Cara Cetak Tiket Lion Air secara Online

[su_note]Untuk kepraktisan Anda mengakses informasi ini, saya telah menyiapkan versi PDF dari tulisan ini. Anda bisa menempatkannya di PC, Laptop, PDA ataupun Smartphone Anda.

[su_button url=”http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2014/07/Cara-Cetak-Tiket-Lion-Air-Secara-Online.pdf”]Download di sini[/su_button][/su_note]

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saya ingin berbagi pengalaman mencetak tiket Lion Air secara online, sehingga kita tidak perlu mendatangi agen untuk mencetak tiket penerbangan.

Yang dibutuhkan adalah:

  1. Kode Booking
  2. Tanggal Penerbangan
  3. Nama Penumpang
  4. Kode Penerbangan (optional, tidak wajib)

Berikut ini ringkasan langkah-langkah mencetak tiket:

  1. Buka Website Lion Air dan klik Menu Bookings | Retrieve Booking.
  2. Masukkan Kode Booking, Nama Penumpang (bisa terbalik antara Nama Depan dan Nama Belakang asalkan ejaannya benar), dan Tanggal Penerbangan. Kode Penerbangan (JT sekian-sekian) tidak perlu dimasukkan. Klik Retrieve.
  3. Setelah muncul informasi tiket, klik tombol Print di halaman web. Pastikan tidak ada pop-up blocker di browser Anda.
  4. Selanjutnya akan muncul file Tiket versi PDF, silahkan cetak dan/atau simpan file tersebut.

Langkah 1

Buka Website Lion Air dan klik Menu Bookings | Retrieve Booking.

lion1

Langkah 2

Masukkan Kode Booking, Nama Penumpang (bisa terbalik antara Nama Depan dan Nama Belakang asalkan ejaannya benar), dan Tanggal Penerbangan. Kode Penerbangan (JT sekian-sekian) tidak perlu dimasukkan. Klik Retrieve.lion2

Tunggu sebentar, Anda akan disuguhi loader sbb:

 

lion3

 

 

Langkah 3

Setelah muncul informasi tiket, klik tombol Print di halaman web. Pastikan tidak ada pop-up blocker di browser Anda.

lion4

 

Langkah 4

Selanjutnya akan muncul file Tiket versi PDF, silahkan cetak dan/atau simpan file tersebut.

lion5

Wisata Ketinggian di Jakarta: Monas vs Balon Raksasa

Buat Anda yang suka manjat-manjat tower trus ngelongok ke bawah, ada hal yang lebih asyik dan aman untuk dikerjakan bersama orang-orang yang Anda cintai namun tetap mengalirkan adrenalin Anda.

Wisata ketinggian menjual keasyikan melepas pandangan dari ketinggian yang cukup ekstrim. Di Bali ada Fliying Fish dan Parasailing, ada pula Bungee Jumping. Para mahasiswa pecinta alam kerap kali menasbihkan diri di atas awan di Semeru. Wall climbing memberikan tantangan untuk menaklukkan ketinggian dinding panjat. Saking asyiknya wisata di ketinggian, sampai-sampai sering ada berita anak-anak yang manjat tower PLN. Saya percaya solusinya adalah menambah tinggi tiang telepon, jadi tidak ada lagi berita anak-anak manjat tiang listrik yang berbahaya, tapi manjat tiang telepon!

Berikut ini perbandingan head-to-head antara dua wisata ketinggian di Jakara, Monas vs Balon Raksasa (TMII) berdasarkan pengalaman pribadi saya. Para pembaca sekalian bebas bersuara dan turut menyumbangkan pengalaman masing-masing sehingga bisa meningkatkan predikat dari pembaca menjadi pengkomen blog ini.

1. Lokasi

Monas terletak di jantung kota Jakarta, bersebelahan dengan stasiun Gambir. Anda dapat dengan mudah mencapai lokasi ini dengan moda transportasi apa pun. Bagi rekan-rekan sekerja sekantoran dengan saya, istilah “bisa lihat Monas tiap hari” menunjukkan rasa syukur yang luar biasa dibandingkan harus mengorbit di kantor-kantor di seluruh pelosok Nusantara. Terkadang jalan menuju Monas sangat padat, yakni ketika iring-iringan mobil pejabat negara sedang keluar/masuk kantor yang memang terletak di sisi-sisi Monas. Para rakyat harus sabar menanti Pak Polisi membuka blokir arus jalan.

Balon Raksasa adalah salah satu wahana baru di Taman Mini Indonesia Indah. TMII sendiri berlokasi di Jakart Timur, mendekati terminal Kampung Rambutan. Lokasi ini paling nyaman dicapai menggunakan kendaraan pribadi atau pun angkutan umum, namun sedikit merepotkan jika menggunakan kereta. Wahana Balon Raksasa terletak di Taman Bunga, yakni di sudut komplek TMII, terletak di antara Teater IMAX Keong Mas dan Akuarium Air Tawar. Ada 2 pintu masuk menuju ke wahana ini, yaitu pintu utama Taman Bunga, dan pintu kecil di samping kelenteng.

2. Harga

Harga tiket masuk Monas adalah 20 ribu untuk dewasa dan 10 ribu untuk anak-anak. Kemudian harus beli lagi tiket lift seharga 7.500 untuk dewasa dan 3.500 untuk anak-anak. Cukup murah bukan? Terkadang ada promo diskon atau masuk gratis ke Monas.

Untuk merasakan terbang dalam Balon Raksasa, Anda harus merogoh kocek sebesar 120rb untuk dewasa dan 80rb untuk anak-anak. Harga tersebut berlaku di hari libur. Harga normal adalah 100 ribu utk dewasa dan 60 ribu untuk anak-anak.

Namun, tersedia berbagai promo untuk menikmati Balon Raksasa. Promo yang saya gunakan adalah Voucher Balon Raksasa dari Living Social. Dengan voucher ini, harga tiket anak-anak dibanderol menjadi 37.500 dan dewasa menjadi 62.500. Ada pula promo yang dilansir di website Balon Raksasa, yakni Promo Selamat Pagi Jakarta yang menawarkan potongan harga 50% untuk Hari Sabtu dan Minggu pada operational jam 06.00 – 09.00 pagi. Ada pula Joint Promo lainnya.

3. Ketinggian

Ketinggian pelataran puncak Monas adalah 115 meter. Tinggi struktur Monas sendiri mencapai 130 meter. Dari ketinggian 115 meter tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan ke empat penjuru mata angin. Tersedia pula binokular alias keker alias teropong yang harus dimasukin duit dulu baru mau membantu mempersuper penglihatan kita. Seluruh penjuru Jakarta terlihat dari sini. Mulai dari pantai di utara sampai bangunan-bangunan tertutup awan asap di selatan sana. Mungkin cocok buat bang Jokowi yang barusan terpilih jadi Gubernur DKI untuk menjadi posko pengendalian kota (city control).

Setahu saya tidak ada batasan cuaca untuk bisa naik ke pelataran puncak Monas. Hanya saja terkadang ada jadwal maintenis maintenance yang tidak diumumkan sebelumnya. Tiba-tiba sampai di Monas, lift tidak beroperasi tanpa ada info yang jelas kapan akan dibuka kembali. Probabilitasnya jauh lebih besar daripada menang lotere.

Balon Raksasa menawarkan ketinggian 80 meter (menurut bapak pilot balon) sampai dengan 150 meter (menurut spesifikasi teknis). Biasanyas setelah sampai di udara, penumpang akan lebih banyak berfoto-foto ria. Saya sendiri perlu beradaptasi (dari takut jadi terbiasa) ketika balon mulai mengudara 20 meteran. Lho lho.. kok tinggi juga yha… qe3.. Batas psikologisnya adalah ketika balon mulai mengudara lebih tinggi dari legendary skylift di tengah TMII. Bagi hyperphobia seperti saya, hal ini cukup berarti. Just don’t look down. Sempat teringat waktu gagal manjat tower wifi dulu (tower 3 stage, sekitar 15 meter tapi ditancepin di puncak gedung 18 lantai dan untuk mencapai landasan tower harus ngelewatin ramp selebar 50 cm doang. Emang ane tukang akrobat!)

4. Durasi

Seingat saya, di pelataran atap Monas pengunjung diberi waktu sekitar 30 menit untuk menikmati pemandangan. Setelah itu pengunjung akan dibawa turun kembali melalui lift yang perjalanan di dalamnya memakan waktu sekitar 10 menitan. Nah buat kamu yang claustrophobia (takut ruang sempit/tertutup), lumayan juga nih cobaannya.Tidak perlu membayangkan jika listrik mati dan kamu harus terjebak di lift di ketinggian lumayan dan terkatung-katung hanya bisa berharap lift segera hidup lagi. Ingat, jangan membayangkan Anda terjebak di lift Monas.. Jangan bayangkan! JANGAN! (Eh tetep ngeyel..)

Balon Raksasa memberikan durasi perjalanan selama 15 menit namun tergantung cuaca. Saat saya mencoba wahana ini, durasi perjalanan kami dikorting menjadi sekitar 10 menit saja karena alasan angin kencang. Sempat kecewa juga, tapi saya percaya keputusan tersebut adalah keputusan terbaik yang diambil oleh kru balon demi keselamatan penumpang sendiri. Apalagi sesampainya di darat, para Ground Crew dengan ramah ramai-ramai mengucapkan permohonan maaf atas diskon durasi tersebut (bukan mentang-mentang ane terbang pake voucher diskon kan ya.. ya..??)

5. Amplitudo (Ayunan)

Nah.. ini faktor paling menegangkan untuk Anda yang suka ketinggian. Monas menawarkan goyangan dengan amplitudo 1 meter. Artinya, jika Anda berdiri tegak di satu titik saja di atap Monas, Anda sebenarnya bergerak mengayun 1 meter ke depan dan belakang. Kondisi ini terjadi jika hembusan angin meniup cukup kencang, and believe me, it happens everyday. Ada perasaan aneh ketika berdiri di struktur bangunan beton yang bisa bergoyang dan mengayun seperti itu.

Di Balon Raksasa, jarak ayunan (amplitudo) tentu lebih gila lagi, karena balon hanya diikat dengan seutas tali baja. Amplitudo yang akan Anda alami akan banyak dipengaruhi oleh kencangnya tiupan angin. Meski demikian, pada kondisi cerah pun saya jamin Anda akan mendapatkan jarak ayun yang lebih besar daripada Monas (1 meter). Saat saya mencoba wahana ini, cuaca sedikit mendung dengan tiupan angin yang kuat (sampai-sampai Baloon Crew mengusulkan abort trip ke Ground Crew karena angin kencang), jadi ayunannya mantap sekali. Terkadang kami berada di atas jalan tol lingkar luar Jakarta (JORR), terkadang sampai ke atas bangunan kubah warna kuning (Teater Keong Mas). Kabel baja penahan balon melengkung ke sana kemari.

6. Kenyamanan dan Kesan

Monas makin lama makin bersih dan teratur. Saya paling suka suasana di dalam museum sejarah di kaki Monas. Bersih, nyaman dan lengkap. Detil-detil perjalanan sejarah Indonesia terangkum dengan sajian yang menarik. Selain itu, dulu seingat saya untuk mencapai dasar Monas, kita masuk melalui pintu bawah tanah dari seberang jalan paving block. Jadi tidak langsung di kaki Monas.

Oya, saya selalu bilang ‘dulu’ dan ‘seingat saya’ karena terakhir ke Monas tahun 1996 waktu dharma wisata akhir tahun pelajaran kelas 1 SMA. Sekarang saya lebih sering hanya memandang Monas dari jendela kantor atau jendela kereta commuter.

Pengalaman saya naik balon udara sangat berkesan. Tidak seribet pengalaman Duo Panda atau harus menunggu selama Raiyan dan ibunya. Saya datang, tukar voucher dengan tiket, menunggu sambil maem bekal yang disiapkan neneknya anak-anak, and fly! Semua di hari yang sama. Dari rombongan 6 orang, hanya saya dan 2 orang anak saya yang naik balon. Sisanya menyemangati dari bawah ^^.

Wisata balon udara sangat cocok untuk keluarga. Selain wahana balon itu sendiri, di darat tersedia pula tempat bermain anak dan kantin. Toilet ada beberapa dan musholla pun ada dua (dekat balon (kecil dan kurang terurus) dan dekat pintu keluar Taman Bunga, lebih bersih dan agak besar). Dulu sempat ikutan acara komunitas Sunni Homeschooling di Taman Bunga ini (persis di lokasi wahana Balon sekarang). Jadi memang lokasinya sangat cocok buat kami keluarga pecinta kegiatan luar-ruang (outdoor).

Demikian laporan saya. Ane tunggu komen dari Anda semua.

Jiwa Enterpreneur di Kaki Gunung Marapi

Di tahun 2012 ini, Turis Dinas berkesempatan mengunjungi Provinsi Sumatera Barat. Selama melaksanakan tugas di sana, Turis Dinas mendapatkan beberapa pengalaman sosial terkait kehidupan masyarakat setempat.

Tempat yang saya kunjungi adalah Jurong Tanah Nyaring, Kec. Ampek Angke, Kab. Agam. Letaknya di kaki Gunung Marapi, kota tedekat adalah Bukittinggi. Dari jendela rumah, saya bisa melihat Gunung Marapi dan Gunung Singgalang sekaligus. Hawa dingin sudah menyambut saya sejak dalam perjalanan.

Untuk mencapai lokasi tersebut, saya menghabiskan waktu 2 jam perjalanan darat dari kota Padang. Nanti ketika kembali pulang, saya hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Bandara Intenasional Minangkabau di Pariaman. Jalanan mulus sampai ke kaki gunung Merapi dan Singgalang membuat perjalanan menjadi nyaman.

Sekedar intermezo, Gunung Marapi inilah yang sebenarnya lebih cocok menjadi setting cerita sandiwara radio Mak Lampir. Bukan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta. Nama-nama tokoh cerita Mak Lampir seperti Sembara, Datuk Panglima Kumbang, Farida, Kakek Jabad, hampir tidak bisa kita temui di tanah Jawa, namun akan terasa lebih akrab di telinga warga Sumatera Barat. Teori ini saya dapat dari seorang kawan, sedikit berbeda dari teori bahwa Mak Lampir berasal dari Sumatera Selatan.

Kembali ke Jurong Tanah Nyaring, iklimnya sebagaimana daerah di kaki gunung. Siangnya terik, dilimpahi sinar matahari yang membakar. Langsung menyinari daratan tanpa terhalangi awan. Malamnya dingin, ditiup angin dari arah gunung. Pada dini hari, serangan embun yang turun dari gunung membasahi atap, pekarangan, kebun dan ladang.

Jurong berarti kampung. Di tanah Sumatera Barat ini, susunan pemerintahan adalah Kecamatan, Nagari dan Jurong. Tidak ada kelurahan atau desa. Sebagai ganti kepala desa, dikenal jabatan wali nagari.

Meskipun berada di lokasi pegunungan yang jauh dari pusat kota, penetrasi teknologi telah sampai di jurong ini. Telepon seluler sudah biasa digunakan oleh para pelajar dan remaja. Orang-orang dewasa memanfaatkannya untuk berkomunikasi menunjang usaha.

“Di Jurong Tanah Nyaring, di kaki gunung Merapi, sekitar 6 km dari kota Bukittinggi, saya bisa menikmati koneksi internet melalui sinyal Smart EVDO.”

Mayoritas penduduk Tanah Nyaring berprofesi sebagai wirausahawan, dan ada pula beberapa yang bertani. Pegawai kantor juga ada. Kebanyakan wirausaha bergerak di bidang konveksi atau jahit menjahit.

Aktivitas perdagangan memuncak di hari Rabu dan Sabtu. Hari-hari tersebut adalah hari pasar bagi penduduk setempat. Pasar-pasar dipenuhi oleh pedagang dan pembeli. Baik itu pasar sayur maupun pasar barang seperti baju dan asesorisnya. Pembeli datang dari luar daerah seperti Batam, Pekanbaru, dan Padang. Mereka memborong barang-barang yang tersedia di pasar.

Kesempatan ini betul-betul dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Pada malam Rabu dan Sabtu mereka mengerahkan segala kemampuan untuk dapat menyediakan barang yang akan dijual di pasar. Ada yang mengejar tenggat menyelesaikan pesanan pembeli. Pada malam-malam tersebut, aktivitas di malam hari sangat tinggi. Para pengepul mengumpulkan barang dari para rekanan mereka. Bongkar muat barang dan jemput barang terus dilakukan sampai pagi.

Kaum lelaki umumnya giat bekerja. Kaum wanita turut serta dalam mencari nafkah. Pekerjaan-pekerjaan berat seperti menggunting bahan dikerjakan oleh para pria. Sementara wanita mengerjakan pekerjaan yang lebih lembut seperti menyetrika dengan setrika uap bertekanan tinggi.

Seorang penjahit yang saya temui bercerita bahwa ia biasa mengerjakan jahitan di malam Rabu atau malam Sabtu sampai dini hari. Bahkan bisa-bisa sampai pagi ia bekerja! Saya pun merasakan semangat yang menjadi motivasi sang penjahit. Esok pagi, barang-barangnya akan diborong pedagang. Bagaimana mungkin ia tidak bersemangat? Jika ia melewatkan kesempatan ini, ia harus menanti hari pasar berikutnya untuk mendapatkan penghasilan. Seandainya para penjahit itu membuat laporan keuangan di malam hari-hari pasar, tentulah pos Persediaan akan disajikan mendahului Piutang karena likuiditasnya yang lebih tinggi. Hehehe..

Taraf kehidupan ekonomi di Tanah Nyaring secara umum sangat baik. Sebagai indikator kasar, di sini jarang sekali ditemui rumah yang kurang bagus. Umumnya rumah-rumah dibangun dengan bahan bangunan terbaik. Beberapa di antaranya bahkan tampak megah.

Rumah Gadang, 2012. photo by ahmadzakaria.net

Seorang petani labu bahkan sanggup menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Ia menanam labu di pekarangan rumah seluas kira-kira 100 m2 serta di halaman belakang seluas 300 m2. Labu-labu ini dijual kepada pedagang pengumpul di pasar yang akan mengirimnya ke Batam.

Ada pula penduduk jurong ini yang tidak serius bertani. Kenapa saya sebut tidak serius? Ia hanya menebar bibit jahe di tanah miliknya. Setelah itu ia diamkan saja. Pada saat membutuhkan uang, seperti pada hari Lebaran, barulah ia panen jahe-jahenya itu. Dengan cara ini saja, ia sudah mampu memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan bisa dikatakan hidupnya berlebih.

Kesuksesan bertani ini mengingatkan saya pada game-game populer, seperti Farmville dan Zombie Lane. Anda tinggal menanam bibit, setelah menanti masa tanam maka hasilnya tinggal dipanen dan dijual. Sounds like easy money huh? Jika Anda sempat melongok kebun milik para Top Player di game-game online, hampir dapat dipastikan ia menghasilkan uang dari bertani.

Yah begitulah adanya tanah kita Indonesa ini. Tanahnya subur dan disinari matahari sepanjang tahun. Sayang sekali potensi ini seperti tidak nampak di pelupuk mata kita. Kita ramai-ramai bersekolah dan juga menyekolahkan anak di bidang-bidang yang kerap tidak sejalan dengan keunggulan demografis kita.

Keindahan Alam Sumatera Barat, photo by ahmadzakaria.net

Kesejahteraan penduduk Jurong Tanah Nyaring juga dirasakan oleh seorang pemudik. Ia berasal dari Jakarta dan beristrikan wanita dari Tanah Jurong. Ketika lebaran, ia kesulitan mencari orang yang dapat disedekahi di Jurong Tanah Nyaring. Padahal sudah menjadi kebiasaannya untuk berderma di bulan Ramadhan.

Betapa kaya alam kita, serta betapa luas dan besar potensi ekonomi kita. Untuk dapat mengubahnya menjadi kesejahteraan, faktor manusia menjadi peran penting. Hal ini berbeda dengan yang dihadapi oleh masyarakat negeri empat musim. Mereka harus menaklukkan alam yang keras terlebih dahulu. Sementara dengan kekayaan alam yang kita miliki, kunci kemajuan kembali pada diri kita sendiri. Faktor alam sudah

Sambil menanti pesawat kembali ke ibukota, saya merenung. Sesungguhnya saya malu dengan produktivitas saya sebagai pekerja yang dibekali pengetahuan akademis pascasarjana, ternyata masih kalah dengan penjahit dan petani di kaki gunung. Mungkin kelak saya dapat merintis untuk bertani.

Saya menulis draft tulisan ini sambil menanti pesawat di ruang tunggu Bandara Internasional Minangkabau. Di sini, saya terkoneksi ke internet melalui sinyal EVDO Smart menggunakan modem CE 682.

-o0o-

foto-foto oleh ahmadzakaria.net © 2012

Kolaka

Pengalaman berkunjung ke Kolaka ini saya dapat tahun 2008 lalu. Berikut ini jurnal yang saya tulis.

Ketika musim perjalanan dinas tahun 2008 dimulai, seperti biasa, saya kebagian lokasi-lokasi terpencil. Maklum, pegawai nrimo :p

Peta Lokasi Kolaka Sultra

Perjalanan pertama di tahun 2008, saya ditugaskan ke Kolaka. Hayoo.. ada yang tau gak Kolaka itu di daerah mana? Waktu tahu saya dapet dinas ke Kolaka, saya langsung cari tahu bagaimana mencapai daerah itu. Kolaka, terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, bisa dicapai dengan jalan darat dari Kendari. Yang jadi masalah, penerbangan ke Kendari dari Jakarta harus transit via Makassar. Ada dua alternatif penerbangan. Maskapai A jam 6 dan maskapai B jam 13. Rombingan dinas kami memilih berangkat siang hari. Pertimbangannya, kalaupun menggunakan penerbangan pagi, diperkirakan sampai di Kendari jam 2 siang. Jakarta-Makassar ditempuh 2 jam lebih. Lalu waktu transit di Makassar itu kabarnya susah ditebak. Bisa molor sampai 2 jam lebih. Makassar-Kendari membutuhkan waktu satu jam.

Waktu mendarat di Kendari, saya langsung disambut dengan indahnya langit malam. Tau maksudnya? Kendari sedang mati lampu! Bahkan lampu di bandara hanya menyala di ruang2 utama. Sesampai di luar bandara, mulai dari parkir bandara sampai ke kota, gelap gulita.

Malam itu, saya menginap  di Hotel Aden. Keesokan paginya saya dan Mas Ferie berangkat ke Kolaka menggunakan mobil charteran. Jalanan mulus. Waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalur yang dilewati melewati 4 perbukitan. Jalanan yang mulus itu mulai terasa menyiksa di perut kami. Belokan-belokan tajam membuat kami menjadi laboratorium fisika berjalan. Dihajar gaya sentrifugal dan sentripetal ke sana ke mari. Sayang perut kami bukan perut pilot yang mampu menahan gaya sampai 10G.

Sesampainya di Kolaka, seusai menunaikan tugas, kami diajak sightseeing seputar Kolaka. Dimulai dari makan siang di pinggir pantai. Sop Konro daging sapi dengan kuah berlemak menjadi santapan siang ditemani semilir angin pantai. Di kejauhan samar-samar terlihat sebuah pulau yang sedang menjadi sengketa. Yah biasalah, ada gula ada semut. Sejak ditemukannya potensi nikel di pulau tersebut, terjadi tarik menarik kewenangan ijin pertambangan di sana. Pemkab, pemprov dan pusat tumplek blek jadi satu.

Selesai dari makan siang, kami diajak ke anjungan rumah adat Sulawesi Tenggara. Lokasi anjungan ini persis terletak di dekat pelabuhan ferry setempat. Ada 10 rumah adat yang berdiri di sini, masing-masing mewakili kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara mulai dari Kab. Muna, Kab. Konawe dan tak lupa rumah khas Kolaka sendiri. Anjungan ini pernah digunakan untuk MTQ Provinsi Sultra beberapa tahun lalu. Salah satu fitur unggulan anjungan ini adalah letaknya yang menghadap barat. Konon, anjungan ini adalah lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan sunset. PR bagi pemkab adalah bagaimana menjual momen detik-detik ketika lingkaran merah di angkasa itu tenggelam ke dalam air…

Daerah tujuan wisata di Kolaka salah satunya yang terkenal adalah sungai Tamborasi. Sungai ini diklaim sebagai sungai terpendek di dunia. Sebuah mata air yang muncul di gunung, ternyata hanya dua puluh meter kemudian sudah nyemplung ke laut. Butuh fatwa dari ahli geologi apakah sungai Tamborasi memenuhi definisi sebagai sebuah sungai.

Di Kolaka, program unggulan Bupati adalah demo gerbang mastra (Desa Model Gerakan Pembangunan Masyarakat Sejahtera). Namanya orang Indonesia, kreatif banget untuk bikin singkatan. Program ini adalah salah satu best practice dalam kategori program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tapi gaungnya masih belum menyamai best practice pemda lain seperti JPKM Purbalingga, UPT Sragen, Perda Dji Sam Soe Kota Gorontalo, maupun Pelayanan Satu Pintu di Kab. Jembrana.

Ya begitulah pengalaman di Kolaka. Menanti perjalanan dinas selanjutnya, kita tunggu saja cerita perjalanan ke Kota Tidore. Hayoo, dimana tuh?

Bandara Kolaka rencananya akan difungsikan tahun 2008. Jadi tahun-tahun ke depan kalau ke sini nggak harus mabok lagi.

Satu hal yang unik di Kendari dan Kolaka ini, angkutan umum antarkota menggunakan mobil-mobil terbaru. Bayangkan, Suzuki APV dan Toyota Avanza dijadikan angkot! Dilengkapi dengan sound system memekakkan bahkan ada pula yang dilengkapi dengan televisi layar kristal.

Masalah angkutan umum, memang di Sultra ini, pada umumnya jor-joran. Kami sempat melihat sebuah Kijang Krista ber-plat kuning dengan monitor LCD yang menampilkan siaran televisi bagi penumpangnya.

Angkot di sini disebut pete-pete. Ingat baik-baik, kalau keluar di pertanyaan kuis, harus bisa jawab. Karena sudah saya beritahu.

Jalan-jalan ke Kids Fun Parcs Jogja

Karena letak Kids Fun yang tidak jauh dari kontrakan kami di Jogja, kami memutuskan untuk berangkat dengan berjalan kaki. Perlengkapan mandi dan baju ganti serta bekal lainnya berada di tas ransel, sambil mendorong kereta bayi berisi si bungsu Hana Uliansyah yang baru berusia 5 bulan. Kami berangkat jam 9 pagi dari rumah dengan harapan menghindari jam padat pengunjung yang biasanya terjadi di siang hari.
Sesampainya di Kids Fun, voucher dari dealkeren ditukar oleh petugas dengan tiket masuk taman bermain, Aqua Splash, Flying Fox, dan diskon GoKart. Wah banyak juga ya! Ada 20 permainan yang tersedia di Kids Fun, tapi kami tidak mencoba semuanya. Beberapa permainan sebenarnya adalah permainan yang sama dengan tema berbeda. Misalnya permainan mobil-mobilan listrik untuk anak-anak, tersedia dalam banyak lokasi yaitu Herby’s yang bertema City Car, sedangkan Harley Davidson bertema Western City, Ferarri bertema Sirkuit F1 dan Old Dream bertema China Town. Permainan kereta juga tersedia dalam beberapa wahana, seperti Santa Fe Train, Kereta Ulat, dan __.
Wahana yang paling banyak tersedia adalah permainan air. Wahana air yang digenjot sendiri oleh pengendara dengan jalur yang sudah tersedia, terdapat dalam banyak wahana seperti  ___ bertema pulau tropis, ___ bertema Indian, dan ___ bertema ____. Wahana air tanpa jalur, aqua bike. Wahana air sehggol2an, bumper boat. Nah, saking banyaknya permainan air di Kids Fun, kami sempat bercanda, “Rejeki Kids Fun memang ada di air.”
Permainan yang lain ada Mini Wheel, yaitu sebuah ferris wheel atau bianglala mini dengan 6 gondola saja. Ada pula ontang-anting, gajah terbang, dan boom boom car. Semua permainan tersebut dapat dinikmati tanpa tiket tambahan. Dan yang tidak kalah seru adalah Fun Shooter, arena di mana pemain dapat saling menembakkan bola lembut ke arah pemain lain.
Salah satu permainan gratis yang menjadi favorit pengunjung adalah Jurassic Park. Wahana ini adalah wahana kereta keluarga yang mengelilingi taman dinosaurus.
Permainan yang harus membayar lagi adalah Duragon, sebuah wahana roller coaster mini berketinggian __ meter. Masih jauh lebih kecil dari Halilintar di Dufan tentunya, tapi sebagai satu-satunya wahana roller coaster di Jateng dan DIY, wahana ini masih menjadi favorit para pengunjung. Beberapa putaran dihiasi dengan teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan dari penumpangnya.
Salah satu wahana dengan antrian terpanjang adalah Flying Fox. Meskipun harus membayar 15 ribu rupiah, peminatnya tetap membludak. Kami tidak perlu menambah beli tiket, karena voucher dari dealkeren sudah mencakup tiket Flying Fox. Untuk menikmati Flying Fox, pengunjung harus naik ke tower yang ada patung naga. Bagi yang belum memiliki tiket, dapat membeli langsung di titik peluncuran.
Di luar permainan yang disediakan, banyak site-site tempat berfoto yang tersedia tersebar di seluruh lokasi. Ada panggung Kapal, sebuah replika kapal bajak laut yang bisa digunakan untuk panggung pertunjukan bertema bajak laut. Banyak pula patung-patung tanpa kepala yang dapat digunakan untuk bergambar dengan memposisikan kepala kita pada patung tersebut.
Di dalam gedung dekat pintu keluar, terdapat wahana bermain anak bernama Soft Play. Isinya adalah jungle dan mandi bola. Anak-anak sangat suka bermain di sini. Waktunya pun pas, karena ketika matahari sudah memanas kami masuk ke wahana indoor.
Fasilitas Ibadah tidak Memadai
Setelah lelah menikmati permainan wahana di taman bermain, kami beristirahat dulu sebelum masuk ke kolam renang Aqua Splash. Untuk mendapatkan makanan, tersedia banyak food court tersebar di seluruh area lokasi. Ada Cafe Saurus di depan wahana Jurassic Park. Ada pula kantin di depan panggung kapal. Belum lagi kios-kios kecil yang menjual suvenir, foto digital, dll. Untuk masalah perut, tidak ada masalah.
Masalah yang mengganggu kenyamanan baru terasa ketika kami hendak melaksanakan ibadah sholat. Mushola yang tersedia ternyata berada di area toilet wanita. Hal ini sangat memprihatinkan kami, seolah-olah kami disuruh sholat di tempat buang hajat. Luasnya pun tidak memadai. Padahal musholla itu adalah satu-satunya tempat ibadah di dalam lokasi taman bermain. Hal ini jauh berbeda dengan fasilitas ibadah yang diberikan oleh lokasi wisata lainnya seperti Kebun Binatang Ragunan (masjid besar di tengah area), Dunia Fantasi (ada masjid di dekat panggung outdoor dan juga banyak musholla tersedia di mana-mana), Taman Mini Indonesia Indah (masjid Diponegoro dengan dua lantai), dll. Bagaimanapun juga, pemeluk agama Islam adalah pengunjung mayoritas dari taman-taman tersebut, sehingga kenyamanan beribadah bagi kami semestinya mendapat perhatian dari pengelola taman.
Akhirnya kami pun memilih untuk melaksanakan sholat di musholla area parkir. Di sana kondisinya lebih baik, meskipun luas musholla juga minimal. Hanya saja kami harus keluar dari area taman bermain Kids Fun, yang tentunya menambah kerepotan ketimbang melaksanakan sholat di dalam area taman bermain. Banyak pengunjung yang lebih memilih untuk sholat di dalam area.
Bermain Air di Aqua Splash
Setelah mengisi perut dan sholat, kami bergerak menuju kolam renang Aqua Splash. Tempatnya nyaman, baik bagi anak-anak maupun orangtua. Terdapat dua kolam yang tersedia. Satu kolam dengan seluncuran setinggi 7,5 meter dan melingkar sepanjang 52 meter. Satu kolam lain sepertinya didesain untuk aktivitas yang lebih santai, dengan kanopi besar terpasang di atasnya. Ada pula satu inflatable pool dipasang di salah satu sudut area kolam renang. Entah apakah selain di hari libur, inflatable tersebut dipasang atau tidak. Lantai yang terbuat dari konblok berkualitas membuat permukaan lantai tidak licin meskipun basah terciprat air kolam. Di pinggir kolam, banyak tersedia parasol (payung taman) dengan meja dan kursi bagi __. ortu dapat dengan nyaman mengawasu anak2 bermain air. bbrp lifeguard terlihat berjaga di titik2 penting.
dgn tiket yg dpt dibeli ter[isah, aqua splash nampaknya akab=n menjadi pilihan kami di kemudia hari. mudah2an kf mkn baik.

Hari Ahad lalu (tanggal 3 Juli 2011), kami sekeluarga akhirnya menggunakan voucher tiket masuk Kids Fun Parcs Jogja, yang sudah kami beli beberapa waktu yang lalu. Voucher tersebut saya beli secara online dari dealkeren.com seharga 22.500 per voucher. Kami membeli 4 voucher untuk saya, istri, dan 3 anak (1 masih bayi, tidak dihitung). Total 90.000. Harga asli tiket adalah 45.000 per orang (anak dan dewasa sama saja) untuk tiket terusan, atau 37.500 per orang untuk tiket taman bermain dan 13.000 per orang untuk tiket kolam renang Aqua Splash. Jadi kami menghemat setengahnya.

Karena letak Kids Fun yang tidak jauh dari kontrakan kami di Jogja, kami memutuskan untuk berangkat dengan berjalan kaki. Perlengkapan mandi dan baju ganti serta bekal lainnya berada di tas ransel, sambil mendorong kereta bayi berisi si bungsu Hana Uliansyah yang baru berusia 5 bulan. Kami berangkat jam 9 pagi dari rumah dengan harapan menghindari jam padat pengunjung yang biasanya terjadi di siang hari.

Sesampainya di Kids Fun, voucher dari dealkeren ditukar oleh petugas dengan tiket masuk taman bermain, Aqua Splash, Flying Fox, dan diskon GoKart. Wah banyak juga ya!

Ada 20 permainan yang tersedia di Kids Fun, tapi kami tidak mencoba semuanya. Beberapa permainan sebenarnya adalah permainan yang sama dengan tema berbeda. Misalnya permainan mobil-mobilan listrik untuk anak-anak, tersedia dalam banyak lokasi yaitu Herby’s yang bertema City Car, sedangkan Harley Davidson bertema Western City, Ferarri bertema Sirkuit F1 dan Old Dream bertema China Town. Permainan kereta juga tersedia dalam beberapa wahana, seperti Santa Fe Train, Kereta Ulat dan Duragon.

Wahana yang paling banyak tersedia adalah permainan air. Wahana air yang digenjot sendiri oleh pengendara dengan jalur yang sudah tersedia, terdapat dalam banyak wahana seperti Jet Rider bertema pulau tropis, Grand Canyon bertema Indian, dll. Selain itu tersedia juga wahana air tanpa jalur bernama Aqua Bike. Bagi yang suka saling senggol ada wahana air Bumper Boat. Nah, saking banyaknya permainan air di Kids Fun, kami sempat bercanda, “Rejeki Kids Fun memang ada di air.”

Permainan yang lain ada Mini Wheel, yaitu sebuah ferris wheel atau bianglala mini dengan 6 gondola saja. Ada pula ontang-anting, gajah terbang, dan boom boom car. Semua permainan tersebut dapat dinikmati tanpa tiket tambahan. Dan yang tidak kalah seru adalah Fun Shooter, arena di mana pemain dapat saling menembakkan bola lembut ke arah pemain lain.

Salah satu permainan gratis yang menjadi favorit pengunjung adalah Jurassic Park. Wahana ini adalah wahana kereta keluarga yang mengelilingi taman dinosaurus. Pengunjung ditempatkan dalam kereta-kereta otomatis berisi dua sampai empat orang. Sepanjang jalur, terdapat patung-patung dinosaurus yang dilengkapi dengan informasi mengenai dino tersebut.

Permainan yang harus membayar lagi adalah Duragon, sebuah wahana roller coaster mini berketinggian sekitar 7 meter. Masih jauh lebih kecil dari Halilintar di Dufan tentunya, tapi sebagai satu-satunya wahana roller coaster di Jateng dan DIY, wahana ini masih menjadi favorit para pengunjung. Beberapa putaran dihiasi dengan teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan dari penumpangnya.

Salah satu wahana dengan antrian terpanjang adalah Flying Fox. Meskipun harus membayar 15 ribu rupiah, peminatnya tetap membludak. Kami tidak perlu menambah beli tiket, karena voucher dari dealkeren sudah mencakup tiket Flying Fox. Untuk menikmati Flying Fox, pengunjung harus naik ke tower yang ada patung naga. Bagi yang belum memiliki tiket, dapat membeli langsung di titik peluncuran.

Di luar permainan yang disediakan, banyak site-site tempat berfoto yang tersedia tersebar di seluruh lokasi. Ada panggung Kapal, sebuah replika kapal bajak laut yang bisa digunakan untuk panggung pertunjukan bertema bajak laut. Banyak pula patung-patung tanpa kepala yang dapat digunakan untuk bergambar dengan memposisikan kepala kita pada patung tersebut.

Di dalam gedung dekat pintu keluar, terdapat wahana bermain anak bernama Soft Play. Isinya adalah jungle dan mandi bola. Anak-anak sangat suka bermain di sini. Waktunya pun pas, karena ketika matahari sudah memanas kami masuk ke wahana indoor ini.

Dalam kunjungan kali ini, kami tidak mencoba GoKart. Rasa-rasanya Go Kart lebih asyik jika dimainkan berkelompok. Pembalap-pembalap dalam satu race terdiri dari teman-teman yang kita kenal.

Fasilitas Ibadah tidak Memadai

Setelah lelah menikmati permainan wahana di taman bermain, kami beristirahat dulu sebelum masuk ke kolam renang Aqua Splash. Untuk mendapatkan makanan, tersedia banyak food court tersebar di seluruh area lokasi. Ada Cafe Saurus di depan wahana Jurassic Park. Ada pula kantin di depan panggung kapal. Belum lagi kios-kios kecil yang menjual suvenir, foto digital, dll. Untuk masalah perut, tidak ada masalah.

Masalah yang mengganggu kenyamanan baru terasa ketika kami hendak melaksanakan ibadah sholat. Mushola yang tersedia ternyata berada di area toilet wanita. Hal ini sangat memprihatinkan kami, seolah-olah kami disuruh sholat di tempat buang hajat. Luasnya pun tidak memadai. Padahal musholla itu adalah satu-satunya tempat ibadah di dalam lokasi taman bermain. Hal ini jauh berbeda dengan fasilitas ibadah yang diberikan oleh lokasi wisata lainnya seperti Kebun Binatang Ragunan (masjid besar di tengah area), Dunia Fantasi (ada masjid di dekat panggung outdoor dan juga banyak musholla tersedia di mana-mana), Taman Mini Indonesia Indah (masjid Diponegoro dengan dua lantai), dll. Bagaimanapun juga, pemeluk agama Islam adalah pengunjung mayoritas dari taman-taman tersebut, sehingga kenyamanan beribadah bagi kami semestinya mendapat perhatian dari pengelola taman.

Akhirnya kami pun memilih untuk melaksanakan sholat di musholla area parkir. Di sana kondisinya lebih baik, meskipun luas musholla juga minimal. Hanya saja kami harus keluar dari area taman bermain Kids Fun, yang tentunya menambah kerepotan ketimbang melaksanakan sholat di dalam area taman bermain. Banyak pengunjung yang lebih memilih untuk sholat di dalam area.

Bermain Air di Aqua Splash

Setelah mengisi perut dan sholat, kami bergerak menuju kolam renang Aqua Splash. Tempatnya nyaman, baik bagi anak-anak maupun orangtua. Terdapat dua kolam yang tersedia. Satu kolam dengan seluncuran setinggi 7,5 meter dan melingkar sepanjang 52 meter. Satu kolam lain sepertinya didesain untuk aktivitas yang lebih santai, dengan kanopi besar terpasang di atasnya. Ada pula satu inflatable pool dipasang di salah satu sudut area kolam renang. Entah apakah selain di hari libur, inflatable tersebut dipasang atau tidak. Lantai yang terbuat dari konblok berkualitas membuat permukaan lantai tidak licin meskipun basah terciprat air kolam. Di pinggir kolam, banyak tersedia parasol (payung taman) dengan meja dan kursi bagi pengunjung yang memilih tidak nyemplung ke kolam. Dari bawah parasol itu, ortu dapat dengan nyaman mengawasi anak-anak bermain air. Beberapa lifeguard terlihat berjaga di titik-titik penting.

Dengan tiket yang dpt dibeli terpisah dari tiket taman bermain, aqua splash nampaknya akan menjadi pilihan kami di kemudian hari. Mudah-mudahan Kids Fun makin baik dalam menyediakan wahana hiburan yang mengasyikkan.

Untaian Permata Hijau Tidore dan Ternate

Punya uang seribu rupiah? Oow.. tenang aja. Saya bukannya mau minta duit. Bukan.. bukan itu permintaan saya. Saya ingin Anda memperhatikan gambar pada uang seribu rupiah yang sedang Anda pegang. Lihatlah pada gambar dua buah pulau yang berada di latar sebuah perahu nelayan. Ada keterangan di sudut kiri atas. Bunyinya, “Pulau Maitara dan Tidore”. Nah, selama tiga hari yang lalu, saya berkesempatan berada di pulau yang muncul sebagai ilustrasi pada alat tukar keluaran Bank Indonesia itu.

Uang Seribu Rupiah
Image courtesy Fiona Angelina (c)

Tapi dari tempat saya menginap di Ternate, pandangan pada posisi pulau-pulau tersebut terbalik. Pulau Maitara di sebelah kanan, dan Pulau Tidore di sebelah kiri. Saya sempat mendiskusikannya bersama teman perjalanan. Kesimpulan kami, gambar di uang tersebut diambil dari laut lepas, bukan dari daratan Ternate. Dugaan ini dikuatkan juga dengan foto yang saya lihat di indahnesia.com, superbayek@MP serta pengakuan Pak Yoanes. Posisi pulau Maitara dan Tidore pada foto itu sudah hampir mirip dengan uang seribu rupiah, tapi untuk mendapatkan persepsi yang sesuai sepertinya memang harus dilihat dari sisi laut lepas.

Maitara dan Tidore
Image courtesy Yoanes Bandung (c)

Sayang, Bang Pay yang babu negara seperti saya itu , sudah pindah penempatan ke Manado. Padahal dari orang yang sudah tinggal selama 3 tahun di Ternate, saya mengharapkan cerita pengalaman dan guide ke tempat-tempat yang menarik. Ah cukuplah blog-blogmu itu menceritakan duka dan kesedihanmu bang.. hehehe..
Continue reading “Untaian Permata Hijau Tidore dan Ternate”

Surabaya

Selain perjalanan dinas ke tempat yang terlalu jauh, tujuan yang terlalu dekat juga membuat orang-orang di kantor pikir2. Sepertinya tujuan dinas ke pulau Jawa justru hitung-hitungannya rugi. Mungkin karena standar perjalannnya tidak menggunakan pesawat. Peraturan hanya membolehkan menggunakan kereta api untuk tujuan di pulau Jawa.

Tapi saya nekad saja.. Biar nombok asal badan masih elok. Saya pun memilih menggunakan pesawat menuju daerah tujuan kali ini, Pasuruan. Via Surabaya tentunya, karena di Pasuruan tidak ada bandara komersial. Hanya ada pangkalan udara militer milik TNI AU. Harga tiket pesawat yang semakin murah (hanya beda puluhan ribu dengan kereta eksekutif) menguatkan pilihan saya.

Penerbangan malam ke Surabaya saya menggunakan maskapai Lion-Wings penerbangan pukul 21.20. Saya masih ingat keluhan menggunakan Boeing 737-900 ER ke Balikpapan yang terlalu lama loading penumpang. Namun kali ini, pukul 21.00 para penumpang sudah diminta untuk boarding. Mungkin maksudnya supaya pas jam 21.20 udah siap take off. Perbaikan dari keluhan saya sebelumnya.

Night Flight
Continue reading “Surabaya”

Pangkalan Bun Kota Manis

Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi satu-satunya daerah tujuan dinas yang saya mencapainya tanpa melalui ibukota Provinsi. Mari kita bandingkan dengan rute perjalanan lainnya: Untuk ke Pasir saya terbang ke Balikpapan dulu, ke Tanah Bumbu via Banjarmasin, dan ke Ketapang melalui Pontianak. Namun perjalanan ke Pangkalan Bun ini justru saya tempuh melalui rute Jakarta – Semarang – Pangkalan Bun.Dari Semarang, saya menggunakan Kalstar atau juga dikenal dengan nama Trigana. Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan pesawat perintis. Benar saja, ada beberapa kejadian yang tidak biasa saya temui seperti di penerbangan komersial biasa.

Continue reading “Pangkalan Bun Kota Manis”

Tanah Bumbu yang Indah

Perjalanan dinas ke Tanah Bumbu adalah perjalanan pembuka saya ke Kalimantan tahun ini. Setelah ke Tanah Bumbu, saya dijadwalkan mengunjungi Pasir di Kaltim, Ketapang di Kalbar dan Pangkalan Bun di Kalteng. Perjalanan ini bisa jadi adalah perjalanan terunik. Sampai dengan hari H, contact person di tempat tujuan tidak dapat dihubungi. Tak disangka, beberapa hari sebelumnya, direktur RSUD Kab. Tanah Bumbu justru datang ke kantor saya. Akhirnya saya pun nunut (Jawa, mengikut) beliau pasrah bongkokan (Jawa, pasrah sepenuhnya) gimana caranya bisa sampai ke ujung tenggara pulau Kalimantan.

Tanah Bumbu

Continue reading “Tanah Bumbu yang Indah”

Perjalanan Nekad ke Ketapang

Perjalanan ke Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perjalanan yang begitu mengkhawatirkan dan penuh ketidakpastian bagi saya. Alasan terbesar mengapa saya selalu menyiapkan segala sesuatunya dalam sebuah perjalanan sampai-sampai saya bisa memvisualisasikannya bahkan sebelum berangkat ke tujuan, adalah saya tidak ingin terlunta-lunta tak terurus di tempat yang saya tidak tahu harus meminta tolong ke mana. Apalagi kebanyakan daerah tujuan dinas saya adalah daerah-daerah pemekaran yang miskin fasilitas dan belum memiliki infrastruktur yang memadai.

Masalah tiket pulang, contact person, penginapan dan hal-hal lain yang menimbulkan ketidakpastian “bagaimana nanti di tujuan” sedikit tertolong karena daerah tujuan perjalanan kali ini rupanya adalah sebuah kota yang sudah matang. Artinya, saya ternyata tidak perlu kesulitan mencari ATM, mendapatkan penginapan yang bersih, kemudahan mencapai daerah tertentu, dan menghubungi keluarga di rumah. 

Branwir menyambut gagal mesin

Kendala perjalanan dinas ke Ketapang, Kalimantan Barat kali ini sudah terasa sejak awal. Sampai dengan H-2, contact person di tujuan belum didapat. Akhirnya dengan bantuan orang Pemprov Kalteng, saya memantapkan diri untuk berangkat. Nekad lah..

Continue reading “Perjalanan Nekad ke Ketapang”