yang lebih baik, kita dapat menggunakannya sebagai gambaran saja. Kalau masih tidak yakin, Anda dapat melakukan konfirmasi ke salah satu publisher iklan. Caranya, mampir saja ke forum adsense dan menanyakan ke salah seorang anggota di sana, berapa pendapatan per bulannya.

Katakanlah, 58 orang yang mengaku memiliki pendapatan di atas US$ 10,000 setiap bulan tidak kita masukkan dalam perhitungan. Kemudian, nilai yang digunakan adalah nilai tengah dari masing-masing rentang (untuk rentang $100-$200 kita gunakan $150). Total devisa yang didatangkan dari online marketing adalah:

440 x $ 50 = 22,000
128 x $ 150 = 19,200
135 x $ 250 = 33,750
90 x $ 750 = 67,500
72 x $ 1500 = 108,000
34 x $ 3000 = 102,000
27 x $ 7000 = 189,000
Total US$ 541,500 atau senilai Rp 4,76 miliar (kurs 8.800).

Nilai 4,76 miliar rupiah memang masih ribuan kali lebih kecil dibanding devisa dari TKI. Namun ingat, data tersebut baru berasal dari anggota satu forum saja. Selain itu, menjadi publisher iklan juga lebih terhormat, tidak berisiko kematian (sependek pengetahuan saya), berbasis kecerdasan bukan tenaga kasar semata, terhindar dari pungli, terhindar dari risiko pemerkosaan dan pelecehan, dll. Apalagi biaya koneksi internet di Indonesia sudah semakin murah dan kualitas koneksi yang makin baik.

Tertarik terjun menjalani online marketing dan menjadi pahlawan devisa bagi Indonesia? Mari sama-sama belajar dan berjuang.

DAU sebagai Penyeimbang Ketimpangan Horizontal

DAU adalah salah satu komponen Dana Transfer sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tenang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. DAU didesain untuk mengatasi ketimpangan horizontal, yaitu ketimpangan yang terjadi karena perbedaan kapasitas fiskal antardaerah tersebut. Kapasitas fiskal tersebut muncul dari perbedaan jumlah Dana Bagi Hasil yang diterima, sehingga dapat dimaknai bahwaketimpangan horizontal terjadi antara daerah penghasil dan bukan penghasil.

Mencuatnya pertanyaan mengenai kemampuan penyeimbang DAU telah muncul dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “IS THE NEW INTERGOVERNMENTAL EQUALISATION GRANT IN INDONESIA EQUALISING?” yang ditulis oleh Erni Murniasih, M.Sc. Dalam paper tersebut, ditemukan bahwa DAU 2006 telah mampu mengurangi ketimpangan horizontal secara signifikan. Namun demikian, akar munculnya topik tersebut telah menunjukkan adanya keresahan mengenai perhitungan DAU.

Indikasi bahwa DAU tidak mampu menyeimbangkan ketimpangan horizontal kembali terjadi di tahun 2011. Dalam sebuah berita yang dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat, terdapat 11 daerah di Provinsi Jawa Tengah yang mengalami kesulitan karena kebutuhan belanja pegawainya lebih besar dari alokasi DAU yang diterimanya. Pemberitaan tentang kekurangan ini juga sempat dimuat di Suara Merdeka.

Sementara, Pemerintah Pusat menyatakan bahwa DAU tidak dimaksudkan semata-mata sebagai sumber untuk membayar gaji PNS daerah. DAU bersifat “Block Grant” yang berarti penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana Transfer sebaiknya dilihat secara utuh, tidak sepotong-sepotong DAU saja atau DBH saja. Tidak ada ketentuan yang mengatur bahwa DAU dimaksudkan untuk membayar gaji PNS daerah. Data belanja pegawai daerah memang digunakan dalam perhitungan alokasi DAU tiap daerah, namun bukan berarti alokasi DAU adalah untuk membayar gaji pegawai pemda. Variabel jumlah pegawai tersebut hanyalah salah satu dari variabel-variabel lain yang digunakan untuk mengalokasikan DAU ke tiap daerah. Masih ada variabel jumlah penduduk, luas wilayah, indeks pembangunan manusia, indeks kemahalan konstruksi, dan PDRB per kapita. Apakah dengan adanya variabel luas wilayah dalam perhitungan DAU, maka DAU harus mencukupi juga untuk mengurusi seluruh wilayah daerah? Penggunaan variabel-variabel tersebut adalah untuk membagi seadil-adilnya DAU ke tiap daerah se-Indonesia.

Pemerintah Pusat tidak akan Lepas Tangan

Terhadap kesulitan keuangan yang dihadapi daerah, Pemerintah Pusat tidak akan cuci tangan. Berbagai upaya diberikan untuk membantu daerah mengatasi masalah yang dihadapi seperti dengan melakukan pembinaan. Mekanisme seperti pinjaman atau hibah juga dapat digunakan untuk menatasi hal tersebut.

Pinjaman daerah mungkin masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh pemda-pemda di Indonesia. Dilihat dari persyaratan pinjaman daerah yang tertuang dalam PP Nomor 54 tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, keleluasaan daerah untuk melakukan pinjaman masih sangat terbuka. Salah satu syarat pinjaman daerah adalah memiliki DSCR sekurang-kurangnya 2,5. Padahal menurut publikasi DJPK tentang deskripsi dan analisis APBD 2010, DSCR terkecil di Indonesia adalah 32,5. Mengutip kata Warkop, “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.”

Perlukah Formula Baru DAU?

Kembali ke masalah perhitungan DAU, formulasi DAU sebagai penyeimbang ketimpangan horizontal nampaknya sudah mendekati masa akhir hidupnya. Berbagai usaha para akademisi untuk mengusulkan formulasi alternatif perhitungan DAU terus bermunculan. Formulasi yang ada, dirasa kurang mewakili keseluruhan permasalahan yang dihadapi pemda. Namun harus diakui, formulasi alternatif haruslah diikuti dengan infrastruktur ketersediaan data yang memadai. Dari sisi ini, formulasi incumbent memiliki keunggulan praktikal yang cukup telak. Poin ini yang harus menjadi perhatian para pengusul formulasi baru DAU.

Berikut ini kutipan berita dari Kedaulatan Rakyat mengenai ketidakcukupan DAU.

MENGGUNAKAN DANA ALOKASI UMUM ; Magelang Tak Mampu Menggaji PNS
16/06/2011 08:19:17 SEMARANG (KR) – Kabupaten Magelang bersama 10 daerah lainnya di Jawa Tengah, termasuk daerah yang tidak mampu menggaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU).  Soalnya DAU yang diterima  tidak mencukupi untuk menggaji pegawai di lingkungannya.

Pelaksana Harian (Plh) Sekda Pemprov Jateng Sri-    yadhi ditemui wartawan di Semarang Rabu (15/6) mengatakan, ada 11 daerah di Jawa Tengah yang DAU-nya kurang. Akibat tidak mencukupinya DAU untuk membayar gaji PNS, pemerintah daerah setempat terpaksa harus menggunakan anggaran dari APBD untuk menutupi kekurangan tersebut.
Sriyadhi didampingi Kepala Biro Keuangan Pemprov Jateng Agoes Suranto menegaskan, sebelas daerah yang tidak mampu membayar gaji PNS dengan DAU karena anggaran untuk belanja pegawai lebih besar jika dibanding dengan DAU yang diterima dari pemerintah pusat. Padahal sesuai aturan yang ada, seharusnya gaji pegawai pemerintah di daerah diambilkan dari DAU.
Sebelas daerah yang kekurangan anggaran untuk membayar gaji pegawainya tersebut selain Kabupaten Magelang yakni Kabupaten Blora, Kabupaten Pekalongan, Batang, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen, Klaten, Boyolali, Sragen dan Kabupaten Karanganyar.
Akibat kesulitan untuk menggaji karyawannya tersebut dan penggunaan dana APBD untuk menutup kekurangan anggaran belanja pegawai, sebelas daerah tersebut tidak bisa melakukan pembangunan di daerah masing-masing secara maksimal. Apalagi sebelas daerah tersebut termasuk daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) rendah.
Agoes Suranto mengakui, kebijakan pemerintah pusat tidak selalu diikuti dengan kebijakan pendanaannya. Seperti kebijakan pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan, seharusnya anggaran dialokasikan dari pemerintah pusat didukung oleh pemerintah daerah. Namun kenyataannya yang terjadi justru terbalik.
Selain itu, belum semua kebijakan pusat terkait dengan gaji diikuti dengan penambahan alokasi DAU. Ini terbukti dengan kebijakan kenaikan gaji PNS dan penerimaan PNS baru di daerah-daerah ternyata tidak secara otomatis diikuti oleh kenaikan DAU, sehingga wajar jika banyak daerah di Jateng yang DAU-nya tidak mencukupi untuk membayar gaji PNS. Termasuk kebijakan pengangkatan sekretaris desa (Sekdes) menjadi PNS juga tidak diikuti dengan penambahan alokasi DAU.
Untuk mengatasi problem ini, menurut Agoes Suranto, sebelas daerah yang DAU-nya tidak cukup untuk membayar gaji dan Pemprov Jateng telah mengajukan penambahan DAU ke pemerintah pusat. Diharapkan penambahan DAU bisa segera diberikan, untuk mengatasi problem keuangan di daerah.       (Bdi)-k

Tabel: DAU Sebelas Daerah yang Tak Cukup

Kabupaten/Kota Belanja Pegawai (Rp) DAU (Rp)
Blora 567.675.000.000 547.437.970.000
Kab. Pekalongan 566.081.369.000 553.949.031.000
Batang 491.107.384.191 472.388.323.000
Banjarnegara 619.289.589.000 562.584.580.000
Kab. Magelang 686.043.849.100 669.259.369.000
Purworejo 625.879.538.763 586.119.442.000
Kebumen 747.490.318.000 732.339.067.000
Klaten 873.350.569.000 792.938.525.000
Boyolali 728.263.740.000 641.787.696.000
Sragen 694.339.538.000 618.724.280.000
Karanganyar 650.871.025.000 577.830.087.000

Alokasi DAU, Dana Penyesuaian DAU dan DAK 2008

Hasil dari rapat kerja antara Pemerintah dengan Panitia Anggaran DPR RI telah menghasilkan kesepakatan alokasi DAU, Dana Penyesuaian DAU dan DAK Tahun Anggaran 2008. Ditjen Perimbangan Keuangan telah mempublish data tersebut melalui websitenya. Rincian alokasi DAU dan Dana Penyesuaian 2008 dapat diakses di link ini. Sementara DAK 2008 dapat diakses di alamat ini.

Setelah disepakati oleh DPR, maka alokasi DAU akan ditetapkan dalam sebuah Peraturan Presiden (Perpres) yang biasanya dirilis sebelum memasuki tahun anggaran. Sementara Dana Penyesuaian dan DAK akan ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan.

Publikasi rincian alokasi yang bersifat sementara ini ditujukan untuk menyediakan data bagi aparat daerah dalam mempercepat proses penyusunan APBD di daerah. Karena itu, admin web DJPK membatasi tiap IP Address hanya bisa melihat data maksimal 3 daerah dalam 24 jam.

Update Info:
Pada alokasi Dana Perimbangan 2008 ini, ada 17 daerah pemekaran baru dibanding 2007. Di  menu DAU 2008, kabupaten pemekaran diletakkan di Provinsi masing-masing. Sementara untuk  akses DAK, kabupaten pemekaran ada di urutan paling bawah.

Karya Anak Bangsa: Agil’s Coloring Book

Minggu lalu saya mengunduh Agil Coloring Book dari priyatna.org. Software mewarnai memang salah satu aplikasi favorit Abbas, anak saya. Sebelumnya, dia sudah terbiasa dengan Dora Coloring Book, Bob The Builder Coloring Book, Thomas Coloring Book dan coloring book yang terdapat dalam bundle software untuk anak-anak seperti Edugames, Elexmedia, Akal Interaktif, dan yang paling favorit adalah Jumpstart. Abbas sangat menyukai Agil Coloring Book. Dia mewarnai semua gambar yang ada satu per satu.

Fitur Agil Coloring Book yang membuatnya berbeda adalah dapat mengganti gambar yang akan diwarnai dan suara latar yang diinginkan. Kita dapat menambah gambar yang akan dijadikan pola dasar mewarnai dengan menempatkan file berekstensi wmf (Windows Meta File) di folder gambar. Kita juga dapat mengatur musik latar ketika aplikasi ini berjalan dengan menempatkan file midi ke folder suara. Bagi yang tidak ingin mendengarkan suara latar, kosongkan saja folder musik ini.

Satu kritik saya adalah tidak adanya menu untuk mengatur volume suara. Semua suara yang keluar dari aplikasi ini langsung menggunakan master volume yang diatur windows. Padahal saya punya kebiasaan untuk memaksimalkan master volume di Windows Taskbar. Saya hanya mengatur suara dari volume control yang terdapat dalam aplikasi. Dengan cara ini, saya bisa mengatur volume suara hanya dari aplikasi yang berjalan. Hal ini sangat berguna khususnya jika saya memainkan game yang cukup berat. Saya tidak perlu repot-repot kembali ke Windows Desktop hanya untuk mengatur suara. Cukup dari options yang disediakan oleh game atau aplikasi.

Nah, ketika saya menjalankan Agil Coloring Book, suara latar ternyata diset maksimal dan tidak tersedia fitur pengaturan volume suara. Jadilah saya terkaget-kaget dengan suara yang teramat kencang.

Mudah-mudahan di Agil’s Coloring Book versi selanjutnya, fitur ini dapat disediakan.

Terimakasih ya om Priyatna! Salam sukses selalu, dan selamat atas karya-karyanya. Kami menunggu karya Anda selanjutnya lho.