Parade Militer di Layar Perak

Cinemax: It Came from Beneath the Sea

Minggu yang lalu di Ketapang [link], saya nonton film Cinemax It Came from Beneath the Sea di saluran Indovision di hotel tempat saya menginap. Film jadul banget yang diproduksi tahun 1955 ini ceritanya mirip-mirip Godzilla. Karena radiasi, seekor gurita raksasa menyerang San Fransisco. Special efeknya oke punya, pake teknik stop-motion-animated. Jadi kayak film Dinosaurus jaman hitam putih gitu. Nah, yang menarik perhatian saya adalah: banyaknya alat perang yang dilibatkan dalam film ini. Mulai dari kapal selam, kapal perang, pesawat terbang, artileri, sampe yang keren tuh waktu pasukan Penyembur Api Angkatan Darat mengusir si Gurita Raksasa dari daratan.

Transformers

Minggu ini saya berkesempatan menonton film Transformers di Bintaro Plaza, Jakarta. Niatnay sih untuk hiburan anak saya. Tapi saya pribadi kurang puas dengan jalinan cerita yang disusun. Terlalu bertele-tele. Untuk mencari kacamata Kapten Archibald Witwicky saja sampai menghabiskan waktu sekian puluh menit.

Ada kesamaan antara dua film itu, dan juga film-film produksi Hollywood lainnya. Mereka sama-sama menjadi corong AS untuk unjuk gigi kekuatan militernya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Transformers digunakan untuk promosi piranti tempur F-22 Raptor.

* * *

Di Indonesia sendiri masih sangat sedikit film yang menonjolkan kekuatan militer negeri ini. Seingat saya hanya “Perwira dan Ksatria” (1990) yang dibintangi Dede Yusuf yang mengekspose kehidupan Taruna Akademi Angkatan Udara, dan perwira lulusannya.

Juga ada satu lagi sinetron satu seri yang pernah ditayangkan di TVRI mengenai kehidupan Taruna Akademi Angkatan Laut. Saya masih ingat ada adegan:

  1. Taruna junior yang main biliar, padahal hanya taruna tingkat III yang boleh menggunakan fasilitas itu;
  2. Ritual mencari kakak asuh dengan cara junior menerobos ke graha senior;
  3. Dihukum di atas lemari dengan menyanyikan lagi, “Aku sedih, duduk sendiri, Mama pergi, Papa pergi..”
  4. Dan satu lagi, ketika seorang taruna meloloskan diri pada malam hari menggunakan kano melalui saluran air, untuk mengunjungi pacarnya. (kalau ngak salah sekalian melamar deh).

Apa mungkin film itu yang berjudul “Pelangi di Nusa Laut”? Mmm.. kayaknya bukan deh.

* * *

Parade militer yang biasa kita saksikan di depan podium, ternyata sudah berpindah ke layar lebar. Gaungnya lebih luas, ditonton lebih banyak orang, mbayar lagi! Efeknya cukup lumayan, buktinya ada yang bercita-cita jadi istri pilot pesawat tempur gara-gara nonton Perwira dan Ksatria.

Btw, yang ngimpi Indonesia buat Military Movies nggak cuman saya lho. Ada juga perwira TNI yang serius mikirin pengen buat film kayak Top Gun. Kita tunggu deh!

Alasan Menolak Pemain Naturalisasi

Di koran tempo hari ini (Jumat, 13 Juli 2007) halaman A21, SMS dukungan saya ke Timnas PSSI ditampilkan. 😀

“Pertahankan keaslian sepakbola Indonesia! Tanpa pemain naturalisasi pun kita bisa! Terbukti!”

Kira2 begitu bunyinya. Ditampilkan sebagai sms terakhir.

Dari awal saya memang sudah su’udzon dengan rencana PSSI menggunakan jalur naturalisasi untuk mendongkrak prestasi. Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat saya berpendirian demikian:

Continue reading “Alasan Menolak Pemain Naturalisasi”

Kaukus Palestina DPR RI

Rapat DPR

Jumat 28 Juni 2007, ketika saya hadir dalm salah satu rapat DPR, ada pamflet tertempel menginformasikan berita berikut ini:

Kaukus Palestina, Abdurrahman Zaidan

KAUKUS PALESTINA DPR RI

Mengundang Bapak/Ibu, Anggota DPR untuk hadir dan mendengarkan secara langsung Perkembangan Kondisi Terakhir Tawanan Anggota Parlemen Palestina di Penjara Israel.

Oleh:
Dr. Abdurrahman Zaidan
(Anggota Parlemen Palestina)

Senin, 7 Juli 2007
Pukul 11.00 – 13.00
RUANG RAPAT KOMISI XI
GEDUNG NUSANTARA / Lt. 1 DPR RI

Wah sayang cuman untuk anggota dewan nih. Kita tunggu aja beritanya.

Update:

Wah lieur euy.. bener kata orido, ini pamflet untuk bulan Mei 2007. Saya sempet mikir2, kan ada rapat hari Selasa depan, itu tuh tanggal 10 Juli. Mustinya Senin tanggal 9 dong. Ternyata memang salah bulan.

Mengenai Kaukus Palestina sendiri, ada beberapa sumber berita:

Tapi berita tentang hasil kehadiran Abdurrahman Zaidan sendiri saya belum dapet. Cari dimana ya? Hmm.. coba kita tanya pak Almuzzammil Yusuf.

Small Wins

Tempo hari, televisi di tempat potong rambut menampilkan siaran langsung MotoGP (maklum di rumah justru nggak ada tivi). Satu hal yang menarik adalah ketika Tony Elias menyalip Valentino Rossi, kamera sontak menampilkan ekspresi crew Honda Fortuna yang bersorak melihat manuver pembalap andalannya itu.

Di sini saya melihat ada fenomena perayaan terhadap Small Wins (kemenangan kecil). Padahal kita semua tahu – bahkan para crew pendukung Tony Elias lebih paham hal ini – bahwa hasil perlombaan ditentukan saat pembalap memasuki garis finish. Artinya, dengan mencuri posisi pimpinan perlombaan di lap 20 belum tentu membuat Tony Elias menjuarai balapan di sirkuit Estoril, Portugal ini.

* * *

Fenomena penghargaan atas Small Wins dapat membangun sebuah tim yang visioner. Pemimpin maupun manajer (ya, saya memang menganut pemahaman bahwa pemimpin berbeda dengan manajer) dapat menggunakan Small Wins untuk menyebarkan shared value kepada para anggota tim. Dengan adanya even perayaan Small Wins tersebut, bawahan jadi tahu apa yang diinginkan atasannya. Sebaliknya, atasan pun dapat mengukur moral anak buah dalam pencapaian tujuan.

Perayaan Small Wins menjaga keterpaduan tujuan bersama dengan perkembangan yang terjadi di lapangan. Bahkan perayaan small wins merupakan salah satu cara terefektif dan terefisien untuk mengejawantahkan visi pimpinan kepada anak buahnya. Apalagi dibandingkan dengan teori-teori kepemimpinan yang biasanya disuguhkan dengan bahasa yang mumet itu – apa karena memang ditujukan bagi segmen organisasi yang paling mumet pula?

Di kantor (sambilan) saya, perayaan small wins cukup dirayakan dengan makan2 (gorengan) dan minum2 (es kelapa muda). Namun kepuasan yang ditebarkan sungguh luar biasa. Kami, anak buah, merasa dihargai. Sementara bapak2 pimpinan, semakin mudah mengarahkan organisasi ke tujuan yang lebih besar.
Justru di kantor resmi saya, hal semacam itu belum menjadi kebiasaan yang lazim. Perlu dimaklumi juga, alasannya cukup sederhana: tidak ada alokasi dana untuk itu. Itulah susahnya jadi bagian dari organisasi sektor publik. Kami ini dianggap mesin yang harus terus melayani negara dan masyarakat. Yang lebih parah, kalau ada “negara” di dalam negara. Dan juga “masyarakat” yang mengaku masyarakat. Memang menurut Aime Heene, salah satu sifat organisasi sektor publik adalah impersonality. Artinya, suatu fungsi pemerintahan itu seharusnya tidak dipengaruhi oleh siapa orang yang menjalankan, karena semua telah diatur berdasarkan kekuatan legalitas yang kuat.
Bagaimana perayaan small wins di tempat Anda?

Ancaman Mainan Anak

Sewaktu kecil, kepala saya pernah tertancap dart. Hohoho.. Kok bisa ya? Well, waktu itu saya lagi main-main dengan dart abang saya. Maklum, abang punya mainan yang bejibun. Salah satunya ya mainan yang punya ujung logam runcing itu.

Darts game

Tak ingin terkungkung kreativitas plus kagum dengan bentuk ekor yang mirip peluru kendali itu, entah bagaimana muncul ide untuk melontarkannya ke udara. Waktu itu saya bermain di halaman rumah pakdhe yang luas, dirimbuni pohon sawo yang rajin panen *slurrrpp*. Sekali lempar ke udara.. wiiiiww asyiik.. dua kali lempar.. syuurrzzz.. tiga kali lempar.. cep! Dart dengan sukses mendarat di batok kepala saya.

Meski tidak menimbulkan luka serius, tapi kepala saya sempat borokan. Karena takut dimarahi, saya tidak pernah melaporkan kejadian itu kepada orangtua (well, kalo Anda dibesarkan oleh orangtua asal Sumatera berkarakter keras, tentu paham mengapa saya tidak selalu jujur menceritakan kegiatan sehari-hari..).

* * *

Beruntung, di masa ini sudah ada perlindungan konsumen bagi mainan anak. Mainan-mainan yang berbahaya bagi anak-anak, dapat dilaporkan kepada Pemerintah untuk kemudian produsen akan diminta menarik produk bersangkutan dari pasar. Biasanya produsen tak bisa mengelak dari recalling jika telah jatuh korban. Bahkan, sebuah mainan pernah menyebabkan 6700 kecelakaan dengan 4 korban jiwa.

World Against Toy Causing Harm (W.A.T.C.H) adalah sebuah LSM yang memperjuangkan aspek keselamatan pada produk-produk untuk anak-anak. W.A.T.C.H menyediakan kurikulum panduan pendidikan beraspek keselamatan. W.A.T.C.H juga menerbitkan daftar mainan berbahaya tahun 2006. Jangan kaget kalau sepatu beroda yang lagi nge-trend di kalangan anak-anak perempuan menempati urutan teratas daftar tersebut.

Continue reading “Ancaman Mainan Anak”

Antara Conservative Accounting, Sarbanes Oxley dan Syariah Accounting

Males bener hari sabtu begini masih ada kuliah tambahan..Eniwei, dari diskusi kuliah hari ini tentang Syariah Accounting, saya tidak dapat lebih baik menyimpulkannya kecuali dengan ilustrasi berikut ini.

Misalnya Anda seorang akuntan sebuah perusahaan multinasional yang menjual produknya hanya dalam transaksi kas, semua aset dibeli tanpa berhutang, pokoknya nggak pake interest alias riba nih biar ilustrasinya rada masuk akal. Pemegang saham perusahaan itu ada 3 orang, satu orang Eropa (Anglo-Saxon), satu Amerika, sama satu Arab. Perusahaan ingin mengajukan proposal tambahan modal kerja kepada ketiga investor tersebut supaya cari rejekinya makin joss. Jadilah Anda sebagai akuntan mempersiapkan laporan keuangan untuk lampiran proposal tersebut kepada masing2 investor.

Continue reading “Antara Conservative Accounting, Sarbanes Oxley dan Syariah Accounting”